
Zara mengajak Ditya menemui papanya, kebetulan Kusuma sudah pulang. Dia ke kantor hanya mengecek, ada orang kepercayaannya yang mengurus usahanya.
Tidak seperti papanya Ditya, Kusuma hanya memiliki beberapa apotek Farma Kusuma. Dan mengurus usaha bakery almarhumah istrinya yaitu Sari rasa. Akan berkolaborasi jika sudah ditangani oleh calon mama baru Zara. Dan tidak ada yang keberatan soal itu.
"pa, kenalin ini Aditya Mahesa, ayah dari murid Zara disekolah."
Ketiganya duduk diteras halaman belakang, suasana sejuk dengan pepohonan meski dimusim kemarau.
"Aditya om, semoga om berkenan kalau Ditya dekat sama Zara."
Wah gentle sekali pria ini, pasti sudah berpengalaman pikir Kusuma didalam hatinya.
"ekhem . .
Om tidak akan melarang Zara untuk dekat dengan siapapun. Apalagi kalau orangnya serius, langsung nemuin om kayak kamu gini."
Ditya mengangguk paham, sementara Zara hanya menunduk meremas tangannya yang gemetar.
"Ditya tidak akan main main, kami sepakat untuk saling mengenal lebih jauh."
"kalau tidak cocok, putus tengah jalan maksudnya begitu ?"
Kusuma membetulkan posisi kacamatanya, meminta ketegasan pria yang duduk dihadapan anak gadisnya.
"Ditya merasa banyak kekurangan, apalagi dengan status duda beranak satu. Zaralah yang berhak memutuskan untuk menerima atau menolak."
Waw, Zara pikir Ditya akan sulit memutuskan hal itu. Ternyata dengan beraninya Ditya berniat meminang dirinya.
Tapi ia sadar diri, Ditya pasti belum bisa menyukainya.
"Zara mau kita jalan saja dulu, untuk menikah Zara ingin kita saling suka bukan terpaksa."
"baiklah, itu akan menjadi tanggung jawab dari kalian masing masing. Sekarang kita makan siang dulu."
Sejak tadi Dee asik bermain diruang keluarga bersama ART yang lumayan masih muda. Dee tipe anak yang mudah akrab dengan orang baru, tapi selektif dalam memilih calon untuk ayahnya.
"Dee, ayo pulang ! Ini sudah sore."
Ditya memanggil dan mengajak Dee untuk pamit.
"onti juga pulang bareng kita kan ?"
Dee memeluk lengan Zara, dan Kusuma memperhatikan itu. Anak pria ini bahkan sudah sangat nyaman bersama Zara. Apakah Ditya juga akan membuat anak satu satunya nyaman kalau mereka hidup bersama.
"Onti harus temani kakek disini, besok kita ketemu di sekolah ya ?!"
Setelah diberi pengertian oleh Zara, Dee akhirnya berhenti merengek ingin pulang bersama Zara.
"see you at school onti Zara."
Lambaian tangan Dee didalam mobil dibalas oleh Zara dan juga Kusuma.
"Zara, kamu yakin dengan keputusanmu ? Papa gak mau terluka nak."
Kusuma sejak tadi menahan diri, menunggu waktu yang tepat untuk bertanya dari hati kehati.
"Zara hanya mengikuti apa kata hati, selebihnya Zara pasrah pah."
Merasa butuh dukungan, perempuan itu memeluk papanya.
__ADS_1
Mereka telah melalui masa masa sulit dalam hidup. Ditinggal sang mama saat Zara masih bayi karena sakit jantung yang dialaminya. Kusuma membesarkannya dengan penuh perjuangan. Mencari nafkah sekaligus menjadi seorang ibu bagi Zara.
Apalagi saat Zara benar benar diambang antara hidup dan mati, Kusuma hanya bisa berdoa mengharap keajaiban.
Dia hanya ingin ada orang yang bisa membahagiakan Zara. Membuatnya merasa dicintai dan dilindungi.
Zara duduk merenung, disofa dekat jendela kamarnya.
Jujur dia menyukai Ditya, karena luka yang ada pada dirinya. Dia ingin menjadi obat untuk penyembuhnya. Itu berarti, Zara harus siap terluka, memeluk luka itu sendiri.
Dret dret . .
Sebuah panggilan masuk, Zara beranjak meraih handphonenya yang sedang di charge di nakas.
"halo . ."
Sapanya lemas.
"bisakah kamu datang ke hotel ? Makan malamlah bersamaku Zara !"
pinta seseorang yang bersuara pria, mengajak Zara kencan disaat hatinya yang dilanda gelisah.
