
Damar menepati janjinya pada Juli untuk mengajaknya berjalan jalan disekitar Myeongdong. Setelah sebelumnya tante Milka mengirimkan kunci apartemen melalui anak buahnya. Rumah itu atas nama Tiara, terdapat 1 kamar tidur lengkap dengan semua fasilitasnya.
"Sayang bagaimana kalau kita ngopi disana sebentar ?" Damar menunjuk kearah cafe bernama Good Simple disebrang jalan.
"Boleh, kalau gak salah pemiliknya jadi youtuber deh mas."
Setelah menikah Juli memang mencoba peruntungan menjadi seorang content creator. Ia selalu mengupload video berisi tutorial memasak beberapa menu.
Dan Damar sangat mendukung kegiatan positif sang istri. Dalam waktu kurang dari setahun subscriber Juli hampir menginjak angka 500 ribu. Damar bangga terhadap Juli yang tidak stuck didunianya saja. Ia bahkan sering berkolaborasi dengan perusahaan suami. Sekalian mempromosikan hotel miliknya. Sama sama menguntungkan bukan.
Juli memesan ice coffee latte sementara Damar ice americano. Untuk dessertnya mereka memilih tiramisu dan Grape fruit tart.
"Aku suka jalan jalan disini, berasa masuk didunia drama. Terima kasih ya mas sudah bawa aku ke negara ini."
Senyum Juli tak pernah menghilang sejak mereka bangun tidur. Damar menggenggam tangan Juli seolah ia tidak ingin pernah melepaskannya.
"Nanti kita bikin jadwal keliling negara lainnya, masih banyak waktu yang harus kita habiskan bersama."
Mereka melanjutkan kegiatan yang sudah Juli tunggu, yaitu berbelanja. Biasanya seorang Juli enggan menghabiskan uang hanya untuk foya foya. Namun sekali ini saja dirinya melakukan hal yang bisa membuatnya senang.
Di tempat lain, suster keluar mendorong brankar dari ruang operasi. Sofia selalu didampingi sang kakak Bara menjalani operasi pengangkatan tumor ganas. Masih butuh waktu dan serangkaian proses uji coba untuk bisa dikatakan sukses.
"Bang , ,"
Tedi tiba menghampiri Bara ketika Sofia sudah masuk ke ruang ICU.
"Minta doanya buat adek gue, Sofia masih harus berjuang."
Bara menepuk pundak Tedi meminta bantuan menggantikannya menjaga sang adik. Ia harus kembali bertugas di shift sore.
Suster keluar membawa sisa peralatannya, saat itu juga Tedi mendekatinya.
"Sust bisa saya masuk ?"
Tanya Tedi, sejak tadi dia sudah ingin masuk kedalam melihat langsung keadaan gadis yang sejak dulu sekali disukainya.
"Boleh, tapi bapak diharap mengikuti prosedur. Mari saya antar pakai seragam steril."
Tedi menuruti perintah suster ke ruangan khusus.
Langkah kaki Tedi pelan mendekat kearah brankar. Hatinya merasa teriris melihat Sofia terbaring lemah tak berdaya. Bahkan pada mulutnya terdapat selang.
Sebenarnya Tedi sempat kaget mendengar Sofia sakit keras. Awalnya ia pesimis bisa bersama dengannya. Terlebih Sofia berbuah mengacuhkan lalu menjauhinya. Tedipun tahu riwayat penyakit Sofia karena ia rajin membuntutinya saat melakukan konsultasi ke rumah sakit.
"Hai Sofi, bangun dong ! Gue rindu loe yang ceria, senyuman loe berhasil menjadi candu buat gue. Gue tuh sayang banget sama loe Sofi, kapan loe bisa lihat keberadaan gue."
Cepat cepat Tedi menggenggam tangan Sofia, andai saja dia tersadar Tedi mungkin akan mendapat tatapan kejam. Karena telah berani menyentuhnya tanpa izin.
"Ted !"
Tedi yang tengah menunduk celingykan mencari sumber suara. Lehernya meremang mendengar sapaan seseorang entah siapa.
"Tedi . ."
Panggilnya lirih.
"Sofi . . ?"
Ia terkejut bukan main, jadi sejak tadi Sofia yang menyapanya.
__ADS_1
"Gue haus nih, mau minum."
Bagai robot, Tedi bergerak kaku menuruti keinginan Sofia. Ia minum menggunakan sedotan agar mempermudah.
"Gue panggil dokter dan abang loe ya. Tunggu sebentar !"
Sofia tersenyum tipis mendengar kalimat terakhir Tedi. Dipikir dirinya bakal kembali pingsan atau mati mungkin.
Menurut dokter, Sofia masih harus menjalani serangkaian tes. Tidak bisa lalai mengawasi perkembangannya meski ia sadar dari operasi dalam kurun waktu tidak lama.
Bara berniat membawa Sofia terbang ke singapura setelah kondisinya cukup stabil. Disana mereka akan mendapat perawatan medis sangat bagus. Tiarapun memahami keputusan yang diambil calon suaminya. Ia ingin Sofia sembuh dan menyaksikan pernikahan mereka.
☀️☀️☀️
Satu minggu berlalu, kondisi Sofia berangsur membaik. Helikopter pribadi akan mendarat dilandasan bangunan rumah sakit. Biasanya MHospital menyediakan jasa itu saat pasien mereka harus dirujuk ke luar negeri. Sofia duduk dikursi roda dibantu Bara kakaknya. Mereka hendak naik lift namun Tedi menahannya sebentar.
"Loe pasti bisa sembuh. Gue disini bakal nyambut loe pulang, inget itu !"
