Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
#141


__ADS_3

Sampai kapan Juli akan kuat menjalani pernikahan diam diam.


Bukan inginnya juga melakukan hal itu, tapi apa kata mereka jika tahu Juli menikah dengan Damar karena buru buru.


Bisa saja orang orang menganggap Juli matre atau hamil diluar nikah.


Jalan satu satunya ialah mereka segera mengadakan resepsi sebagai pengumuman.


Mungkin Juli harus membahas hal itu dengan Damar.


"Ekhem . . Sepertinya ada yang lagi bahagia nih."


Miley tiba di ruangan, melihat Juli rasanya ia ingin menggodanya.


"Pagi bu Miley, ,"


Juli menghindar dari serangan Miley. Pikir Juli Miley pasti sudah mendengar kabar pernikahan mereka.


"Malvin patah hati tahu gara gara kamu."


Miley belum puas, sekarang ia membawa bawa nama kakaknya yang diketahui sempat menyukai Juli.


"Ah bu Miley bisa aja. Aku berangkat duluan semua, lebih cepat lebih baik kan ?"


Juli tersenyum kaku mendapat sorotan dari Adam, Miley termasuk bu Desi.


Mereka masih tidak mengerti apa maksud ucapan Miley.


"Take care Juls . ."


Seru Adam pada Juli.


"Mau kemana ?"


Tanya Damar, Sekar juga ada bersama suaminya.


Tapi kenapa Juli merasa tidak cemburu atau curiga.


Karena ia percaya pada Damar, terlebih Sekar perempuan baik.


"Ketemu client. ."


"Aku yang antar kamu."


"Tidak usah mas, kamu kan sibuk.


Aku naik mobil perusahaan kok."


Juli menolak tawaran Damar.


Sekar sedikit terkejut mendengar Juli memanggil bosnya dengan sebutan mas.


Tandanya Kevin belum sempat menceritakan pernikahan kakaknya.


"Pak Damar sedang kosong jadwalnya Juls."


Sekar membantu Damar membujuk Juli.


Juli menghela nafas membiarkan suaminya mengantar ke tempat pertemuan.


Sementara Sekar kembali bekerja di ruangannya.


"Mas jangan salah paham soal tadi. Kak Adam kan belum tahu kita udah nikah."


Juli memulai percakapannya didalam mobil.


Lagi, Ifan yang menyetir.


Di kantor Damar memang selalu memakai jasa driver. Beda halnya jika dirumah, Damar bebas mengendarai mobil pribadinya.


"Apa kita gelar resepsi secepatnya ?


Biar mereka tahu kamu itu istriku."


Memang itu yang ingin Juli bahas sejak tadi.


"Bukan karena apa apa ya, kali ini aku setuju."


"Memang kamu takut aku berpikiran apa ?"


Damar mengawasi Juli intens.


"Nenek kan belum lama pergi, rasanya kurang pantas jika kita mengadakan pesta."


Juli jadi sedih mengingat kondisi keluarga mereka belum stabil.


"Berarti kita tunggu setelah 40 hari nenek. Baru seminggu kemudian resepsi, bagaimana ?"


Damar menyarankan waktu pelaksanaan pas menurutnya.


"Kita bahas sama ayah dan mama Zara juga mas, mungkin pendapat mereka bisa bermanfaat."


"Oke, setuju. Pulang kerja kita diskusi."


Damar meraih Juli agar masuk kedalam pelukannya.


"Mas, gak enak ada pak Ifan.


Ini jam kerja loh."


Juli meronta menciptakan jarak dari Damar.


"Gak masalah kali sayang . ."


Damar pura pura menasang wajah kecewa mendapat penolakan dari Juli.


Ifan hanya tersenyum menyaksikan adegan suami istri dikursi belakang.


Damar memesan meja lain demi menunggu istrinya rapat disebuah cafe.


Para client sempat terkejut Damar hadir bersama Juli.


Mereka tahu siapa Damar, salah satu pemegang saham ditempat mereka menyewa.


"Wah sepertinya bos mba Juli sangat perhatian, sampai mengantar karyawannya taken contract."


Pemilik restoran stik kenamaan menggoda Juli.

