Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
#153


__ADS_3

Damar menunggu kedatangan Juli diteras rumah dengan resahnya. Sudah cukup lama istrinya tak kunjung tiba.


Mungkin dia akan memperkerjakan supir pribadi untuk Juli, apalagi kalau perutnya nanti semakin besar.


Saat dijalan pulang Damar bertukar kabar dengan Galih juga Hana. Mereka sepakat menyimpulkan kalau Yuta mengibarkan bendera putih.


- Aku mau melakukan hal hal yang selama ini kuinginkan. -


Ucap Hana sebelum percakapan telpon mereka berakhir.


Hanakah perempuan yang Damar ajak bicara ditelpon ? Atau ada perempuan lain selain Juli dihatinya. Satu persatu akan terungkap sesaat setelah Juli menginjakkan kakinya dihalaman rumah.


Senyum Damar mengembang menyambut kedatangan istrinya turun dari taxi. Sementara Juli menatap Damar datar penuh misteri.


"Kenapa, kamu sakit ?"


Damar memeriksa kening Juli namun suhu tubuhnya normal.


"Mas aku perlu bicara penting sama kamu."


Kata Juli penuh penekanan, membuat Damar penasaran apa yang sudah mengganggu pikirannya.


Di balkon kamar Juli berdiri menatap pemandangan membelakangi sang suami.


Entah harus dari mana dan bagaimana caranya dia memulai semuanya.


"Aku salah lagi ? Katakan apa !"


Seolah Damar tahu niat hati Juli pasti mengenai percakapannya ditelpon.


"Kamu ada perempuan lain mas ?"


Pertanyaan menohok keluar dari mulut Juli memekik ditelinga Damar.


"Setidak percaya itukah kamu terhadapku Juls ? Kamu mau aku buktikan apa ?"


"Lalu siapa yang mas Damar ajak bicara ditelpon ? Dia layaknya sleingkuhan yang mengganggu suamiku mas."


Sekuat mungkin Juli tidak ingin menangis, kurang baik bagi kesehatan mentalnya saat mengandung diusia muda.


Nada bicaranyapun terdengar biasa tapi menusuk.


"Dia salah satu mahasiswa dikampus, junior kamu. Entah darimana Sofia mendapatkan kontak pribadiku."


Deg. . .


Jadi Sofia penelpon itu, apa hubungan mereka sudah jauh tanpa sepengetahuan dirinya ?


Lantas kenapa Sofia masih meminta bantuannya, apa dia tahu kalau Juli sebenatnya istri Damar laki laki idamannya.


"Mas kamu juga berfoto mesra sama dia !"


"Juli kamu tahu dari mana ?"


Damar menarik pelan pundak Juli aga mau menatapnya saat bicara.


"Dia, Sofi, mas aa aku . ."


Juli terbata bata tak sanggup mengatakan kebenarannya soal Sofia.


"sayang tenanglah !"


Pinta Damar kemudian memeluk Juli mencoba memberi kenyamanan.


"Dia minta aku buat deketin kalian berdua, tapi aku gak mau mas . ."


Suara Juli sedikit terbungkam karena ia memeluk dada bidang Damar.


"Kalau begitu jangan !"


"Mas . ."


Juli melepaskan pelukannya mendongakkan kepala menatap Damar.


"Sofia adiknya dr. Bara."


Melihat ekspresi terkejut Damar menegaskan bahwa suaminya tidak tahu akan hal itu.


"Bagus dong, biar Bara kasih dia pengertian kalau aku dan kamu itu suami istri."


Jawab Damar enteng.


"gak semudah itu mas Damar , ,"


"Kenapa ? Sofia masih muda Juls, dia masih bisa mendapatkan laki laki lain didunia ini."


Sekarang Damar mulai menaikan nada bicaranya lebih tinggi. Dia geram masih saja membahas perempuan lain dalam rumah tangganya.


"Sofia sakit keras, menurut dr. Bara waktunya gak lama lagi."


"Itu bukan urusan kita Juls, jangan lagi melibatkan rumah tangga kita kedalam masalah orang lain."

__ADS_1


Berkaca pada pengalaman, Damar meminta Juli membuang jauh jauh pikirannya pada Sofia.


Apalagi kondisinya saat ini sedang mengandung calon pewaris pertama kerajaan keluarga Ditya.


"Mungkin untuk yang terakhir kalinya bagi dia mas, mas Damar hanya perlu besikap baik dan menjadi temannya. Besok aku mau jenguk Sofia, kalau mas Damar siap bisa ikut kesana sama sama."


