Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
Dee


__ADS_3

Setelah melalui beberapa proses penyelesaian, Zoya kini sudah ditempatkan di ruang rawat kelas 1. Namun baby X harus masih tinggal di ruang inkubator untuk menjaga kesehatannya.


Karena tidak sempat melakukan persiapan apapun, Zoya masih belum membawa stok pakaian baby X. Untungnya bu Atikah sempat mampir ke Penthouse untuk mengambilnya.


"ada apa ? Pikiranmu seperti sedang terganggu".


Bu Atikah duduk dikursi sebelah brankar, merapikan pakaian baby X.


"Zoya akan kembali kerumah ibu, setelah keluar dari rumah sakit". Jawab Zoya dengan wajah datarnya, tatapannya masih kosong. Perasaannya juga tidak karuan.


"kalian bertengkar ?"


Merasa ada yang tidak beres, bu Atikah menyelidik ekspresi Zoya.


"tidak bu, hanya saja setiap wanita yang telah melahirkan biasanya ingin dibantu oleh ibu mereka. Zoyapun begitu".


Terlihat Zoya memaksakan senyumnya, ia masih ingin menutupi masalah rumah tangganya dari bu Atikah.


Diluar ruang inkubator, bu Aulia dan Tia masih setia memandangi baby X. Wajahnya merah sekali, hidung dan matanya mirip Zoya. Seperti Zoya versi laki laki.


"mi, kalau kak Zoya melarang kita ketemu baby X bagaimana ? Tia takut sekali".


Pertengkaran Ditya dan Zoya sudah bukan rahasia lagi, semuanya tahu tentang kejadian pagi tadi dirumah.


"mami yakin, Zoya tidak akan seperti itu. Lihatlah, Zoya bahkan sangat tabah mengandung baby X sampai mirip sekali dengannya".


Bu Aulia tersenyum memandangi cucu pertamanya. Meski sejujurnya beliau juga khawatir terhadap nasib anak laki lakinya.


Milka yang mendengar kabar Zoya telah melahirkan, menyempatkan mampir dijam istirahatnya.


"masuklah !"


Ditya menyuruh Milka masuk yang saat itu masih tertegun melihat Ditya malah duduk diliar.


"kamu sendiri kenapa diluar ?" tanya Milka penasaran, raut wajah Ditya sangat masam.


Milka tahu sesuatu pasti sedang terjadi diantara mereka.


"hi ibu muda . . Selamat ya, loe sudah jadi wanita seutuhnya".


Keduanya berpelukan melepas rasa kangen bercampur bahagia.


"terima kasih onti . ."


"Zoy, Ditya kenapa ?"


Milka bertanya dengan pelan, agar bu Atikah tidak curiga.


"ibu mau lihat cucu ibu dulu ya, kalian bisa ngobrol".


Sengaja bu Atikah memberi ruang untuk Zoya mengeluarkan isi hatinya pada Milka.


Mungkin anaknya sungkan kalau harus cerita padanya.


"mungkin Ditya hanya terkejut, tiba tiba saya kontraksi".


Tidak, Zoya belum siap menceritakan semuanya. Cukup keluarganya saja yang mengetahui luka yang telah digoreskan oleh Ditya.


"baby boy, oh god Zoya. Dia bakal jadi pewaris MH Group nantinya".


Tingkat matrealistis Milka seketika muncul, mengingat cucu pertama yang laki laki biasanya akan menerima tahta.


"Oh God Milka, baby X tidak sematre kamu".


Untuk pertama kalinya Zoya bisa tertawa lepas, karena sahabatnya Milka bisa membuat Zoya sedikit melupakan kesedihannya.

__ADS_1


"Milk, kalau saya melakukan kesalahan apa baby X akan memaafkan ibunya ?"


Mendadak Milka mendengar pertanyaan Zoya yang kurang dimengerti olehnya.


"apa . . ?


Sudah gue duga, kalian pasti ada masalah. Saran gue, jangan melakukan hal yang nantinya loe bakal sesali".


Milka beranjak dari duduknya, berusaha mengendalikan emosinya melihat sahabatnya bersedih.


"permisi . . Waktunya memberi asi untuk bayi bu Zoya".


Suster masuk dengan menggendong baby X, memotong pembicaraan mereka.


"hello baby X . . This is onti Milka". Milka girang melihat baby X yang menggemaskan itu.


Pertama kalinya, Zoya mencoba menggendong baby X. Ia meraih tangan mungil baby X, dan menangis tersenyum.


"hi sayang . . Ini ibu".


Zoya mengelus rambut baby X. Suster membantu Zoya untuk mulai menyusui baby X.


Rasanya sama seperti Ditya yang melakukan itu, hanya saja ada air susu yang terasa mengalir masuk ke mulut baby X.


"wah, baby X sudah bisa ngenyot bu. Airnya juga sudah lumayan".


Suster mengamati tingkah baby X, yang terbilang prematur karena tidak sampai 9 bulan dalam kandungan.


