Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
#123


__ADS_3

Beberapa mobil tiba memenuhi parkiran MHotel.


Adam bertugas menyambut para tamu penting.


Selain itu para penggemar online Kevin juga berdatangan.


Jangan lupakan fans Kevin di kampus.


Juli berjalan menyapa tamu yang sudah hadir.


Cantik sekali dia mengenakan celana dan blezer putih dengan rambut diikat. Bibirnya dilapisi lipstick merah darah menambah kesan seksi dalam kesederhanaannya.


"you are so beautiful . ."


Gumam Damar melihat Juli dari jauh.


Juli mulai disibukkan menjelaskan beberapa lukisan milik Kevin.


Ia tidak menyangka keramaian terjadi di hari pertama.


Sebelum pembukaan, Kevin mengajak Juli dan Adam mengadakan meeting singkat.


Agar tidak ada kendala menghadapi calon pembeli.


"Bukankah itu sketsa diri anda bu Juli ?"


Seorang customer pria gagah mendapato objek nyata lukisan yang mencuri perhatiannya.


"Eu. .


Saya pikir ini tidak untuk dijual, akan saya konfirmasi ke pelukisnya."


Juli mengamati sekeliling mencari keberadaan Kevin.


"Kalau tidak untuk di jual kenapa dipajang ?"


Tanyanya menghentikan Juli.


"Soalnya tidak ada di daftar pak, sebentar. ."


"Ada apa Juls ?"


Juli lega Kevin menghampirinya.


"Kevin ini . ."


"Oh saya minta maaf pak, saya lupa malah memajangnya.


This is not for sale, saya tunjukan lukisan lain yang mungkin anda sukai."


Kevin meuntun tamu pentingnya ke spot berbeda.


-bukankah ini diriku beberapa saat yang lalu ?-


Juli mengamati sketsa dirinya.


Ternyata diam diam Kevin menjadikannya objek tanpa Juli sadari.


Secerdas itu Kevin dalam waktu singkat bisa membuat lukisan setengah jadi.


"Terima kasih sudah menghadiri acara saya.


Semoga kalian yang membeli lukisan bisa mendapat kepuasan menikmati dan mengapreasinya."


Kevin memberi penutupan dihari pertama.


Setelahnya ada penampilan spesial dari salah seorang sahabat Kevin.


Adam dan Jihane naik keatas stage bersiap menyanyikan sebuah lagu.


- Jika memang kau terlahir


Hanya untukku


Bawalah hatiku dan lekas kembali


Ku nikmati rindu yang datang membunuhku


Untukmu seluruh nafas ini


Dan ini yang terakhir (aku menyakitimu)


Ini yang terakhir (aku meninggalkanmu)


Tak kan ku siasiakan hidupmu lagi


Ini yang terakhir


Dan ini yang terakhir


Tak kan ku sia siakan hidupmu lagi


Jika memang dirimulah tulang rusukku


Kau akan kembali


Pada tubuh ini


Ku akan tua dan mati


Dalam pelukmu

__ADS_1


Untukmu seluruh nafas ini -


Damar berdiri diambang pintu mengamati Juli dari belakang.


Sekilas keduanya merasa lirik lagu itu cocok dengan keadaan hati mereka.


Sekuat apapun Juli menjauh dari Damar, ia selalu merindukan berada disisinya.


Begitupun sebaliknya, Damar sakit harus melihat Juli semakin dekat dengan adiknya.


Kevin masih sibuk mengucapkan selamat tinggal dan terima kasih pada tamu tamunya.


Kesempatan Damar berbicara dengan Juli.


Dia menarik Juli menuju ruang tangga darurat.


Damar mencium lama bibir Juli meminta gadis itu membuka gerbang mulutnya.


"Hmm . ."


Juli seperti terhipnotis menerima ajakan Damar.


Lidah mereka kini beradu menggeliat berkelana mencari kenikmatan.


Lenguhan Juli tak terasa keluar begitu saja, ia bahkan melingkarkan kedua tangannya dileher Damar.


Kenapa sensasi panas itu membuncah mengobrak abrik perasaan keduanya.


Juli rindu Damar, apalagi laki laki yang kini tangannya bergrilya disekitar dada Juli.


"Pak . ."


Damar melepaskan ciumannya, ia bergerak menjamah leher Juli hingga mencium dada Juli dari luar inner dari jasnya.


"Jangan tinggalkan aku Juls !


Bisik Damar ditelinga Juli, nafasnya memburu panas terasa.


Ya ampun kenapa Juli pasrah saja mendapat perlakuan fulgar Damar.


Padahal ini pertama baginya.


"I cant . ."


Lirih Juli, Damar mundur menghasilkan jarak untuk memandangnya.


"Percayakan saja nasib kita pada takdir."


Juli berbalik membuka pintu tangga darurat meninggalkan Damar.


"Sial . ."


"Dari mana Juls ?


Ayo kita makan dulu, kamu pasti sangat lelah."


Kevin menghadang Juli, wajahnya murung entah kenapa Kevin penasaran.


"Iya, ayo."


