Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
Kekacauan


__ADS_3

Seperti biasa, jika Zoya menginap dirumah mertuanya ia akan bangun pagi untuk menyiapkan sarapan.


Baby Dee juga sudah dimandikan sebelum dirinya sibuk, kini kembali tidur dengan tenang.


"Pagi kak Zoya . . Baby Dee sama siapa ?"


Tia datang lebih awal ke meja makan karena perutnya sudah lapar sekali.


"ada di kamar, onti bisa tolong bantu dicek ? Soalnya Ditya masih tidur"


Zoya meminta tolong pada Tia untuk melihat Dee, sambil menunggu sarapan siap.


"oke kak."


Dengan senang hati Tia membantu, dia sangat gemas dan sayang pada keponakannya.


Sebelum membuka pintu, mata Tia tertuju pada jejak darah yang tercetak dilantai.


"apa ini Darah ? Kenapa asalnya dari kamar kak Bima, menuju kamar . ."


Pikiran Tia sangat liar, saat itu juga dia langsung membuka pintu. Takut terjadi apa apa pada keluarganya.


"syukurlah . ."


Tia bernafas lega melihat baby Dee masih tertidur, Ditya baru saja keluar dari kamar mandi mengeringkan rambutnya dengan hand towel.


"ada apa dek ?"


Ditya melangkah menuju almari untuk memakai pakaian.


"kak Zoya minta Tia cek baby Dee. Kak, ada jejak kaki berdarah didepan pintu kamar kakak sama kak Bima. Tia pikir . ."


"turunlah, minta mbak Cicih jagain Dee !"


Tia menurut dan langsung turun kembali.


Apa yang dikatakan Tia ? Ditya sangat penasaran dan ingin segera mengeceknya.


Kakinya melangkah mengikuti arah jejak itu. Benar, jejak kaki dimulai dari kamar Bima hingga kamar mandi miliknya.


Baunya amis darah, namun sudah mengering karena sudah lama.


"bi Cicih, tolong pel dulu area depan pintu kamar saya sampai ke kamar mandi !"


Kebetulan sekali bi Cicih sudah tiba untuk menjaga baby Dee, Ditya memerintah tugas yang harus dilakukan terlebih dahulu.


"njeh Tuan"


Bi Cicih kembali turun untuk mengambil kain pel.


"ada apa Zoya . . ?"


Dalam hatinya, Ditya penuh tanya apa yang terjadi semalam antara Zoya dan Bima.

__ADS_1


Semua anggota keluarga sudah duduk dikursi masing masing. Begitu juga dengan Bima yang turun untuk ikut bergabung.


Kursi kosong tinggal disebelah Tia dan Zoya, tatapannya tajam menuju wanita yang tengah mengunyah makanan.


Bima memilih duduk disebelah Zoya. Zoya yang tidak nyaman langsung meneguk air minum.


"Zoya kekamar duluan, Dee pasti sudah bangun."


Tidak ada yang menjawab, hanya anggukan dari bu Aulia. Ditya juga hanya diam tidak mengindahkan pamitnya Zoya.


Zoya masih melangkah dengan hati hati karena kakinya yang masih linu, berhasil mencuri perhatian Ditya. Kaki Istrinya bahkan terlihat dibalut kain kasa.


"Ditya juga sudah selesai, mau susul Zoya."


Lama kelamaan suasana di meja makan memang tidak nyaman, Ditya lebih memilih kekamar untuk menanyakan kebenarannya.


"good morning Dee, kamu pasti laper ya ? Sarapan dulu ya sayang . ."


Dee ceria sekali diajak ngobrol oleh Zoya yang, bi Cicih yang melihatnya ikut senang melihat nonnya memberi baby Dee asi.


"bibi pamit ya non"


"terima kasih ya bi, sudah jagain baby Dee"


Bi Cicih pamit berpapasan dengan Ditya yang masuk kekamar.


Dia menutup bahkan sampai mengunci pintu kamarnya.


"Zoya, apa ada yang kamu sembunyikan dariku ?"


"maksud kamu mas ?"


"kenapa kaki kamu ? Terluka, tapi aku tidak tahu apa apa."


Mata Ditya bergerak menunjuk kearah kaki kanan Zoya.


"oh ini, tidak sengaja gelasnya pecah dan terinjak oleh kakiku mas. Tapi sudah mendingan, habis mandi sudah aku obati lagi."


Terlihat jelas oleh Ditya Zoya berusaha tersenyum, dan menutupi sesuatu darinya.


