
Sinar mentari mulai menampakkan dirinya melalui celah jendela.
Menerobos masuk menyentuh wajah lelah Seorang perempuan.
Dipeluknya bantal guling erat membayangkan tubuh seseorang yang ia rindukan.
Senyumnya terukir dikala mengingat wajahnya.
Bahkan bunyi jam waker tidak mampu membangunkan Juli.
Tubuh Juli semakin menggeliat seolah mencari kenyamanan lebih.
"Hey bangun . ."
Sebuah tangan lembut mengelus pipi Juli. Suara itu suara yang sudah sangat ia rindukan seharian kemarin.
"Hmm . ."
Akhirnya Juli membuka matanya, penasaran ini mimpi ataukah nyata.
"Selamat pagi istriku, ,"
Sapa Damar pada Juli diiringi kecupan di kening.
"Pagi pak suami. ."
Juli menggenggam tangan Damar lalu menempelkannya dipipi.
"Sarapan yuk, sudah aku bawa ke kamar.
Kata mama kamu pulang terlambat semalam.
Hari ini kan libur jadi kamu bisa istirahat yang cukup."
Bisa mendengar suara khas Damar lagi menyejukan hati Juli.
Tak henti hentinya Juli menatap laki laki yang kini sudah berstatus suaminya.
Juli bangun, ia duduk berhadapan dengan Damar.
"Aku pasti malu maluin ya pak ?
Sekarang aja aku baru bangun. ."
Dalam suasana romantis mendadak Juli teringat kata kata Grand Ma semalam.
"Disini ada ART, kamu masih belum bisa menyesuaikan waktu.
Mereka pasti akan mengerti.
Lagian nanti kita berduakan tinggalnya dirumah sendiri.
Barulah kamu harus menyalaniku."
Damar memberi pengertian bijak sebagai seorang suami.
Juli tersenyum mendengar penuturannya.
"Contoh melayani seperti apa ?"
Juli iseng menggoda Damar dipagi hari.
Padahal ia selalu risih jika belum mandi, tidak percaya diri katanya.
"Melayaniku diatas ranjang. ."
Jawab Damar penuh tatap genit seperti mulai terangsang.
"Bagaimana kalau aku tidak bisa memuaskan bapak ?
Memang di meja makan aku bisa memberi asupan gizi cukup dan baik."
Juli percaya diri soal urusan dapur, beda halnya urusan ranjang.
"Entahlah, aku belum pernah mencobanya. ."
Damar menakup pipi Juli menggunakan kedua tangannya.
Pelan tapi pasti wajah mereka semakin dekat. Hingga sedetik kemudian Damar sudah menyerang bibir Juli tanpa ampun.
Juli menerima dan berani membuka mulutnya membiarkan Damar masuk.
Semakin dalam lidah Damar mencari kepuasan dirongga mulut Juli.
Juli tak ingin kalah, seraya melingkarkan tangannya dileher Damar iapun melakukan perlawanan.
Decapan nyaring menghiasi kamar sementara mereka.
Tangan Damar mulai menjelajah mer*mas baju tidur Juli.
"Eumh , ,"
Lenguhan Juli akhirnya tak mampu ia tahan lagi.
Damar bahkan memutar memainkan pucuk gundukan sintal milik istrinya.
"Juls, kamu harus menenangkannya. ."
Bisik Damar setelah merebahkan kembali tubuh Juli.
Tangannya kini sudah berada didalam baju, mencari pengikat bra untuk dibuka.
"Pak, aku . . Hmm, , belum siap . ."
Juli menjambak rambut Damar lembut.
Aktifitas Damar yang kini sedang menghisap salah satu gunung kembar Julipun harus terhenti.
Ia mendongakkan kepala menatap Juli.
"Kenapa ?"
Tanya Damar heran.
Ayolah Juls, miliknya sudah menegang kenapa berhenti mendadak batin Damar.
__ADS_1
"Aku gak tahu, beri aku waktu untuk memikirkannya. Please ?"
Damar beranjak dari atas tubuh Juli, ia duduk ditepi ranjang menahan kekesalan akibat ereksi.
Hasratnya belum tersalurkan.
"Bapak marah ?"
Damar hanya menunduk meremas bedcover.
"Lihat aku pak, kita harus bahas ini."
Damar mengalah, ia menoleh menatap Juli siap mendengarkan.
"Aku mau lulus kuliah dulu, aku belum siap jika langsung hamil."
Juli menunduk malu mengatakan hal itu.
Mungkin pemikirannya benar belum dewasa dimata Damar.
"It's oke Juls . ."
Damar menggenggam tangan Juli.
"Nanti siang kita ketemu dokter kandungan."
Lanjut Damar.
"Hah . . Buat apa,
Program hamil ? kan aku bilang aku belum siap pak."
Juli merengek seperti anak kecil mendengar Damar menyebut dokter kandungan.
"Suntik KB Juls, dengan itu kita bisa mengatur kapan kamu siap mengandung calon anakku."
Damar terkekeh menjelaskan rencananya pada Juli.
"Aku pikir, aku mandi dulu ya pak. Pasti badanku bau ya ?"
Juli mengendus badannya sendiri.
Damar menggeleng cepat membantah.
"Kamu tuh bagai candu tahu, ingin selalu aku hirup aku cium aku makan."
Juli malah bergidik mendengar pengakuan suaminya.
Segera Juli berlari kedalam kamar mandi.
