Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
#136


__ADS_3

Kaluarga Damar berkabung, bendera kuning terpasang didepan halaman rumah Atikah.


Lelah, sedih semua bercampur jadi satu dibenak mereka.


Rasanya ingin bisa tertidur sebentar saja namun tetap tidak bisa.


Jenazah akan disemayamkan setelah matahari terbit dan meninggi.


Hingga menjelang adzan subuh masih banyak pelayat berdatangan.


Mulai dari tetangga, kerabat, sanak saudara hingga rekan bisnis Atikah semasa hidupnya.


Bagi Zara Atikah sudah seperti ibu kandungnya, dia sangat menyayangi Zara tanpa syarat apalagi setelah Kusuma meninggal.


Begitupun Ditya, dialah menantu Atikah satu satunya.


"Pak, istirahat dulu sebentar . ."


Kata Juli sedikit berbisik disamping Damar.


Entah berapa kali Damar membacakan surat yasin untuk sang nenek.


"Kamu saja, aku masih mau disini."


Damar menjawab dengan nada cukup dingin ditelinga Juli.


Sejak berita kepulangan Atikah, Juli merasa Damar berubah sikapnya. Mungkinkah dia masih kesal pada Juli akibat permintaan yang tidak segera Juli setujui.


Atau Damar hanya sedang bersedih ditinggal nenek.


"Juli, benar apa kata Damar. Lebih baik kamu ke kamar istirahat ya ?"


Zara merangkul Juli meminta menantunya menjaga kesehatan.


"Juli gak bisa tenang tante, pak Damar pasti sangat terpukul."


"Iya, tapi kalau nanti kamu sakit siapa yang mengurus Damar ?


Sekarang kan kamu sudah jadi istrinya."


Benar sekali perkataan mama mertuanya.


Ah mertua, suami, istri, Juli sudah sah menikah dengan Damar.


Bukannya kebahagiaan melainkan duka menghiasi perasaan mereka.


"Juli ke dapur saja tante, mau bikin teh buat semua."


Zara tersenyum mengangguk membiarkan Juli melakukannya.


Di dapur ada Kevin sedang duduk di meja makan, dia kelaparan hingga merebus mie instan.


"Jangan tersinggung sama mas Damar, dia hanya butuh waktu untuk menerima kepergian nenek."


Seolah Kevin bisa menebak isi hati Juli, dia tidak ingin Juli bersedih oleh sikap kakaknya.


"Teh atau kopi ?"


Tanya Juli menawari Kevin minum.


"Teh, kurang baik meminum kopi."


Jawabnya tersenyum tipis.


Kevin juga bersedih, tapi dia tidak ingin berlarut larut.


Menurutnya semua terjadi atas kehendak Tuhan. Kita hanya perlu berlapang dada menerimanya.


Kesempatan Kevin sudah hilang bersama perginya sang nenek.


"Ini . ."


Juli menyodorkan secangkir teh panas dihadapan Kevin.


"Juli !"


Panggil seseorang pada perempuan yang kini sibuk mengaduk gula didalam beberapa gelas teh dan kopi.


Ia menengok mendengar namanya disebut.


"Pak Damar, ada apa ?"


Juli heran laki laki, maksudnya suaminya berdiri menatap tajam dirinya.


"Aku suamimu, harusnya kamu memberiku terlebih dulu."


Bentak Damar tak peduli situasi dirumah seperti apa.


Juli terkejut mendengar Damar bersikap dingin padanya.


Apa salah Juli sehingga Damar berubah 180 derajat.


"Aku minta maaf, aku . ."


"Wajar dia ngasih aku duluan mas, aku baru selesai makan.


Kamu ini kadang kayak anak kecil ya."


Kevin bangkit dari kursi menyimpan piring kotor di tempat cucian.

__ADS_1


"Inget, dia istrimu mas sekarang."


Bisik Kevin ketika berpapasan dengan Damar.


Selepas Kevin meninggalkan mereka Damar masih mendiami Juli,


Juli semakin bingung dibuatnya.


"Aku gak suka kamu dekat dekat dia."


Keluarlah pernyataan itu dari mulut Damar.


Apanya yang salah dari Juli, ia sekedar menawarkan minuman pada Kevin.


Masak iya Juli harus menganggap Kevin tidak ada dirumahnya sendiri.


"Aku gak ngerti sama bapak, gak jelas tahu !"


Juli lebih memilih membawa nampan berisi minuman hangat untuk disuguhkan.


Sekalinya bicara Damar malah menyinggung perasaan Juli. Hey lupakah dia kalau mereka baru saja menjadi sepasang suami istri.


Ah pusing kepala Juli menghadapi Damar.


Damar memijat keningnya, dia sangat pening.


Meninggalnya nenek menyebabkan dirinya hilang kendali sampai melupakan posisi Juli.


Harusnya Damar membuat Juli bahagia telah ia nikahi.


Apalagi belum menghadapi konsekuensi yang harus mereka hadapi.


Kuliah Juli yang bahkan masa magangnya masih cukup lama.


Pekerjaannya mungkin juga akan terbengkalai beberapa hari kedepan.


Damar harus tenang, sekarang dia adalah kepala keluarga.


Cobalah meminta maaf pada Juli atas sikapnya yang keterlaluan.


Ia menyusul Juli ke ruang tengah meminta waktu berdua dikamar tamu.


Zara menyoroti sikap mereka ada yang tidak beres.


"Ada apa ?"


Tanya Juli setelah pintu kamar tertutup.


Damar berjalan mendekat, perlahan dia memeluk tubuh Juli erat sekali.


"Aku minta maaf, maaf kalau kamu tersinggung."


