Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
#98


__ADS_3

Ternyata acara itu digelar oleh MCafe untuk merayakan hari jadinya yang ke 30.


Bukan waktu yang singkat untuk bisa bertahan.


Bersaing dengan kafe kafe berstandar amerika macam MCd, A&W apalagi KFC.


Kafe yang secara hukum sah menjadi milik Mutia, tantenya Damar adik dari Ditya.


Namun Tia lebih memilih tinggal diluar negeri bersama Arga.


Sesekali mereka akan mengunjungi Tiara yang tinggal di ibukota.


"Oke sebagai penerus kafe ini kita persilakan sang owner memberi sambutan. Silakan bu Tiara."


Romi menunjuk Tiara yang juga hadir di pesta.


"Big thanks buat kalian semua yang sudah bertahan sama sama sejauh ini. Saya bersyukur memiliki tim seperti kalian. Hope you guys enjoy, and lets have fun together."


Tiara mengangkat gelas berisi wine keatas mengajak semuanya bersulang.


Tiara dikenal sebagai wanita karir. Dia juga seorang dokter kandungan di MHospital, dengan gelar spesialis organ dalam.


Terkadang Tiara juga menggantikan dokter bedah yang berhalangan menangani operasi.


Kehidupannya yang jauh dari orang tua membuat dirinya bebas melakukan apapun.


Contohnya sekarang, Tiara sudah mabuk karena minuman yang terus saja ia teguk.


Romi melihat kesempatan emas itu, dia mengajak Tiara menjauhi kerumunan pesta.


"Kunci kamar ?"


Bisik Romi agar Tiara bisa mendengar ditengah suara dentuman musik DJ.


Tiara pasrah menyerahkan masterkey kamarnya ke tangan Romi.


Romi memapah Tiara menuju lift, Juli yang melihat itu kasihan pada Tiara. Bisa saja Romi melakukan hal tak terduga saat Tiara tak sepenuhnya sadar.


"Pak Geri, aku izin ke toilet sebentar."


Untung saja semua menu sudah habis, mereka hanya tinggal closing merapikan peralatan kotor.


Geri membiarkan Juli mengambil waktu istirahat.


Sejak tadi Juli sibuk menghadapi kobaran api pemanggangan.


Kevin yang baru saja tiba karena mendapat undangan dari Tiara melihat Juli berlari.


"sedang apa Juli disini ?


Kenapa pakaiannya seperti orang dapur ?"


Kevin lebih memilih mengikuti Juli ketimbang menemui sepupunya Tiara.


Juli memperhatikan lift yang dinaiki Romi bersama Tiara.


Setelah lift berhenti di lantai bawahnya Penthouse, Julipun naik mengikuti.


Mudah sekali bagi Romi untuk melakukan hal keji itu.


Setelah menidurkan Tiara di tempat tidur tangannya bergerak membuka pakaian Tiara.


Romi tidak pernah pilih pilih, selagi ada kesempatan ia akan selalu melakukan hal itu.


Secara sukarela maupun memaksa.


"Kamu siapa . .


Kenapa kamu berani melucutiku ?"


Tiara mengigau dengan sisa kesadarannya.


Sebebas apapun hidupnya, bukan berarti Tiara rela dinodai oleh seorang laki laki yang tidak ia kenal dengan baik.


"Aku akan membuatmu mabuk kepayang bos."


Baru saja Romi hendak mencumbu Tiara, suara pintu diketuk keras dari luar.


"Argh . . Sial.


Siapa yang berani menggangguku."


Romi dengan kesal menahan aksinya, dia berjalan membukakan pintu.

__ADS_1


Dia sangat terkejut melihat Juli berdiri dihadapannya.


Mata Juli melirik kearah kasur, sudah terlihat Tiara telanjang.


Dengan segera Juli masuk lalu menutupi tubuhnya menggunakan selimut.


"Gilak kamu Rom. Tidak cukupkah selama ini korban yang kamu rusak ?"


Selesai membantu Tiara, Juli berniat memanggil security agar menngusir Romi.


Namun tangannya berhasil di cegat Romi.


"kalau begitu kamu saja yang menggantikannya. Aku sudah lama menunggu saat seperti ini."


Romi mulai mengabsen wajah Juliana, hasratnya selalu meningkat jika mendapat penolakan.


"Lepaskan aku !"


Dengan penuh keberanian Juli menendang bagian sensitif Romi.


Ia berlari meninggalkan Romi yang meringis kesakitan.


Baru saja Juli keluar kamar, ia bertabrakan dengan seseorang.


"Hei, tenanglah !


Ada apa ?"


Saat tahu itu Kevin, Juli langsung memeluknya merasa aman.


"Romi, ,


dia , ,


berniat memperkosa seseorang didalam."


Susah payah Juli berusaha menjelaskan keadaan darurat pada Kevin.


Kevin tahu betul kamar siapa itu, adik sepupunya yang meski usianya diatas dia.


