Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
#107


__ADS_3

Laki laki itu masih terdiam berdiri mematung tak jauh diantara mereka.


Cukup lama sehingga ia tahu semua percakapan tadi.


Benarkah Juli menganggapnya nobody, artinya Juli memang tidak menyukainya.


Ada kecewa mendalam mendengar perkataan Juli, namun ia juga beruntung gadis itu membelanya mati matian.


"Kevin . ."


Jihane menyadari kehadiran Kevin di belakang Juli.


Juli mendadak tidak bisa menggerakan tubuhnya untuk menengok.


Kakinya lebih memilih melangkah meninggalkan Kevin dan Jihane.


"Aku bisa jelasin semuanya, tolong jangan benci aku ?"


Jihane memelas berharap Kevin tidak marah dan mau memaafkannya.


"Terserah kelakuanmu seperti apa, asal jangan pernah berbuat kasar lagi pada Juli.


Atau aku tidak segan segan akan membalasnya."


Kecaman Kevin sama halnya dengan keputusan dia mulai membenci Jihane.


Sorot matanya tajam penuh emosi tak terima melihat Juli mendapat perlakuan kasar dari Jihane.


"Tidak, kamu tidak boleh membenciku Kevin !"


Ucap Jihane memandangi punggung Kevin yang sudah menjauh dari posisinya.


Sebuah ruang pertemuan dihadiri beberapa orang penting kenamaan. Kantor instansi pemerintah bergerak di bidang jasa pelayanan masyarakat.


Damar didampingi Sekar juga ikut hadir, MHotel akan mengikuti lelang kerja sama yang diadakan oleh instansi tersebut.


"Baik kita mulai . ."


Meetingpun segera mereka lakukan.


Berjalan lambat, mereka saling menawarkan beberapa keunggulan agar client mau menerima proposal masing masing.


Tiba saatnya Damar memaparkan poin penting yaang akan memberi keuntungan jika mereka bekerja sama.


Sekar mengagumi kegigihan Damar saat bekerja.


Serius tapi santai, dengan ide ide berbobot selalu saja didapat olehnya.


Benarkah Sekar sudah mulai jatuh hati pada Damar bosnya ?


Jika iya, ia harus siap siap kecewa karena Damar hanya menyukai Juli meski Sekar kekasihnya didepan orang tua Damar.


"Silakan menunggu, kami akan berunding sebentar."


Sekretaris kepala meminta waktu agar bisa mendiskusikan hasil akhirnya.


Sekar tahu Damar harus memenangkan tender ini, demi peningkatan omset hotel selama beberapa bulan kedepan.


Merasa gugup khawatir kalah, Damar sedikit melonggarkan dasinya.


"Kamu pasti menang Damar."


Sekar melirik berbisik pada Damar memberinya dukungan.


Laki laki itu hanya tersenyum tipis berharap hal sama.


Juli merasa langkah kakinya diikuti seseorang.


Ingin menengok ke belakang namun urung.


Perasaannya jadi tidak karuan semenjak bertemu David.


Ia baru saja keluar dari kampus hendak pulang ke rumah Ema.


Juli harus segera menemukan tempat tinggal baru.


Tidak mungkin Juli terus menumpang di rumah Ema.


Seseorang menepuk pundak Juli dari belakang, refleks Juli menarik tangan itu layaknya pertahanan bela diri.


"Ampun Juls . ."


Teriaknya meringis kesakitan.

__ADS_1


"Pak Damar ?


Maaf pak maaf, ,"


Juli segera melepaskan cengkramannya.


"Lagian bapak ngagetin, aku pikir copet tadi."


Gadis itu heboh mengelus tangan yang sudah ia pelintir.


"Aku kira kamu sudah pulang, ternyata baru keluar dari kampus.


Ayo naik ke mobil !"


Ajak Damar pada Juli, sedari keluar gerbang Damar memang mengikuti Juli.


"Oke."


Jawab Juli dengan senyum lebarnya. Entah apa yang membuat Damar seperti itu, dia menggendong Juli. Menyimpan tubuhnya dipundak kiri Damar seperti mengangkut sebuah karung berisi padi.


"Pak turunin !


Kalau ada yang lihat bagaimana ?"


Juli merengek minta diturunkan, namun Damar terus saja membawanya hingga didekat mobil.


"Aku tinggal bilang kalau kamu itu kekasihku."


Damar membukakan pintu untuk Juli.


Juli hanya bisa tersenyum menerima perlakuan romantisnya.


Di perjalanan, Damar memutar lagu yang terdaftar di USB miliknya.


Say you love me di nyanyikan oleh Jessie Ware untuk mengisi soundtrack film Fifty Shades.


"Bapak lagi bahagia ? Kelihatannya gak berhenti senyum dari tadi."


