
Dua peristiwa penting terjadi hari itu. Hana resmi menggugat cerai Yuta suaminya.
Didampingi Galih juga pengacaranya Hana yakin bertekad ingin bebas dari cengkraman seorang Hiroshi Yuta.
"Kami akan mempercepat proses perceraian, karena berkas sudah lengkap dan didaftarkan ke pengadilan. Jika pihak tergugat tidak mengajukan banding mungkin mediasi ditiadakan."
Begitu kurang lebih informasi yang mereka dapat dari bagian Humas pengadilan agama.
"Terima kasih pak, besar harapan saya kami segera berpisah."
Hana dan Galih pamit undur diri keluar dari ruangan.
Hana merasa lega sudah mengambil langkah yang seharusnya ia lakukan sejak dulu.
Galih sahabatnya selalu ada memberi dukungan moril.
"Kamu mau kemana sekarang Na ?"
Tanya Galih masih fokus menyetir.
"Aku mau nonton, shopping terus makan. Kamu maukan nemenin aku ?"
Beberapa aktifitas yang sudah lama Hana rindukan semenjak ia terkurung disangkar emas milik Yuta di Tokyo.
"Biarkan aku melayani tuan puteri cantik ini mulai sekarang dan seterusnya."
Galih tahu tidak akan mudah menyembuhkan luka dihati Hana. Tapi dia akan bersabar menanti Hana membuka kembali pintu hatinya. Setahun, dua tahun bahkan sampai kapanpun Galih berjanji akan menunggu.
Diruang pertemuan Damar bersama tim investigasinya menjelaskan duduk permasalahan yang terjadi. Mereka mengklaim kalau akun tersebut berusaha merusak nama baik hotel.
Seorang model diduga bekerja sama dengan pihak musuhnya.
"Jadi, siapa menurut pak Damar Aditya pelakunya ?"
Salah satu wartawan majalah bisnis mingguan mengajukan pertanyaan.
"Saya tidak ingin menuduh. Kalian bisa cek sendiri profil pelapor, dari sana kalian akan tahu siapa dalangnya."
Tak ingin berlarut larut, Damar undur diri menyerahkan sisanya pada Sekar juga anak buahnya.
Menurut informan Damar, Hiroshi Yuta tidak mengambil tindakan apapun menanggapi dua serangan balik mengarah padanya.
"Yuta kembali ke Jepang nanti sore. Dia meminta bertemu dengan bapak di jam makan siang."
Ifan melaporkan hasil kerja kaki tangannya.
"Atur saja tempatnya."
Damar menyetujui dengan mudah tawaran Yuta.
Juli menunggu Sofia didepan ruang ICU MHospital.
Bara masih memeriksa keadaan adiknya itu.
Kenapa Juli harus terlibat dikehidupan Sofia, gadis yang baru ia kenal.
"Juli, kamu kenal adik saya ?"
Bara keluar menghentikan lamunan Juli.
"Iya dok, dia junior saya di kampus. Kalau boleh tahu dia sakit apa ?"
Penasaran sekali, Juli ingin tahu kondisi Sofia langsung dari dokter sekaligus kakaknya.
"Kita ngobrol dikafe gimana ?"
Tak masalah, Juli mengangguk mengikuti langkah kaki jenjang Bara.
__ADS_1
"Tumor otak, gejalanya hampir tidak bisa kita prediksi. Biasanya dia demam tinggi, sakit kepala hebat atau mimisan dan pingsan mendadak.
Kami berdua sudah kehabisan waktu Juls, Sofia selalu menolak treatmen yang saya berikan untuknya."
"Apa ada cara lain ?"
"ada, operasi pengangkatan tumor. Tapi resiko kegagalannya lebih tinggi ketimbang berhasil."
Bara mengusap kasar wajahnya bingung harus berbuat apa demi menyelamatkan sang adik.
"Saya sempat membaca bucket list didairynya. Semua sudah terwujud menurut saya, tapi ternyata masih ada yang tertinggal."
Keduanya duduk berdampingan dibalkon kafe rumah sakit.
Dijam kerja kafe akan ramai dipadati pengunjung pasien menunggu jam besuk. Sementara para dokter maupun suster masih sibuk menangani pasien mereka.
"Memang apa dok ?"
"Dia ingin menikah muda karena tahu usianya sudah tidak lama lagi.
Kami tidak dekat karena Sofia selalu menciptakan jarak. Katanya saya tidak bisa menyelamatkan dia dari kematian.
Disitu saya merasa tak berguna menjadi seorang dokter."
"Kak Tiara tahu tentang ini ?"
"Saya belum siap Juls. Saya tidak ingin dia khawatir dan mencemaskan soal pernikahan kami."
"Tapi Sofia peduli sama hubungan kalian. . ."
"Benar, Baralah yang tidak memperdulikan perasaanku Juls."
Tiba tiba saja Tiara sudah beridir dibelakang mereka mendengar percakapan yang berlangsung sejak tadi.
"Ra aku bisa jelasin semuanya."
Bara segera berdiri menggenggam tangan Tiara. Salah Bara sendiri karena menyembunyikan masalah keluarganya dari calon istri.
