Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
Tiada Tara


__ADS_3

Bagi Ditya mencintai Zoya adalah sebagai bagian terindah dihidupnya, tak kan dia biarkan Zoya tak bahagia. Demi menebus kesalahan terbesarnya, Ditya rela mencurahkan segala waktunya untuk Zoya.


Mulai dari mengganti popok, menjaga Dee saat Zoya mandi atau melakukan hal lainnya.


"perlengkapan Dee sudah siap semua ?"


Didepan lobi Zoya sibuk menimang Dee bersama Ditya yang membawa 2 koper besar. Mereka menunggu mobil yang akan mengantar keluar kota.


"sudah mas. Nanti kita ketemu yang lain disana ?"


Tampaknya Zoya masih belum percaya, kalau Ditya benar benar mengajak mereka pergi bersama.


"iya sayang, kamu ragu ? Kita bisa batalkan kok".


Ditya meraih kepala Zoya dan menciumnya.


"soalnya Milka sama Tia gak ada bilang apa apa, tahunya disana cuma kita bertiga. Repot juga gak ada yang bantu jagain Dee hehe."


Rencananya mereka berenam akan liburan singkat. Tidak jauh, hanya kekota Cirebon. Sekalian Ditya bisa mengecek keadaan D'Zhotel yang sudah lama ditinggalkannya.


Mobil membawa Ditya, Zoya dan baby Dee menuju kota tujuan lewat tol.


Ada rasa gelisah menyelimuti Zoya, pasalnya kenangan buruk soal Ditya dan Conni ada disana. Mampukah Zoya melewati masa traumanya ? Semoga bisa demi kebaikan rumah tangganya.


"wih. . Family goals akhirnya tiba juga."


Erwin dan Milka yang saling merangkul menyambut kedatangan Ditya dan Zoya.


"hello baby Dee . . Onti kangen sekali" Milka mengelus pipi Dee gemas, rasanya ingin segera memiliki bayi seperti sahabatnya.


"apa Tia belum sampai ?"


Zoya menyelidik kearea lobi, belum menemukan kedua sosok yang dicari.


"sudah, Arga menemani Tia makan. Katanya keburu laper, pengen coba empal gentong."


"Tia mah cari kesempatan berdua, modus . ."


Ucapan Ditya menggantung ketika dia melihat sosok perempuan yang tidak asing.


Zoya mengikuti arah pandangan Ditya, ternyata suaminya tengah memperhatikan seseorang yang sedang mengobrol dengan bu Diana di Front Desk.


Mencoba tenang, usaha Zoya menguasai rasa cemburunya tidak bertahan lama. apalagi didepan sahabatnya, yang bahkan tidak tahu masalah rumah tangganya.


Bolehkah Zoya memberontak ? untuk meluapkan kekecewaannya terhadap Ditya yang masih saja mengingat wanita itu.


Wanita yang juga sudah memiliki keluarga.


Sadarlah Ditya, sejak tadi Zoya memperhatikan gerakan matamu. Apa kamu akan terus begini ?


Apa benar rasa cintamu sudah terbagi jadi dua ?


Eak . . Eak . . Eak . .


Tangis baby Dee berhasil mengalihkan perhatian Ditya.


Bayi yang bobotnya semakin bertambah itu seperti ikut merasa kesal pada ayahnya.


"it's ok Dee, it's ok. Ibu baik baik saja nak !"


Sejak dalam kandungan Dee memang selalu aktif ketika Zoya membahas Ditya. Kontak batinnya sangat aktif dengan perasaan ibunya.

__ADS_1


"Zoya ?"


Ditya melihat ada genangan air mata yang belum terjatuh dari ujung mata Zoya.


"bisa kita ke kamar sekarang ?"


Suara Zoya terdengar menahan isak tangis, hidungnya juga tersumbat.


"Win, tolong ajak Milka ambilkan kunci kamar kami !"


Erwin menuruti perintah Ditya tanpa banyak bertanya, begitupun Milka.


"aku mau pulang !"


Mendadak Zoya bicara dengan nada marah, dadanya terasa sesak sekali.


"please, I beg You Zoya. Maaf . ."


Ditya kini sadar apa yang menyebabkan Zoya menangis.


Istrinya memergoki dia sedang menatap Conni.


"Ya Tuhan, kenapa rasanya sakit sekali. Jangan siksa aku mas, aku mohon."


Zoya memalingkan badannya dengan terus menimang baby Dee.


"ini kuncinya Dit, kalian istirahat saja dulu. Kami akan menemui mama dulu."


Erwin memberikan kunci kamar ketangan Ditya, dan kembali ke front desk.


Sesampainya dikamar, Zoya menidurkan baby Dee karena baru saja berhenti menangis.


Ia menyibukan diri dengan merapikan perlengkapan bayinya, dan juga Ditya.


