
Lalu lalang terjadi di bandara internasional.
Duduklah seorang perempuan dikursi tunggu kedatangan.
Sudah 30 menit ia menunggu kepulangan orang yang dirindukan.
"Sebentar lagi nona . ."
Kata pria tinggi berdiri disebelahnya menemani.
Pesawat landing dijadwalkan tepat pukul 18.00 dan itu beberapa saat lagi. Dia sudah berpisah dengannya selama 3 hari dua malam, sudah seperti cacing kepanasan hidup sendirian.
Ia melirik kesamping, memastikan isi dari kotak berwarna putih itu baik baik saja.
Tangannya gemas ingin segera memberinya kejutan.
Terdengar pengumuman bahwa pesawat yang ditumpangi suaminya sudah mendarat.
Pelan tapi pasti ia mengeluarkan sebuah cake dengan lilin angka 32 diatasnya.
Perempuan yang masih mengenakan pakaian kerja itu berdiri memegangi kue ulang tahun.
Mengamati setiap orang keluar dari pintu.
Terlihat sosok laki laki kesayangannya berjalan mendekat kearahnya.
Senyum merekah sudah tidak bisa ia sembunyikan lagi.
"Juli . ."
Damar berjalan cepat berhambur memeluk sang istri.
"Selamat ulang tahun mas Damar . ."
Ucap Juli membalas pelukan Damar dengan satu tangan masih memegang kue berbentuk bulat.
"Terima kasih sayang, I love you."
Bisiknya ditelinga Juli.
Sungguh Damar merasa laki laki beruntung menjadi suami Juli.
Juli sangat memujanya, memberikan segalanya untuk Damar.
Jika perempuan lain akan mengeluh suaminya terlalu sibuk bekerja, Juli selalu punya banyak cara medukung pekerjaan Damar.
Ulang tahun pertama bagi Damar dirayakan bersama seorang istri.
Tidak akan berani dia menyia nyiakan Juli.
Perempuan yang sudah ia tiduri selama setengah tahun terakhir.
"Hari ini aku terakhir bekerja di DGC. Bagaimana kalau nanti malam kita rayakan ?"
Juli menyerahkan cake box pada Ifan untuk membawakannya bersama koper milik Damar.
Ketiganya berjalan menuju mobil di depan.
"Dengan senang hati sayang . ."
Damar mecium pipi Juli sekilas.
Tinggal menunggu dua semester lagi Juli akan wisuda lulus sebagai sarjana. Ia hanya butuh bersabar menjalani setiap prosesnya.
Damar senantiasa membantu Juli jika ia mengalami kesulitan dalam hal pekerjaan. Dan Juli akan menyenangkan Damar diranjang juga meja makan sebagai imbalannya.
Sebuah kombinasi apik suami istri.
"Aku ketemu Hana di kafe Jimbaran sekali, kami hanya bertukar kabar tanpa lama lama."
Damar tahu jika tugas ke Bali akan selalu membuat Juli curiga.
Dia mengatakan hal jujur agar istrinya tidak marah.
"Hmm . ."
Juli tidak menanggapi, ia hanya bergumam pelan duduk disebelah Damar didalam mobil.
"Aku memang pernah menyukai Hana saat kuliah tapi dia menolakku Juls. Setelah itu kami jarang berkomunikasi karena dia pindah ke Jepang."
Mendengar pengakuan Damar Juli sontak menengok menatapnya tajam.
Kenapa baru sekarang dia bercerita pada Juli ?
Apa yang terjadi di Bali saat mereka bertemu ?
Juli menuntut penjelasan lebih dari Damar.
"Dia meminta bantuanku mencarikan pengacara. Kasus KDRT oleh seorang pengusaha Indo Jepang.
Keadaannya parah Juls, kalian bertemu pertama kali saat Hana melarikan diri dari rumah suaminya."
Damar prihatin mendengar cerita hidup seorang Hana teman kuliahnya.
Kenapa hal buruk menimpa Hana, Juli jadi teringat sang mami.
Inez juga mengalami nasib malang yang dialami Hana.
"Aku mau mas Damar bantu Hana !"
Kata Juli.
"Juli kamu serius ? Aku tidak berharap kamu mengizinkanku."
