Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
#83


__ADS_3

Hari hari dilalui Zara dengan penuh kesibukan. Ya, mengurus suami sekaligus anak sambungnya. Terkadang ia rindu menghabiskan waktu berdua saja dengan Ditya.


Suaminya kini masih saja mengurus pekerjaannya dikantor.


Sudah hampir 2 bulan Ditya mengerjakan projek bersama Arga. Kini Zara yang selalu mengantar jemput Dee sekolah, ia tidak memiliki waktu luang untuk memanjakkan dirinya sendiri.


"Zara . ."


Seseorang menyapa Zara yang sejak tadi berdiri menunggu Dee keluar.


"mas Hafiz, lagi apa disini ?"


Tanyanya heran bisa bertemu Hafiz di sekolah.


"aku jemput keponakan, anak dari kakak perempuanku.


Zara kamu sakit ? Wajahmu pucat sekali."


Hafiz hampir menempelkan tangannya di kening Zara, namun perempuan itu melangkah mundur menolak.


"mama . ."


Dee berlari mendekati Zara, ia bisa bernafas lega karena tidak berduaan lama lama dengan Hafiz.


"aku duluan mas, ayo Dee."


Zara segera mengajak Dee menuju mobil dan pulang ke rumah.


"mah, tadi siapa ? Kok mamah kayak takut sama om itu."


"keponakannya juga satu sekolah sama kamu Dee, dia bertanya apa sudah bubar atau belum."


Dee manggut percaya padahal Zara sudah berbohong. Ia takut Dee keceplosan cerita pada Ditya kalau dia bertemu dengan Hafiz.


Sampai rumah Dee masih saja menempel pada Zara. Dia ingin Zara menemaninya mengerjakan PR. Mereka tengah duduk disofa ruang TV, Zara rebahan karena merasa lemas sekali.


"mah, Dee lapar mau makan."


Dee menggerakkan lengan Zara yang sudah tertidur.


"Dee mama capek sekali, makanannya sudah ada di meja. Kamu makan sendiri gak apa kan ?"


Zara tidak bergerak ia hanya membuka matanya.


"tapi mama juga harus makan biar gak sakit."


Benar apa kata Dee, perutnya memang sudah kerubukan minta diisi. Hanya saja Zara terlalu berat membuka matanya.


Semalaman Ditya menghajarnya diatas ranjang, belum lagi ia harus menemani Dee yang sering kebangun di tengah malam.


"mama belum lapar, kamu saja yang makan ya mumpung masih hangat makanannya."


Zara memang selalu mendadak kalau urusan masak, biar keluarganya bisa menikmati makanan fresh.


Dee menurut tak lagi memaksa mamanya untuk ikut makan.


Ditya pulang cepat karena tidak ada lagi tugas di kantornya. Setelah memarkirkan mobil di garasi, Ditya berjalan masuk kedalam.


"Zara, Dee . . Ayah pulang."


Tidak ada yang menyahut, Ditya langsung pergi ke dapur untuk minum. Matanya terbelalak melihat anaknya yang sedang memunguti pecahan piring di lantai.


"Dee apa yang kamu lakukan ?"


Secepat mungkin Ditya menarik Dee untuk menjauh agar tidak terluka.

__ADS_1


"Dee gak sengaja jatuhin piring, baru selesai makan yah."


Ditya menghela nafas, lalu berjalan mencari keberadaan Zara.


"Zara, bangun !"


Suara yang di keluarkan Ditya cukup keras sehingga berhasil membangunkan Zara.


"mas sudah pulang ?"


Zara berdiri menatap Ditya yang wajahnya mulai masam.


"Dee makan sendirian, dia hampir melukai tangannya karena pecahan piring. Kenapa kamu tidak menemaninya Ra ?"


Tanpa peduli kemarahan suaminya, Zara berjalan menghampiri Dee yang berdiri tak jauh.


"Dee maafin mama, apa kamu terluka ?"


Tangannya sibuk mengecek keadaan Dee.


"tidak apa apa kok mah, Dee kasihan lihat mamah yang kecapekan. Ayah jangan marah sama mama, kan Dee gak sengaja jatuhin piring."


Mendengar pembelaan dari Dee, Zara langsung memeluknya. Ia tak kuasa menahan air matanya untuk tidak jatuh.


Ditya mencerna kata kata Dee, mungkin benar kalau istrinya kelelahan. Mengurus urusan rumah tanpa ART sangatlah menguras tenaga. Ia harus memasak, cuci piring dan baju juga mengurusnya dan Dee.


"Zara aku minta maaf, aku tidak bermaksud memarahimu."


Ditya melangkah meraih tangan Zara, ia terkejut saat ada tepisan dari istrinya.


"kamu mandi dulu, biar aku siapkan pakaian dan makan siang."


