Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
Terguncang


__ADS_3

"selamat datang Zoya . ."


Setibanya mereka di depan pintu Penthouse, Zoya disambut oleh sahabat dan adik iparnya.


Sudut rumah dihiasi rangkaian bunga segar nan cantik. Menyegarkan pandangan Zoya yang menyukainya.


"terima kasih semuanya"


Zoya terharu selalu mendapat perlakuan istimewa dari orang disekelilingnya.


Mertua yang baik, adik ipar menyenangkan, sahabat pengertian, dan suami yang sangat mencintainya.


"ayo kita duduk, sudah banyak makanan dan cemilan buat teman ngobrol."


Bu Aulia menggiring kerumunan untuk duduk disofa TV.


Benar apa kata bu Aulia, dimeja sudah tersedia cake tiramisu kesukaan Zoya sebagai tanda kembalinya. Cake, puding, buah, pizza, chickken dan beberapa kue kering menghiasi meja. Para pria lebih memilih duduk dibalkon, untuk menghirup udara segar.


"Arga gak datang Win ?"


Ditya mengira kalau temannya akan ikut kumpul, nyatanya dia tidak ada disana.


"Arga harus terbang ke inggris, papanya membutuhkan dia untuk mengecek perusahaan disana."


Maklum, Arga juga sama seperti Ditya. Melanjutkan usaha keluarganya, dipersiapkan untuk mewarisi setiap kekayaan orang tuanya.


"Zoya kekamar dulu, Dee sepertinya mengantuk."


Meski sempat koma, Zoya masih hafal jam tidur dan menyusui Dee. Tangannya juga sudah mulai berat menggendong Dee yang semakin ndut.


"perlu gue temani Zoy ?"


"tidak usah, Milk."


Tidak ingin mengganggu suasana hangat, Zoya lebih memilih kekamar sendiri. Ditya juga masih asik ngobrol dibalkon, tadinya ia ingin suaminya yang menemani.


Langkah kakinya terhenti ketika Zoya mendekati box tempat tidur Dee. Bayangannya tertuju pada Bima yang menggendong Dee untuk mengancamnya.


"Zoya . ."


Teriakan Bima mengiang ditelinga Zoya, saat dia meraih Zoya untuk menghindari truk yang akan menabraknya.


Tiba tiba pandangan Zoya menjadi buram, pening dikepalanya tak tertahan. Ia berusaha mengencangkan pangkuannya yang menggendong Dee, agar tidak terjadi apa apa pada bayinya.


"jangan ganggu aku !"


Sekuat tenaga Zoya mengusir ingatan dirinya bersama Bima. Ia memejamkan matanya, berharap pandangannya bisa lebih jelas.


"Zoya . ."


Ditya menahan tubuh Zoya yang hampir saja runtuh ke lantai.


Dee masih nyaman dengan tidurnya, kalau saja Ditya tidak mengecek ke kamar entah apa yang akan terjadi pada istri dan anaknya.


"mas . . Penglihatanku selalu dipenuhi bayangan Bima."


Lirih Zoya mengadu pada Ditya, pria itu mengajak Zoya duduk ditepi ranjang.


"tenanglah, berikan Dee biar aku yang menidurkannya."


Tangan Ditya berusaha mengambil Dee dari pangkuan Zoya, namun Zoya bergerak menolak.


"ada apa ?"


"Bima akan membawa Dee dariku mas, dia kakakmu."


Sesak rasanya dada Ditya mendengar perkataan Zoya.


Dia menghela nafas, sikap Zoya seolah sedang mengalami pascatrauma.


"Zoya, lihat aku ! Bima sudah tidak ada, dia sudah tenang disana. Kamu jangan takut, semuanya akan baik baik saja."

__ADS_1


Ditya memegang kedua pundak Zoya dan menaruhnya didada bidang miliknya. Dielus rambut Zoya oleh Ditya agar merasa aman dan terlindungi.


"besok, aku akan bawa kamu ketempat Bima."


Zoya tidak bisa menolak mendapat kenangan tentang Bima. Bagaimanapun sekarang Bima sudah menjadi bagian dari diri Zoya.


Itulah fakta yang menyakitkan bagi Ditya. Rasanya ingin Ditya tidak menyetujui operasi itu, tapi ini semua demi Zoya.


Mana mungkin dia tega melihat Zoya buta, demi menuruti egonya.


Bima mendonorkan kornea matanya untuk Zoya, dialah yang menyebabkan Zoya jadi begini.


Apa boleh buat, sekarang Bima sudah tidak ada. Ditya tidak bisa terus terusan menyalahkan Kakaknya. Sebisa mungkin dia mencoba ihlas menerima takdir yang sudah terjadi.


🍀🍀🍀


Didepan sebuah pusara yang bertabur bunga yang masih segar, Zoya masih berdiri tak bergeming.


Tragis memang takdir Bima yang hanya mampir sebentar dikehidupan mereka.


Kalau saja bisa lebih baik, semua tidak akan menyesali kepergiannya.


"dia terkena serangan jantung, mewarisi penyakit papi. Dia tahu akan terjadi sesuatu sama kamu, dia sempat sadar dan membuat wasiat."


Gagah sekali Ditya berdiri disamping Zoya, berpakaian dan mengenakan kacamata warna hitam.