"Aku tahu bapak sedih, semoga nenek tenang disana.


Bapak gak sendiri disini, tolong jangan terpuruk."


Bijak sekali Juli menyikapi masalah kecil diawal pernikahan mereka.


Juli mengerti bagaimana perasaan Damar saat ini.


Yang perlu Juli lakukan ialah memberi suaminya dukungan.


Damar mengulas senyum bangga meminang gadis seperti Juli.


Semoga mereka bisa saling menguatkan mengulurkan tangan ketika salah satu terjatuh.


"Tidur sebentar mau ?"


Ajak Damar melepas pelukannya menciptakan jarak untuk menatap Juli.


Juli mengangguk karena iapun merasa lelah belum tidur.


Masih ada waktu beberapa jam sebelum mereka berangkat ke pemakaman.


Damar juga sudah wanti wanti pada mama agar membangunkannya jika sudah siap.


Juli tidur dalam pelukan Damar. Tempat baru ternyaman untuknya bersandar.


Senyumnya mengembang saat mengingat kembali kini mereka suami istri.


"Aku kangen sama bapak. ."


Lirih Juli memainkan telunjuknya didada bidang Damar.


"serius ?


Apa masih kurang dekat sampai kamu merasakan itu . ."


Damar terkekeh mendengar pengakuan Juli.


"entahlah. Aku hancur melihat bapak bersedih."


Juli tahu diri mana mungkin Damar akan melakukannya disituasi seperti ini.


Boleh Juli bermanja manja meminta waktu Damar sebentar.


"Tidurlah, atau kamu akan pusing nantinya."


Damar mengecup ujung kepala Juli menepuk punggungnya agar Juli terlelap.

__ADS_1


☀️☀️☀️


Pemakaman berlangsung hingga menjelang waktu makan siang.


Sudah dikebumikan, menabur bunga juga memanjatkan doa untuk almarhumah.


Kerumunan perlahan menyebar meninggalkan pusara Atikah.


Banyak proses kematian yang Damar dan Ditya saksikan.


Zoya, Hafsari, Mahesa, Kusuma hingga hari itu Atikah.


"Pak, itu siapa ?"


Bisik Juli pada Damar. Yang dimaksud adalah wanita tua berdiri disamping Zara mertuanya.


"Itu Grand ma, maminya ayah Ditya. Grand ma emang nyentrik orangnya."


Damar terkekeh sendiri memperkenalkan Aulia.


"Aku takut pak, kalau grand ma gak setuju kamu nikah sama aku gimana ?"


Juli menatapnya khawatir. Masalahnya Aulia terlihat super keren dimata Juli.


"Grand ma baik tahu, beliau orang pertama yang merestui hubungan ayah sama ibu."


Damar menggenggam tangan Juli menenangkannya.


"Yuk kita pulang, hari sudah semakin terik."


Ajak Ditya pada keluarga besarnya.


Tiara juga sempat hadir bersama Bara namun harus segera pamit kembali bertugas.


"Pak aku hari ini ada rapat sama client pak Malvin, boleh kan aku berangkat kerja ?"


Menuju parkiran Juli meminta izin suaminya.


"Kamu yakin kuat ? Atau aku izin aja sama Miley buat kamu."


"Gak usah, aku harus bertanggung jawab sama tugas aku. Lagian hari ini katanya kak Adam mulai kerja."


"Adam temannya Kevin ?"


Damar terkejut mendengar kabar DGC merekrut laki laki yang juga diketahui cukup dekat dengan Juli.


"iya, kak Adam. Aku pikir bapak sudah tahu tentang hal ini."


Juli merasa tidak enak padahal Damar pemegang saham terbesar di DGC.


"Aku harus ekstra nih awasin kamu. ."


Damar menatap kearah sampingnya.


"Maksudnya bapak curiga, gak percaya gitu sama istri sendiri ?"


Juli genit mencubit perut Damar tanpa ampun.


"Aww sakit Juls, habis kamu itu suka bikin aku khawatir.


Tadi pagi aja kamu berduaan sama Kevin."


Damar masih membahas soal teh.


"Dia kan adik kamu pak, masak aku harus judes gitu sama Kevin."


Keduanya masuk kedalam mobil meninggalkan area pemakaman.


"Tidur Juls, lumayan bisa istirahat."


Damar mengelus kepala Juli. Kasihan dia harus kembali ke kantor dalam suasana duka.


Sesuai janji Juli rapat bersama client disalah satu mini meeting room MHotel.


Rencananya mereka akan menyewa beberapa ruko DGC untuk dijadikan layanan publik.


Mulai dari supermarket, tempat fitness hingga tempat makan.


Juli sudah membiasakan dirinya pintar merayu orang. Dalam artian ia harus bisa mendapatkan kontrak kerja sama.


"Terima kasih mba Juli. Lusa kita taken kontrak di DGC, saya suka presentasi anda."


Kata salah satu pemilik rumah makan ternama di Jakrta menjabat tangan Juli.


"sama sama pak, senang Abuba bisa bergabung dengan kami."


Juli menyalami setiap client perempuan maupun pria lebih tua darinya.


Damar menyaksikan dibalik pintu. Istrinya memiliki kemampuan signifikan, pantas ia berprestasi dibidang akademik.


Tapi hatinya cemburu melihat Juli tersenyum pada setiap pria.


Harusnya hanya Damar yang mendapatkan itu.


Damar harus menerima telpon disaat dirinya ingin menemui Juli.


Juli sekilas melihat bayangan Damar tapi tidak ada.


Iapun kembali keruangannya menemui karyawan baru DGC.

__ADS_1


__ADS_2