
Keadaan berubah jadi tegang, semua keluarga duduk diruang tamu.
Masih belum ada yang bersuara, pak Mahesa juga masih bersandar disofa. Beliau berusaha keras agar tidak ada pertumpahan darah diantara anak anaknya.
Tidak ingin terlibat, Zoya lebih memilih menjaga Dee dikamar atas. Ia juga harus memberi ASI untuk Dee yang sempat menangis karena haus.
Ditya masih tidak terima dengan kenyataan yang baru saja dia dengar dari orang yang katanya adalah kakak kandungnya.
Sejak tadi Tia mengamati Bima, pria itu memang mewarisi wajah papinya. Jadi dia memiliki dua kakak laki laki, kenapa baru hari ini dia mengetahui faktanya.
Sementara bu Aulia, hatinya hancur harus mengorek luka lama. Bagaimanapun Bima memang anak pertama dari suaminya, itu tidak bisa dipungkiri.
"ayolah, aku hanya berkunjung. Kenapa jadi ketakutan seperti ini ? Aku tidak akan menuntut apa apa, tenang saja"
Bima bicara seolah mengetahui isi pikiran nek Hafsari. Nenek yang tidak pernah menganggap mamanya sebagai menantu, dan dirinya sebagai cucu.
Jauh dilubuk hati Bima, dia juga ingin menjadi anak dan cucu yang bisa dibanggakan oleh papa dan neneknya. Seperti yang mereka lakukan pada Ditya.
"aku tidak bisa melihatnya, kamu selesaikan secepatnya Mahesa !"
Tak tahan nek Hafsa bertemu dengan Bima, beliau segera pergi kekamarnya.
"kami butuh penjelasan pi !"
Ditya merasa kalau dirinya dan Tia harus mendengar kisah lama, menelaah dari raut maminya mungkin bu Aulia sudah tahu.
"nenek tidak menyetujui papa nikah sama mamaku, bahkan sampai aku terlahir dan berusia 4 tahun. Papi meinggalkan kami, dan menikah dengan tante Aulia. Tragisnya, papa tidak pernah mengekspose pernikahan pertamanya pada publik. Seolah bu Aulia dan kamu adalah yang pertama."
Meski perih dan menyakitkan, Bima terus berusaha tegar untuk menceritakan sepenggal kisahnya. Kisah yang hanya bertahan 5 tahun, membuat dia harus rela kehilangan ibunya karena depresi.
"jadi kamu kembali untuk menuntut hak ? Apa uangmu sudah habis Bima ?"
Kini bu Aulia berani mencerca anak tirinya dengan tatapan menghina.
"kenapa kalian berpikir seburuk itu ? Niatku tulus datang kesini, tapi jangan salahkan aku jika dugaan kalian akan benar benar terjadi."
Bima tersenyum sinis melirik kearah bu Aulia, wanita perebut papanya. Dia menang karena lebih bisa mendapatkan hati nek Hafsari.
"jangan sentuh keluargaku Bima ! Katakan apa yang kamu mau sekarang"
Pak Mahesa angkat bicara, ingin segera menyudahi situasi seperti ini.
"aku akan tinggal di Jakarta, setelah mendapatkan yang aku inginkan mungkin aku akan selamanya menghilang dari hidup kalian."
"Pak Indra !"
Pak Mahesa memanggil salah satu pegawainya yang sejak tadi sudah bersiap diluar pintu.
"njeh Tuan"
"siapkan kamar untuk Bima, lalu antar dia !"
Setelah memerintah, pak Mahesa mengajak istrinya kekamar dengan bergandengan tangan.
__ADS_1
Adegan itu berhasil menyulut api amarah Bima. Perasaannya yang sejak awal tulus, berubah menjadi ajang pembalasan.
Akan Bima temukan celah untuk menjatuhkan keluarga Mahesa.
"Tia, masuklah ke kamar !"
Sengaja Ditya menyuruh Tia pergi meninggalkannya dengan Bima, sebelum kakaknya juga masuk kamar.
Tia menurut tanpa mengucapkan satu katapun pada Bima.
"sorry telat, tapi selamat datang. Gue harap loe bisa terima keadaan, dan melangkah maju."
Mudah bagi Ditya mengatakan hal itu, tidak untuk Bima. Dia hanya ingin memiliki keluarga utuh, setelah ditinggal mamanya Bima hidup sebatang kara.
"gue dengar loe sudah punya istri dan anak ?"
Bima mencoba mencairkan suasana yang sangat canggung itu.
"iya, mereka dikamar. Mungkin kamar kita nanti berhadapan, gue naik duluan."
Cukup sudah basa basi Ditya untuk Bima, dia sudah tak tahan sejak tadi menahan sesak dan bingung didadanya.