__ADS_1


"Beliau memang humble sama karyawannya. Apalagi saya hanya magang, pak Damar membimbing saya secara langsung."


Juli tersenyum membicarakan kebaikan suaminya.


"Nanti kalau ada projek lain mungkin saya akan kerja sama dengan MHotel."


Tambahnya lagi lalu membubuhkan tanda tangan beserta stamp diatas materai tanda kerja sama.


"Terima kasih pak."


Juli merasa tersanjung mendengarnya.


"Kalau begitu saya langsung permisi. Kasihan pak Damar harus menunggu lama."


Seolah mengerti pengusaha itu segera pamit pergi.


Sebelumnya beliau melambaikan tangan kearah Damar.


"Hati hati pak."


Juli kembali ke meja Damar setelah menyelesaikan rapatnya.


"Wah wah, istriku sudah sangat handal menangani client."


Damar merangkul Juli yang sengaja duduk disebelahnya.


"Siapa dulu yang ngajarin."


Tiba tiba saja Juli manja ingin bersandar di lengan Damar.


"Damar . . . ?"


Seseorang berdiri menyapa Damar ketika dia sedang bermesraan dengan Juli.


"Hana . ."


Damar melepaskan rangkulannya pada Juli. Matanya berbinar bisa melihat perempuan bernama Hana lagi.


"Hai apa kabar kamu Dee ?"


Hana menyalami Damar, bahkan dia juga cipika cipiki dihadapan Juli.


Hana perempuan cantik, tinggi berkulit putih itu menunjukkan rona bahagianya.


"Baik Hana. Oh iya, perkenalkan ini Juliana istriku."


Merasa dipanggil Julipun ikut berdiri menyalami Hana.


"Wah hebat kamu udah nikah aja. Tadinya aku mau nagih sesuatu dari kamu."


Hana terlihat kecewa mendengar kabar bahagia tentang Damar.


"Aku gak tahu kamu kembali ke indo. ."


Damar tampak bingung dengan situasi saat itu, dia merasa tidak nyaman Hana membahas masa lalu mereka didepan Juli.


"Aku bisa tinggalin kalian berdua kok, kebetulan dikantor masih banyak pekerjaan."


Juli meraih tas dan beberapa map berlogo DGC diatas meja.


"Ifan antar kamu yah ?"


Apa ?


Juli pikir Damar akan menahannya, atau bahkan ikut kembali ke kantor bersama.


Dia malah menyuruh Juli pulang bersama Ifan.


Damar itu kenapa sih tidak peka sekali pada perasaan Juli.


"Eh Dee, lebih baik kamu temani istri kamu. Lagipula aku udah harus on the way ke Bali satu jam lagi."


Hana melirik jam tangannya lalu sekilas memegang lengan Damar.


"Oke lain kali kita ketemu lagi Han. Safe flight ya !"


Damar lebih dulu meninggalkan Hana, dia menyusul langkah cepat Juli.


Hana tersenyum miris mendapati dirinya kalah langkah dari perempuan lain.


Ternyata Damar sudah memiliki kehidupan baru bersama gadis bernama Juli.


"Aku menyesal Dee . ."


Gumam Hana dalam hati.


Damar mencari cari keberadaan Juli diparkiran depan.


Istrinya tidak pergi dengan Ifan, pria itu masih setia berdiri menunggu Damar.


"Juli ?"


Damar menanyakan keberadaan Juli.


"Tadi nona naik taxi buru buru, katanya saya harus menunggu tuan sampai selesai."


Ifan tidak tahu apa yang sedang terjadi. Kalau saja ia mengerti mungkin Ifan akan menahan Juli.


"Kita balik ke hotel."


Damar memejamkan matanya frustasi. Kali ini dia sadar kalau Juli pasti cemburu pada Hana.


"Sial !"


Umpat Damar membanting keras pintu mobil.


Ifan memperhatikan amarah bosnya melalui kaca spion.


Juli menghentakkan tumpukan mapnya keras diatas meja.


Baru juga bermesraan mereka harus kembali bersitegang.


Siapa lagi Hana ?


Apa masih banyak hal yang Juli belum ketahui mengenai kehidupan Damar ?


Rasa laparnya hilang seketika melihat mereka sok akrab dan terlihat dekat sejak lama.

