Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
#117


__ADS_3

Rindu terberat ialah merindukan seseorang yang sudah tiada.


Kita tidak bisa lagi melihatnya, merasakah kehadirannya.


Di saat butuhlah hal paling sulit untuk di lalui.


Bukannya tidak terima kenyataan, hati Juli hanya rindu.


Ia rindu mami.


Mungkin gadis lain seusianya bisa curhat pada ibu mereka saat jatuh cinta maupun patah hati.


Yang ada Juli kembali dihinggapi kesepian.


Terlebih sosok ayah jauh dari kata bertanggung jawab.


Entah dimana David sekarang ini berada.


David akan menjadi walinya bukan, jika suatu hari nanti Juli menikah.


Damar masuk membuka pintu tanpa acara double lock lagi.


Kali ini ia datang bersama Ifan asisten pribadinya.


"Ada apa ?"


Tanya Juli berdiri, sebelumnya ia duduk dikursi meja makan menatap layar laptop.


"Silakan pakai ini nona Juli !"


Ifan menyerahkan box berisi gaun hitam selutut berlengan 3/4.


Juli melirik Damar, laki laki itu hanya diam tak bersuara.


Supaya mengetahui apa yang terjadi, Juli menurut pergi ke kamarnya berganti pakaian.


"Kita mau kemana pak ?"


Tanya Juli bingung, ia duduk disamping Damar.


Kediaman kekasihnya membuat Juli berpikir negatif.


Kawin lari ?


Menghadiri pertunangannya dengan Sekar ?


Mungkinkah ke pemakaman keluarga Damar ?


Namun Damar masih membisu, tangannya bergerak menggenggam Juli.


Erat sekali sehingga ia tidak mungkin bisa melepaskannya.


Setibanya di tempat tujuan, Juli melihat kehadiran beberapa pengantar jenazah.


Mobil jenazah itu berlogo MHospital.


"Siapa ?"


Mereka berjalan dengan masih bergandengan tangan.


Tidak ada kerabat apalagi keluarga Damar disana.


Mendadak perasaan Juli tidak enak, disertai rintik hujan gerimis mulai turun.


Ifan siap siaga membuka payung hitam, melindungi atasannya agar tidak terkena air hujan.


"Juls, aku akan selalu menjaga kamu. Ingat itu !"


Kalimat pertama yang keluar dari mulut Damar.


Semakin jelas sebuah pusara bertuliskan nama seseorang.


Tidak mungkin, bagaimana bisa dia pergi begitu saja ?


Tubuh Juli terhuyung lemas, Damar segera menahannya agar tidak ambruk.


Sudah pasti gadis itu akan terkejut hebat mendapati kabar duka ini.


"David . ."


Lirih Juli, air matanya menetes namun tidak ada sedikitpun rasa sakit dihatinya.

__ADS_1


"Menangislah sepuas yang kamu mau sayang, lepaskan semua rasa sakit dihatimu !"


Damar menahan pundak Juli menggunakan kedua tangannya.


Dia mulai khawatir melihat Juli tidak merespon dengan baik kepergian David.


Giliran Juli, kini ia hanya diam tak bersuara.


Ifan melirik bingung gadis seusia anak perempuannya itu.


"Tuan lebih baik anda bawa nona pergi, biar saya menyelesaikan sampai akhir."


Ifan memberi saran masuk akal, Juli sangat terguncang dilihat dari reaksi tak biasanya.


"Terus beri saya kabar."


Damar memapah Juli kembali masuk ke mobil.


Laki laki itu belum berani menancap gas sebelum Juli yang duduk di sebelahnya mau bicara.


"Juls bicaralah sesuatu, katakan saja jangan ditahan."


Damar mencondongkan tubuhnya menghadap Juli.


"Aku mau pulang pak, ,"


Juli menunduk meremas kedua tangannya erat. Membuang kesedihannya, mengkhianati perasaannya supaya tidak terlihat lemah dimata dunia.


Damar menuruti keinginan Juli.


Setibanya Damar dan Juli didepan pintu rumah, Kevin sudah menunggu lama bersandar dipintu.


Akhirnya dia menyaksikan langsung kemesraan Juli dan kakaknya.


Kevin harus menunda amarahnya melihat keadaan Juli.


Damar juga memberi tatapan agar Kevin jangan bertanya apa apa pada Juli sekarang ini.


Juli dibiarkan masuk sendiri oleh Damar. Hanya menyisakan dirinya dan Kevin diluar.


"Kenapa mas ?"


Tanya Kevin diliputi penasaran apa yang terjadi pada gadis yang masih sangat amat ia sukai.


Damar ikut bersandar juga ditembok berwarna abu samping pintu.


"Kalian tinggal bareng ?"