Kevin segera masuk lalu menghajar laki laki yang masih berdiri kebingungan.


Brukk . .


Romi jatuh tersungkur mendapat tonjokan diwajahnya oleh tangan kekar Kevin.


Kevin masih belum selesai, kini dia meninju perut Romi.


"Kevin stop !"


Juli berusaha menahan Kevin dengan merangkul tangannya.


"Romi lebih baik kamu pergi sekarang."


Juli masih mengampuni perlakuan menjijikan Romi.


Suatu saat laki laki itu akan mendapat balasan yang setimpal.


"Kamu baik baik saja Juls ?"


Kevin menatap Juli penuh khawatir, ia hanya menggeleng tak apa.


"Kamu mengenalnya ?"


Juli melirik kearah Tiara yang sudah terlelap.


"Dia Tiara adik sepupuku, anak dari adik ayah.


Ya meski usianya lebih tua dariku."


Kevin bernafas lega saat tahu Juli berhasil menyelamatkan Tiara.


"Kamu mengenal Romi ?"


Kevin berbalik bertanya, diapun hafal kalau Romi adalah menejer di MCafe.


"Aku akan cerita setelah membantunya memakai pakaian. Kamu tunggu saja diluar."


Kevin mengangguk menuruti perintah Juli.


Tak begitu lama, Juli keluar membuka pintu.


Ia mengajak Kevin menuju tempat kerjanya.

__ADS_1


Sambil berjalan Juli menceritakan semuanya pada Kevin.


Termasuk percobaan pemerkosaan yang dilakukan Romi beberapa bulan yang lalu.


"Romi sering melakukan hal bejad itu. Bahkan mantan waitres ada yang hamil karenanya.


Entah naas atau beruntung, dia mengalami keguguran.


Yang aku rasakan ialah bersyukur, karena Caca tidak perlu menikah dengan Romi yang jahat itu."


"Kenapa tidak ada yang berani melaporkan Romi ke polisi, atau pada Tiara misalnya ?"


Kevin ikut geram mendengar kejahatan Romi, kenapa laki laki sepertinya bisa bekerja di kafe milik keluarganya.


"Kevin Romi itu sangat pintar bersilat lidah dihadapan pimpinan.


Korbannya tidak berani menuntut, alasannya karena mereka melakukan hal itu atas dasar suka sama suka."


Juli juga inginnya laki laki itu jera, namun belum cukup bukti kuat untuk menyeretnya ke jalur hukum.


"Jadi kamu juga bekerja di sini ?"


Kevin dan Juli kini sudah sampai di poolside.


"Daily worker dulunya, sekarang hanya casual worker."


Juli tersenyum santai menanggapi pertanyaan Kevin yang terlihat prihatin padanya.


"Hei I'm fine,


Kevin aku melakukan ini karena menyukai dapur."


Juli berusaha meyakinkan Kevin agar tidak bersimpati berlebihan.


"Pak Geri, aku minta maaf tadi lama karena ada sedikit urusan."


Pak Geri kini sibuk sendirian merapikan beberapa peralatan yang tersisa.


"Santai Juls, I can handle it.


Is that You mr. Kevin ?"


Ternyata pak Geri mengenali Kevin adiknya Damar.


"Wah jadi kalian saling kenal, mau dibuatkan sesuatu ?"


Pak Geri menawarkan makanan pada Kevin yang dilihatnya sangat akrab dengan Juli.


"Biar Juli yang membuatkannya pak, terima kasih sebelumnya."


Kevin melirik kearah Juli menatap penuh harap.


"Oke, tapi kamu gantikan posisiku membantu pak Geri ?"


"setuju."


Kevin merasa tidak keberatan, lagipula itu hal mudah baginya.


Juli merasa bersalah melihat Kevin yang membantunya. Padahal ia tahu kalau Kevin pasti sudah sangat lelah seharian ini.


"Kevin berhenti,


ayo makan dulu."


Juli menghentikan Kevin yang masih sibuk keluar masuk kitchen.


Kevin menurut dengan mengambil alih piring dari tangan Juli.


"Wah kebetulan aku belum makan, kamu membuat menu berat."


Kevin sampai menciumi nasi goreng sederhana buatan Juli.


"Kevin ayolah, itu hanya nasi goreng biasa."


Kevin menikmati makanannya di atas meja prepare anak kitchen. Duduk diatas krat minuman botol sebagai kursinya.


"Apa yang kamu lakukan disini ? Makanlah di kursi resto."


Juli melihatnya saja heran kenapa Kevin malah makan disitu.


"Jangan pedulikan aku, selesaikan pekerjaanmu lalu aku akan mengantarmu pulang."


Perintah Kevin dengan mulut penuh nasi goreng.

__ADS_1


Juli hanya menggelengkan kepalanya dengan kelakuan Kevin.


Seolah rasa penatnya hilang dengan kehadiran Kevin secara kebetulan.


__ADS_2