Zara mengajak Dee ke kamar meninggalkan Ditya begitu saja.


"maafkan aku Zara, aku tidak bisa melihat kesedihanmu. Aku bahkan tutup mata menyaksikan kebebasanmu terenggut."


"mah, apa mama marah sama ayah yang sudah keterlaluan ?"


Dee duduk ditepi ranjang menemani Zara menyiapkan baju ganti untuk Ditya.


"tidak Dee, mama yang salah. Ayah wajar sedikit kesal, mama juga gak mau kamu terluka."


"tapi mah, , ,"


Zara menggelengkan kepalanya tersenyum, tidak ingin berdebat lagi dengan Dee.


"ayo kita turun, mama harus masak buat ayah kamu."


Zara kembali turun bersama Dee, ia berpapasan dengan Ditya ditangga. Hanya diam, Zara tidak mengatakan apapun pada Ditya.


Makanan sudah siap, Zara naik ke kamar untuk memanggil Ditya. Baru satu anak tangga, ia meringis memegangi perutnya yang tiba tiba sakit.


Keringat dingin mulai tampak dikeningnya, satu tangan bertumpu pada pembatas tangga menahan tubuhnya.


"mama kenapa ?"


Dee berlari menghampiri Zara karena khawatir dengan gelagatnya.


"mmm . . . Tolong panggilkan ayah Dee, perut mama sakit sekali."


Tidak banyak tanya, Dee berlari naik mejemput Ditya.


"Ayah, mama . ."


Mereka bertemu didepan pintu kamar, nafas Dee tak beraturan.

__ADS_1


"tenang Dee, bicara pelan pelan."


"mama sakit, cepat yah !"


Ditya segera berlari panik ingin segera melihat keadaan Zara.


"Zara kamu kenapa ?"


Ditya memeluk Zara yang hampir tak sadarkan diri.


"sakit perutku mas . ."


Cemas sekali Ditya, langsung berlari membopong tubuh Zara.


"Dee ambilkan kunci dilemari sepatu."


Dengan cepat Dee mencari kunci mobil yang biasanya disimpan di rak sepatu.


Ditya menunggu bersama Dee di depan ruang IGD. Dokter sudah cukup lama memeriksa keadaan Zara didalam.


"Dit . ."


Seorang dokter yang sudah tidak asing keluar, memanggil Ditya untuk memberitahu keadaan istrinya.


"om, bagaimana keadaan Zara ?"


"Zara tidak apa apa, perutnya hanya kram. Janinnya juga baik baik saja."


Deg . .


Perasaan Ditya campur aduk, bahagia karena tahu istrinya hamil. Namun dia juga kaget karena baru mengetahuinya. Kenapa Zara tidak bicara apa apa, mungkin salahnya yang selalu sibuk sampai tidak memperhatikannya.


"astaga Dit, jangan bilang kamu tidak tahu kalau istrimu hamil ?"


Ditya menggeleng lemah membenarkannya.


"jangan gila kerja kamu, perhatikan keadaan Zara yang sangat lemah. Usia kandungannya baru 8 minggu, trismester pertama selalu sulit bagi ibu hamil kamu juga tahu itu. Jangan sampai terulang lagi Dit, om minta tolong sama kamu."


Dr. Rahman menepuk pundak Ditya lalu meninggalkannya.


"Zara kamu . ."


Dengan ragu Ditya mendekat kearah brankar Zara yang sedang diinfus.


"aku juga baru tahu mas, tolong jangan salah paham."


Benar adanya, Zara bahkan tidak sempat mengurus dirinya. Dirinya yang telat datang bulan saja sampai tidak sadar.


"aku minta maaf Zara, semua ini salahku yang kurang peduli sama kamu."


Entah kenapa mendengar ucapan Ditya Zara merasa hatinya teriris. Seakan diingatkan kalau Zara menikah dengannya karena memenuhi kebutuhan Ditya.


Butuh sosok ibu bagi anaknya, butuh pemuas hasratnya dan butuh teman hidup. Tanpa menunjukkan rasa cintanya sedikitpun untuk Zara, Ditya lupa akan kebahagiaan istrinya.


"mah, jadi benar Dee bakal punya adik ? "


Dee mendekap tubuh Zara, dia senang sekali saat tahu mamanya sedang mengandung.


"iya sayang, Dee bakal jadi seorang mas."


Zara mengelus lembut pipinya, Dee sama sekali tidak menunjukkan rasa cemburunya. Pada anak seusianya mungkin saja tidak ingin perhatian orang tuanya terbagi.


"Dee janji, bakal jagain mama dan dedek bayi yang ada disini."


Tangannya bergerak mengelus hati hati perut Zara.

__ADS_1


"terima kasih mas Damar."


Ucap Zara mulai membiasakan memanggil Dee dengan namanya.


__ADS_2