
Pagi buta sekali Damar mengajak Juli pergi ke stasiun.
Mereka diantar supir pribadi Damar. Juli juga diminta membawa pakaian ganti serta perlengkapan secukupnya.
Sejak remaja Damar selalu ingin melakukan perjalanan ala backpacker.
Karena seumur hidupnya dia selalu diantar supir kemana mana.
"Bapak tahu gak, saat lulus SMP aku pergi ke Jakarta naik kereta. Persis pakai tas ini."
Juli memperlihatkan tas ranselnya pada Damar.
"Kamu dari kota mana ?"
Tanya Damar antusias.
Keduanya sedang duduk dikursi tunggu kedatangan kereta.
"Yogyakarta,
kota asal mami.
Mami pindah pas masuk SD ke Jakarta karena kakek harus usaha disana."
Juli mengenang wajah maminya yang oriental.
Cantik, sayang berbanding terbalik dengan nasibnya.
"Setelah menikah mereka tinggal di Australia.
Sampai aku lahir mami akhirnya meminta papi pindah ke Indo, memulai usaha baru disana.
Sayangnya keberhasilan papi tidak semulus di Ausi.
Papi mengalami kerugian besar menyimpan banyak hutang dimana mana.
David selalu melampiaskan kekesalannya sama mami.
Selebihnya bapak bayangkan sendiri akhir ceritanya."
Juli menunduk meremas kedua tangannya. Berat sekali mengingat kejadian masa lalunya yang menyakitkan.
"Aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu Juls."
Damar merangkul pundak Juli, malang sekali nasib kekasihnya.
Sejak saat itu Damar berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu menjaga dan membahagiakan Juli.
"Keretanya datang . ."
Juli tak sabar hingga dia menarik tangan Damar bangkit dari kursi.
"Pelan pelan Juls !"
Damar kewalahan melawan tenaga Juli. Padahal kereta belum sepenuhnya berhenti tapi Juli tak sabaran sekali.
Setelah pintu gerbong dibuka, Juli sibuk mencari tempat kursi mereka di kelas executive.
"Kamu senang ?"
Damar duduk dihadapan Juli, kursi mereka terletak didekat jendela.
Perjalanan keduanya akan disuguhi pemandangan luar.
"Sangat."
Jawab Juli menatap kearah Damar tanpa berkedip.
Perjalanan mereka kurang lebih memakan waktu 3 jam.
Sangatlah cukup bagi Damar dan Juli untuk tidur karena masih mengantuk akibat bangun pagi sekali.
"Juls bangun, kita sudah sampai."
Damar menepuk paha Juli didepannya masih nyaman tertidur.
Juli menggeliat mencari kenyamanan, matanya tertuju kearah luar jendela.
Tertera nama stasiun Kejaksan disana.
"Selamat datang dikota Cirebon Juls . ."
Damar membantu Juli mengambil tasnya diatas bagasi.
"Aku sudah lama ingin jalan jalan kesini.
Kok bapak bisa tahu ?"
Damar hanya tersenyum penuh misteri, ia menggandeng tangan Juli keluar dari gerbong.
Mereka berjalan meninggalkan stasiun kota. Damar yang sering pergi kesanapun sudah sangat hafal setiap sudutnya.
Tempat makan terkenal, pusat belanja oleh oleh hingga objek wisata terkenal.
"Kita sarapan dulu . ."
__ADS_1
Damar menuntun Juli ke rumah makan yang sudah buka. Berjejer dipinggir jalan sebrang stasiun.
"Nasi jamblang atau empal gentong ?"
Tanya Damar pada Juli, apa yang ingin gadis itu makan untuk menu sarapan.
"Empal gentong pakai lontong."
Juli memang sudah tahu informasi kota itu di internet.
Ia senang bisa diajak oleh Damar.
Usai menikmati makanan khas kota udang, Damar mengajak Juli berjalan kaki menuju hotel miliknya.
"Kamu lelah ?"
Tanya Damar melirik kearah Juli yang sejak tadi digandeng olehnya.
"Tidak sama sekali."
Jawab Juli tersenyum.
Setibanya didepan gerbang masuk hotel, Juli melihat simbol dari nama hotel tersebut.
"Ditya Zoya ?"
Damar mengangguk membenarkan perkiraan Juli.
"Disini awal mula duka yang ayah berikan sama ibu.
Dia menikmati kesibukannya ditemani manager hotel.
Mengisi waktu luang, singkatnya manager itu jadi teman tidurnya."
"Selamat pagi Mr. Dee"
Sapa petugas front desk menyambut kedatangan Direkturnya.
"Siapkan kamar tambahan untuk pacar saya."
"Maaf tuan, hari ini kamar full. Tinggal tersisa kamar Mr. Dee saja"
Front desk memberi informasi mengenai ketersediaan kamar yang penuh akibat weekend.
"Oke tidak apa apa, saya minta kuncinya !"
Sesuai perintah Damar petugas itu menyiapkan kunci sekaligus meminta bellboy membawakan barang.
"silakan tuan."
"Bapak tahu semua masalalu pak komisaris dan ibu Zoya dari siapa ?"
"Aditya Mahesa . ."
Juli mengernyitkan dahinya bingung mendengar jawaban mengejutkan dari Damar.
"Dia pikir bercerita pada anak usia 7 tahun tidak akan jadi masalah. Nyatanya sampai detik ini aku masih mengingat semua cerita mereka."
