Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
#113


__ADS_3

Sebelum bertemu Zara, Damar menyuruh Ifan berjaga diluar menunggu Juli.


Kini dia sudah duduk di kursi Kepala Direktur Rumah Sakit yang masih kosong.


Sejak pensiunnya Dr. Rahman pemegang kendali, Ditya memang belum bisa menemukan orang yang tepat.


Pasalnya hanya kakek Dityalah orang pertama sebagai direktur sekaligus pendiri rumah sakit swasta tersebut.


Tok tok . .


"Apa mama mengganggu ?"


Zara mengetuk pintu, Damar terkejut lalu menyambut kedatangannya.


"Mama kenapa tidak kasih kabar ?


Damar bisa jemput di bandara."


Keduanya duduk berhadapan disofa penerima tamu.


"Mama diminta ayah kamu secara khusus, kapan kalian akan bertunangan ?"


"Mah, Damar tidak bisa meneruskannya.


Sejak awal ini kesalahan Damar melibatkan Sekar."


Damar mencoba jujur pada Zara, semoga saja dia bisa mendapat masukan atau jalan keluar.


"Terpaksa, kamu melakukannya karena terpaksa Damar.


Kenapa ?"


Akhirnya Zara tahu alasan Damar tidak pernah menunjukkan kebahagiaannya saat bersama Sekar.


Damar hanya diam membisu, enggan mengatakan kebenarannya.


"Juliana . ."


Tebakan Zara berhasil membutat Damar mengepalkan kedua tangannya gugup.


"Damar minta maaf mah, harusnya ini tidak terjadi."


"Apa kamu tidak memikirkan perasaan Sekar ?


Dia sudah mengorbankan keluarganya demi kamu Dee.


Lupakan Kevin, mama tidak pernah berniat ikut campur mengenai hidup kalian.


Mama hanya ingin kamu bertanggung jawab atas apa yang kamu perbuat."


Perkataan Zara berhasil menampar perasaan Damar.


Berpura pura adalah kesalahan fatal yang Damar lakukan.


Bukan hanya Juli juga adiknya yang terluka, melainkan Sekar dan keluarganyapun akan tersakiti perasaannya oleh Damar.


"Mama membesarkan kamu setulus hati, jika kalian saling cinta mama tidak akan melarang.


Bahkan mama akan memberi Kevin dan ayah kalian pengertian.


Tapi kamu sudah melibatkan Sekar dalam masalah ini.


Hadapi semua resikonya Dee, jadilah laki laki yang bertanggung jawab."


Zara pergi keluar dari ruangan Damar. Pertama kalinya, wania itu kecewa terhadap sikap Damar.


Di usianya sekarang Damar seharusnya bisa berpikir panjang kedepan.


Damar hanya bisa menelan penyesalannya.


Semua perkataan Juli dan ibu sambungnya sangat benar.


Dialah penyebab semua kekacauan ini, dia juga yang harus memperbaikinya.


Ifan dipanggil Damar ke ruangannya guna melakukan sesuatu.


Padahal dia diminta untuk menjaga Juli.


"Ifan pergilah ke alamat Mas Gilang di Jepara.


Jemput keluarganya atas permintaanku.


Aku perlu mengadakan pertemuan penting."


Damar harus menyelesaikan semua masalahnya.


Memperbaiki keadaan sebisanya, meski dia tahu itu tidak akan mudah.

__ADS_1


"Baik tuan."


Ifan segera pamit melaksanakan perintah yang Damar berikan padanya.


"Damar gawat,


Juli tidak ada di ruangannya."


Tiara datang tergesa gesa memberitahu sepupunya.


Damar langsung naik darah mendengarnya, mereka berlarian menuju kamar Juli.


Kenyataannya memang tidak ada, Tiara bahkan sudah memeriksanya berulang kali.


"Periksa CCTV !"


Damar mengajak Tiara ke ruang kontrol.


Meminta petugas jaga dengan cepat harus menemukan petunjuk.


"Itu dia. ."


Jari Tiara menunjuk pada sosok pria mengenakan masker masuk setelah Ifan pergi.


"Siapa dia ?"


Damar berusaha menebak orang yang membawa paksa Juli.


Kring . . .


Ponsel Damar berbunyi.


Nomer pribadi, dia segera mengangkatnya.


"Juli bersamaku, Damar Aditya."


Suaranya asing ditelinga Damar, dia bukan Romi.


"Apa maumu ?"


Damar langsung ke inti.


"Lunasi hutang hutangku calon menantu, kirimkan uang sebanyak 5 milyar ke rekening yang sudah aku email.


Jangan sampai Juliana tidak bisa kalian selamatkan.


David, Damar dibuat geram oleh perbuatan jahatnya.


Dia bahkan rela menyakiti anak satu satunya Juli.


Demi uang ?


