
Diruangannya Damar bekerja sungguh sungguh agar bisa pulang tepat waktu.
Demi bisa makan malam bersama Juli Damar harus semangat menandatangani seabrek laporan.
Tok tok . .
Seseorang mengetuk pintu ruangan Damar.
"Masuk."
Perintahnya cepat meski dia tidak tahu siapa yang datang.
"Ini pesanan yang bapak minta. ."
Ternyata Ifan asisten pribadi Damar membawa paperbag ditangannya.
"Tolong simpan saja diatas meja, , dan terima kasih Ifan."
Ucap Damar tanpa melirik kearah pria sebaya dengan sang ayah.
"Sama sama pak Damar.
Saya ada laporan mengenai nona Jihane dan Romi pak . ."
Barulah Damar menghentikan aktifitasnya setelah mendengar kata kata Ifan.
"Bagaimana perkembangannya ?"
Damar melepas kacamata kerja juga menyimpan bolpoinnya diatas map.
"Jihane mengenal Romi sudah lama bisa dibilang teman dekat.
Romi maniak **** pak, dan menurut penyelidikan nona Jihane katanya merasa kesepian.
Dia ditolak tuan Kevin dan diabaikan oleh bapak."
Alasan yang disampaikan Ifan sangat masuk akal.
Mereka memang serasi dalam hal seperti itu.
"Saya sudah mengakhiri semuanya. Jangan biarkan mereka menyentuh Juli lagi."
Damar kembali memberi Ifan tugas untuk mengawasi pergerakan Jihane juga Romi.
"Baik tuan, terima kasih karena malam ini saya diliburkan."
Damar mengangguk, memudian Ifan undur diri keluar dari ruang kerja bosnya.
Sengaja Damar memberi waktu Ifan istirahat.
Malam ini dia akan berduaan saja dengan Juli.
Dipandanglah paperbag disebrang sana, Damar mengulas senyum membayangkan rencana matang yang ia punya.
"Kali ini harus berhasil."
Gumamnya dalam hati.
Jam pulang kerja Juli sudah ditunggu Damar di carpot depan lobi.
Juli mengernyitkan dahinya heran kenapa Damar berdiri disana.
"Masuk Juls !
Dikulkas gak ada bahan makanan. ."
Damar membukakan pintu mobil disebelah kemudi.
"Bukannya dibagian kitchen banyak sekali, aku kira akan masak disana."
Juli berjalan lunglai masuk ke mobil karena Damar pasti sengaja melakukannya.
"Aku tidak bilang kamu akan masak dimana. .
Udah nurut saja sama bos sendiri."
Damar menutup pintu kemudian menyalakan mesin.
"Kapan sih aku gak nurut sama bapak, bapak tuh otoriter tahu !"
Juli memasang sabuknya dengan mulut manyun.
"Yasudah gajinya 2x lipat nanti aku kasih . ."
Mobil mulai meninggalkan area hotel, Damar menyebrang dibantu petugas security.
"Ini bukan soal upah ya pak.
Lagi, kenapa sih bapak selalu mengembalikan uang sewaku ?
Aku gak mau yah numpang secara gratis."
Juli menatap tajam Damar mengutarakan kekesalannya.
"Oh jadi sekarang kamu lagi protes ngeluarin uneg uneg gituh ?"
"Terserah bapak nyebutnya gimana. Aku tuh bingung sama sikap bapak."
__ADS_1
Juli melipat kedua tangannya didada.
Baru kali ini Damar melihat Juli marah.
Apa karena dia lelah mengerjakan tugasnya di DGC atau mungkin sedang PMS ?
Damar jadi bingung sendiri menghadapi Juli.
"Gini deh Juls, nanti aku beliin apapun yang kamu mau di supermarket. . Sebagai permintaan maafku udah nyusahin kamu selama ini."
Damar menyerah saja daripada harus berdebat dengan Juli.
"Serius ?"
Tanya Juli jual mahal, padahal dalam hati dia tertawa penuh kemenangan.
"Iya Juliana . ."
Damar mengelus ujung kepala Juli disela sela menyetir.
Damar rindu menghabiskan waktu bersama Juli meski hanya melakukan hal sederhana.
Apalagi gadis itu kini tumbuh semakin dewasa dan bijak.
"Aku cari kebutuhan pribadi dulu ya Juls . ."
Juli mengangguk masih sibuk memasukan beberapa sayur ke troli.
Damar pergi ke spot kebutuhan pria.
"Keju !"
Ia teringat kalau laki laki itu sangat doyan ngemil keju parut.
Jangan sampai lupa membeli keju banyak banyak.
"Juli . .?"
Seorang perempuan menyapanya dari samping.
Juli menengok mendapati sosok tidak asing baginya.
"Jihane, ,"
Kenapa dia harus bertemu Jihane disini, apalagi tidak ada Damar disebelahnya.
Bukan takut hanya saja Juli muak pada Jihane karena tega menyakiti perasaaan Damar.
"Kita perlu ngobrol Juls."
Jihane manahan troli karena Juli sudah mau pergi begitu saja.
Juls aku perlu Romi untuk menemani dan membantuku."