Juli mengamati wajah fokus Damar saat menyetir.


"Ini soal pekerjaanku Juls, aku menang tender besar."


Damar membelokkan stirnya menuju parkiran sebuah tempat makan.


Juli melepas sabuk pengamannya begitupun Damar.


Juli membuka pintu berniat keluar, namun Damar menahan lalu memeluknya erat.


"Terima kasih kamu sudah mau menerimaku Juls. Aku sangat bahagia."


Juli membalas pelukannya.


Mendadak wajah Kevin muncul dikepalanya.


Bagaimana kalau adiknya Damar tahu kalau Juli menjalin hubungan dengan sang kakak.


Bisakah Juli menghadapi resiko lainnya, misal reaksi orang tua laki laki itu, belum lagi jika seisi kampus tahu.


"Ada apa ?"


Damar melepaskan pelukannya, Juli hanya diam saja tak menanggapi.


"Aku takut . ."


Juli menunduk tak berani menatap mata Damar.


"Semua akan baik baik saja Juls, kita hadapi sama sama."


Damar mengelus pipi Juli meyakinkannya agar percaya pada Damar.


"Ayo kita makan, lalu aku akan mengantar kamu ke tempat tinggal yang baru."


Damar dan Julipun keluar dari mobil.


Dia menggandeng tangan Juli, ini menyenangkan menurutnya.


Bisa memiliki seseorang untuk berbagi suka maupun duka.


Damar hanya ingin menikmati masa masa ini, biar ia tanggung akibatnya dikemudian hari.


"Dee . ."


Seorang perempuan tidak asing menyapa Damar yang baru saja duduk bersama Juli.

__ADS_1


"Hi Tiara . ."


Sapa Damar diikuti senyum ramah Juli.


"Kamu sama Juli ?


Aku kira Kevin pacarnya dia."


Tiara menggoda Damar, mereka sangat dekat sejak kecil.


Damar sangat menyayangi adik sepupunya itu.


"Duduk Ra, makan bareng kita."


Ajak Damar.


"Gak usah, aku harus balik ke rumah sakit.


Kevin rajin loh mengambil beberapa tindakan operasi.


See you Juls . ."


Tiara memang sengaja makan siang di jam istirahat.


Ia bahkan membawa makanan untuk sepupunya Kevin.


"Take care Ra !"


Teriak Damar agar Tiara mendengarnya, perempuan itu mengangkat tangannya memberi tanda oke.


"Kak Tiara keren ya pak. Udah cantik, dokter, pegang usaha kafe lagi."


Juli berdecak kagum pada Tiara, ia juga senang bisa mengenalnya.


"Kamu yang jauh lebih keren Juls. Kamu bertahan sejauh ini sendirian, tanpa bantuan atau bergantung pada siapapun."


Juli terkejut mendengar pujian Damar. Ia bahkan tidak pernah cerita apa apa padanya.


"Kamu tahu segalanya tentang aku, kenapa ?"


Tanya Juli penasaran.


"Sejak aku mendapat nomer telponmu, aku meminta seseorang mencari keberadaanmu. Menggali semua tentang kamu, aku sangat ingin tahu. Karena kamu tidak akan mungkin menceritakan semuanya padaku."


Jujur saja Juli dibuat merinding oleh Damar yang terang terangan telah mengorek informasi hidupnya.


"Apalagi yang kamu tahu dari aku ?"


"Juli dengar, aku tidak bermaksud memata matai kamu. Aku hanya mengirim seseorang untuk menjagamu dari Rama dan . .


Papimu."


Juli menyandarkan tubuhnya dikursi. Lagi lagi Damar menunjukkan kelasnya sebagai seorang penguasa.


"Bapak hanya perlu bertanya padaku, akupun akan menjawab semuanya. Kenapa harus melakukan hal sejauh itu ?"


Juli bangkit dari kursinya, meraih tas lalu pergi dari hadapan Damar.


Damar memejamkan matanya frustasi menerima kemarahan Juli.


Tapi ia juga tidak bisa menutupi fakta itu darinya.


Damar hanya berusaha jujur dan terbuka.


"Juli tunggu . ."


Damar mengejarnya hingga tepi jalan. Juli sudah siap menyetop taxi.


"Taxi !"


Tangannya merentang memanggil taxi kosong.


"Please dengarkan aku Juls, aku minta maaf soal itu."


Damar menahan pintu yang hendak Juli buka.


"Bapak minta maaf, semua sudah terjadi dan aku memaafkannya. Tapi aku tidak selera makan sekarang ini. Clear."


Juli menyingkirkan tangan Damar lalu masuk kedalam.


"Argh. . ."


Damar melayangkan tinjunya diudara menatap taxi yang membawa Juli semakin menjauh.

__ADS_1


__ADS_2