Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
#160


__ADS_3

Sejak pagi Juli menunggu kepulangan suaminya. Namun baru tadi Damar menyusul Juli kerumah orang tuanya. Kalau saja Juli tahu, Damar memang sibuk sekali dikantor seharian ini. Yanh Juli tahu Damar pasti tengah menemani Sofia dirumah sakit.


Juli bahkan sempat meminta izin pada mama Zara untuk mengambil perlengkapannya dirumah mereka. Juli diantar supir keluarga atas perintah Ditya.


Ia hanya mengambil beberapa stel pakaian, keperluan kuliah dan sebuah kunci. Sepulangnya Juli dari rumah sakit, ia berniat menenangkan diri disuatu tempat. Bukan menghindar, Juli butuh udara segar bagi kesehatan fisik maupun mentalnya.


Tengah malam ia baru selesai membersihkan tubuhnya. Juli berada ditempat tak terduga. Rumah peninggalan kakek dari maminya Inez.


Meski tidak memberi kabar sebelumnya, penjaga rumah bahkan bisa mengenali Juli. Setelah mengetahui dirinya sakit keras, David sudah menyiapkan segalanya untuk Juli. Termasuk rumah luas dengan satu lantai.


Terdapat kolam renang yang selalu dibersihkan oleh suami penjaga rumah. Keduanya memang tinggal disana secara cuma cuma atas permintaan David.


Tok tok tok . .


Pintu diketuk oleh seseorang dari luar. Juli menaruh handuknya digantungan kayu pojok ruangan.


"Tehnya non Juli."


"Terima kasih ya bi Ijah."


Juli mengambil alih secangkir teh hangat dari tangan bi Ijah.


"Sama sama, non Juli jangan sungkan kalau butuh apa apa. Bi Ijah siap melayani 24 jam."


"Iya bi, bibi istirahatlah sudah malam."


Bi Ijah manggut tersenyum kemudian permisi.


Juli tidak bisa memejamkan matanya, pikirannya selalu saja tertuju pada Damar. Apa artinya langkah yang diambil Juli, pernikahannya baru seumur jagung dan dia tengah hamil muda. Juli berusaha untuk tidak berbuat nekad.


Andaikan, Damar sedikit saja menolak permintaan Sofia mungkin Juli tidak akan sekecewa ini.


Sekarang Juli hanya perlu fokus menyelesaikan skripsi dan menyongsong ujian akhir. Apapun akan Juli lakukan untuk bisa menjaga keseimbangan, antara menjaga kehamilannya juga pendidikannya.


" Sayang, , kita jalani ini sama sama. Baby milik mommy selamanya."


Tangan Juli mengelus elus perutnya yang sedikit buncit diusia kehamilannya yang menginjak 4 bulan.


🍀🍀🍀


Juli menjalani hari harinya penuh dengan semangat. Dikampus dia selalu mendapat bantuan dari Tedi. Misalnya mengantar Juli pulang, itupun harus ada seseorang diantara mereka. Juli tidak ingin ada fitnah, statusnya masih sebagai istri Damar.


"Juli, lihat deh perut kamu kayak gerak gitu."


Sinta teman dari Tedi melihat pergerakan baby yang menendang perut ibunya takjub.


"Iya Sin, akhir akhir ini dia aktif banget. Pulang bimbingan aku mau check up ke dokter."


Juli mengusap usap perut besarnya. Tedi baru bergabung membawa minuman untuk mereka dan sebuah makalah.


"Selamat ya, Bab terakhir skripsi kamu diterima Prof. Felix."


Ternyata Tedi juga yang mondar mandir membantu Juli mengikuti bimbingan. Untungnya Prof. Felix memaklumi kondisi mahasiswanya.


"Wah, , bentar lagi aku lulus Ted."


Seketika Tedi merasa hatinya terketuk oleh tawa bahagia Juli.

__ADS_1


Jangan sampai Ted, kamu memiliki perasaan terhadap Juli. Ingat dia masih istri orang, gumamnya dalam hati.


"Nanti malam kalau kalian gak sibuk, aku undang makan malam dirumah."


Sinta melirik Tedi meminta jawaban, kalau Tedi ikut otomatis dirinya juga harus hadir.


"Tentu Juls."


Seperti biasanya, jika Juli ada jadwal kuliah ia akan berangkat naik taxi. Pulangnya barulah Tedi dan Sinta mengantarnya sampai didepan gerbang rumah.


Waktu hingga makan malam masih cukup panjang. Juli sudah meminta bi Ijah belanja bahan makanan tadi pagi. Makan malam kali ini akan spesial, merayakan rampungnya skripsi dan kehadiran mereka.


"Biar bibi yang masak non, non Juli gak boleh sampai kelelahan."


Bi Ijah meminta Juli duduk dikursi dekat dapur, perasaannya selalu was was melihat Juli masih saja bandel.


"Bi, aku dan baby sehat kok. Kalau gak gerak malah gak baik."


"Maaf non kalau bibi lancang, sebenarnya hubungan non dan suami non itu bagaimana ? Setahu bibi gak baik lama lama pisah ranjang. Nanti malah berujung perpisahan."


Juli menimbang baik baik ucapan Bi Ijah. Sudah hampir dua bulan dia menghimdar dari Damar. Sesekali laki laki yang masih berstatus suaminya itu datang kerumah. Namun Juli meminta Damar harus ditemani mama Zara.


Menurut Juli, Sofia lebih membutuhkan Damar berada di sisinya. Juli akan baik baik saja meski Damar kini tidak lagi mengelus perutnya sebelum tidur.


