Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
Grand Opening


__ADS_3

***


Hari hari yang dijalani Ditya dan Zoya semakin berwarna.


Kebahagiaan, tangis, ujian dan perdebatan masih selalu menghiasi perjalanan hidup mereka.


Zoya juga masih bekerja sebagai marketing, meski kebanyakan stay di hotel.


Ditya kini sudah menyelesaikan tahap finishing untuk hotel barunya di Cirebon.


Beberapa hari lagi grand opening, Ditya harus bolak balik jakarta Cirebon.


Tidak ingin Zoya lelah, Ditya sengaja melarangnya ikut menghadiri pembukaan itu.


Ditya harus berangkat dengan keadaan masih bertengkar kecil dengan Zoya. Mana mungkin seorang Direktur tidak didampingi oleh istrinya ? Apa Ditya enggan mengajak Zoya yang perutnya semakin besar itu.


"terima kasih ya pi, sudah mau ajak Zoya kesana".


Didalam perjalanan menuju kota udang itu, Zoya duduk bersebelahan dengan pak Mahesa yang mengajaknya.


"itu karena papi tahu, Rahman ikut mendampingi Diana. Jadi papi minta dia bawa perlengkapan, soalnya kamu akan hadir juga".


Mereka melakukan perjalanan mobil melalui tol, diantar oleh driver menggunakan mobil keluarga.


"pak, ini minumnya"


Seorang wanita menyuguhkan ice americano kepada Ditya yang tengah mengecek persiapan akhir di ballroom.


"thanks".


Jawab Ditya singkat dengan tatapan yang masih fokus pada tatanan ruangan.


"pak, untuk alkohol dikota sudah dilarang. Tapi kalau untuk hadiah, saya punya".


Kalau di jakarta Ditya selalu menjamu koleganya dengan minuman, tapi tidak disana. Aturan pemerintah setiap kota berbeda beda.


"saya hanya akan patuh pada peraturan, tidak ada minum minuman".


Karena wanita itu membahas hal sensitif, Ditya menyempatkan untuk menatapnya.


"baik pak, kalau begitu saya permisi". Sebagai seseorang yang nantinya berurusan dengan Ditya, wanita itu juga ikut andil dalam persiapan.


"Aditya, hati hati kamu ! Dia janda tahu, sepertinya naksir kamu".


Sejak tadi bu Diana memang memperhatikan Ditya yang sedang mengobrol dengan wanita tadi.


"tante, lagipula aku mana ada kepincut sama dia. Zoya segalanya bagi Ditya tan".


Tidak terima, Ditya dapat peringatan keras dari Bu Diana yang khawatir akan ada percikan api diantara keduanya.


"awas aja kamu, tante orang pertama yang bakal gorok kamu!".


Merasa bertanggung jawab atas Ditya, bu Diana memang selalu menjaganya selama mereka tinggal bareng di Cirebon.


"mbak siapkan kamar untuk saya, driver, dan istrinya Aditya akan sekamar".


Pak mahesa melakukan proses check in di front desk.


Sebelumnya pak Mahesa memang tidak melakukan reservasi, beruntung masih ada kamar tersisa.


"baik pak Komisaris, mohon ditunggu sebentar. Saya akan siapkan kuncinya".


Front Desk Agent yang cantik dan bertubuh semampai itu sudah mengetahui siapa mereka.


Dia juga sangat terlatih dalam hal melayani tamu.


"petugas bellboy akan membantu bapak dan ibu ke kamar, silakan".


Tidak banyak barang yang dibawa, karena mereka hanya akan menginap satu malam.


Terdiri dari 8 lantai, hotel baru Ditya terletak di jalan pelabuhan. Dia membeli tanah yang lumayan luas di samping gerbang masuk pelabuhan.


Meski sulit, Ditya mendesain kolam renang yang tidak terlalu luas. Fasilitas dan pelayanan lengkap bintang 5, dengan harga yang masih standard bagi kaum menengah keatas. Untuk kalangan bawah, tersedia kamar di 3 lantai terendah yang masih terjangkau.


Zoya dan pak Mahesa naik lift dengan pemandangan kolam renang dibawahnya.


