Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
With You


__ADS_3

Hari Sabtu pukul 08:00 di bagian bumi lain, lebih tepatnya di London-Inggris. Seorang pemuda dan juga perempuan berhijab lebar sedang duduk di kursi tunggu bandara.


"Dek, kamu yakin gak mau Kakak anter pulang?" Tanya perempuan berpakaian syar'i itu.


"Iya, gak papa Kak. Satya sekarang udah gede. Kan nanti Kasur juga jemput." Ujar pemuda itu, yang tak lain namanya adalah Satya.


"Hess! Abang sendiri kok di sebut Kasur." Tegur Kakaknya yang bernama Sintia.


"Hehee, kalo Bangsur kan gak nyambung, apaan Bangsur?" Kekehnya mencoba mengelak.


"Serah kamu dek, tapi lain kali gak boleh gitu." Sintia mengingatkan adiknya yang otaknya tinggal setengah ini.


"Iya Kak Sinsin." Jawab Satya dan tersenyum lebar.


"Satyaaa!! Kamu mau meninggalkan London? Mengapa?" (Anggap bicara bahasa Inggris hihii) Tanya seorang pemuda yang tak lain sepertinya teman Satya.


"Hmm, iya. Aku akan pulang ke rumah." Jawab Satya dan berdiri menghampiri temannya.


"Ahh! Aku pasti akan kesepian. Menyesal sekali aku! Mengapa waktu Sekolah menengah pertama tak mencari sahabat baru, jadi aku akan mempunyai teman dekat selain kau." Ocehnya dengan raut wajah yang di buat sekecewa mungkin.


"Tega sekali kau Aiden, jika waktu itu kamu punya sahabat baru, aku pasti akan terlupakan." Satya malah ikutan sok dramatis.


"Yasudahlahh, aku hanya bercanda. Kamu jangan lupakan aku okey? Jangan lost kontak juga, jangan ganti kartu juga. Pokoknya apapun yang menyangkut Aiden si tampan jangan kamu hapus atau kamu gantikan." Teman Satya yang bernama Aiden itu memberikan Satya sebuah petuah, yang mungkin sedikit tak penting?


"Tentu, kalaupun aku ganti kartu, nanti kamu akan kuhubungi ulang." Ujar Satya, kemudian mereka bertos-ria menggunakan pantat masing-masing. Freak.


Sintia menggelengkan kepala melihat kelakuan ajaib adik tersayangnya ini. Kelakuannya itu memang selalu saja ada, bahkan dulu waktu Satya masih duduk di bangku kelas delapan, ia mendapat telpon dari wali kelas Satya jika Satya bolos. Tapi, bolosnya Satya begitu Masya Allah, bagaimana tidak? Diajak bolos oleh Aiden, ia malah pergi ke ruang guru dan izin terlebih dahulu. Yang mana Satya mendapat semprotan rohani dari Aiden juga wali kelasnya. Aiden kesal karena harus di hukum, dan wali kelasnya kesal karena salah satu atau lebih tepatnya dua muridnya akan melakukan bolos. Mengingat itu Sintia Kembali menggelengkan kepalanya dan tersenyum samar.


Tak menunggu lama, sekitar pukul setengah sembilan akhirnya pesawat yang ditumpangi Satya sudah terbang. Sintia tak ikut pulang ke Indonesia karena ia sedang sibuk-sibuknya dengan dunia perkuliahannya di sini.


"Kak Sinsin, kalo mau pulang ke Indonesia, ajak Aiden yaa! Pengen tahu rumah Satya disana soalnya." Celetuk Aiden dan tertawa sendiri.


"Boleh, asal jangan minta traktir tiket penerbangan VVIP." Canda Sintia, dan ia pun tertawa pelan.


Sedangkan Aiden wajahnya sudah merah menahan malu. Dulu ketika Satya dan Sintia akan pulang ke Indonesia, Aiden sempat memaksa Mommy dan Daddy-nya untuk membeli tiket penerbangan ke Indonesia. Namun, ia malah memaksa ingin tiket penerbangan VVIP, bukan economy. Katanya biar ada tempat bobo. Dan akhirnya, ia tak jadi pergi ke Indonesia.


"Kak Sinsin inget aja. Dahlah aku malu." Aiden memalingkan wajahnya seolah malu. Padahal ia malu maluin.


"Yaudah yah, kita pulang Den." Ujar Sintia dan berjalan terlebih dulu.


"Pulangnya bareng aku aja Kak! Tadi sama Supir kok!" Seru Aiden dan berlari mengejar langkah Sintia.



Indonesia. Tak terasa, sudah dua Minggu Laila menjadi murid SMA Lima Sila. Ini hari Senin, hari paling menyebalkan menurut Laila, ia paling malas upacara karena harus berpanas-panasan di lapangan. Tapi jika ia tak ikut upacara, maka hukumannya akan lebih berat lebih panas juga. Di jemur di hadapan tiang bendera selama satu jam.