Zara juga sempat mengingatkan agar Juli mau membuka hati dan menerima semua ini. Ditya bahkan mencabut hak warisnya untuk Damar. Ia alihkan atas nama anak pertama mereka berdua.


Dan selama itu juga Damar hanya berstatus sebagai karyawan Ditya. Semua gaji Damar bahkan ia kirimkan ke rekening Juli. Ia masih istrinya, Damar harus memberi Juli nafkah.


"Maaf non, ada yang nyari non Juli diteras depan."


Siapa, tanya Juli dalam hati. Iapun segera berjalan menuju pintu depan. Juli melihat punggung seseorang yang ia kenal. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu.


"Sofia . ."


Mendengar sapaan tuan rumah Sofiapun berbalik. Ada sorot mata tak mampu Juli artikan.


"Kenapa kak Juli tega sama aku ? Harusnya dulu kakak bilang kalau pak Damar itu suami kakak, aku udah rebut dia dari kak Juli dan anak kalian."


Isak tangis Sofia mulai terdengar.


Juli menariknya, memeluk Sofia memberinya ketenangan.


"Pak Damar sudah hampir gila ditinggal kakak. Dia bahkan tidak pernah menyentuhku kak."


"Oke, kita masuk dan bicara didalam."


Sofia melepaskan pelukan Juli dan berjalan mengekori empunya rumah.


Juli menaruh segelas air mineral keatas meja. Biarkan bi Ijah memasak sendirian, makanannya jauh lebih enak daripada hasil karya Juli.


"Saya tidak bermaksud meninggalkan mas Damar. Saya memberi kalian waktu bersama, menikah bukan sekedar status. Kamu butuh hak dan menunaikan tanggung jawab kamu sebagai istrinya. Begitupun dengan mas Damar."


Itulah pemikiran Juli selama ini. Meski ia sudah menjelaskannya pada Damar, tetap saja mereka memandang salah keputusannya.


"Kasihan pak Damar, dia sangat merindukan kamu kak. Lusa aku akan menjalani operasi besar, tolong temani aku kak. Aku takut sekali."


"Lusa aku ada ujian akhir Fia, tapi setelah selesai aku akan menemui kamu dirumah sakit. Aku minta kamu harus kuat, kami semua sayang sama kamu."

__ADS_1


Juli menggenggam tangan Sofia memberinya dukungan.


"Iya kak, terima kasih untuk semuanya. Dan maaf karena sudah menyakiti kalian berdua."


Sofia tahu semua tentang merika ketika dia diajak Damar kerumahnya. Saati itu Damar meminta Sofia menunggu diruang TV, sementara dirinya membersihkan diri di kamar mandi lantai 2.


Karena penasaran, Sofia menyusul Damar kekamarnya. Kebetulan juga pintunya tidak dikunci. Matanya mengamati setiap sudut kamar pribadi suaminya. Setelah menikah Sofia memang tinggal dirumah Bara. Sesekali Damar akan menginap disana. Tanpa melakukan hubungan suami istri.


Hingga saat Sofia mendapati beberapa foto pernikahan sederhana Damar dan Juli disebuah kamar rumah sakit. Dan terpajang bingkai sebuah foto cetak printer dinakas sebelah tempat tidur.


Sofia raih dan mengusapnya menggunakan telunjuk. Ia tahu kalau itu adalah hasil USG seorang ibu hamil.


Iapun melihat ke arah meja rias, terdapat banyak peralatan make up juga skin care.


Terjawab sudah teka teki hubungan Damar dan Juli. Perasaan Sofia berkecamuk, marah pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia tidak menyadari kedekatan mereka selama ini.


"Kamu gak salah Fia, pernikahan kami memang tidak mengadakan resepsi karena mas Damar dan aku sudah sepakat."


Sofia merasa sangat tidak tahu diri, ia mengakuinya pada Juli.


"Mas Damar tidak mendaftarkan pernikahan kami secara hukum kak. Hanya kak Juli satu satunya dihati dia."


"Apa ? Kenapa mas Damar tega sekali sama kamu Fia, aku perlu bicara sama dia."


Juli beranjak dari sofa berniat mengambil handphonenya.


"Aww . ."


Belum sempat ia melangkah, Juli meringis sakit dibagian perutnya. Seketika Sofia panik menahan tubuh Juli agar tidak terjatuh.


"Kak Juli kenapa, aku panggil taxi kita kerumah sakit ya ?"


"Mmm, , " Juli menarik nafas.


"Gak papa Fia, mungkin aku hanya mengalami kram perut."


Juli menggelengkan kepala memejamkan matanya.


"Kak, ada darah . ."


Sofia terkejut melihat ada darah mengalir dipangkal paha Juli.


"Sakit Fia, tolong babyku !"


Tangan Juli mencengkram lengan Sofia. Ia menahan rasa sakit yang kini semakin terasa.


Sofia dibantu bi Ijah membawanya ke taxi yang Sofia telpon. Tidak ada makan malam sesuai perkiraan Juli. Ia lebih mementingkan keselamatan bayinya. Juli takut sekali terjadi hal buruk padanya.


"Halo pak, kak Juli perutnya sakit. Kakinya berdarah."


Didalam taxi Sofia menyempatkan memberi kabar pada suami mereka.


"Fia jangan kasih tahu mas Damar."


"Gak bisa kak, dia harus tahu."


Damar yang sedang mengadakan presentasi diruang meeting segera mengakhirinya. Dia tidak peduli lagi dengan posisinya diperusahaan. Biar saja Ayahnya memecat dia sekalipun, istri dan anaknya sedang membutuhkan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2