__ADS_1


"Dasar laki laki."


Juli menggerutu, Adam yang baru masukpun sempat mendengarnya.


"Kenapa emang laki laki ?


Nyakitin kamu lagi hah ?"


Adam duduk dikursi depan meja kerja Juli.


Dia memperhatikan Juli secara pribadi.


Membuat Juli tidak nyaman menerimanya.


"Tidak ada kak, mending kakak kembali ke meja kakak deh. Aku lagi pusing sama kerjaan."


Pinta Juli yang tak segera Adam respon.


"Belum makan kan ?


Nih aku bawa sesuatu buat kamu."


Adam mengeluarkan box take away dari paperbag.


Wangi dimsum masuk kedalam hidung Juli.


Adam perhatian sekali hingga membawakan Juli makan siang.


"Thanks kak Adam, maaf aku tadi bener bener lagi pusing kak."


Sejak menikah sudah beberapa kali Juli perang dingin dengan Damar.


Rasanya tidak ada jeda untuk bersantai.


"Iya aku ngerti. Makan dulu gih."


Adam tidak ingin mengganggu Juli lagi. Dia segera berjalan ke tempat kerjanya.


Sebelum kembali membuat laporan, demi mengembalikan moodnya Juli memilih membuka makanan pemberian Adam.


Ruangan selalu kosong karena mereka bergerak dibidang pemasaran.


Desi menemani Miley ke luar kota untuk survey pembelian tanah.


Rencananya DGC akan membangun kembali real estate keduanya.


"Juls, , nanti malam mau gak nonton konser bareng ?"


Uhuk uhuk uhuk . .


Juli tersedak oleh dimsum yang baru dikunyahnya.


Adam secara jantan mengajak Juli berkencan.


"Minum minum Juls !"


Dimeja Juli kebetulan tidak ada stor air mineral.


Adam berlari kecil memberinya sebotol mineral water kemasan.


Juli menerimanya dan langsug meminum hingga setengah.


Tangan Adam bergerak memukul lembut punggung Juli.


"Hati hati dong lagi makan."


Kata Adam.


Bagaimana tidak tersedak, ajakan Damar mengejutkan Juli.


Untung saja Damar tidak mendengarnya, kalau iya dia bisa ngamuk menghajar Adam.


"Thanks kak Adam, aku udah baikan. Untuk konser aku gak bisa kak, maaf ya ?"


Adam tampak kecewa mendengar penolakan Juli.


Diam diam Damar memperhatikan dibalik pintu kejadian tadi.


Lagi lagi Adam melakukan pendekatan pada Juli.


Ini tidak bisa dibiarkan berlarut larut.


"Juli !"


Damar membanting pintu cukup keras mengagetkan Juli juga Adam.


"Pak Damar, ada apa ?"


Adam berjalan menghampiri Damar tak terima bosnya bersikap kasar.


"Saya tidak ada urusan sama kamu Adam."


Damar berbicara tanpa menatap Adam. Matanya fokus memandang tajam Juli.


"Jelas ada, bapak tiba tiba datang membanting pintu. Apa ada yang salah ?"


Sedikit banyak Adam tahu kalau Damar pernah memperebutkan Juli dari Kevin.


Bosnya pasti cemburu melihat mereka berduaan saja diruangan, tebak Adam.


"Juli, mulai besok kamu dipindahkan ke bagian sekretariat kantor Direktur Utama MHotel. Ini perintah, tidak ada penolakan."


Perintah Damar sesuka hatinya.


"Loh tidak bisa begitu dong pak Damar Aditya yang terhormat.


Salah saya apa sampai bapak melakukan mutasi ?"


Juli tidak terima dengan keputusan Damar yang egois.


"Terserah kamu Juls. ."


Damar tidak menjawabnya didepan Adam. Dia lebih memilih untuk meninggalkan keduanya.


Damar ingin Juli sadar kalau dirinya tidak suka melihat Adam mendekatinya.


Harusnya Juli bilang saja pada Adam kalau dirinya sudah menikah, dengan Damar.

__ADS_1


Juli menggebrak meja cukup keras membuat Adam menatapnya bingung. Jelas ada yang salah diantara mereka sehingga Damar memindahkan Juli tanpa sebab.


__ADS_2