"minta maaf lalu melakukannya lagi ? Aku diam kamu bilang salah, selama ini aku selalu berusaha memahami kekhilafan kamu mas. kamu yang hanya diam saja, ketika aku terluka didepan matamu sendiri".


Apa yang Ditya lihat dari Conni ? Apa Zoya masih banyak kekurangan, sehingga suaminya masih mencari di orang lain.


Jika saja Zoya bisa memutuskan hubungannya, tapi itu sulit. Sekarang sudah ada baby Dee, yang membutuhkan ayahnya.


"kamu berlebihan Zoya, aku hanya terkejut melihat dia. Itu saja, tidak lebih"


Argh . .


Kenapa malah jadi begini, tidak seharusnya Ditya melakukan itu. Susah payah dia meyakinkan Zoya untuk mempercayainya.


"aku lelah mas. Jika kamu masih terus saja memikirkannya, lalu gunanya aku apa ?"


Kemana perasaan Ditya yang dulu ? Dia mampu menjaganya selama bertahun tahun.


Tapi hanya butuh waktu sebentar, Ditya bisa berpaling dengan mudahnya.


"aku minta maaf Zoya, sungguh. Beri aku kesempatan untuk memperbaikinya"


Zoya tak menanggapi, kini ia malah masuk kekamar mandi dengan handuk pribadinya.


Menyalakan kran shower, membiarkan dirinya basah dengan pakaian yang belum dilepas olehnya.


Andai Zoya bisa lari dan menyerah, tapi rumah tangganya baru seumur jagung.


Pernah Zoya merasa percaya diri, kalau setiap badai bisa dilalui. Kali ini ia tidak yakin semuanya akan baik baik saja.

__ADS_1


"bodoh kamu Ditya ! ***** !"


Ditya amat menyesali kejadian tadi, sungguh bukan maksud hati sengaja melakukannya.


Tapi bagaimanapun dia menjelaskan, semuanya sudah buruk dimata Zoya.


ketiga pasangan itu tengah duduk menikmati dinner buffeet all you can eat, diiringi live music ditepi kolam renang.


suasana jadi canggung karena Zoya masih saja mendiami Ditya.


semua bisa merasakan kalau keduanya sedang bertengkar.


"eh kata tante Diana, General Managernya sudah diganti loh. katanya yang dulu nikah lagi sama mantan suaminya."


Milka yang tidak tahu apa apa bermaksud untuk mencairkan suasana. tapi justru malah memperkeruh keadaan.


"benarkah Milk ? gue senang mendengarnya, dia sangat pintar memutuskan pilihannya." Ditya melirik kesamping, Zoya tertunduk menghindarinya.


"aku ke kamar duluan ya, gak enak tinggalin Dee lama lama".


Zoya bangkit dari kursinya dan langsung berjalan kedalam hotel.


"ada apa sih Dit ? kalain bertengkar ?"


Arga mengintrogasi Ditya karena sejak tadi sudah tak tahan berada diantara mereka berdua.


"Dit, kalian kan menikah belum lama. apalagi ada Dee sekarang, tidak baik sering berantem".


Kata kata Erwin tidak salah, hanya saja Ditya yang selalu lupa akan hal itu. dia tidak bisa menjaga sikap sejak kejadian grand opening.


kalau saja orang lain, pasti sudah membabi buta meminta berpisah. tidak sekali Zoya memberinya kesempatan, Ditya selalu menyia nyiakannya.


"gue minta maaf, liburan kalian jadi terganggu. mungkin besok pagi kami balik ke jakarta, kalian santai saja dulu. gak usah khawatir".


Ditya juga meninggalkan meja dan menyusul Zoya ke kamar.


tok tok tok . .


Ditya mengetuk pintu kamar, karena Zoya yang memegang kuncinya.


tak lama Zoya sudah membukakan pintu, ia segera menghindari Ditya.


dengan sigap Ditya memeluknya dari belakang.


"aku mencintaimu Zoya, sangat dan tidak akan pernah berkurang sedikitpun. ini akan menjadi kesalahan terakhirku".


bisik Ditya pada telinga zoya, berhasil menggetarkan tubuh istrinya.


Ditya membalikan tubuh Zoya dan langsung menghujaninya dengan ciuman.


tidak ada penolakan dari Zoya, ia menutup mata menikmatinya.


tangan Zoya melingkar keleher Ditya untuk menambah sensasinya.


"Aku minta maaf mas . ."


ucap Zoya, ditengah jeda Ditya melepaskan bibirnya dan berniat untuk melucuti pakaian Zoya.


Zoya yang minta maaf walau Ditya yang salah,


Zoya akan menahan saat Ditya yang melukainya,

__ADS_1


karena Ditya penting, sangat penting baginya juga baby Dee.


jika Ditya salah, Zoya hanya akan memaafkannya, cintanya tiada tara untuk Ditya.


__ADS_2