Suami Juli tidak mengerti lagi harus meyakinkannya bagaimana. Keras kepala, itulah sifat Juli dimata Damar saat ini. Bisa bisanya dia menyuruh seorang suami memberi harapan palsu untuk perempuan lain.


"Baik, aku terima tantangan kamu. Jangan sampai kamu menyesal dikemudian hari Juls."


Kecam Damar meninggalkan Juli sendirian masih berdiri diarea balkon kamar.


Jujur saja Juli tidak ingin Damar melakukannya, tapi ia juga merasa kasihan pada Sofia.


Sofia terlalu gigih meyakinkannya sehingga berhasil membelot. Terlihat jelas tekadnya mewujudkan impian sebelum dia menghembuskan nafas terakhirnya.


Setelah sekian lama hubungan mereka tentram, sejak permintaan konyol Juli Damar menjaga jarak darinya. Damar bahkan tidur disofa ruang TV lantai satu.


Juli kesepian sendiri dikamarnya, biasanya Damar akan mengelus perutnya sebelum tidur.


Aneh memang, terkadang Juli terlalu mendominasi hidup Damar sehingga dia mau melakukan perintah istrinya yang tidak masuk akal itu.


Berulang kali Juli guling kanan guling kiri,


ia sudah mencoba memejamkan matanya untuk tertidur namun tetap sangat sulit.


Alhasil ia memainkan handphonenya mengirim Zara pesan singkat.


- Mah, Juli butuh mama sekarang. Apa mungkin Juli kerumah untuk menginap ?-


Dirumahnya, Zara masih mengobrol hangat dengan Ditya dibalkon belakang rumah sambil menikmati light snack. Kebetulan Zara membawa handphone miliknya mendapat pesan masuk.


"Ada apa Mah ?"


Ditya mendekatkan dirinya sambil merangkul Zara ikut membaca pesan dari sang menantu.


"Mungkin mereka lagi bertengkar Yah, kalau kita menginap datang malam malam baik nggak ?"


Ada getar nada khawatir yang terdengar dari cara bicara istrinya. Ditya tersenyum merangkul Zara kemudian berkata,


"Mama sayang banget sama Juli, sampe gak sabar mau ketemu dia."


"Kasihan Juli mas, diakan lagi hamil muda. Pasti susah menjalani trisemester awal. Sering kena morning sick, badan lemes apalagi ngidam. Kan Dee orangnya sibuk bange, mama gak mau terjadi apa apa sama menantu dan cucu kita."


Masih mesra hubungan mereka meski usia terus berkurang. Zara menyandarkan kepalanya didada Ditya.


"Mama balas pesan Juli, bilang kalau besok mama akan menginap. Kalau sekarang sudah sangat malam untuk tiba dirumah mereka."


Ditya mengajak Juli segera masuk kedalam, menurutnya tidak baik menerima angin malam terlalu lama.


Penasaran akan Damar yang tak kunjung kembali ke kamar, Juli memutuskan melihatnya dibawah. Langkahnya hati hati menuruni anak tangga kadena Damar sudah mematikan saklar lampu ruangan.


Sedikit terlihat wajah Damar tertidur pulas tanpa selimut. Televisi masih menyala menemani sang suami.


Juli susah payah berlutut agar bisa menatap wajah Damar.


"Mas, aku sayang sama kamu. Tapi aku tidak mau jadi orang yang egois.


Sofia butuh kamu disisa waktunya."


Tangan Juli bergerak mengelus lembut pipi Damar.


Tadinya Juli berniat menarik tangannya kembali namun dengan cepat Damar menahannya.


Dia membuka mata memandang wajah Juli sayu.


"Apa sebenarnya niat kamu Juls, bisakah statusku sebagai suami menghentikannya ?"


Sesaat selanjutnya Damar duduk disofa menurunkan pandangannya kebawah menatap Juli.


"Mas aku gak bisa tidur kalau kamu disini, tidak ada yang mengelus baby."


Juli jelas mengalihkan pembicaraan merayu Damar kembali ke kamar.


"Kita ke kamar lanjut tidur."


Damar menuntun tubuh Juli berdiri untuk menggendongnya kemudian. Demi menjaga keseimbangan Juli langsung melingkarkan lengannya dileher Damar.


🌙️🌙️🌙️


Dirumah sakit, seharusnya Bara dan Tiara sudah pulang setelah lebih dari jam tugasnya.