__ADS_1



"Mam! Laila bantu masak gak tuh?" Tanya Laila sambil menarik kursi dan kemudian ia mendudukinya.



"Palingan kamu bantu recokin doang. Dahlan Mama males." Sewot Mama Laila.



"Apa Mam?? Dahlan siapa? Mama selingkuh ya? Mama Jahaaaaat!!" Tuduh Laila dan berseru layaknya pihak tersakiti.



Pluk!



Mama Laila memukul kening Laila pelan dengan sinduk di tangannya. "Dahlah maksud Mama tuh! Bukan Dahlan!" Ralat Mama Laila meski dengan wajah garangnya.



"Oooo..." Laila hanya membulatkan mulutnya dengan raut setengah mengejek kepada Mamanya.




"Bomat, gak peduli aku wleee!" Ujar Laila yang keasikan membuat Mamanya kesal.



Iya, Mamanya emosian, anaknya bikin emosi. 'bukan anakku' gumam Mama Laila dalam hati mencoba bersabar. Dalam hati sih ngomong bukan anakku, setiap orang pasti bisa liat jika mereka itu memang Ibu dan Anak, kelakuannya saja sama apalagi wajahnya. Ralat, wajah menyebalkannya maksudnya.



"Den, sarapan dulu yah?" Pinta Bi Inah pada Erlangga yang sudah siap berangkat sekolah.


"Enggak Bi, Erlangga udah hampir telat. Maaf yah." Tolak Erlangga halus. Dan menyalimi tangan Bi Inah. Walaupun Bi Inah hanya seorang ART di rumahnya, namun bagi Erlangga ia ART sekaligus seorang Ibu untuknya.


"Bawa bekal deh? Gimana?" Tawar Bi Inah lagi, ia khawatir pada anak majikannya ini.


"Gapapa Bi, entar Erlangga jajan ke kantin aja." Tolak Erlangga lagi.


"Huh... Yaudah, jajannya nasi yah, yang bikin kenyang." Putus Bi Inah dengan menghembuskan nafas pelan.

__ADS_1


"Iya bi, Erlangga pamit. Assalamualaikum." Setelah itu Erlangga benar-benar pergi keluar untuk berangkat sekolah.


Setelah menjawab salam Erlangga, Bu Inah kembali ke dapur guna membereskan makanan yang berserakan di meja.



Di perjalanan, Laila sedang asik bernyanyi nyanyi di dalam mobil. Mang Aden hanya menggelengkan kepalanya melihat Laila yang asik dengan dunianya sendiri.



Tiba-tiba di tengah jalan, mobilnya berjalan tersendat-sendat. "Eh, eh. Innalilahi!" Ucap Mang Aden saat mobilnya langsung berhenti.



Laila yang menyadari mobilnya berhenti pun menarik earphone dari telinganya. "Kenapa Mang? Jangan bilang mogok?" Tanya Laila was was.



"Kayaknya iya deh Non." Jawab Mang Aden dan keluar.



"Yaaaah." Desis Laila dan bersedekap dada. Kemudian ia ikut keluar dari dalam mobil.



Erlangga melajukan motornya dengan kecepatan diatas rata rata. Saat dekat pertigaan, ia melihat sebuah mobil berhenti, dan seorang perempuan yang bersandar di mobil tersebut sambil memainkan handphone-nya. Juga seorang pria yang sibuk mengotak ngatik mobilnya.


Erlangga memelankan laju motornya dan berhenti tepat di hadapan mobil tersebut. "Laila?" Tanya Erlangga saat melihat teman sekelasnya yang bersandar di mobil itu. Ia melepaskan helm-nya.


Laila yang namanya merasa dipanggil pun menoleh. "Eh! Hai hehee..." Sapa Laila dengan cengiran.


Erlangga menganggukkan kepalanya, "Non, mobilnya masih ngambek. Kayaknya pengen di bawa ke bengkel deh." Ujar Mang Aden sambil menutup Kap mobil.


"Terus ini Laila berangkatnya gimana? Bentar lagi telat." Rengek Laila dengan mulutnya yang maju lima senti hehee.


"Lo bareng gue aja gimana, La? Udah telat, bentar lagi upacara soalnya." Tawar Erlangga yang masih duduk di motornya.


"Eummm... Emang gapapa? Kalo gapapa boleh deh." Tanya Laila.


"Makanya gue nawarin." Jawab Erlangga dengan wajah datarnya.


"Yaudah ayook. Mang telpon bengkel biasa aja yah. Laila berangkat duluan, Assalamualaikum." Pamit Laila seraya menggunakan helm-nya, setelahnya ia naik ke motor Erlangga, dan langsung melaju menuju sekolah.


Dalam hati, Laila kembali bersorak bahagia, entah kenapa, akhir-akhir ini takdir berpihak baik padanya. Ia tak memikirkan apa yang akan terjadi suatu hari nanti.

__ADS_1


#Bersambung


Heyooo!!! I'm come back nih, heheee. Yang abis baca, kasih like oyyy. Komen juga sekalian yaaah. Trim's🤗


__ADS_2