Sungguh Damar merasa beruntung memiliki istri pengertian seperti Juli.
"Iya.
Jangan sampai ada mami Inez lainnya didunia ini."
__ADS_1
Terukir senyum tulus dibibir Juli.
Juli percaya pada Damar, dia tidak mungkin mengkhianatinya.
"Kami tidak akan saling bertemu Juls. Aku akan menyewa pengacara untuk Hana, mereka menikah di Bali.
Maka dari itu kasusnya akan diselesaikan disana."
Damar merangkul Juli mendekapnya mesra.
Ia mencium ujung kepala sang istri.
"Lain kali ajak aku ketemu Hana."
Juli membalas pelukannya.
Sesampainya Damar dan Juli dirumah, Damar segera membersihkan diri dikamar mandi.
Sementara Juli menyiapkan makan malam.
Tidak ada acara keluar rumah, sejak tadi pagi Juli merasa tidak enak badan.
Juli memasak steak sirloin import dengan dua saus berbeda. Satu mushroom sauce untuk Damar, blackpaper untuknya.
Ia juga menambahkan potato wedges buatannya sendiri.
Tidak ada anggur atau wine, hanya sebotol cola berukuran 1 liter didalam lemari es.
"Juls mama minta kita datang ke rumah."
Damar keluar dengan hanya mengenakan handuk yang melilit dipinggangnya.
"Tapi aku udah masak buat kamu mas . ."
Juli melirik makanan diatas meja dihadapannya.
"Kalau gitu aku telpon bilang besok saja berkunjungnya."
"Jangan mas, kasihan mama.
Mungkin mereka juga mau merayakan ulang tahun mas Damar."
Juli melarang Damar melakukan panggilan.
Mereka sudah tinggal dirumah baru yang Damar beli. Tidak tinggal di penthouse atau apartemen Juli.
Kurang lebih 3 bulan mereka menetap diperumahan elit dikawasan Senayan.
Cukup jauh dari rumah Kevin sehingga keduanya jarang menginap atau sekedar mampir.
"Kamu yakin, makanannya gimana ?"
Damar memastikan.
Pasalnya Juli selalu enggan jika harus berkunjung ke rumah orang tua Damar. Obrolannya tidak jauh dari soal kapan dia akan hamil.
"Kita makan dulu baru berangkat.
Juli berusaha meredam egonya.
Ia tidak mungkin menciptakan jarak antara Damar dan keluarganya.
"Terima kasih sayang."
Damar menyantap steak buatan istrinya tanpa memakai baju terlebih dulu. Pikirnya biar hemat waktu.
🌙️🌙️🌙️
Butuh waktu 1 jam untuk sampai dirumah Kevin.
Juli heran kenapa Kevin masih betah tinggal disana.
Biasanya laki laki dewasa seusianya ingin tinggal sendiri demi kebebasan. Contohnya pria disebelah Juli yang kini sudah berstatus sebagai suaminya.
Jangan lupakan soal resepsi.
Mereka bahkan sampai lupa mengadakan pesta pernikahan.
Juli dan Damar memutuskan untuk tidak mengadakannya dulu karena terhambat pekerjaan masing masing.
Mungkin setelah Juli wisuda mereka akan menggelarnya.
Apalah pentingnya resepsi jika mereka sudah sah secara hukum dan agama.
Kalau ada yang bertanya mereka tinggal menjawab sudah menikah, begitu saja sudah cukup.
Meskipun sebenarnya keluarga Damar sempat menentang penundaan resepsi.
Balik lagi mereka berdualah yang menjalani rumah tangga.
Toh Damar juga selalu membawa Juli keacara resmi kantor maupun saat memenuhi undangan beberapa rekan bisnisnya.
Seperti seminggu yang lalu Damar membawa Juli ke acara ulang tahun salah satu koleganya.
Sang istri koleganya itu ternyata menjadi subscriber Juli.
Setelah menikah ternyata Juli selalu membuat konten video tutorial memasak.
Ia bahkan sesekali menggunakan dapur kitchen MHotel sebagai lokasi.
Damar menjadikan Juli guru privat untuk para cook hotel.
Selain magang hari hari Juli habiskan bergelut didapur.