Pantas saja Damar selalu bersikap dingin, ternyata dia masih menyimpan kenangan kedua orang tuanya. Ditya memang selalu mengatakan perasaan bersalah dan menyesalnya pada Dee. Dia tidak pernah menyangka kalau anak sulungnya menyimpan luka itu.
"Semoga kamu betah tidur disini setelah kelelahan yang akan kita rasakan sesaat lagi."
Juli terperanga melihat kamar pribadi Damar yang super mewah.
Kamar bertipe semi apartemen dengan fasilitas komplit.
Kakinya melangkah menjelajahi setiap sudutnya.
Kitchen set with bar, Walking closet hingga jaccuzi didalam kamar mandi.
Dipinggir tempat tidur, jendela menyuguhkan pemandangan laut kota itu.
"Perfect . ."
Kata yang terucap dari mulut Juliana.
"Istirahatlah sebentar, ada pekerjaan yang harus aku lakukan."
Juli menoleh kearah Damar yang hendak keluar kamar.
Masih belum puas Juli melihat sekeliling.
Ia berjalan ke ruangan dibelakang kamar tidur.
Disana walking closet berisi pakaian juga barang pribadi Damar saat berkunjung.
Jaccuzi, matanya berbinar melihat bak mandi trobosan jepang itu. Ia selalu ingin mencoba berendam.
Pindah ke bar, terdapat beberapa jenis wine koleksi Damar yang terpampang di lemari kaca.
"Apa dia minum ?"
Pengalaman buruk Juli menyaksikan David yang sering mabuk mabukan membuatnya membenci minuman haram tersebut.
Ting nong . .
__ADS_1
Seseorang menekan bel kamar, Juli berjalan kearah pintu.
Ia bisa melihat siapa yang berada diluar sana.
"Kamu sudah siap ?"
Tanya Damar setelah Juli membuka pintu.
"Kita mau kemana ?"
Pertanyaannya tidak langsung dijawab Damar.
Laki laki itu menarik tangan Juli meninggalkan kamar lalu turun kembali ke lobi.
Ketika tiba di carpot, Juli tidak menyangka bisa melihat mobil Jeep wrangler berwarna putih susu dengan atap terbuka.
"Keren . ."
Gumamnya pelan, Damar membukakan pintu untuk Juli kemudian memberi kotak kaca mata hitam brand kenamaan.
"We'll go back to the nature."
Bisik Damar, dia mulai menyalakan mesin mobil.
Perjalanan menuju tempat tujuan melewati daerah pegunungan. Udaranya sejuk, dikelilingi banyak pephohonan kanan kiri jalan.
Benar benar menyenangkan sekali Juli di perlakukan layaknya princess oleh Damar.
Damar membawa Juli ke objek wisata pemandian Cibulan.
Menyediakan wahana mandi dikolam ikan dewa berukuran besar.
Selain itu ada juga terapi ikan, hal yang ingin Damar lakukan.
"Geli pak . ."
Juli menggenggam tangan Damar menahan rasa geli pada kakinya akibat digigit puluhan ikan kecil.
"Ini bagus untuk kesehatan, bertahanlah minimal 10 menit. Nanti juga akan terasa biasa."
Damar mengelus kepala Juli gemas melihatnya.
Bukan hanya itu, Damar juga mengajak Juli melihat beberapa air terjun disekitaran kabupaten Kuningan.
Banyak muda mudi datang di akhir pekan atau musim liburan.
"Kita makan dulu . ."
Damar mampir di tempat makan terkenal, dia memesan ikan bakar untuk Juli.
sambil menunggu makanan tiba, Juli meminta waktu membeli oleh oleh dissbrang jalan.
Juli menangkap spot yang memajang beberapa kerajinan khas.
Ia tersenyum meraih sebuah benda, Juli berniat memberi Damar hadiah.
"Bu aku mau ini di bungkus koran."
Tidak ada gift box kertas koranpun jadi penggantinya.
Juli berjalan kembali ke meja tempat Damar dan dirinya duduk.
tiba tiba ponselnya bergetar, seseorang menelponnya.
"Juls, kamu dimana ?
Aku perlu bicara penting sama kamu."
Suara laki laki diujung telpon sanggup meluluh lantahkan kebahagiaannya bersama Damar.
Juli menatap kosong kearah Damar yang tersenyum ke arahnya.
"Tidak sekarang Kevin,
aku akan kasih kabar saat semua urusanku selesai."
"Aku akan menunggumu Juli . ."
Lalu Kevin segera mematikan sambungan telponnya.
Juli segera memasukkan ponselnya ke saku celana.
"wah wangi sekali, ,"
Perut Juli seakan siap mendapat asupan makanan lezat dihadapannya.
-Apa aku masih bisa merasakan kebahagiaan seperti ini sama pak Damar ?
Egoiskah kami dimata mereka, aku hanya tidak ingin membohongi perasaanku.
Aku bahagia didekat dosen kaya ini.
Beri kami sedikit saja waktu, jika aku menyerah maka hatinya akan patah kembali-
Tak henti hentinya Juli menatap Damar, laki laki itu sangat tampan bahkan saat sedang makan.
__ADS_1
Juli tidak kuasa kalau ia harus meninggalkan Damar.
Tapi disisi lain ia juga tidak ingin menyakiti perasaan Kevin, apalagi merusak keutuhan keluarga mereka.