
Sinar matahari perlahan masuk menerobos melalui celah gorden yang sedikit terbuka.
Damar membuka mata mendapati sesuatu menyilaukan diwajahnya.
Dia melihat kesamping, sudah tidak ada Juli disana.
Damar bangun lalu duduk ditepi ranjang mengumpulkan tenaganya.
Sudah siap satu stel pakaian kerjanya dikursi meja rias.
Senyumnya terukir, seakan menerima perhatian dari seorang istri.
Sementara Juli masih asik menguasai area dapur.
Untung saja di kulkas masih tersedia beberapa bahan makanan.
"Selamat pagi, ,"
Sapa Damar sudah rapi dengan pakaian kerjanya.
"Pagi pak Damar, maaf aku hanya bisa menyiapkan sarapan seadanya."
Sudah tertata rapi diatas meja.
Dua porsi club sandwich dengan isian telur, keju dan saus mayo bercampur selai stroberi.
Tidak lupa kentang goreng sebagai pelengkap.
"No complaining miss Juliana . ."
Damar duduk dikursi berhadapan dengan Juli.
Ia akan memakan apapun yang dibuat oleh tangan Juli.
Kalau kata orang cinta turun dari mata lalu kehati.
Bagi Damar cinta hadir dari makanan yang turun ke perut baru ke hatinya. Pantas saja Damar sangat ngebet memesan menu buatan Juli.
Makanan seperti menyatukan mereka dalam suatu ikatan batin.
"Bapak ngantor sebelum ngisi kuliah ?"
Juli baru duduk setelah memeras jeruk segar.
"Yes, I am. Ini . ."
Damar menyerahkan ponselnya, terlihat bukti transfer masuk ke rekening atas nama Juliana.
"Kok bapak tahu norek punyaku ?
Ini banyak sekali nolnya, jari bapak keceplosan ya ?"
Gelak tawa Damar nyaring terdengar, ia melihat Juli sangat menggemaskan.
"Sesuai janjiku Juls. 8 kali lipat plus bonus karena orang tuaku menyukai masakanmu."
Damar mengirim uang sebanyak 10 juta ke tabungan milik Juli.
"Nanti aku kembalikan sisanya ke bu Alin. Kelebihan satu pak nolnya."
Juli menggelengkan kepalanya tak percaya.
"No, it's oke. Itu setara dengan apa yang kamu kerjakan. Terima saja ya !"
Damar menyudahi perdebatan mengenai gaji Juli.
"Aku harus pergi sekarang, sebelum bu Alin dan jajaran kepala melihatku keluar dari kamar bapak."
Juli meneguk jusnya secara cepat, ia bangkit dari kursi menenteng tasnya.
"Wait Juls . ."
Damar menyusul Juli yang sudah berdiri didepan pintu.
"Laters baby."
Cup . .
Damar menghadiahi kecupan di kening Juli.
Andai ia tidak tahu malu, Juli sudah pasti ingin berteriak jingkrak jingkrakan menerima perlakuan manis dari Damar.
"See you . ."
Juli menarik handle pintu kemudian menutupnya.
Didalam lift, sudah pasti Juli melampiaskan perasaan bahagianya.
Damar menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Berasa dirinya telat puber mungkin.
Seandainya saja Damar bisa mengantar Juli ke kampus akan lebih semangat lagi dirinya.
Di bus TransJ Juli duduk sebelah jendela.
Ia melirik tubuhnya, Damar bahkan menyiapkan kemeja oversize miliknya. dipadupadankan dengan jeans robek robek milik Tiara yang tertinggal.
"Oh my god, ini berasa mimpi."
Juli menempelkan kedua tangannya dipipi, merasakan sensasi baru dihidupnya.
__ADS_1
Pertama jatuh cinta, patah hati, sekaligus memiliki seorang kekasih diusianya yang belum genap 19 tahun. Kuliahnya saja baru memasuki semester 2, kini Juli sudah punya pacar seorang Executive muda nan tampan.
"Ekhemm . ."
Juli terdengar memperbaiki kondisi tenggorokannya akibat terlalu happy.
Tanpa ia sadari, seseorang memperhatikan Juli di kursi belakang. Hanya terhalang dua kursi saja dari tempatnya bisa meneliti gerak gerik Juli.
Juli turun dipemberhentian bus. Ia harus berjalan kurang lebih 500 meter menuju kampus.
Seseorang mencegat langkah kakinya dengan mencengkram tangan Juli.
"Found you, baby girl . ."
Juli benar benar terkejut melihat siapa yang kini berdiri didepannya.
"papi ?"
"Juliana, tidak papi sangka kita bisa bertemu di bus secara kebetulan."
Seringainya sangat menakutkan bagi Juli.
Memori diotaknya kembali memutar kenangan buruk bersama sang papi.
"Lepas pih, kita sudah gak punya ikatan apapun lagi."
Akhirnya Juli bisa melepaskan tangan pria yang tega melakukan KDRT pada maminya.
"Oh ya ?
Kalau begitu kenapa kamu masih memanggilku dengan sebutan papi ?
Bagi duit !"
Tangannya sudah berhasil merebut totebag milik Juli.
Secara mendadak tas itu kembali direbut seseorang.
"Jangan berani berani mengganggu Juli !"
Dia memberi benteng diantara jarak Juli dan papinya.
"Kevin dia papiku, ayo kita pergi saja. Aku sudah terlambat menghadiri mata kuliah."
Juli menarik Kevin segera menjauh dari pandangan papi yang tega hampir menjualnya pada rentenir.
Menukar dirinya agar semua hutangnya dianggap lunas.
"Kenapa papi kamu kasar Juls ?
