
"Juli bisa kita bicara sebentar ?"
Tanya seseorang pada Juli ketika ia hendak memegang handle pintu sebuah ruangan.
"Ada apa, dr. Bara ?"
Tadinya Juli berniat menjenguk Sofia didalam namun sang kakak menahannya untuk membahas hal penting.
Bara mengajak Juli mengobrol diruang kerjanya.
Agar suasana tidak tegang Bara menyuguhkan secangkir teh hangat untuknya.
Juli tahu kalau dokter yang bertugas di laboratorium itu akan membahas soal Sofia.
"Damar tidak ikut ?"
Tanya Bara basa basi sebelum ke intinya.
"Masih di kantor, mungkin sebentar lagi jemput."
"Kamu kenal Sofi sejak kapan ?"
"Beberapa hari yang lalu."
Jawab Juli meneliti ekspresi wajah Bara.
Bara menghela nafas kasar lalu menyandarkan tubuhnya dikursi kebesarannya.
"Bearti kamu tidak tahu siapa laki laki yang disukai Sofia. ."
Nada bicara Bara Frustasi.
"Aku tahu."
Potong Juli dengan cepat mematahkan dugaan Bara.
Bara kembali memposisikan tubuhnya tegak menatap Juli.
"Siapa ? Mungkin aku bisa memintanya melirik adikku, membantu wujudkan keinginan terakhirnya."
Juli menunduk. Menggenggam jemarinya hingga bertautan tanpa diketahui Bara kalau ia tengah merasakan perih di dadanya.
"Dia suamiku dr. Bara."
Suara Juli bergetar tak sempurna didengar oleh telinga Bara. Bukan, maksudnya Bara tak percaya mengetahui hal itu.
Bara bangkit dari kursinya lalu menatap kearah jendela dibelakang meja kerjanya.
Mengamati jalanan depan rumah sakit dari atas.
"Bagaimana bisa Juls dunia sekejam ini pada Sofia . ."
Harapannya sudah pupus sebelum memulai mencoba memberikan yang terbaik untuk sang adik.
"Aku sudah minta mas Damar menjenguk Sofia. Selebihnya aku tidak bisa membantu dr. Bara. Aku juga seorang perempuan, tidak rela melihatnya bersama orang lain."
Tanpa menyicipi teh buatan Bara, Juli meraih tasnya kemudian keluar dari ruangan Bara.
Setidaknya Juli bukan istri naif membiarkan Damar dekat dengan perempuan selain dirinya. Apa yang ia lakukan sekarang semata mata menolong Sofia.
Kapan masalah dirumah tangganya akan berakhir ?
Rasanya Juli terus saja merasa sesak menjalani harinya.
Tiba tiba Juli merasakan pusing dikepalanya. Pandangannya berputar tak menentu. Jika tidak ada seseorang menahannya bisa saja Juli jatuh tergeletak dilantai.
Sebuah dekapan menyelamatkan tubuh Juli yang oleng.
"Hati hati !"
Kata penolong itu membantu Juli berdiri dengan benar.
"Terima kasih, , ,
Kevin ?"
Juli terkejut bisa bertatap muka sedekat ini lagi dengan adik ipar, mantan pacarnya.
"Kamu habis ketemu Bara ?"
Kevin masih setia mendampingi Juli berjalan menuju ruang rawat Sofia.
__ADS_1
"Iya."
Jawab Juli singkat tanpa menoleh kearah samping. Tatapannya lurus kedepan memikirkan perkataan Bara tadi.
"Mau jenguk Sofia ?"
Juli mengangguk cepat menjawab pertanyaan Kevin.
Setelah turun dari mobil, Damar tidak langsung mencari keberadaan Juli yang katanya ingin melihat keadaan Sofia. Langkah kakinya tegap menyusuri koridor menuju ruangan seseorang.
Brak ..
Damar membanting keras pintu itu kemudian masuk kedalam berkacak pinggang.
Sementara orang yang duduk dihadapannya masih tenang tidak emosi.
"Kenapa Damar ?"
"Tolong beri pengertian sama adik loe, jangan berharap apapun dari gue !"
Bara berdiri dari kursinya mendekati Damar dan berhadapan dengan jarak tidak jauh, terbilang dekat sekali.
"Kalau begitu kamu saja yang mengatakan langsung kalau kamu menolaknya."
Tantang Bara menatap tajam Damar.
"Oke, dengan senang hati."
Damar melangkah keluar ruangan, Bara tidak tinggal diam dia mengejarnya hingga menahan lengan Damar kasar.
"Kamu gila ! Kamu mau mempercepat kematin adikku ?"
Tangan Bara mencegat kasar pundak Damar menariknya menghadap Bara lalu dipukullah wajah tampan mulusnya.
Kejadian itu berhasil menarik perhatian sekitar. Mereka menatap kearah keduanya merasa terganggu. Yang satu berseragam dokter masih saja menyalahi aturan membuat keributan dirumah sakit.
Tiara berlari menahan pinggang Bara, dia bersiap akan memukul sepupunya lagi.
"Bara stop !"
Tiara berdiri ditengah tengah melerai perkelahian.
Damar tidak merespon, dia enggan melawan Bara karena Damar tahu Bara sedang meluapkan kekesalannya akibat penyakit Sofia.
Tuntut Tiara menginginkan penjelasan dari siapapun yang mau memberitahumya.
Namun keduanya hanya diam, malahan Damar memilih meninggalkan Tiara bersama Bara.
"Sofia menyukai Damar Ra, ,
Kalau saja bukan dia aku sudah memohon untuk menerima adikku."