Mereka masih berdiri dibalkon kafe tempat kesukaan semua dokter maupun suster melepas penat di jam istirahat.


"Kamu tahu siapa yang Sofia harapkan memenuhi daftar terakhirnya ?"


Tanya Tiara usai mendengar cerita lengkap kondisi Sofia calon adik iparnya.


"Dia belum mau cerita, yang aku tahu dia mulai menyukai seseorang dikampusnya.


Mungkin aku bakal tanya ke Juli soal laki laki itu."

__ADS_1


"Juli, kok bisa ?


Kamu kan tahu Juli hamil muda, jangan libatkan dia kedalam masalah kamu Bar."


Tiara tidak setuju dengan rencana Bara. Apalagi kalau sepupunya tahu pasti Damar bisa marah besar.


"Sofia masih bungkam Ra, dia kecewa sama kakaknya."


Keduanya selalu disapa para suster, perawat maupun dokter lain yang berlalu lalang meski Tiara maupun Bara sudah melepas jubah kebesarannya.


"Aku yakin Sofia hanya kecewa atas takdir kejamnya. Kamu harus kuat mendampinginya Bar."


Tiara mengusap punggung kekasihnya memberi dukungan.


"Iya, terima kasih ya Ra. Maaf aku gak bisa antar kamu pulang, aku harus jagain Sofia."


Bara merasa bersalah pada Tiara. Akibat kondisi adiknya mereka menunda rencana pernikahan yang tinggal beberapa bulan lagi.


Padahal keduanya sama sama sibuk menjalani profesi sebagai dokter.


"It's oke Bara, ada Kevin bentar lagi off."


Sebelum berpisah Tiara menyempatkan memeluk Bara.


Senyum tipis muncul diwajah laki laki bertubuh tinggi kekar itu merasa beruntung memiliki Tiara.


"Laters Ra."


Kevin dari jauh melambaikan tangannya kearah Bara pamit tanpa bertegur sapa.


Dan Bara membalasnya.


"Mas, mas Damar bangun !"


Tepat pukul 00.00 Juli gelisah membangunkan Damar yang membiarkan lengannya menjadi bantalan kepala Juli.


"Mmm . ."


Belum bisa membuka mata Damar bergumam menjawab panggilan istrinya.


"bangun dong ! Baby lapar daddy."


Juli menggoyang goyangkan tubuh Damar supaya cepat bangun. Tak tanggung, Juli bahkan menghujani ciuman disetiap inci wajah Damar.


Damar terkekeh membuka matanya kemudian mengecup kening Juli. Dia sempat diberi wejangan oleh Zara, sewaktu waktu Juli mungkin saja mengidam tanpa tahu waktu.


"Mau makan apa sayang ?"


Suara serak Damar khas bangun tidur.


"Baby mau makan sate taichan punyanya selebgram itu loh mas."


Juli memainkan jemarinya didada telanjang Damar.


Entah sejak kapan suaminya selalu tidur tanpa mengenakan kaos atau baju tidur.


"Oh sate taichan Recel Venya. Baiklah, kamu tunggu disini. Biar aku jalan diantar Ifan."


Mengantuk sekali Damar, dia mengambil langkah aman tidak mau menyetir sendiri.


"Thanks Dad."


Satu jam waktu yang dibutuhkan Damar pergi pulang membeli makanan keinginan Juli. Itupun Ifan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.


Sekembalinya Damar masuk rumah, dia melihat pemandangan sesosok perempuan duduk memegang garpu.


"Lagi apa sayang ?"


Damar memutar melihat kegiatan Juli sekarang.


Matanya terbelalak menyaksikan sang istri baru saja menghabiskan sepiring mie instan goreng.


"Habis makan mas, ,"


Jawab Juli enteng lalu menyimpan piring ke tempat cuci.


"Ini dapet loh sate tainya."


Damar mengacungkan kresek transparan berisi beberapa tusuk sate.


"Taican daddy, kalau bicara yang lengkap ih. tadi gak kuat kerubukan. mas Damar aja yang makan ya."


Mendengar perintah Juli Damar menghela nafas panjang. usahanya sia sia menuruti banyak mau Juli, saat pulang istrinya malah sudah makan duluan.


"Hehe maaf ya mas, inikan kemauan Baby."


Juli merasa bersalah sudah merepotkan Damar.


"Aku makan asal kamu suapin."


Demi menebus usaha Damar yang sia sia, Juli menyetujui permintaan Damar dengan mudah.

__ADS_1


__ADS_2