Juli juga ikut meyakinkan Tiara supaya jangan membenci Bara.
"Bara kita ini mau menikah, kenapa kamu gak mau berbagi duka kamu sama aku ?"
Tiara masih menuntut penjelasan Bara namun dirinya terlalu emosi hingga menangis.
"Ra, please. .
Sofi butuh aku sekarang, dan aku butuh kamu."
Ada harapan dari Bara kalau kekasihnya bisa sedikit memahami situasi.
Namun Tidak ada jawaban dari Tiara, ia lantas meninggalkan kantin dengan air mata yang terus menetes dipipinya.
"Sabar ya dok, saya yakin kak Tiara bisa mengerti hanya dia butuh waktu."
Bagaimanapun Tiara adalah saudari Juli sekarang, Sofia juga sudah menyeretnya kedalam hidup mereka.
"Ayo saya antar kamu pulang, tidak baik ibu hamil terlalu lelah apalagi stres."
Dr. Bara mengajak Juli meninggalkan kafetaria.
"Gak usah dok, saya bisa naik taxi. Besok selesai kuliah saya nengok Sofia lagi."
Diperempatan koridor menuju pintu keluar Juli pamit pada Bara.
"Hati hati ya Juls, terima kasih sudah mengantar Sofia kesini."
"Sama sama dok."
__ADS_1
Kata Juli kemudian berjalan lurus untuk segera mencari taxi disekitar rumah sakit.
Bara memperhatikan punggung Juli. Dia kagum seorang mahasiswa bisa menjalani kedua tugas yang berbeda. Yaitu menjadi seorang istri ditengah proses pendidikannya.
"Andai Sofia seberuntung kamu Juls."
Gumam Bara lalu kembali keruangannya.
Suasana tegang menyelimuti MCafe. Duduk berhadapan Damar dan Yuta didampingi kedua asisten pribadi mereka.
Para karyawan dan beberapa pelanggan tahu siapa dua laki laki tampan itu.
Yang bermata sipit rambut mulai gondrong mengenakan stelan jas hitam ialah Damar Aditya. Pemilik hotel ternama di Ibukota sekaligus penerus perusahaan konstruksi terbesar.
Disebrangnya pemilik merk pakaian terkenal dari Tokyo yang berhasil masuk kepasar tanah air.
Hiroshi Yuta, suami dari seorang desainer.
"Saya minta maaf sempat membawa istri anda. ."
Yuta memulai percakapan diantara mereka, dia mengakui perbuatan tidak sopannya pada Juli.
"Dan soal kolom komentar itu murni bukan ulah saya. Dia melakukan tindakan sembrono karena menyukai saya."
Damar terkekeh sinis mendengar pembelaan Yuta atas masalah yang tercipta diperusahaannya.
"Hak anda untuk tidak percaya, kenyataannya memang begitu dan Hanapun harusnya tahu.
Tujuan saya meminta bertemu untuk menyerahkan ini."
Disodorkannya sebuah amplop putih oleh Yuta kehadapan Damar.
Damar sempat mengerutkan keningnya bingung apa maksudnya.
"Surat untuk Hana, calon mantan istri saya. Dia pasti sudah tidak ingin melihat saya lagi, mohon bantuannya."
"Kenapa anda tidak melakukan perlawanan ? Bukankah anda ingin Hana menghentikan semua ini ?"
"Dari Juli istri andalah saya tahu, kalau Hana hanya menginginkan kebebasan. Dan saya akan memberikannya, saya tidak mau menyakiti perempuan lagi."
Serius Damar makin bingung kenapa Yuta bisa berubah sedrastis ini. Padahal dari cerita Hana saja dia bisa menyimpulkan kalau Yuta orang yang keras kepala.
"Anda yakin merelakan Hana ?"
"Iya, kalau begitu saya permisi dulu."
Yuta berdiri dari kursinya setelah menyesap kopi panas pesanannya. Sebelum pergi dia sempat berhenti sebentar lalu berkata,
"Anda beruntung memiliki istri seperti Juli. Jangan menyia nyiakannya sekalipun, cukup saya saja suami jahat yang pernah dia kenal."
Yuta kini benar benar pergi menghilang dari pandangan Damar setelah menasehatinya.
Damar meraih amplop berwana putih diatas meja dan meminta Ifan mengantarkannya kerumah. Dia ingin pulang lebih awal demi melihat wajah Juli. Semua masalahnya sudah selesai tanpa ada kendala berarti.
Saat menunggu taxi Juli banyak berpikir tentang Sofia. Kasihan sekali nasib hidupnya, dia harus sakit sakitan diusia muda.
Apa perlu Juli membantunya dekat dengan Damar ?
Tapi Juli tidak rela suaminya bersama perempuan lain.
Mungkin Juli perlu berbicara pada Damar.
"Halo mas, ,"
Juli mengangkat telpon dari Damar sambil berjalan menyetop taxi kosong.
- Kamu dimana sekarang ? Aku lagi on the way pulang. -
__ADS_1
"Iya aku juga lagi dijalan mau pulang."
Seperlunya saja mereka mengobrol ditelpon lalu Juli menyimpan kembali handphonenya kedalam tas.