Apalagi dapur dirumahnya sengaja Damar desain selengkap mungkin untuk Juli.
"Kalian datang juga, ,"
Zara menyambut kedatangan Damar dan Juli diantar oleh Ifan.
__ADS_1
"Grand Ma sudah menunggu sejak tadi."
Tambah Zara menuntun mereka masuk kedalam rumah.
"Damar baru aja tiba dari Bali."
"Mah Juli ke toilet dulu ya. . ."
Merasa ada yang tidak beres dengan perutnya Juli meminta izin masuk ke kamar terlebih dulu.
"Aku antar ?"
Damar menawarkan diri.
"Gak usah mas, mending temuin Grand Ma sama ayah."
Juli segera masuk ke kamar yang biasa mereka tempati jika menginap.
Damar menangkap ada yang aneh dengan Juli.
Wajahnya memang terlihat sedikit pucat sejak bertemu. Mungkin istrinya terlalu lelah bekerja.
Saat di kamar mandi Damar menemukan beberapa kemasan pil KB kosong di lemari.
Juli tidak mungkin melewatkan obatnya.
"Cucu Grand Ma akhirnya mau menginap . ."
Aulia tak sabar ingin memeluk Damar.
Ada juga Kevin bersama Sekar di meja makan.
"Happy birthday mas Damar . ."
Ucap Kevin duduk merangkul Sekar. Sepertinya mereka sudah menjalin hubungan secara resmi.
Sekar masih setia menjadi sekretaris Damar dikantor. Hanya ia tidak ikut melakukan perjalanan bisnis keluar kota.
Sekar akan menyiapkan kebutuhan pekerjaan Damar melalui email.
Biasanya Ifan yang akan menemani Damar jika melakukan perjalanan mobil.
"Thanks Kevin."
Balas Damar menyalami Kevin ala pria maco.
"Juli mana Dee ?"
Tanya Grand Ma tidak melihat sosok cucu mantunya.
"Juli ke toilet, kayaknya dia lagi sakit deh mah. ."
Damar semakin khawatir Juli tidak segera menyusulnya ke ruang makan.
"Biar Grand Ma yang panggil, sudah kangen masakan dia."
Kata Aulia berjalan menuju kamar Damar.
Sebetulnya Aulia nenek yang baik. Hanya sedikit keras jika menyangkut soal masalah rumah tangga cucunya.
Maklumlah Grand Ma ingin segera menimang cicit.
Ketika pintu kamar terbuka, Aulia mendapati Juli tergeletak tak sadarkan diri dilantai.
"Juli . ."
Kakinya melangkah kembali keluar kamar.
"Dee Juli !"
Aulia berteriak memanggil Damar.
Sontak saja mereka panik berlarian menghampiri tempat dimana Grand Ma berteriak.
"Juli pingsan."
Damar segera memindahkan tubuh Juli ke tempat tidur.
Kevin segera membantu melakukan pertolongan pertama pada Juli.
Semua orang memasang wajah khawatir melihat kondisi Juli.
"Tekanan darahnya menurun, tidak demam. Gue kasih suntikan penambah darah dan sekalian ambil sampel darahnya.
mungkin 2 atau 3 hari bisa loe ambil hasilnya."
Apapun situasinya Kevin akan melakukan tindakan tersebut.
demi mengetahui apa yang terjadi pada setiap pasiennya.
"Terima kasih Kevin."
Damar bersedih dihari ulang tahunnya Juli malah sakit.
Kevin mengajak kedua orang tua dan neneknya keluar kamar. memberi Juli waktu untuk beristirahat.
Damar duduk ditepi ranjang menemani istrinya.
"Kevin, kakak ipar kamu kenapa ?
Jangan jangan dia hamil, iya kan ?"
Mendadak Aulia memiliki asumsi melihat Juli pingsan.
"Belum pasti Grand Ma. kan masih butuh waktu untuk mengetahui hasil tesnya."
Kevin tidak ingin memberi harapan palsu pada Grand Ma.
Zara saja mertuanya tidak seantusias Aulia. bukan apa apa, Zara mengerti sekali posisi Juli. Ia hanya berusaha menjadi mertua sekaligus sahabat bagi Juli.
__ADS_1
Zara tidak ingin membuat menantunya tertekan.