
Keracunan
Sesuai keinginannya, Zoya mengajak Ditya makan malam di warung seafood pinggir jalan yang sudah terkenal di jakarta.
Ini pertama kalinya Zoya ngidam hidangan laut. Dengan arahan dari pelayan, Zoya memesan udang telor asin, kangkung cah terasi, dan cumi saus padang.
"kamu yakin mau makan seafood ?"
Ditya kembali bertanya, setelah
diperjalanan sudah berulang kali menanyakannya. Pasalnya selama mereka bertemu kembali, Zoya tidak pernah ketahuan makan seafood.
Apalagi sekarang dia sedang hamil, Ditya sangat khawatir.
"mas kamu nanya terus. Aku kan lagi ingin makan, mungkin baby X juga yang mau".
Zoya langsung menyeruput jeruk hangat yang baru saja datang.
"silakan bu, pak. Selamat menikmati". Tak lama kemudian pesanan sudah tertata diatas meja.
Mata Zoya terbelalak melihat makanannya, sangat menggoda.
"ayo mas, di makan !".
Ajak Zoya pada Ditya yang masih terlihat ragu.
Ditya tidak memiliki riwayat alergi seafood, hanya saja dia tidak yakin dengan menu pilihan Zoya.
"enak loh mas, ini Bala Seafood yang terkenal itu. Lain kali kita nyoba kepiting asapnya".
Karena Zoya sangat antusias, akhirnya Ditya mulai menikmati makanannya.
Selang beberapa menit, piring mereka sudah kosong semua.
Yang awalnya ragu, Ditya juga menikmatinya.
__ADS_1
"mas mandi dulu ya".
Setibanya dirumah, Ditya pergi ke mamar mandi untuk bersih bersih. Sementara Zoya lebih asik mengerjakan laporan harian, agar tidak tertinggal jika sudah kembali bekerja.
Ada rasa mual, sesuatu seperti naik dari perut ke mulut Zoya. Tak bisa menahannya lagi, Zoya mengeluarkan cairan ke lantai kamarnya.
"mas . ."
Ia merasa pusing dan tidak bisa menahan isi perutnya yang akan keluar lagi.
Ditya tidak bisa mendengar panggilan Zoya, kran showernya sedang menyala.
"mmm . . Bi Sumi, tolong saya !"
Untung saja bi Sumi sedang merapikan sofa, pintu kamar Zoya yang sedikit terbukapun langsung di dobrak olehnya.
"aduh non Zoya, kenapa ? Ayo kita ke kamar mandi satunya".
Bi Sumi memapah Zoya yang mulai lemah karena terus terusan muntah.
Di dalam kamar mandi, Zoya masih mengeluarkan isi perutnya kedalam toilet.
Segera bi Sumi pergi kedapur membuat teh dari air dispenser agar cepat. Dan mencari minyak angin di kotak P3K.
"Zoya mana bi ?"
Ditya tahu kalau ada yang tidak beres pada istrinya, dengan melihat muntahan bercecer dilantai.
"dikamar mandi sebrang tuan".
Langsung saja Ditya mencari keberadaan Zoya, yang kini tengah berbaring miring di ranjang.
"mas sudah telpon om Rahman, tadi dikamar banyak muntahan kamu. Sekarang gimana ?"
Ditya berjongkok menggenggam tangan Zoya, dan memeriksa keadaannya.
__ADS_1
"non, di minum dulu. Supaya mendingan".
Bi sumi membawa teh dan diambil alih oleh Aditya.
"makasih bi, tolong bibersihkan ya bi". Rencananya bi Sumi memang akan membersihkan kamar Ditya setelah membuat teh.
"keracunan makanan ? Ditya juga makan seafood itu om, tapi kenapa hanya Zoya ?"
Dr. Rahman yang sudah memeriksa Zoya, menjelaskan pada Ditya tentang keadaannya.
"karena tubuh Zoya yang sedang hamil, tidak bisa menerima gizi dari olahan seafood. Mungkin mulutnya menginginkan, tapi tidak dengan daya tahan tubuhnya. Om akan kasih obat pereda mual, kamu bisa beli di apotek".
Ditya menerima resep dokter, dan meminta bantuan room service untuk membelinya di apotek yang tidak jauh dari hotel.
"maaf mas, ini salahku".
Karena terlalu maksa ingin makan seafood, Zoya harus menerima resikonya".
memang dokter mengatakan bukan bahan makanannya yang tidak sehat. Itu terjadi karena tubuh ibu hamil tidak semuanya bisa menerima olahan seafood.
"sudah, mending kamu istirahat. Bukan salah kamu juga, harusnya aku konsultasi dulu ke om Rahman".
Ditya yang biasanya chat ke dr. Rahman sebelum melakukan sesuatu, naasnya malam itu dia tidak bertanya dulu.
"mas . .
Apa dalam berumah tangga, masalah itu akan selalu ada ? Kenapa tiada habisnya".
Tiba tiba Zoya mengeluh, mungkin ia sudah berada dititik lemah dan tak berdaya.
"badai selalu datang Zoya. Tapi kalau kita saling percaya dan jujur, kita pasti mampu melaluinya".
dengan tersenyum, Ditya mampu menguatkan perasaan Zoya yang sedang down itu. dia tidak ingin Zoya frustasi hingga akhirnya menyerah begitu saja.
"aku akan kuat mas, demi baby X dan juga kamu. jangan pernah tinggalkan kami berdua".
__ADS_1
Zoya merangkul Ditya agar segera memeluknya.
hingga larut malam, Dityapun ikut tertidur menjaga Zoya. takut istrinya muntah lagi, Ditya bahkan rela tidur dikursi samping ranjang.