Juli menuruti Kevin. Mereka berjalan menuju tempat makan crew yang sudah disiapkan.


Bukan hanya Juli dan Adam, Kevin sengaja memperkerjakan orang untuk tugas lain.


Misal membungkus lukisan dan membawanya ke mobil pembeli.


🌿🌿🌿


Pameran berlangsung lancar selama 3 hari kemarin.


Kevin tidak menyangka lukisannya hanya tersisa beberapa buah saja.


Demi merayakan keberhasilannya, Damar mengadakan jamuan di rumah Atikah.


Sekaligus akan menjadi malam spesial baginya.


Selain keluarganya Kevin juga mengundang Sekar.


Jangan tanya Jihane, sudah pasti dia datang bersama Damar.


Tiara bahkan ikut hadir menggandeng dr. Bara.


Tidak lupa juga Adam sahabatnya diundang.


"Ih bude gak nyangka Tiara akhirnya punya pacar."


Zara memeluk Tiara mendengar kabar jadian mereka.


"Emangnya Dee jomblo ngenes, Tiara mah kalau suka ya ngomong langsung gak main belakang."


Sindir Tiara sengaja menyulut emosi sepupunya.


"Mas Damar serius kok kali ini sama Jihane. Katanya gak mau main main lagi."


Jihane menyela obrolan mereka berusaha membanggakan diri.


Juli menunduk menggenggam gelas ditangannya.


Jadi hubungannya dengan Damar sekedar main main saja.


Ia tidak terima perlakuan Damar, akan Juli tunjukkan kalau ia juga bisa mendapat cinta tulus dari seseorang.

__ADS_1


"Minta perhatiannya boleh ?"


Kevin mengumpulkan semua yang hadir di area kolam renang.


Mereka memperhatikan, ingin mendengar hal penting dari Kevin.


"Terima kasih bantuannya mas Damar.


Business is business, but you're my big brother.


Kevin merasa bersyukur memiliki kalian di hidup Kevin."


Zara tersenyum sambil menitikan air matanya.


Putera kecilnya sudah tumbuh dewasa, bisa membanggakan kedua orang tuanya dengan caranya sendiri.


Ditya merangkul istrinya menenangkan.


"Juls . ."


Kevin berjalan mendekati Juli, dia bahkan berlutut dihadapannya.


"Jadilah pacarku ?"


Tangannya mengeluarkan sebuah kotak merah dari sakunya.


Terlihat sebuah cincin emas didalamnya.


Tiara menutup mulutnya tak percaya, Kevin mendahului Damar kakaknya. Jelas ia tahu kualitas cincin pemberian Damar.


Coco crush ring, cincin keluaran brand chanel dengan 18k beige gold mini version.


Dialah yang membantu Kevin memesannya lewat telpon.


Tiara pikir Kevin akan memberikan cincin itu pada sang mama.


Juli gamang, ia meremas kain dressnya.


Bahkan Juli sempat melirik kearah Damar di sebrangnya.


"Yes, I will."


Pecah telur juga, Juli akhirnya mau menerima Kevin sebagai kekasihnya.


Ini sperti mimpi buruk baginya, bukan pula sebuah mimpi untuk Kevin.


Keluarga dan sahabatnya bertepuk tangan merayakan kebahagiaan Kevin.


Kevin segera memeluk Juli singkat lalu memakaikan cincinnya dijari manis Juli.


"Congrats Kevin !"


Ucapan pertama dari Damar berhasil menghentikan detakn jantung Juli.


Tubuh Juli merosot lemah dalam dekapan Kevin.


Semua orang panik melihat Juli pingsan.


Dengan cepat Juli membopongnya menuju kamar tamu.


"Juli kelelahan Kevin, tenaganya mungkin terforsir saat acara pameran."


Tiara membantu Kevin memeriksa keadaan Juli.


Juli menyesal mendengarnya, dialah penyebab Juli ambruk tak sadarkan diri.


"Oles minyak angin, nanti aku kasih resep vitamin penambah darah."


Tiara meninggalkan Kevin menyusul keluarganya di ruang keluarga.


"Hei . ."


Kevin baru saja selesai mengoles minyak, Juli langsung membuka matanya.


"Maaf ya, aku gak sempet bilang makasih buat cincinnya."


Juli tersenyum lemah.


"It's oke. Kamu menginap saja disini, besok baru aku antar pulang."



****Wujud asli wajah Juli yang dibuat sketsa oleh Kevin.


Kevin menggambarnya saat dia, Adam juga Juli bersiap membuka pameran.


Juli menyukai potret dirinya yang terlihat dewasa.


Dewasa tidak mematok usia.


Damar meski sudah 28 tahun masih saja seperti anak anak.


berpetualang bersama beberapa perempuan tanpa berpikir panjang.


Juli dewasa diusia dini.


Dia merasakan cinta mendalam, pernah bermimpi menjalin hubungan serius dengan Damar.


Takdir selalu memiliki kisah lain jauh dari bayangan manusia.


Pada akhirnya Juli harus rela berpisah dengan Damar**.

__ADS_1


__ADS_2