"mas, perasaanku gak enak. Besok kita pulang saja ya ?!"
Zoya menatap Ditya yang resah dan gelisah, duduk ditepi ranjang dengan mengepalkan kedua tangannya.
Bahkan Ditya tidak menghiraukan permintaan Zoya.
Ia menghela nafas, ikut duduk disamping Ditya.
Zoya menggenggam tangan Ditya, dan memeluknya dari samping.
"aku tahu kamu bingung, kamu masih punya aku dan Dee. Semua akan baik baik saja mas."
Tepat sekali ucapan Zoya, datangnya Bima tidak akan merubah apapun. Bahkan jika Bima berniat untuk merebut semuanya, Ditya tidak akan pernah takut didepak.
"kamu dan Dee adalah segalanya bagiku."
Hanya pelukan Zoya yang mampu menenangkan gundah gulana dihati Ditya. Benar, dibalik kesuksesan seorang pria ada istri yang selalu mendukungnya.
Malam itu menjadi malam yang panjang bagi keluarga Ditya.
Andai saja semua ini hanya mimpi, mereka berharap bisa segera terbangun dari tidur.
Rasa lelah juga shock, membuat Ditya memejamkan mata dengan cepat. Zoya sendiri masih belum bisa tertidur, ia mulai mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi.
Zoya berniat keluar kamar untuk mengambil persediaan minum, betapa terkejutnya Zoya saat mendapati seorang pria tengah bersandar dipintu kamar depan.
"kamu . ."
Bima melihat Zoya yang keluar dari kamar Ditya membulatkan kedua matanya. Seketika dadanya terasa dihimpit batu besar, matanyapun mendadak perih.
"permi . ."
__ADS_1
Secepat mungkin Zoya ingin menghindari Bima, tapi kalah cepat dengan cegatan tangan Bima. Zoya ditarik paksa masuk kekamar pria itu.
"lepaskan saya !"
Dengan sekuat tenaga Zoya melepaskan cengkraman tangan Bima darinya.
Plak . .
Sebuah tamparan mendarat dipipi pria yang tak lain adalah kakak iparnya.
"lancang sekali kamu, kamu dan saya bukan muhrim. Saya tidak mau ada fitnah."
Bima tak bergeming, dia masih terus menatap wajah Zoya. Kenapa harus dia yang jadi istri dari adiknya ? Bima menyukai Zoya sejak pertemuan pertama. Dia juga sengaja stay di Jakarta untuk menemukan keberadaan Zoya.
Kesempatan bagi Zoya untuk keluar dari kamar itu, namun lagi lagi Bima berhasil menahan. Dia mengunci pintu kamarnya.
Prang . .
Gelas yang sejak tadi digenggam Zoya ia banting kelantai. Sayangnya seluruh kamar kedap suara, tidak ada yang bisa mendengar pecahan tadi.
"aku menginginkanmu Zoya. Kalau kamu mau meninggalkan Ditya dan datang padaku, aku tidak akan merusak semuanya."
Seenaknya saja Bima memerintah, rasa benci dihati Zoya semakin bertumbuh setiap detik yang ia lewatkan dikamar Bima.
"buka pintunya !"
Tahu Bima tidak akan menurut, Zoya melepas sandalnya dan menempelkan kakinya diatas pecahan gelas.
Air matanya menetes menahan rasa sakit yang mulai menyeruak.
"Zoya hentikan !"
Bima meraih kaki kanan Zoya, mengangkatnya agar menjauh.
Akhirnya Bima membukakan pintu, merelakan Zoya pergi dengan terpincang pincang.
"aaw . ."
Zoya meringis kesakitan mencabut salah satu serpihan gelas yang menempel ditelapak kakinya.
Ia kembali kekamar dengan meninggalkan jejak darah disetiap langkahnya.
untung saja Ditya masih tidur pulas, dan Dee juga belum minta ASI. wanita itu masuk kekamar mandi untuk mencuci lukanya.
"apa lagi ini Tuhan ? jauhkan aku dari orang seperti Bima, aku mohon."
setelah mengelap luka di kakinya dengan handuk, Zoya duduk disofa dan mulai mengobatinya.
perih sekali, ketika ia meneteskan obat merah kelukanya. sesakit dan sesulit apapun Zoya menghadapi cobaan rumah tangganya, ia akan terus kuat dan bertahan.
lukanya telah dibalut oleh kain kasa. begitupun dengan luka yang telah Ditya goreskan saat mengkhianati dirinya.
Zoya sadar, kalau hidup berumah tangga itu sama halnya dengan ujian, bukan hanya mencapai tujuan.
__ADS_1
tidak ada yang sempurna.