Ditya memejamkan matanya, mencoba untuk menetralkan perasaannya. Kalau dia memaksa Zoya, yang ada malah terjadi perdebatan.


"kamu berkemas sekarang, kita harus pulang. aku juga banyak kerjaan dikantor."


Baguslah Ditya mengajak Zoya pulang, ia memang sudah tidak betah berlama lama dirumah mertuanya. Semua gara gara kehadiran Bima yang mengusik ketenangan hidupnya.


"iya mas, aku titip Dee !"


Kebetulan Dee sudah kenyang, Ditya menggendong puteranya dan segera membawa keluar kamar. Memberi Zoya waktu untuk mengemas barang.


"Bima mau hak milik MH Manufacturing !"


Ditya tidak sengaja mendengar permintaan Bima pada papinya, mereka sedang mengobrol diruang kerja pak Mahesa yang pintunya sedikit terbuka.

__ADS_1


"jangan sentuh sesuatu yang sudah jadi milik Adik kamu. Bukankah kamu sudah saya kasih MH Farma, akan saya serahkan MHospital. Saya dengar kamu juga lulusan S1 kedokteran."


Bima tersenyum sinis mendapatkan tawaran dari pak Mahesa. Tujuan utamanya sekarang adalah merebut semua yang ada ditangan Ditya.


"bagaimana jika publik tahu kalau seorang komisaris MH Group memiliki anak laki laki dari wanita selain istrinya sekarang ? Atau keburukan seorang Aditya Mahesa yang berselingkuh dengan manager hotelnya"


Kalau saja Ditya tidak sedang menggendong Dee, sudah dia tonjok kakaknya berkali kali.


Jadi itu yang sedang diincar oleh Bima, sesuatu yang sudah menjadi hak Ditya.


"mas, ada apa ?"


Zoya sudah siap dengan koper yang ditariknya, ia melihat Ditya sedang berdiri memaku didepan pintu ruang kerja papinya.


"biar pak Indra yang bawa kopernya turun, aku akan panaskan mobil."


Ditya menyerahkan baby Dee ke pangkuan Zoya dan turun kebawah.


"silakan kamu lakukan apa yang ingin kamu lakukan ! Saya tidak akan pernah takut dengan ancaman kamu Bima"


"kalau begitu jangan salahkan Bima, kalau hidup Ditya akan hancur sebagai gantinya."


Bima keluar kamar dengan mengepalkan kedua tangannya, tekadnya sudah bulat untuk menghancurkan keluarga Mahesa yang harmonis sebelum kedatangannya.


Ketika Zoya berniat melangkah, Bima keluar dari balik pintu. Tubuh mereka hampir bertabrakan jika Zoya tidak terperanjat kaget.


"aku begini karena kamu begitu Zoya, jangan salahkan aku jika Ditya akan hancur."


Kenapa Bima berpikir Zoya penyebab kekacauan yang terjadi, ada apa dengan Bima ? Dia yang merusak keadaan malah menyalahkan Zoya.


"pergilah ke dokter ! jangan sampai lukamu infeksi."


Sedikitpun Bima tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya, melihat kaki Zoya yang masih dibalut kain kasa karena ulahnya.


Tanpa merespon Bima yang sejak tadi bicara, Zoya pergi begitu saja meninggalkannya.


Dibalik pintu, Pak Mahesa sejak tadi mendengar apa yang dibicarakan Bima pada Zoya.


"kami pulang dulu ya mi, nek, Tia."


Diruang tamu Zoya pamit pada keluarganya. Dee seperti sumber kebahagiaan dirumah mereka, kini harus pulang.


Suram sudah rumah itu tanpanya, ditambah kehadiran Bima.


Bima mengamati Zoya dibalkon dekat tangga, jadi mereka akan pergi ke Penthouse untuk menghindarinya ? Lihat saja apa yang akan Bima lakukan selanjutnya.


"sering sering maen ya, mami pasti bakal kangen banget sama Dee."


Tak ingin pisah, Bu Aulia mengecup dan mengelus pipi Dee.


ketiganya menghela nafas panjang setelah melihat mobil Ditya meninggalkan rumah, bersiap untuk menghadapi kenyataan kalau Bima sekarang sudah tinggal dirumah mereka.


rumah yang biasanya tentram dan damai, bersiap menghadapi perang batin.

__ADS_1


bisakah Bima pergi dengan tenang tanpa menimbulkan masalah ?


tidur malam pak Mahesa dan keluarganya tidak akan senyenyak biasanya.


__ADS_2