Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
Apel Pagi Berujung 5 Senti


__ADS_3

"Sono kalian aja, males gue ma orang resek kek dia, huhh!" tolak Laila dengan wajah manyunnya dan menunjuk Nathan.


"kan tadi minta traktir, yukk gue traktirr." ajak Safira dengan semangat 45, kemudian menarik tangan Laila, karena Nafisa sudah pergi terlebih dahulu dengan Erlangga dan Nathan.


Laila pasrah mengikuti keinginan sahabatnya, tohh ia takan rugi karena akan di traktir oleh mereka. di sepanjang jalan menuju kantin, Laila dan Safira menjadi korban keusilan Nafisa dan Nathan.


Erlangga hanya menggeleng melihat kelakuan teman sengkleknya. Sampai kantin mereka segera memesan makanan yang mereka inginkan. Canda dan tawa mengisi meja yang mereka tempati, lebih dominan suara Laila, Nafisa dan Nathan karena mereka tidak berhenti berdebat.


......~~~......


Beberapa hari setelah MPLS, Hari ini adalah hari pertama Laila beraktivitas di sekolah barunya. Kali ini ia pastikan tidak akan datang terlambat, pukul 06:30 Laila sudah standby di hadapan mobil yang akan mengantarnya.


"Mang Adeeeennn!!! yukk berangkat! aku dah siappp!" seru Laila memanggil suprinya agar datang. Padahal mang Aden berada tepat di belakang mobilnya.


Ia sengaja berteriak untuk menarik perhatian Mamanya yang sedang sibuk membantu sang Papa yang akan berangkat kerja. Hahh... Laila tak percaya itu, pasti mamanya sambil sandar sender di bahu Papanya bukan membantu.


Mengingat itu, Laila menghembuskan nafasnya pelan. "berisikk! anak gadis teriak teriak." sahut Mamanya yang datang dari dalam rumah sambil menggandeng tangan sang suami.


"biarin, lagi pula aku teriak ke mang Aden kok bukan sama Mama. Iya kan Mang?" ucap Laila dengan senyum manisnya dan bertanya kepada mang Aden yang sedang berdiri di samping mobil.


"i-iya." Mang Aden menjawab dengan tergagap, perdebatan antara Ibu dan Anak itu selalu melibatkan orang lain, dan mang Aden menjadi korbannya.


"udahh, mang Aden udah nungguin tuh La, sana cepat berangkat, ntar kesiangan." ujar Papa Laila untuk melerai perdebatan mereka.


"yaudahh dehh... Mam, Pah aku berangkat yahh, Assalamualaikum." pamit Laila sambil mencium khidmat tangan kedua orangtuanya dan masuk ke dalam mobil.


"Wa'alaikumussalam, hati-hati yahh mang bawa mobilnya, titip Laila." jawab Mama dan Papa Laila barengan.


"iya Tuan, kami permisi." pamit mang Aden dan masuk ke dalam mobil, kemudian menghidupkan mesin mobilnya, dan mulai melajukannya.

__ADS_1


Laila melambaikan tangannya, dan dibalas senyuman oleh kedua orangtuanya. "yaudahh Mah, Papa jugaa berangkat kerja dulu yahh, Assalamualaikum." pamit Ayah Laila, kemudian mengecup sekilas kening istrinya dan di balas ciuman di tangan kanannya dari sang istri.


"iya Pah, Wa'alaikumussalam hati-hati di jalan." balas Mama Laila sambil tersenyum.


Mobil Papa Laila sudah melaju meninggalkan pelataran rumahnya. Mama Laila kembali masuk ke dalam dan menutup pintunya, ia akan mencuci piring terlebih dahulu sambil menunggu bi Mar datang.


...~~~...


Laila sampai di sekolah tepat pukul 06:50, karena macet akhirnya ia dijalan lebih lama. Laila berpamitan kepada Mang Aden, dan berjalan menyusuri halaman sekolah, melewati tempat parkir, taman dekat gerbang, aktivitas para siswa/i, sungguh pengalaman yang tidak ada bedanya dengan saat SMP, namun berbeda dengan perasaannya.


Perasaannya lebih dominan merasa bahagia karena dapat satu kelas dengan seseorang yang ia kagumi, juga diterimanya di sekolah ini menjadi kesenangan tersendiri baginya.


sepanjang berjalan Laila terus memancarkan senyumnya, tak sedikit teman seangkatannya dan satu SMP dulu menyapanya.