Ia mengelus perutnya tersenyum, memberitahu baby X hasil karya ayahnya.


"lihatlah cucuku, ayahmu sangat hebat".

__ADS_1


Pak Mahesa yang menyadari apa yang sedang Zoya pikirkanpun ikut tersenyum bangga.


Mereka berpisah didepan lift, karena pak Mahesa masuk kekamar paling depan. Sementara Zoya, harus berjalan ke ujung koridor.


Lift membelah 2 wing, Zoya menuju koridor wing B.


Akhirnya ketemu nomer kamar milik Ditya yang menghadap kearah pantai kejawanan.


Pintu yang sedikit terbuka membuat Zoya mengerutkan keningnya. Terlebih ada suara cekikian dari arah dalam.


Ia membuka pintu dengan lebar, wajahnya terlihat masam mendapat pemandangan seorang wanita yang sedang memakaikan dasi suaminya.


Apa yang akan Zoya lakukan ?


Pura pura batuk untuk mengalihkan perhatian, atau memaki Ditya yang tega bermesraan dengan wanita lain.


"jadi karena sudah ada yang memakaikan dasi, kamu melarangku datang kesini mas ?"


Dengan nada tenang, suara Zoya mampu mengejutkan keduanya.


"Zoya . ."


Pria itu menurunkan kedua tangan wanita dihadapannya, dan berjalan kearah Zoya.


Zoya malah maju, mengabaikan Ditya, Ia berjalan kearah wanita itu.


Ditya menghela nafas, berusaha menetralkan perasaannya.


"ibu connita, seorang General Manager melayani direktur utama layaknya seorang istri".


"maaf bu, jangan salah paham. Saya tidak bermaksud, hanya membantu bapak sebaik mungkin".


Tidak ingin ada salah paham, Conni langsung menyela perkataan Zoya.


"keluarlah Conn, biar saya yang jelaskan".


Wanita yang usianya dibawah mereka 2 tahun itu menuruti perintah Ditya.


Setelah Conni menghilang, Zoya mulai mengeluarkan bajunya dari koper dan merapikannya di almari.


Ia masih diam, tidak mengatakan apa apa.


"Zoy, please. Percayalah ! Dia hanya membantu, tadi tanganku sempat kram".


"mas, kalau bukan papi yang ajak aku juga tidak ingin datang. Tidak sudi melihat adegan tadi".


Tangannya masih sibuk menata pakaian, Zoya tidak ingin melihat Ditya. Hatinya berkata tidak ingin menangis.


"lihat aku !"


Ditya menarik tangan Zoya, memaksa untuk menatapnya.


"dia datang untuk menjemputku, akan ada rapat karyawan sebelum opening. Aku yang sedang memakai dasi, tiba tiba kram. Dia hanya membantu Zoya".


Ditya menghela nafas sebelum menjelaskan kronologi kejadian tadi.


"pergilah mas ! Jangan sampai mereka menunggu".


Dengan berat hati, Zoya harus mempercayai kata kata Ditya. Namun bukan berarti ia melepaskan conni begitu saja.


Zoya hanya tidak ingin membuat Ditya terlambat karena harus bertengkar dengannya.


"baiklah, semoga kamu bisa percaya padaku. Aku pergi dulu, kamu istirahat. Nanti ada yang antar makanan"


Ditya melepaskan genggamannya, lalu keluar kamar untuk sebuah rapat.


"sabar Zoya, kamu jangan kalah sama pelakor".


Mungkin Ditya masih bisa dipercaya, bagaimana dengan wanita itu ?


Dari caranya menatap Ditya sudah jelas kalau dia menyukai Ditya.


"saya minta maaf pak, gara gara saya bapak jadi bertengkar".


Conni mengekor dibelakang Ditya menuju meeting room.


"lupakan, salah saya juga membiarkan kamu melakukannya. Ini pertama dan terakhir".


Dengan gagahnya Ditya berjalan, mengenakan setelan jas hitam berdasi.

__ADS_1


"maaf kalau saya lancang, tapi saya memang menyukai bapak".


Ungkapan Conni berhasil menghentikan langkah Ditya, lalu membalikan badan menatap tajam Conni.