Milka sempat keluar untuk mengajak Ditya masuk. Gemas sekali melihat pria yang kini sudah menjadi seorang ayah itu masih saja berdiam diri.


"kalian mau kasih nama apa untuk baby X ?"


Tanya Milka menuntut kekompakan Ditya dan Zoya agar suasana bisa lebih baik lagi.


Damar Aditya".


Mendengar jawaban Ditya, Zoya terdiam sejenak lalu melirik sebentar kearah suaminya yang berdiri menatap Zoya.


"dia akan menjadi penerang, saat dunia kedua orang tuanya mengalami kegelapan".


"mati listrik kali Dit.


Sudah ya, gue balik ke kantor lagi.


Nanti kita ketemu lagi ya baby Dee". Tidak bisa lama lama, Milka pergi meninggalkan Zoya bersama Ditya.


"pindah ke yang satunya bu". Suster meminta Zoya mengganti posisi menyusui.


Dengan hati hati, Zoya memindahkan baby Dee ke tangan kirinya.


Sejak tadi Ditya hanya memperhatikan sambil duduk disofa sebelah brankar.


"saya tinggal ya bu pak, 15 menit lagi dijemput".


Suster itu juga pamit, memberi ruang untuk Zoya bersama dengan bayinya sebelum kembali ke ruang inkubator.


Ruangan kembali hening, masih belum ada yang bersuara.


Hanya suara baby Dee yang tengah asik menikmati asinya.


Dee (Di/D) , dari inisial Damar yang diberikan oleh Milka. Zoya dan Ditya tidak merasa keberatan jika Damar memiliki nama panggilan.


"boleh aku menggendongnya ?"


Ditya bangkit dan mendekati Zoya, dia ingin mencoba menggendong putranya.

__ADS_1


"cuci tangan dulu".


Ditya menurut dan mencuci tangannya di washtafle.


Zoya menyerahkan baby Dee ke pangkuan Ditya.


"Aku akan pulang ke rumah ibu, biar ibu yang membantuku merawat baby Dee".


"aku akan ikut".


Potong Ditya dengan tatapan masih fokus mengagumi wajah baby Dee.


"tidak usah, kamu bisa berkunjung kapan saja". Zoya menolaknya.


Bagaimana ini, Ditya sudah tidak bisa membuat Zoya percaya padanya lagi.


Frustasi sekali Ditya menanggung konsekuensi atas perbuatannya.


Zoya tidak akan pernah meminta bercerai dengan Ditya. Ia menunggu Ditya melakukannya, itu semua demi Damar.


Sama halnya Zoya memberi kesempatan pada Ditya untuk memilih.


"kalian masih tanggung jawabku Zoya " Pria itu masih menahan diri untuk tidak terpancing oleh Zoya yang sengaja menyulut emosinya.


"mungkin kamu akan memiliki tanggung jawab lainnya mas, siapa tahu baby Dee akan menjadi seorang kakak"


"cukup ! Aku tidak sejahat itu Zoya".


Kata kata Ditya terhenti karena pintu terbuka. Suster datang bersama bu Aulia dan Tia.


"saya bawa babynya dulu ya pak, permisi".


Suster mengambil alih baby Dee dari pangkuan Ditya lalu keluar ruangan.


"Zoya, mami sama Tia pulang dulu ya. Nanti nenek sama papi gantian kesini. Kamu harus banyak istirahat".


Sejak pagi mereka memang sibuk menjaga Zoya. Setelah semuanya sudah beres, bu Aulia akan merasa tenang meninggalkan Zoya dan cucunya.


"iya mi, terima kasih sudah mau jaga Zoya. Kamu juga boleh pulang mas, pasti sibuk bukan ? Disini ada ibu, tidak usah khawatir".


Perkataan Zoya sangat menohok, mengusir Ditya secara halus didepan keluarganya.


"kak Zoya tega sekali, kak Adit juga orang tua baby dee. Apa harus seperti ini kak ?"


"Tia sudahlah, lebih baik kita pulang. Biarkan Zoya menenangkan pikirannya".


Ditya menuruti kehendak Zoya, berat sekali dia harus meninggalkan istrinya yang baru selesai operasi itu.


"ayo".


Bu Aulia mengajak Tia dan Ditya keluar dari ruangan dan pulang ke rumah.


Bukan ingin Zoya dia bersikap kasar. Dityalah yang memaksa, keadaan jadi runyam.


Semuanya berubah jadi abu abu, ia masih belum melihat kejelasan dari Ditya.


Awalnya Zoya sangat percaya pada Ditya, bahwa mana mungkin dia bisa tega berkhianat.


Hanya itu kesempatan yang Zoya berikan pada Ditya. Tapi atas kesadarannya sendiri, Ditya merusak semuanya.


Perasaannya, kehidupannya, kebahagiaannya seperti tidak ada gunanya lagi.


Hanya Dee penguat Zoya, obat dari semua rasa sakitnya.


Sekali lagi, Zoya harus berpikir realistis. Melepaskan Ditya dengan alasan berbeda saat mereka berpisah karena menggapai cita cita dulu.

__ADS_1


__ADS_2