
Disebuah restoran, seorang wanita duduk dengan tatapan kosong. Makanan yang ada dihadapannya tak tersentuh sama sekali.
Tepat di depannya seorang pria tengah asik mengiris tenderloin steak sebagai menu makan siangnya.
Dengan santainya dia menikmati potongan daging ditaburi mushroom sauce.
"kamu tidak makan Zoya ?"
Tanyanya melirik kearah Zoya yang hanya duduk tegak menatap sinis dirinya.
"apa saya boleh ke toilet ?"
Waktu makan siang sama dengan jadwal Dee minum ASI. Zoya merasa dadanya semakin menegang, air susu terasa menetes beberapa kali.
"baiklah, tapi kamu harus kembali lagi !"
Syukurlah Bima tidak mempersulitnya, Zoya segera berjalan menuju arah toilet.
"ya ampun Dee, maafkan ibu. Kamu pasti kelaparan."
Sesampainya ditoilet Zoya mengambil beberapa lembar tisu lalu masuk kedalam bilik toilet yang kosong.
Ia menyumpal pu*ingnya agar air susunya tidak terus mengalir.
Ketika keluar, Zoya melihat seorang ibu ibu yang sedang membersihkan area toilet.
"maaf bu, bisakah saya meminjam handphone ibu ? Saya perlu mengabari suami saya."
Besar harapan Zoya bisa menerima bantuan dari ibu itu.
Ia bahkan tidak sempat membawa handphone miliknya tadi.
"silakan bu,,"
Beruntung sekali ibu itu baik mau meminjamkannya pada Zoya.
"terima kasih bu,"
Zoya menerima handphone dari tangan ibu yang seumuran dengan bu Atikah, dengan cepat ia menelpon Ditya.
"halo mas, aku ada di Abuba Steak dekat MHospital. Tolong jemput aku !"
Tut tut tut . .
Nasib masih berpihak pada Zoya, sebelum pulsa ibu itu habis ia berhasil memberitahu keberadaannya pada Ditya.
"terima kasih bu, semoga Tuhan membalas kebaikan ibu."
Zoya mengembalikan handphonenya pada si ibu, ibu itu hanya mengangguk tersenyum.
Dari pintu masuk toilet, meja tempat Bima duduk bisa terlihat.
Zoya memandang jauh kedepan, ia tidak menemukan keberadaan pria menyebalkan itu.
Ini kesempatan Zoya untuk kabur, semoga Bima tidak menangkap basah dirinya.
"kamu sangat pintar Zoya . ."
Suara dari arah samping membuat Zoya terkejut bukan main. Ia bahkan belum melangkah jauh dari pintu toilet.
"saya mohon, Dee membutuhkannya."
Lirih Zoya memohon pengertian Bima untuk segera mengantarnya pulang. Bima melirik kearah dada Zoya, terlihat kemeja bagian itu basah.
Dia pasti paham apa yang sedang dialami Zoya, karena Bima adalah seorang dokter.
"baiklah, aku antar kamu pulang. Terima kasih sudah menemaniku makan siang."
__ADS_1
Bima luluh, merasa kasihan menyaksikan Zoya menahan rasa sakitnya berjauhan dengan Dee.
Keduanya sudah berdiri didekat mobil, Bima membukakan pintu untuk Zoya. Tiba tiba secara mendadak seseorang memukulnya dengan keras. Membuat Zoya terperanjat kaget.
"kakak mana yang tega mengganggu istri dari adiknya, apa kamu sudah gila ? Jangan pernah menyentuh Zoya ! Atau aku akan berbuat lebih."
Ditya menarik tangan Zoya untuk berdiri dibelakangnya, menjauh dari jangkauan Bima.
"kalau ibumu bisa merebut papa dari mamaku, maka akupun bisa melakukan yang sama."
Brug . .
Bima membalas pukulan Ditya, kini tubuh Ditya tersungkur dihadapan Zoya.
"cukup, hentikan ! Kalian saudara satu ayah, bisakah kalian bersikap dewasa ?"
Zoya berusaha melerai perkelahian diantara dua pria, ia meraih tubuh Ditya berusaha mengajaknya berdiri.
Tapi Bima langsung mendorong Ditya hingga terjatuh kembali. Dia menarik Zoya, berusaha membawanya kabur.
"brengsek kamu Bima !"
Teriak Ditya berusaha bangkit.
"lepaskan aku Bima !"
Zoya meronta ronta, namun Bima hanya diam tanpa memperdulikan. Dia berniat menyetop taxi untuk pergi bersama Zoya.
"Arghh . ."
Bima meringis kesakitan, tangannya digigit oleh Zoya yang berhasil melepaskan genggamannya.
Entah karena tidak bisa berpikir jernih, Zoya malah berlari untuk menyebrang. Yang terpenting baginya lari sejauh mungkin dari Bima.
Tit tit tit . . .
"Zoya . . . ."
Ditya dan Bima berteriak secara bersamaan, berharap wanita itu segera menghindar.
Brug . . .
Sesuatu yang mengerikan terjadi saat itu juga, semua orang yang mendengar ada kecelakaan langsung datang menghampiri.
Darah segar mengalir ditempat kejadian, seketika dunia berubah menjadi gelap baginya.