Sofia hanya mengangguk tersenyum, ia memang tidak banyak bicara usai pulih pasca operasi.
"Thanks Ted, gue harap loe sabar menunggu adek gue."
Bara menepuk pundak Tedi bangga, ternyata masih ada laki laki baik dan tulus menyayangi Sofia.
Semua seperti bergerak sesuai porosnya. Menempati masing masing pelabuhan. Perjuangan sangat amat berat bagi setiap tokoh utama dihidup mereka. Layaknya pepatah habis hujan akan turun pelangi berwarna indah.
Juli kini diliputi rasa bahagia menjalani kehidupannya di Seoul bersama sang suami. Rencananya mereka berdua akan segera kembali ke tanah air. Juli merasa sudah bisa menerima semuanya dengan lapang dada. Ia rindu ingin bertemu mama Zara juga Grand Ma. Waktunya kembali menata hidup dari awal lagi. Ditya meminta Damar membawa Juli segera, atas perjuangannya Ditya berniat mengembalikan hak Damar atas asetnya.
"Aku tahu, mas sangat menginginkan baby. Sampai di rumah nanti, aku ingin konsultasi sama kak Tiara. Semoga saja rahimku kembali sehat."
Keduanya tengag asik berbelanja membeli oleh oleh untuk keluarga besar. Miley bahkan menyusul sang kakak Malvin yang bertugas menjadi pemandu wisata suami istri itu.
Damar mengecup kening Juli cukup lama.
"Yah, mesra mesraannya nanti aja dong. Nih kita mau kemana lagi pak bos ?"
Malvin mendekat merusak suasana intens Damar dan Juli.
"Mas aku mau ke N Tower, mumpung masih disini."
"Setuju, aku juga rindu naik kereta gantungnya. Skuy !"
Miley malah sangat antusias dibanding mereka, ia menarik Juli menuju mobil mereka. Apa bagasi mobil masih muat menampung oleh olehnya nanti ? Damar hanya menggeleng melihat tingakh Miley.
"Cepat cari cowok Mil, biar bisa honeymook kayak kita."
Damar menggoda Miley ketika Malvin sudah menancapkan gasnya.
"Idih, nikah ? Pikir pikir dulu lah. Yang sebelah aja belum laku, kasihan tuh. Cariin dia jodoh dulu."
Gelak tawa nyaring mengisi mobil mereka menuju tempat tujuan berikutnya.
Juli menyandarkan kepalanya dipundak Damar. Mereka memang belum sempat melakulan hubungan intim, namun Damar akan terus sabar menanti Juli kembali siap.
"Saranghae."
Bisik Damar yang hanya bisa didengar oleh sang istri.
"Nado."
__ADS_1
Balas Juli mengecup pipi Damar.
Sementara di Mhospital, seorang wanita berjalan menyusuri koridor. langkahnya mendadak ragu, ingin kembali namun sudah tanggung.
"Mba Sekar, ikut saya ke IGD sekarang."
Tiba tiba suster menarik tangan Sekar.
"Ada apa sust ?"
Bingung Juli mendadak diajak keruang darurat tersebut.
"Dr. Kevin pingsan karena kelelahan."
Mendengarnya Sekar langsung pias, panik sekaligus takut.
Hatinya merasa sesak, niat hati Sekar ingin memastikan hubungannya dengan Kevin. Ia berharap Kevin mau mengikat ke jenjang lebih serius lagi, misal tunangan. Namun Sekar juga sangat sadar diri usianya lebih tua 5tahun dari sang kekasih. Apa Kevin hanya main main dengannya ? Tapi kenapa orang tua lelaki itu seperti memberi restu pada hubungan mereka.
Setibanya Sekar disebelah brankar Kevin, ia bisa melihat dokter itu duduk dengan selang infus ditangannya.
"Hai . ."
Sapa Kevin tersenyum dengan bibir pucatnya.
Sekar segera memeluk tubuh Kevin dan sedikit terisak.
"Aku baik baik saja, jangan khawatir."
"Maaf , ,"
Lirih Sekar.
"Untuk apa ?"
Tangan kanan Kevin mengusap punggung Sekar yang masih mengenakan pakaian kerja.
Sekar melepaskan pelukannya.
"Aku kesini berniat meminta kepastian soal hubungan kita."
Begitulah hubungan keduanya, mereka sangat terbuka satu sama lain sehingga tidak ada kesalah pahaman atau miss komunikasi.
"Hmm, aku haus. Bisa tolong ambilkan air."
Kevin berusaha mengalihkan pembicaraan, sedikit kesal Sekar menuruti permintaannya.
Sekar mengambil gelas dinakas sebelah brankar, pandangannya tertuju pada kertas dibawah gelas tersebut.
Terdapat tulisan 'Will U Marry me', disana juga ada sebuah cincin emas simple bermata satu dari berlian.
"Gaji pertamaku sebagai dokter aku belikan itu buat kamu. Jadi gimana jawabannya ?"
Sekar mengambil cincin itu lalu memasangkannya ke jari manis tangan kirinya. Kevin merentangkan tangan meminta dipeluk oleh sang kekasih yang sudah seminggu lebih tidak ia kencani.
"Yes, I will."
Sekar menangis bahagia, akhirnya penantian dan kesabarannya berbuah manis. Tidak mudah memang menjalin hubungan saat mereka sama sama sibuk. Tapi Kevin selalu berusaha meyakinkan Sekar agar mempercayai kalau dirinya sungguh sungguh.
"Lepas Tiara menikah, kita akan menyusul mereka. Tunggu mas Damar pulang baru kita umumkan pertunangan kita."
__ADS_1
Sekar hanya mengangguk, apapun rencana Kevin akan ia ikuti. Sekar sangat percaya.