"sejak pertama kali kita bertemu, saya tahu ini salah. Bolehkah saya tahu bagaimana jawaban bapak ?"


Wanita itu sudah tidak bisa menahan kharisma Ditya lagi.


Pikirnya, tidak apa jadi selingkuhan kalau Dityanya mau.


"kamu pikir saya bukan pria setia ? Hubungan kita antara atasan dan bawahan, tidak lebih. Jangan pernah mencampur adukan masalah pribadi dengan pekerjaan. Kamu tidak tahu, istri saya sangat profesional meski dia bawahan saya dikantor".


Mendengar jawaban Ditya, Conni setengah menyesal mengutarakan perasaannya secara langsung. Dia malu, bagaimana bisa sebodoh itu menggoda pria beristri.


"saya minta maaf sekali lagi, ini tidak akan terulang pak".


Conni menunduk, Ditya tersenyum sinis melihatnya.


🎊


Malam yang ditunggu telah tiba, grand opening akan segera dilakukan.


Para tamu undangan sudah mulai memenuhi kursi.


Penampilan penyanyipun seperti sebuah penyambutan untuk mereka.


Konsep acara dibuat sesantai mungkin, tanpa harus mwngikuti susunan acara yang berderet.


Masuk ke sesi penyambutan, Ditya maju untuk melakukan pidato.


"kami ingin memberikan pelayanan yang bisa memuaskan anda semua. Saya ingin mengucapkan terima kasih pada papi saya, yang telah memberi saya kesempatan untuk berkarya. Juga istri saya, partner hidup saya. Yang rela ditinggal pergi bolak balik kesini".


Mendengar kalimat terakhir Ditya, semua orang yang hadir tertawa. Merasa pengusaha muda itu tengah merajuk karena kesibukannya.


Tak lama seorang MC mengambil alih,


untuk melakukan proses gunting pita.


Ditya berbisik pada MC, untuk memanggil Zoya dan pak Mahesa.


"kami persilakan untuk bapak Mahesa selaku komisaris MH Group dan ibu Zoya Aditya yang tak lain ialah istri pak Aditya untuk maju keatas stage".


Bu Diana membantu Zoya untuk naik keatas panggung, diikuti suaminya dr. Rahman yang mendampingi Pak Mahesa.


Disusunan acara asli, Ditya akan menggunting pita bersama Conni selaku General Manager. Tapi karena kejadian tadi, dia enggan. Baginya keluarga yang mendampinginya sukses sejauh ini.


Ditya meraih tangan Zoya untuk sama sama menggenggam gunting. Setelah menunggu aba aba, mereka menggunting pita itu.


Semua yang hadir bertepuk tangan dan berdiri.


"selamat menikmati, terima kasih".


Ditya menutup sambutannya, mempersilakan semua tamu untuk menikmati hidangan.


"selamat Aditya, ini baru awal perjuanganmu".


Pak Mahesa menepuk punggung Ditya, bangga pada puteranya.


Tidak sia sia pak Mahesa mendidik Ditya cara berbisnis.


Dalam kurun waktu hampir 6 tahun, Ditya kini sudah membuka hotel cabang.


"thanks pi, ini semua karena papi percaya sama Ditya".


Sikap Ditya seperti anak kecil yang malu malu dipuji oleh papinya.


"selamat ya mas, aku sama baby X bangga sama kamu".


Zoya berusaha tersenyum, menyembunyikan perasaannya yang masih cemburu itu.


"terima kasih sayang".


Ditya mengecup kepala Zoya, beberapa pasang mata menyaksikan adegan itu. Termasuk Conni, hatinya merasa panas dibakar api cemburu.


3 bulan Conni mengenal Ditya sejak dirinya di rekrut oleh bu Diana. Tidak butuh waktu lama untuk menyukai pria sesempurna Ditya.


Conni selalu menemani Ditya ketika mengecek persiapan hotel. Mungkin karena kebersamaan itu tumbuh rasa suka dihatinya.


"maaf pak, pak walikota ingin bertemu bapak".

__ADS_1


Tidak enak hati mengganggu kebersamaan mereka, Conni terpaksa menyela.


"aku pergi sebentar" Ditya pamit sebentar pada Zoya dan keluarga.


__ADS_2