Mendengar penuturan Bara, Tiara tak menyangka masalahnya akan menjadi rumit seperti ini.
"Astaga, mengapa jadi begini ...
Kasihan Sofi kalau dia tahu Dee sudah menikah."
Tiara juga ikut prihatin terhadap apa yang menimpa Sofia. Perhatian sekali, Rara mengelus punggung Bara agar bisa mengendalikan emosinya.
Kevin meninggalkan Juli berdua dengan Sofia didalam. Menurutnya, Kevin sudah tidak bisa ikut campur lagi mengenai kehidupan Juli.
Apalagi Kevin harus menjaga perasaan Sekar mulai dari sekarang.
Juli ragu ragu untuk duduk dikursi sebelah brankar. Sofia masih tidur dibawah pengaruh obat obatan. Wajah cantiknya pucat, beberapa peralatan medis menempel ditubuhnya.
Memang Juli baru mengenal Sofia, tapi ia bisa menilai kalau Sofia gadis baik dan polos.
"Duduk kak !"
Suara serak Sofia mengejutkan lamunan Juli yang berdiri mematung.
Julipun menuruti perintahnya.
"Masih sakit ?"
Tidak tahu mau bicara apa Juli asal saja bertanya.
"Sekarang enggak, kalau kerja obatnya hilang mungkin bakal kerasa lagi sakitnya."
"Kamu harus kuat Sofia, nurut sama dr. Bara buat menjalani rangkaian pengobatan."
__ADS_1
Sofia malah terkekeh geli mendengar nasehat dari Juli.
"Gue orangnya realistis kak !"
"Coba kamu merubah mindset kamu. Berjuang, sembuh, terus kamu bisa mendapatkan seseorang yang kamu inginkan. Kami semua peduli sama kamu Sofia."
Jika melihat Sofia Juli merasa sedang bercermin.
Memang nasib mereka berbeda jauh, namun Sofia adalah Juli saat dirinya kehilangan Inez dulu. Mudah menyerah, merasa sendiri dan tidak bisa mendapatkan kebahagiaan.
"Kalau gitu bantu gue deket sama pak Damar. Gue yakin loe bisa melakukannya kak, please . ."
Sofia berusaha duduk tegap menatap Juli penuh harap dia bersedia membantunya.
"Bisa atau tidaknya saya belum mau menjamin apalagi memberi kamu harapan palsu. Tapi ..."
Ceklek
Seseorang membuka pintu memotong perkataan Juli.
Mata Sofia mendadak berbinar melihat sosok yang berdiri diambang pintu. Bibir pucatnya menarik garis simpul menandakan rasa bahagia baru saja hadir.
"Pak Damar, ,"
Setengah berteriak Sofia memanggil Damar tepat didepan Juli istrinya.
"Mahasiswi baru udah bolos terus, kamu harus sembuh Fia !"
Langkah tegapnya mendekati brankar sebelah kiri Sofia. Hati Juli mulai teriris ketika Damar mengelus singkat ujung kepala Sofia.
"Sofia saya harus pulang sekarang, apa yang kamu butuhkan sudah ada disini."
Juli pamit tanpa melirik sedikitpun kearah Damar.
"Kak, ,"
Panggil Sofia menahan Juli sebelum benar benar keluar.
"Iya ?"
"Terima kasih sudah membawa pak Damar kesini."
Juli hanya tersenyum singkat menanggapi ucapan Sofia. Damar mengepalkan tangannya menahan kekesalan bergejolak dihatinya.
Kenapa kekacauan ini terjadi dan istrinya malah terlihat santai dirinya dekat dengan Sofia.
Biasanya Juli melihat adegan seorang suami dekat dengan perempuan lain hanya di drama TV. Nah dikenyataan Juli malah mengalami hal itu.
Ifan sudah menunggu Juli untuk mengantarnya pulang sesuai perintah Damar.
"Nyonya Ditya sudah jalan menuju rumah pak Damar dan bu Juli."
Kata Ifan memberi informasi.
Damar duduk memandangi Sofia intens. Entah harus bagaimana menghadapi gadis yang sebentar lagi menjadi masalah dalam rumah tangganya.
Sofia melihat luka disudut bibir Damar dan mengulurkan tangan menyentuhnya.
"Siapa yang tega memukul bapak ?"
"Ini urusan laki laki, kamu tidak usah mencemaskannya."
Kalau saja dulu pas pertemuan pertama mereka, Damar tidak menyanjung prestasi Sofia di mata kuliahnya mungkin dia tidak akan menyimpan rasa untuk Damar.
Bukankah wajar jika seorang dosen memuji kecerdasan mahasiswanya ? Terlebih Sofia memang terbilang pintar dalam hal pendidikan. Bara sebagai kakaknya selalu mengutamakan kebutuhannya.
Sah sah saja banyak perempuan menyukai Damar, baik sebatas mengagumi maupun secara pribadi.
"Permisi, waktunya makan dan minum obat."
Suster datang memberi jeda.
Syukurlah Damar bisa bernafas lega terhindar dari tuntutan Sofia.
Cukup satu semester Sofia berhasil menyeret Damar kekehidupannya.
Di kampus ketika Damar mengajar, Sofia gigih menempel padanya. Damar enggan memberitahu Juli karena menurutnya Sofia hanya sekedar ngefans.
"Suster, saya gak mau makan kecuali disuapin kakak dari dokter Kevin yang tampan ini."
Suster melirik Damar menunggu persetujuannya.
__ADS_1
Terpaksa Damar mengambil alih piring yang dipegang suster. Senyum Sofia mengembang gembira ternyata Damar tidak menolak melakukannya.