Laila terus berjalan di koridor sambil mencari letak kelas IPS 1. Setelah beberapa meter berjalan, akhirnya ia menemukan nya.


Kelasnya sudah mulai ramai, di sana ada seorang guru yang mungkin akan menjadi wali kelas IPS 1, sedang sibuk membantu muridnya membereskan meja dan kursi di kelas tersebut.


"Wa'alaikumussalam, tidak papa, ayo dibantu temannya." balasnya sambil tersenyum juga dan melanjutkan aktivitasnya.


Disana sudah nampak Safira yang membantu murid lain, dan Laila menghampirinya. "Ra, tas simpen mana dulu?" tanya Laila saat sudah di samping Safira.


"nohhh, sana ajaa." jawab Safira sambil menunjuk tempat dimana tas berjejer. Kemudian ia kembali sibuk dengan aktivitasnya.


Laila mengikuti ucapan Safira dan mulai membantu murid lainnya, Erlangga dan Nathan juga sudah di sana, mereka sibuk membereskan meja dengan siswa lain.


"anak-anak, jika sudah selesai menyapunya, langsung ke lapangan yahh, ada apel pagi untuk penyambutan Siswa Didik Baru, jadi hari Senin ini tidak upacara. Ibu mau ke kantor dulu, kalian nanti langsung saja ke lapangan yahh, Mari." tuturnya sambil berlalu keluar kelas.


"hadohhh!!! untung gak ketahuan, huhh!" pekik seseorang sambil memegang gagang pintu.

__ADS_1


"Nafisa!" seru Safira dan Laila serentak, atensi manusia di kelas itu teralih pada dua Laila dan Safira.


Mereka berdua tak mengindahkan itu, kemudian menghampiri Nafisa yang masih mengatur nafasnya yang tersengal sengal.


"haduhh,,,, tadi itu Bu guru itu, habis ngapain? belum masuk kan?" tanya Nafisa ketika nafasnya mulai teratur.


"belum, cuma bantuin beresin meja sama kursi." jawab Laila sambil menunjuk ke teman-temannya.


"iyaa, sana simpen tas Lo di belakang, bantu beresin biar cepet." timpal Safira menyahuti ucapan Laila.


Nafisa menuruti ucapan Safira dan menyimpan tasnya di tempat yang ditunjuk Safira tadi. Ia melihat Nathan dan Erlangga yang sedang berbicara dan duduk lesehan di lantai yang sudah dibersihkan.


"haii??? ketemu lagi hhheee..." sapa Nafisa lalu menghampiri kedua orang itu.


"haii jugaaa Nafisaaaaa!" balas Nathan heboh, sedangkan Erlangga hanya tersenyum kecil untuk menyapa balik Nafisa.


"kalian lagi ngapain?? ikutan boo-" pertanyaan Nafisa terpotong.


"Nafisa!! ntar ngobrolnyaa, sapu tuhh teras depan, Lo belum ngapa ngapain." seru Lia teman satu angkatan mereka waktu SMP.


"iyaa ikhh," jawab Nafisa sedikit memberengut kesal. "gue bantuin mereka dulu yahh, Ga, Nat byeee." pamit Nafisa dan menghampiri Lia yang sedang menunggunya sambil memegang sapu.


Selesai beres-beres semua kelas 10 keluar kelas mereka untuk mengikuti kegiatan apel pagi. Tak banyak yang disampaikan, hanya sekedar petuah yang tidak ada bedanya dengan waktu MPLS.


Mereka semua kembali ke kelas masing-masing setelah mengikuti apel pagi. Panass, lama, bertele-tele, boring, pokoknya nyebelin. Raut wajah mereka campur aduk antara lelah dan kepanasan.


Ada sebagian siswi yang bedaknya luntur, Laila yang memperhatikan itu langsung tertawa pelan dan memberitahu kedua sahabatnya. "Heyy, lihat tuhh, bedaknya udah lima senti luntur lagi, pasti abis satu wadah hhaaa." ejek Laila sambil tertawa pelan.


"jujur tadi gue sempet insekyur, cuma liat pas kepanasan langsung luntur kok guejadi ngakak? hhaaa" timpal Nafisa sambil tertawa juga.

__ADS_1


"kalo kata para t*kt*kers mah, jamett hhhaaa..." Safira pun ikut menimpali, mereka menertawakan diri mereka sendiri yang bisa bisanya menertawakan orang lain.


__ADS_2