
Pertemuan keluarga akhirnya akan diadakan atas permintaan Ditya.
Dia ingin melihat keseriusan anak sulungnya menjalin sebuah hubungan.
Sekar sendiri tidak mau ambil pusing, ia hanya ingin mengikuti alur kehidupannya. Sekar tinggal bersama seorang kakak laki laki yang sudah berumah tangga.
Jika hubungan mereka sampai ke jenjang pernikahan, maka kakaknyalah yang akan menjadi wali.
Kedua orang tuanya sudah lama tiada.
"Kamu yakin mau nikah sama bos kamu sendiri ?"
Tanya Gilang pada Sekar yang baru saja pulang kerja.
Mereka duduk di ruang tamu rumah pribadi Sekar peninggalan orang tua.
Sementara Gilang dan istrinya tinggal diluar kota.
"Kak, ini hanya pertemuan biasa. Baru tahap perkenalan saja, jadi aku gak mau ambil pusing."
Sekar menyandarkan tubuh lelahnya disofa.
Beberapa minggu ini dirinya harus selalu menemani Damar keluar kota.
"Kakak bukan melarang, setahu kakak kalian baru saja saling kenal jadi jangan terburu buru."
Gilang sangat peduli pada Sekar karena dia keluarga satu satunya yang dimiliki.
"Siap kak.
Aku mandi dulu, nanti abis sholat maghrib kita berangkat ke tempat kerjaku."
Sekar bangun dari kenyamanan sesaatnya menarik tas kerjanya dengan lunglai.
Di dalam kamar mandi Sekar menyalakan shower. Ia ingin merasakan sejuknya gemericik air yang membasahi kepalanya terlebih dulu.
-Flashback-
Sebelum pulang kerja, Sekar menyempatkan diri meminta tanda tangan Damar.
Laporan itu sudah harus siap besok pagi.
Sekar mengetuk pintu kemudian langsung masuk,
baginya menunggu jawaban dari bosnya percuma Sekar harus gesit.
"Damar ini pengajuan pencairan gaji, mohon segera tanda tangannya."
Sekar menyerahkan map berisi cek dari bagian accounting.
"Sekar nanti malam tolong ajak kakak kamu makan malam bersama orang tuaku."
Selesai tanda tangan Damar kembali fokus dengan ponselnya.
"Darimana kamu tahu kalau mereka sedang berkunjung ?"
"Astaga Sekar, pas jam makan siang kamu sendiri yang minta pulang on time. Katanya keluarga kamu lagi pulang kampung."
Damar menatap Sekar dengan tatapan heran sekretarisnya jadi pelupa.
"oh iya aku lupa, maaf Damar.
Kamu memberiku banyak tugas aku jadi pelupa hehe.
Akan aku ajak mereka datang kemari."
---
Sekar tidak bisa menolak perintah Damar.
Laki laki itu sudah melakukan banyak hal untuknya.
Mulai dari memberi gaji double, mobil tugas, hingga hadiah atau souvenir lainnya saat mereka melakukan perjalanan bisnis.
Bukan berarti Sekar bahagia diperlakukan seperti itu. Kadang ia bertanya pada dirinya sendiri, kenapa Sekar masih ingin melakukan sandiwara ini ?
Benarkah karena rasa suka yang sudah tumbuh didalam hatinya.
Mereka sering menghabiskan waktu bersama, wajar bukan jika Sekar mulai menyukai kepribadian Damar yang tidak diketahui orang lain.
"Mah, Kevin gak yakin Juli mau ketemu sama kita.
Sudah lama sekali kami tidak saling bertemu muka.
Kan mama tahu sendiri Kevin lagi sibuk koas."
Kevin kini sedang mengendarai mobilnya membawa Zara menuju kost Juli.
Lama memang Kevin tidak bertatap wajah dengan Juli. Namun rasanya tetap sama tak berubah.
__ADS_1
"Kita coba dulu nak, mama ingin sekali bertemu sama dia."
Sejak kedatangannya di Jakarta, Zara terus memaksa Kevin yang baru selesai praktek menemui Juli.
Saat Kevin menghentikan mobilnya didepan gerbang, perhatiannya tertuju pada kerumunan warga.
"Ma, kok rame sekali."
Kevin bingung melihat seseorang yang diborgol polisi masuk ke mobil.
Dia jadi ingat Romi, perasaannya jadi tak karuan memikirkan keadaan Juli.
Ia langsung berlari meninggalkan Zara yang baru saja turun.
"Kevin !"
Teriak Zara heran melihat tingkah anaknya, namun Kevin sudah masuk dengan cepat kedalam.
Ada garis polisi dikoridor matanya sibuk memperhatikan sekeliling.
"Tidak mungkin, Juli kamu tidak boleh . ."
Padanya saja Romi berani melakukan hal kejam apalagi pada seorang perempuan.
"Kevin . ."
Seseorang menepuk punggung Kevin, saat dia menengok Kevin langsung memeluknya.
"Juls, aku kira kamu . ."
"Bukan aku, itu tetanggaku. Dia dibunuh sama pacarnya sendiri gara gara ketahuan selingkuh."
Juli menenangkan Kevin yang mengira dialah korban dari kasus pembunuhan yang terjadi semalam.
"Ayo turun, mama nunggu di mobil."
Kevin menarik tangan Juli menjauhi keramaian yang masih penasaran dengan kasus itu.