Jihane menarik nafas kemudian melanjutkan kata katanya.
"mas Damar sama aku itu gak mungkin.
Aku butuh Romi demi calon bayiku, dia siap bertanggung jawab."
"Maksudnya apa sih Ji ?"
Romi, bayi, sebenarnya apa yang ingin dikatakan Jihane padanya Juli mulai pusing.
"Aku sama Mas Damar pernah melakukannya . ."
"Gak mungkin !"
Juli tak terima.
"Itu kenyataannya Juls. Kalaupun aku hamil, dia yang pertama melakukannya.
Mana mungkin Mas Damar mengakuinya."
"Jihane kamu sadar siapa pria itu ? Romi hanya akan membuang kamu ! Sama seperti korban lainnya."
Juli menahan suaranya ditenggorokkan agar tidak menimbulkan kegaduhan.
"Dia beda sama aku Juls, aku siap jadi budak sexnya.
Cuma kamu perlu tahu bagaimana Damar.
Selamat ya atas kesempatan kalian kembali bersama."
Sudah puas menyampaikan perasaannya, Jihane pergi begitu saja meninggalkan Juli.
Juli tidak percaya mendengar kebenaran tentang laki laki itu.
Bagaimana bisa Damar melakukannya ?
Sakit sekali hati Juli.
Pantas saja Damar selalu agresif padanya selama ini.
Ini mimpi kan ?
Juli salah dengar mungkin, atau Jihane hanya berbohonh demi menjauhkan mereka.
__ADS_1
Juli terisak, iya dia menangis tanpa suara.
Berhakkah Juli kecewa pada Damar ?
Kalaupun Damar tahu Jihane hamil anaknya, dia harus bertanggung jawab.
Lalu kisahnya akan kembali berakhir sebelum dimulai lagi.
Cepat cepat Juli menghapus air matanya sebelum Damar melihat.
Ia berjalan mendorong troli menuju kasir tanpa ada kekuatan.
Setibanya didepan kasir Juli mengantre.
"Juls . ."
"Juli . ."
Damar berdiri dibelakang Juli, namun suaranya tidak mampu didengar oleh gadis itu.
Barulah Juli menengok setelah tangan Damar menarik pundaknya.
"Kamu melamun ?
Aku panggil dari tadi gak denger kayaknya."
Damar melihat mata Juli merah seperti habis menangis, Juli masih saja diam.
"Ini kuncinya, kamu masuk duluan biar aku yang bayar."
Damar menyerahkan kunci mobil ketangan Juli.
Mobilnya juga beruntung terparkir di area VIP.
Tak ada kata apapun, Juli menurut keluar terlebih dulu.
Damar melihat ada perubagan sikap Juli cukup serius.
Apa yang harus Juli lakukan sekarang?
Marah pada Damar, memintanya bertanggung jawab atau pergi saja dari kehidupannya.
Ah entahlah ia pusing sekali sejak Jihane memberitahunya.
"Hei, kamu kenapa ?"
Damar selesai menyimpan belanjaannya dibagasi.
Tahu tahu masuk mobil Juli tertangkap basah menangis.
"Tadi aku ketemu Jihane pak . ."
Kini Damar tahu alasan yang membuat Juli berubah.
"Dia ancam kamu ?
Katakan padaku Juls !"
Damar mulai geram pengaruh Jihane sangat buruk untuk Juli.
"Bapak pernah melakukannya sama Jihane ?"
Tanya Juli dengan tatapan kosong kedepan.
"Astaga Juls, kamu percaya kebohongannya ?
Sungguh aku tidak pernah tidur dengan siapapun."
"Jihane bilang sendiri dia butuh ayah buat calon bayinya, makanya dia lari ke Romi."
"Mereka itu sama sama licik, dia Pengaruhi kamu agar kita bertengkar seperti ini."
Terdengar Damar menahan amarahnya tidak ingin Juli menangis karenanya.
"Coba bapak inget inget, barangkali lupa atau lagi mabuk gitu gak sengaja melakukannya. ."
Damar memejamkan matanya frustasi Juli masih belum bisa mempercayai dirinya.
"Ya ampun Juls enggak sama sekali. Hanya kamu perempuan yang aku inginkan.
Ini aku lagi usaha loh dapetin kamu lagi, percaya sama aku please ?!"
Juli gamang, dipikir pikir tidak mungkin juga Damar melakukan hal sehina itu.
Mungkin benar kalau Jihane hanya membalas dendam karena Juli merebut dua laki laki yang ia idamkan.
"Aku gak tahu pak, pusing kepalaku sama masalah kalian."
Juli menghembuskan nafas kasar.
"Sederhana Juls, cukup kamu percaya padaku jangan sama mereka."
Damar pasrah saja, bukan berarti menyerah. Dia tahu Juli pasti bisa menilai mana yang benar dan salah.
"Aku mau pulang, kalau masih mau dimasakin di apartemen sewaan saja."
Juli merajuk apalagi mengingat Damar sudah janji akan membelikannya hadiah nyatanya tidak ada.
__ADS_1
"Baiklah Juli sayang . ."
Asal saja Damar menyebutnya sebutan itu.