🍀🍀🍀
"bangunlah ! aku mohon Zoya, jangan seperti ini. Aku janji tidak akan membuatmu menangis lagi."
Tak henti hentinya Ditya berusaha memberi kekuatan untuk Zoya agar cepat sadar.
Istrinya masih terbaring tak berdaya, dengan masker oksigen dihidungnya. Ditya selalu menemani Zoya, duduk dan menggenggam tangannya. Terhitung sudah 36 jam Zoya mengalami masa koma.
Hancur hidup Ditya menerima kenyataan pahit yang dialaminya. Andai saja dia bisa lebih kuat melindungi Zoya, ini semua tidak akan terjadi.
Jika ada yang harus disalahkan, maka Ditya paling merasa bersalah. Tidak bisa menjaga istrinya dengan baik.
"Ditya, istirahatlah nak !" Biar mami yang jaga Zoya."
Bu Aulia datang mendekat, menyentuh lembut pundak Ditya. Memberinya dukungan dan kekuatan, berharap Ditya bisa lebih tabah.
"kenapa harus Zoya mi, kenapa ? Kasihan dia, masih berjuang untuk bangun. Ditya tidak tega melihat Dee."
Sejak kecelakaan yang menimpa Zoya, bu Atikah mengambil alih untuk menjaga Dee.
Sementara keluarga Ditya bergantian merawat Zoya di MHospital.
__ADS_1
Tidak ada yang berani mengingat kejadian naas yang menimpa Zoya.
"ada kerusakan dibagian kornea mata Zoya, jika dia masih bisa bertahan mungkin akan mengalami kebutaan."
Dokter ahli syaraf menjelaskan kepada keluarganya, hasil tes yang sudah mereka lakukan.
Salah apa Zoya hingga harus menanggung semua ini ? Dia bahkan menjadi korban didalam perang antar saudara.
"untuk keadaan pak Abi Mahesa, beliau sudah menghembuskan nafas terakhirnya satu jam yang lalu . ."
Bohong kalau pak Mahesa dan nek Hafsari tidak sedih dan terpukul mendengar kabar duka tentang meninggalnya Bima.
Bagaimanapun Bima adalah anak kandung pak Mahesa dan cucu pertama nek Hafsari.
Tanpa sempat mengulurkan tangan meraih Bima, Tuhan sudah berkehendak lain.
Kalau saja tahu usia Bima tidak akan lama, mereka pasti menerimanya dengan tangan terbuka.
"selain akibat kecelakaan, pak Abi memang memiliki riwayat gagal jantung. Sepertinya faktor keturunan, kami masih belum melakukan tindakan. Karena sebelum meninggal beliau memberi wasiat. Ini tulisan tangan dari pak Bima."
Dokter menyerahkan secarik kertas kehadapan pak Mahesa.
Dari Bima, untuk keluarga tersayang . .
Jika kehadiran Bima membawa masalah dikehidupan kalian, tolong maafkan.
Sejujurnya Bima sudah kehilangan arah, Bima hanya ingin berada ditengah tengah kalian.
Bima butuh kalian disaat saat terakhir Bima.
Bima datang hanya untuk pamit, semoga hal baik yang akan kalian kenang tentang Bima.
Jika terjadi sesuatu pada Zoya, itu salah Bima. Tolong berikan yang terbaik untuk Zoya jika dia membutuhkan sesuatu. Bima dengar, Zoya akan mengalami kebutaan. Biar Bima yang akan menjadi matanya untuk melihat.
Maafkan kakakmu Ditya, aku hanya mencari alasan untuk melampiaskan rasa kecewaku pada papa.
Abi Mahesa.
"sebelum pak Bima meninggal, beliau sempat sadar dan menanyakan keadaan bu Zoya. Kami terpaksa memberi tahu, karena beliau memaksa."
Tak terasa, air mata sudah berlinang membasahi pipi nek Hafsari.
Sebuah penyesalan terbesar yang pernah pak Mahesa alami. Bahkan Bima tidak bicara apapun. Harusnya dia bilang 'pa, anakmu sekarat. Tolong rawat aku!'
Setidaknya jika dia mengatakan yang sejujurnya, pak Mahesa akan menyayangi Bima sepenuh hati.
"maafkan papa nak . ."
Pak Mahesa memeluk kertas yang menjadi peninggalan terakhir Bima.
"Ditya, Bima sudah pergi . ."
Bu Aulia membisikkan kabar tentang Bima ketelinga Ditya.
Apapun yang pernah Bima katakan, tidak menghapus kenyataan kalau dia adalah kakaknya.
Terlebih Bima berhasil menyelamatkan Zoya saat hampir tertabrak truk.
Bima berlari meraih tubuh Zoya, memeluknya.
Kedua tubuh itu terjatuh kebahu jalan, sayangnya kepala Zoya terbentur trotoar dengan cukup keras hingga menimbukkan suara.
Darah terus mengalir dari kening Zoya, menyebabkan kerusakan pada syaraf matanya.
"Zoya . ."
Bima mengalami serangan jantung berusaha mencapai tubuh Zoya yang sudah tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Ditya berlari secepat mungkin, dia memeluk istrinya. Tangannya menekan kening Zoya, berusaha menghentikan darah yang keluar.