"kamu tidak akan bisa melihat, jika tidak menerima kornea dari Bima."


Ditya melanjutkan penuturannya, memberi tahu Zoya yang sesungguhnya.


"Zoya . ."


Tubuh Zoya yang lemah membuat Ditya terperanjat menahannya.


"aku mau pulang mas, sekarang !"


Hatinya masih belum bisa menerima kenyataan. Kenangan buruk yang Bima berikan pada Zoya masih menggoreskan luka dihatinya.


"baiklah, kita pulang."


Tidak sampai 5 menit mereka nyekar, Zoya mengajak Ditya untuk pergi dari pemakaman itu.


Mereka bergandengan tangan sepanjang jalan menuji mobil yang parkir ditepi jalan.


Dimobil dalam perjalanan, Zoya masih sibuk dengan pikirannya. Menatap kearah samping, menikmati pandangan yang bergerak mundur.


"apa kamu ingin sesuatu ?"


Ditya berusaha mencairkan suasana, agar istrinya tidak murung terus.


"aku mau ketemu Dee,."


Sebelum pergi nyekar, Dee sempat dititipkan dirumah pak Mahesa untuk membantu menjaganya.


Ditya melajukan mobilnya menuju rumah keluarganya.


"Dee ,. Ayah sama ibu pulang."


Kedatangan mereka terdengar dari arah ruang keluarga. Suara Ditya yang berat khas ditelinga keluarganya.


"hi Dee, kamu sudah lapar ya sayang ?"


Zoya meraih Dee dari pangkuan nenek buyutnya.


Suasana menjadi hening, saat mereka ingat kalau Zoya dan Ditya baru pulang dari makam Bima.


"Dee kekamar dulu ya ayah, ma buyut . ."


Zoya membawa Dee kekamar untuk diberi ASI, wajahnya terlihat masih sendu.


"apa katanya Dit ?"

__ADS_1


Setelah Zoya naik tangga, nek Hafsa menanyai soal respon Zoya tentang Bima.


"Zoya masih sangat terkejut, dia langsung minta pulang. Ditya keatas dulu, bahaya kalau dia sendirian."


"memang kenapa ?"


Pernyataan Ditya sedikit membuat Nek Hafsa menunjukkan raut khawatir.


"dia selalu mengalami bayangan Bima. Mungkin sedikit trauma karena ada bagian tubuh Bima pada diri Zoya."


Setelah menjelaskan keadaan Zoya pada neneknya, Ditya langsung naik ke atas.


Dikamarnya, Zoya tengah menidurkan Dee sambil memberinya ASI.


Ditya duduk dikaki ranjang, menunggu Zoya selesai menaruh Dee di boxnya.


"apa sebaiknya kita pulang saja ?"


tanya Ditya dengan hati hati, takut Zoya tersinggung.


"tidak usah mas, aku tidak apa apa. Besok saja kita pulang, sekalian kamu kerja. istirahatlah mas, aku ambil air sebentar kedapur."


Suaminya pasti lelah, Zoya membiarkan Ditya tidur siang untuk memulihkan tenaganya.


akhir akhir ini Ditya sibuk menjaga Zoya dan memantau bisnisnya.


Zoya melihat Ditya sudah mulai terlelap, ia keluar kamar dan menutup pintu secara pelan agar tidak mengganggunya.


kakinya memaku didepan pintu kamar yang sempat ditempati Bima.


matanya menyelidik, hati Zoya mulai tertarik untuk masuk kedalam.


ceklek,


pintu itu tidak terkunci.


Zoya melangkah ragu, tapi hatinya selalu mengajak Zoya masuk.


tepat ditempatnya berdiri, Zoya pernah melakukan hal gila agar Bima membukakan pintu.


haruskah Zoya bersimpati atas nasib Bima ? kalau saja Bima bersikap baik padanya, mungkin rasa bencinya tidak akan sedalam itu pada Bima.


"kenapa begini ? apa yang harus aku rasakan sekarang. ."


Zoya mengusap dadanya yang sesak, perih dan terhimpit.


sejak mendengar penjelasan Ditya, Zoya berusaha menghargai perasaan suaminya. kini ia tidak bisa menahannya lagi.


Ditya terbangun karena haus, namun Zoya belum kembali juga dengan airnya.


terpaksa dia menyusul keluar kamar, pandangannya tertuju pada pintu yang terbuka didepannya.


langkahnya perlahan mendekati punggung Zoya yang sesenggukkan menangis. tangan Ditya meraih Zoya dan membalikkan tubuhnya.


"lepaskan aku Bima, jangan sentuh aku."


plak . .


Zoya hilang akal, melihat bayangan buram Ditya dianggap Bima.


tangannya gemetar setelah menampar pipi Ditya yang langsung memerah.


"sadarlah Zoya !"


Ditya mengguncangkan tubuh Zoya dengan kasar, istrinya hanya diam dengan tatapan kosong.


"mas . . aku pikir kamu Bima, mataku tidak bisa melihat dengan jelas tadi. kenapa begini, apa yang harus aku lakukan ?"


Ditya langsung memeluk Zoya yang sudah menangis sejak tadi.


"tenanglah, semua akan berlalu Zoya. kamu hanya butuh waktu untuk menerimanya."

__ADS_1


__ADS_2