Aku juga baru tahu kalau kamu masih punya orang tua."
"Dia sudah lama mati bagiku, David gak pantas disebut sebagai seorang bapak."
Juli tersenyum sinis sekaligus miris membahas soal David.
"Aku khawatir om David akan terus mengganggu kamu Juls. Hubungi aku jika terjadi masalah."
Kevin menatap pekat wajah Juli, gadis itu terlalu santai menghadapi masalah hidupnya.
"Maksduku, jangan hanya saat ada masalah. Kamu boleh menghubungiku kapan saja."
Juli mengangguk tersenyum pada Kevin agar dia tidak cemas.
Kevin sampai didepan kelas Juli, sebelum dia pergi Kevin menyempatkan mengelus ujung kepala gadis itu.
"Laters Juls . ."
Kevin berjalan menuju kelas seni sesuai jadwal kuliahnya.
Juli merapikan rambutnya sedikit berantakan.
Sekarang rasanya sudah berbeda menerima kebaikan Kevin.
Serba salah dan canggung yang ada di benaknya.
"Ekhemm . .
Terima kasih loh sambutannya."
Ternyata Damar sudah tiba dikampus. Juli jadi salah tingkah dibuatnya, pasti pacarnya sudah melihat adegan tadi.
"Pagi pak Damar, silakan pak."
Juli menunduk diberi tatapan mengintimidasi oleh Damar.
Damar mendahuluinya masuk kedalam dengan senyum mengembang. Dia sangat menikmati momen seperti itu.
Cemburu pada seorang gadis yang beda usianya hampir 10 tahun.
"Good morning class, kita akan mulai dnegan debat kelompok. Penilaian berdasar pendapat konkrit juga data dan fakta terkait kebenaran jawaban kalian."
Damar langsung membagi mahasiswanya ke beberapa kelompok.
Ini kesempatan baginya menyerang Juli, Damar ingin melihat sejauh mana wawasannya.
☀️☀️☀️
Juli menyandarkan tubuhnya dikursi kantin.
__ADS_1
Tenaganya terkuras akibat debat yang berlangsung alot.
Bagaimana tidak, Juli harus menjawab dan menyanggah pendapat kelompok lain. Terlebih dosen tampan itu mendadak menjadi killer baginya.
Damar terus saja menyerang Juli dengan beberapa pertanyaan tak logis menurut Juli.
"Kenapa kamu Juls ?"
Adam kebetulan lewat melihat Juli lunglai duduk dikursinya.
"Aduh kak, terima kasih loh minumnya."
Juli merebut mineral dingin ditangan Adam tanpa izin.
Langsung saja Juli meneguk hingga setengahnya.
"Kevin mana ?"
Adam kembali bertanya pada Juli.
"Entah, mungkin masih ada mata kuliah."
Juli mengembalikan botol air ke hadapan Adam yang sudah duduk.
"Gue gak tahu Kevin perlu tahu soal ini atau tidak.
Juls, yang merusak stan Kevin ternyata pemain cadangan tim basket."
"Serius kak ?"
Mata Juli terbelalak mendengar siapa pelaku perusakan saat pensi kemarin.
"Hanya motif, dia diminta oleh seseorang. Dan ternyata setelah gue selidiki, orang itu adalah Jihane . ."
Maka dari itu Adam ragu harus memberitahu Kevin sahabatnya atau jangan.
"Astaga . ."
Juli menutup mulutnya yang menganga akibat tak percaya, Jihane tega melakukan hal jahat.
Galeri Kevin yang dia rusak, kalaupun Jihane marah padanya biar Juli yang menanggung.
Ia tidak ikhlas Kevin yang jadi korban.
"Gue serahin sama loe, gue gak berani ngasih tahu dia.
Tahu sendiri Kevin kalau lagi marah gimana."
"Enggak."
Jawab Juli singkat padat. Juli memang belum pernah melihat Kevin marah besar. Yang ada dia sangat lembut.
"Tapi tunggu,
Kevin pernah memukuli seseorang sampai babak belur.
Jangan kasih tahu soal ini sama Kevin. Aku pergi dulu kak, thanks minumnya."
Juli buru buru keluar dari kantin dengan berlari.
Ia berniat mencari keberadaan Jihane Anastasia.
"Jihane, kita perlu bicara !"
Juli mengajak Jihane yang baru keluar perpus menuju tempat sepi.
"Mau apa lagi kamu Juls ?
aku sudah gak percaya lagi sama janji manis kamu."
Jihane menghentakkan jarinya tepat didada Juli.
"Terserah kamu Ji, but please . .
Jangan melampiaskan kekesalanmu sama Kevin. Kamu membenciku kan ?
Jadi stop mengganggu Kevin kalau kamu benar benar menyukainya."
Plak . .
sebuah tamparan mendarat dipipi Juli.
Jihane menamparnya dengan keras.
"Siapa kamu Juls ?
Melarangku mendekati Kevin, kamu bukan siapa siapanya ingat itu !"
Jihane merasa puas sudah memberi Juli peringatan sekaligus pelajaran.
"Aku memang bukan siapa siapa Kevin. Tapi aku tidak akan tinggal diam saat tahu kamu merusak stan miliknya.
Jihane dimana hati kamu yang katanya menyukai Kevin ?
Itu obsesi, bukan cinta."
Kevin sejak tadi mendengar semuanya, dia berdiri dibelakang Juli. Dia juga menyaksikan Juli diperlakukan kasar demi membelanya.
Kevin mengepalkan kedua tangannya menahan amarah.
__ADS_1
Kalau saja Jihane bukan perempuan, dia sudah sejak tadi memukulinya.