Damar pindah bersandar disofa selagi menunggu Juli mandi.
Ia membuka handphone untuk menerima beberapa laporan.
Ting . .
Bunyi pesan masuk ke handphone Juli diatas nakas.
Damar berjalan santai meraihnya.
Senyum lebar terukir diwajah Damar.
Sebuah nomer tanpa nama mengirim chat di aplikasi whatsapp.
+6282 2345 xxxx
Juli ini Adam, semalam kamu pulang jam berapa ?
Deg . . .
Tiba tiba darah Damar mendidih seakan habis direbus diatas kompor berapi besar.
Adam ?
Kenapa laki laki itu berani mengirim Juli pesan berbau perhatian.
Tangan Damar hampir saja membanting handphone pemberiannya sendiri kelantai.
Apa kata Juli jika dia benar benar melakukannya.
Ini tidak bisa dianggap enteng.
Adam pasti berniat mendekati Juli karena dia tahu Kevin sudah putus dengannya.
Hanya saja Adam belum tahu kalau salah satu dosen dikampusnya adalah suami Juli.
"Pak . .
Minta tolong handuk !"
Juli berteriak dari dalam memanggil Damar.
Gadis itu sampai lupa membawa perlengkapan mandinya.
"Sebentar Juls , ,"
Damar menaruh kembali handphone Juli ketempat semula.
"Ini."
Juli membuka sedikit pintu untuk meraih handuk pemberian Damar.
"Terima kasih pak Suami, maaf gak maksud menyuruh."
Juli cengengesan.
"Itu sudah menyuruh namanya."
Damar mencibik kesal.
Juli tak menanggapi, ia segera memakai handuk kemudian berjalan malu malu melewati suaminya.
"Mmm bapak keluar dulu boleh ?"
Tanya Juli ragu,
__ADS_1
"atau enggak berbalik, mungkin tutup mata aja kali."
Ia masih malu jika harus memakai pakaian dihadapan Damar.
"Ayo cepat, aku sudah lapar sekali."
Damar duduk ditepi ranjang membelakangi Juli.
Juli menyantap nasi goreng buatan mama Zara dengan lahap.
Ia belum makan dari kemarin kemarinnya lagi.
Damar melihatnya saja sudah merasa kenyang.
"Kok gak makan, katanya bapak laper ?"
Juli menunda suapan berikutnya.
"Kamu habiskan punyaku juga, aku sudah kenyang Juls."
Damar menggeser piringnya kedekat Juli.
Mereka duduk berhadapan disofa.
"Nasi goreng buatan mama Zara enak. Aku gak yakin bisa menirunya."
Juli pesimis jika menyangkut keluarga Damar.
"Kamu gak harus meniru siapapun. Jadi diri kamu sendiri Juls, lakukan dengan caramu."
Damar mengambil sebutir nasi disudut bibir Juli lalu memakannya.
"ih bapak, kalau masih lapar dimakan aja itu."
Juli malu tertangkap basah makannya belepotan.
"Haha gak usah jaim sama suami sendiri."
Damar mengacak acak rambut terurai Juli.
"Permisi Tuan, nyonya sepuh sudah menunggu dibawah."
Sebelumnya bi Ipah sudah mengetuk pintu yang terbuka.
Sengaja Damar membukanya, agar keluarganya tidak curiga mereka belum keluar kamar sejak tadi.
"Iya bi, sebentar lagi kami turun."
Jawab Damar.
Bi Ipah mengangguk lalu pamit secepat kilat.
"Ayo pak turun, aku sudah kok."
Juli mengelap bibirnya menggunakan tisu, tak lupa ia juga minum air mineral segelas penuh.
"Kalian mau ikut belanja tidak sih ?
Sejak tadi kami tungguin tahu. ."
Grand Ma bersama Ditya juga Zara sudah siap pergi.
"Tadinya mau ikut Grand Ma, mendadak ada urusan lain."
Damar melirik kesamping menggenggam tangan Juli.
"Memang mau kemana Grand Ma ?"
Juli melongo tak mengerti.
"Belanja kebutuhan buat besok acara 3 harinya almarhumah Atikah."
"Yah Juli mau banget ikut.
Pak . ."
Juli lagi lagi manja merengek didepan keluarga barunya.
"Kamu lupa kita mau kemana ?"
Damar mencoba mengingatkan Juli lagi.
"Ya sudah, kalau masih sempat kalian boleh nyusul kok."
Zara menengahi perdebatan keduanya.
"Berangkat yuk, keburu rame supermarketnya."
Ditya merangkul Zara menuju mobil didepan.
"Laters mama . ."
Juli berteriak melihat kepergian mereka.
Damar menunggu mobil Ditya berangkat, barulah mobilnya terparkir oleh mang Agus.
"Pak turunin, malu tahu."
Juli terkejut tiba tiba Damae menggendong dirinya ala bridal style.
"Malu kenapa, kita kan suami istri."
Damar tidak peduli.
Ia hanya ingin membuat istrinya bahagia diperlakukan layaknya puteri.
Karena setelah Juli memakai KB, dirinya akan bebas menggempur Juli habis habisan tanpa ampun.
Seringai jahatnya muncul membuat Juli khawatir.
**note :
Terima kasih sudah setia menunggu Up. Mohon masukannya dikolom komentar ya my dearest readers.
Semoga kalian tidak bosan membaca alur ceritanya**.
__ADS_1