"Juli sayang . ."
Zara memeluk Juli setelah mereka bertatap wajah.
Juli dengan senang hati membalasnya.
"Tante apa kabar ?"
Juli mencium tangan Zara dengan penuh rasa sopan.
"Juli lagi ambil barang yang ketinggalan, sekarang udah gak kost disini lagi tante.
Jujur Juli takut sama ngeri kalau masih harus bertahan disini."
Juli langsung memutuskan untuk keluar dari tempat itu, banyak tetangganya yang juga melakukan hal sama.
"Terus sekarang kamu tinggal dimana ?"
Kevin bertanya tak sabar.
"Aku masih cari tempat bagus, sementara menginap dirumah Ema."
"Juli Kevin kita masuk dulu ke mobil, ceritanya dijalan saja yuk."
Benar sekali apa kata sang mama, mereka akhirnya memutuskan pergi ke MCafe.
Sudah lama Zara tidak mencicipi menu menu kafe milik adik iparnya.
"Kevin kenapa kita kesini ?"
Juli mendadak tidak nyaman jika harus bertemu Romi didalam.
"mama lagi ingin makan disini Juls."
Sorot mata Kevin menyiratkan semua baik baik saja agar Juli tidak khawatir.
Tidak mungkin juga Kevin bicara didepan Zara mamanya.
"Bude . ."
Tiara menyambut kedatangan Zara Kevin juga Julia.
"Wah Tiara, ini kayak makan di MCafe bonusnya ketemu kamu."
Keduanya memang sangat akrab sejak Tiara masih sangat kecil.
"Ini pasti Juliana ya . ."
Tiara memeluk Juli yang telah menyelamatkannya malam itu.
"Ajak masuk dulu kali Ra kitanya !"
__ADS_1
Kevin menghentikan adegan romantis didepan pintu masuk.
Setelah memesan makanan dan minuman, mereka berempat mengobrol dengan santai di meja depan kasir.
"Kevin cerita semuanya sama aku Juli. Aku sudah pecat Romi yang brengsek itu, terima kasih telah meolongku darinya.
Aku juga ikut menyesal,
MCafe jadi kehilangan cook terbaiknya gara gara dia."
Pantas saja Tiara sangat gembira bertemu dengan Juli tadi.
"sama sama kak, aku lega kalau Romi gak kerja disini lagi.
Kasihan juga karyawan lain kalau harus diganggu terus."
"Kamu mau kan Juls bekerja lagi disini ?"
Kevin memberi tawaran bagus untuk Juli yang memang masih menganggur.
"Benar apa kata Kevin, mau yah ?"
Pinta Tiara penuh harap.
"Aku masih belum bisa memutuskan, tapi aku coba dengan daily worker gimana ?"
Juli memang selalu tidak ingin terikat kontrak kerja.
"Gimana kamu nyamannya saja Juls."
Tiara menyetujui persyaratan yang diajukan Juli.
Tiara dan Kevin pamit sebentar ke dapur, mereka ingin mengecek menu pesanan mereka. Meninggalkan Zara dan Juli saja di meja.
"Juli, apa kamu marah sama Kevin sayang ?
Yang sudah egois tidak memikirkan perasaan kamu juga Damar."
Ini kesempatan bagi Zara untuk mencari tahu apa isi hati Juli.
"Enggak tante Juli gak marah,
Juli hanya memberi ruang untuk Kevin agar dia dan pak Damar bisa berdamai dengan perasaan masing masing.
Juli hanya orang luar yang merusak hubungan mereka."
Juli menunduk menyesali kesalahannya karena telah lancang menyatakan isi hatinya pada Damar.
"Ini bukan salah kamu sayang, semua sudah terjadi sesuai rencana Tuhan.
Hanya kamu yang tahu jawaban dari semua pertanyaan ini.
Damar sudah memilih jalannya, begitupun kamu harus tetap melangkah ke depan.
dengan atau tanpa Kevin, tante akan selalu menyayangi kamu."
Zara memang sengaja datang untuk mengadakan pertemuan keluarga dengan keluarga Sekar.
"Juli masih bingung tante, Juli tidak ingin menyakiti perasaan Kevin."
"Sepertinya ada yang membicarakan aku disini . .
telingaku panas soalnya."
Kevin kembali dengan membawa beberapa gelas minuman yang dipesan.
"Pede kamu . ."
Juli terkekeh melihat tingkah Kevin yang apa adanya meski didepan mamanya.
"Kalau saja tante gak ada acara keluarga, tante ingin sekali ngajak Juli masak bareng di rumah.
kata Kevin dan Damar kamu pandai sekali memasak."
"Oh iya mah, untung mama ingetin aku kalau nanti malam keluarga Sekar sama kita mau ketemu.
Di hotel kan mah ?"
Kevin mungkin lupa kalau Juli masih sensitif mendengar soal Damar.
Zara hanya melotot memberi isyarat agar jangan membahasnya dihadapan Juli.
"Juli ke toilet dulu ya tante."
Hatinya kembali goyah, benarkah hubungan Damar dan Sekar sudah sejauh itu ?
bukankah artinya Juli sudah sia sia menunggu, menunggu Damar yang tidak pernah bisa merubah keputusannya.
"Kevin salah lagi ya mah ?"
__ADS_1
Dengan polosnya Kevin bertanya pada Zara.