Kevin berasumsi hasil pemikirannya sepihak.


Damar menggeleng tidak membenarkan tuduhan Kevin.


"Dia maksa bayar uang sewa."


Sangkal Damar, Kevin tidak boleh tahu kalau kakaknya memberi tempat tinggal secara gratis pada Juli.


"Mas, kalian tuh seperti apa sih ?


Juli memaksaku pacaran sama Jihane, tapi dia juga nyuruh kamu dan Sekar tunangan.


Apa dia akan hidup sendiri dijalannya ?"


Benar apa kata Kevin, kenapa Damar baru menyadari hal itu.


Juli gadis malang kini ia sudah tidak memiliki orang tua.


Kerabatnyapun entah dimana jauh dari sisi Juli.


Kalau saja perempuan lain berada di posisi Juli, mereka bisa saja meminta Damar memilihnya. Atau bahkan menerima Kevin yang tulus mencintainya.


Sungguh Damar dibuat takjub oleh sikap dewasa Juli diusianya.


Ia bahkan tidak bisa menangis histeris melihat papinya meninggal dunia.


Sehebat apa luka yang digores oleh David di hati Juli ?


Kevin datang sengaja ingin melihat keadaan Juli.


Dia menyesal telah mengabaikan kehadirannya beberapa hari lalu.


"Aku tidak bisa meninggalkannya sendirian, lebih baik kamu pulang dulu Kevin."

__ADS_1


Damar meminta pengertian Kevin, berharap mengerti keadaan Juli saat ini.


Secara gentle Kevin merelakan Damar menemani Juli.


Meski dia juga ingin melakukan hal sama, menjaga dan menghiburnya.


"Aku balik duluan."


Kevin berjalan menyusuri koridor dengan tangan kanan masuk kesaku celananya.


Di kamar mandi Juli menyalakan shower. Tubuhnya dibiarkan basah meski pakaiannya masih menempel. Biar tetesan air bervolume besar itu menyapu kesedihan Juli.


Menyamarkan air mata juga suara isak tangisnya, jangan sampai orang lain tahu Juli bersedih.


Rasa bencinya pada David memang besar, tapi bagaimanapun pria itu adalah ayahnya.


"Juls, buka pintunya !


Kamu sudah terlalu lama mandi."


Damar beberapa kali mengetuk pintu kamar mandi, berharap Juli bisa mendengar ditengah suara gemericik air.


Ceklek . .


Ternyata pintu tidak dikunci olehnya. Damar melangkah mendekati Juli dipojok bilik bilas berbahan kaca.


Dia berjongkok meraih merengkuh tubuh basah kuyup Juli.


"Aku benci David, kenapa dia meninggalkan aku bersama penyesalan ini pak . .


Aku anak durhaka pembenci orang tuanya sendiri."


Pecah sudah isak tangis Juli setelah cukup lama tertahan.


Damar memeluk erat, iapun ikut basah .


"Dia menyayangimu Juls, sangat."


Kata Damar pelan membisikannya ditelinga Juli.


"Rasa sakitnya berkali kali lipat pak, , aku harus bagaimana ?"


"Mendoakannya Juls . .


Doakan papi kamu agar dia selamat di akhirat."


Damar mengecup ujung kepala Juli disertai tetesan air shower.


Hilang sudah kesadaran Juli dalam dekapan Damar.


Sesak didada tertahan itu mengakibatkan melemahnya detak jantung Juli.


Damar segera membopong tubuh Juli, namun ia harus berani melepas semua pakaian basah miliknya.


Jangankan berpikir menikmati indahnya tubuh Juli, Damar ingin segera merawat Juli supaya cepat sadar.


Telaten sekali Damar memakai baju tidur untuknya.


Kini Damar menyodorkan minyak angin ke dekat lubang hidung Juli.


Damar menerima pesan dari Ifan. Melapor kalau dia sudah meminta jemaah mesjid dekat MHospital menggelar acara tahlil untuk David.


Selain itu Damar juga menyiapkan santunannya.


Demi Juli Kevin ikhlas melakukannya. Ia yakin gadis yang kini terbaring dihadapannya akan menjadi pendamping Damar.


"Bapak udah lihat semuanya ?"


Damar terkejut mendengar suara Juli ketika dia fokus membaca pesan.


Lipatan tebal tampak dikening Damar bingung.


"Lihat apa Juls ?"


Tangan Damar bergerak mengelus pipi Juli.


"Apa yang terjadi sama papi ?


aku ingin mendengar semua yang bapak ketahui tentang David."


Juli memposisikan dirinya duduk menatap Damar.

__ADS_1


Damar menarik nafas menyiapkan kata kata sesuai kenyataan.


__ADS_2