Tentu David akan melakukan hal apapun.


Termasuk membahayakan nyawa Juli.


"Oke, segera bawa Juli kembali ke rumah sakit.


Baru aku akan mengirimkannya."


Damar berteriak diruangan itu. Semua terkejut mendengar kemarahan Damar.


"Aku tidak sebodoh itu Damar, kirimkan dulu baru aku akan mengembalikannya."


Damar berpikir bukan karena perhitungan menyangkut keselamatan Juli.


Ia perlu merencanakan sesuatu agar David bisa jera.


"Dengan syarat, tinggalkan Juli untuk selama lamanya setelah ini !"


"Mudah sekali.


Aku hanya ingin hidup bebas tuan Damar."


Kalimat itu memang jujur sekali dari lubuk hati David yang terdalam.


Selama ini dia berusaha mati matian melunasi hutang piutangnya pada bank maupun rentenir.


Harta benda sudah habis disita bank, sementara dia harus terus sembunyi dari kejaran depkolektor.


"Aku sudah mentransfernya, aku mohon cepat bawa Juli kembali !"


Perintah Damar tidak dihiraukan oleh David.


Dia malah menutup telponnya.


"Sial . ."

__ADS_1


Umpat Damar kesal.


Tak lama berselang, Damar menerima pesan gambar yang dikirim melalui nomer Juli.


Dalam foto tersebut terlihat Juli diatas brankar dalam sebuah ruangan yang masih disekitar rumah sakit.


"Dee itu di ruang laboratorium, cepat kita jemput Juli."


Tiara hafal sekali tata letak bangunan rumah sakit milik kakek buyutnya.


Ketika mereka berhasil masuk, dokter jaga tadi bingung mendapati pasiennya berada diruang tersebut.


"Tadi papinya sempat periksa, pak David sakit keras tuan Damar."


Kata dokter.


Tiara menutup mulutnya tak percaya.


Damar kini mulai mengerti rantai masalah kehidupan Juli.


David tidak bisa mengatakan hal sebenarnya pada Juli, dia membawa Juli untuk menemaninya mengetahui bahwa usianya mungkin tidak lama lagi.


David ingin melunasi hutang hutangnya sebelum pergi. Dia tidak ingin Juli menanggung akibatnya setelah dia tiada.


"Beliau menyimpan sebuah surat disaku pasien."


Damar mengambil surat berbungkus amplop cokelat itu lalu menyimpannya disaku jas.


"Tolong tangani Juli, aku harus melakukan sesuatu."


Damar menitipkan Juli pada Tiara dan rekan dokternya.


"Mari dokter Tiara, kita bawa Juli ke kamarnya."


Tiara mengangguk, sekaligus terpesona melihat ketampanan dokter bernametag dr. Bara.


"Dokter sudah menikah ?"


Tiara iseng saat mereka mendorong brankar Juli.


"Belum.


Saya menunggu seseorang menyadari kehadiran saya."


Bara tersenyum misterius pada Tiara, berhasil membuatnya gugup.


Damar terus berlari menyusuri rumah sakit hingga keluar halaman. Mencari keberadaan David yang mungkin saja belum terlalu jauh.


Dia harus menemukan papinya Juli. Juli tidak boleh melewatkan kesempatan terakhirnya memperbaiki hubungan mereka.


Damar tidak bisa menghubungi David karena tadi dia menelpon menggunakan ponsel Juli.


Andai saja Damar tahu, kalau nomer David ada diponsel milik kekasihnya.


"Seseorang bisa lupa diri saat dia dalam bahaya."


Tiba tiba suara muncul dari belakang Damar.


"Kembalilah kedalam, agar bapak mendapat perawatan."


Pinta Damar setelah tahu siapa dia.


"Sudah terlambat, tolong jaga anak saya.


Ini bukti pelunasan hutang hutang saya di rentenir.


Terima kasih bantuannya Damar. Berikan surat saya pada Juli saat saya sudah terkubur ditanah."


David menyerahkan map berisi informasi lunasnya seluruh hutang hutangnya.


Bisa berguna jika ada orang jahat berniat memeras Juli di masa nanti.


"Saya mohon . ."


Damar berharap David melakukan tugas terakhirnya sebagai seorang ayah.


"Pernikahan kalian masih jauh, saya tidak bisa bertahan selama itu."


David tersenyum lalu menyetop angkot meninggalkan Damar.


Damar merasa hidupnya sangat amat jauh lebih beruntung dibanding Juli.


sejak detik itu dia berjanji akan menghargai orang orang terkasihnya.


Damar tak sabar menunggu kedatangan keluarga Sekar. namun dia harus memikirkan kesehatan Juli terlebih dulu.


Jangan dulu Juli tahu soal David papinya. Damar akan menceritakannya setelah semua masalahnya selesai.

__ADS_1


__ADS_2