"mm, tunggu aku !"
setuju, Zara langsung menutup telpon. ia mulai mencari pakaian yang bisa menyulap dirinya jadi cantik.
butuh waktu lama bagi perempuan untuk menghias diri. Zara ingin tampil cantik, tapi artinya dia tidak jadi diri sendiri.
alhasil, Zara hanya mengenakan dress hitam selutut dengan lengan seperempat dan sepatu sneakers putih.
biar saja, toh itulah jati dirinya. Zara ingin Ditya menerima apa adanya dirinya, bukan ada apanya.
mantap jiwa, dia pergi membawa mobil Civic silvernya menuju tempat janji temu. baru kali ini lagi Zara menyetir sendiri.
"nona Zahrani ?"
tanya waiter mengkonfirmasi setelah kedatangan Zara di pintu lift dining resto, ia mengangguk.
"mari non, ikut saya."
waiter itu menuntun Zara ke meja yang sudah dipesan, dimana pria yang menelponnya sudah duduk sejak tadi.
melihat Zara mendekat, dia langsung berdiri dan menarik kursi untuk Zara duduk.
"kamu cantik, terima kasih sudah mau datang."
syukurlah, benar kalau cantik tidak harus seksi apalagi jadi orang lain.
"Dee kemana ?"
tanya Zara celingukan mencari sosok anak kelas 1 SD itu.
"dia sudah tidur, ada ART yang menjaga."
merasa kepanasan, Ditya meneguk setengah dari segelas air miliknya.
bagaimana tidak gerah, meski dres Zara tertutup bagian dadanya masih terbuka sehingga angin masih bisa menyelinap.
"bukannya Dee cerita kalau dia tinggal dirumah grand ma'nya. kenapa pindah ke apartemen, terus nginap di hotel. kasihan dia !"
__ADS_1
marahnya Zara menambah kesan seksi dan keibuannya muncul. Ditya mulai berkeringat, dia berusaha mengalihkan pandangannya.
"ada sedikit masalah dirumah, jadi kubawa Dee menjauh."
"gara gara kehadiranku kan ?"
Zara bisa langsung menebaknya, sejak Milka menegurnya dia sudah bisa menyimpulkan kalau keluarga Ditya tidak suka padanya.
"mereka hanya belum mengenal kamu Zara, ayo kita lakukan ini sama sama. aku ingin kamu bisa mempercayaiku."
bisa bisanya Ditya mengatakan harapannya. padahal dia selalu saja mengkhianati kepercayaan Zoya yang begitu murah hati.
"makin kamu bertekad, aku malah semakin ragu mas. aku takut kita akan gagal, aku terluka kamu juga kecewa."
pesimis sekali Zara melihat peluang yang ada didepan matanya. dia hanya ingin realistis, semua terlihat abu baginya.
"beri aku kesempatan, aku akan menggunakannya dengan baik. tapi akan kuambil disaat genting."
Ditya meminta satu permohonan, jika suatu saat dirinya melakukan kesalahan Zara harus mau memaafkannya.
"baik, aku setuju. bisa kita makan sekarang ? aku sangat lapar."
canda Zara mencoba mencairkan suasana yang sempat menegang. Ditya terkekeh, perempuan ini sangat terbuka, kritis dan apa adanya.
makan malam berjalan dengan santai, sesekali keduanya tertawa. mendengar kisah Zara yang selalu dibuntuti orang suruhan papanya.
termasuk yang dipukuli Ditya didepan apartemen Zara. katanya Kusuma sampai harus membiayai pengobatannya full.
tak tanggung tanggung, Ditya juga menceritakan kehidupan singkatnya dulu bersama Zoya. tidak kurang atau lebih, Zara perlu tahu seluk beluk hidupnya.
Zarapun begitu, dia jujur kalau diusianya 18 tahun pernah menjalani operasi besar. dan itu adalah sebuah keajaiban tak ternilai.
"aku antar kamu pulang, tidak ada penolakan."
dengan senang hati, Zara terima dan mereka pulang bersama kerumah Kusuma. terhitung dua kali sudah dalam sehari Ditya kerumah itu. demi Zara, demi Dee dan juga kesembuhan lukanya.
sudah lama tidak dipakai, sabuk pengaman penumpang cukup sulit untuk dibuka saat Zara harus turun.
Ditya ikut membantu melepaskannya, sehingga kepala mereka beradu.
"aw . ." Zara meringis mengelus keningnya, Ditya refleks mengelusnya juga. mereka adu tatap cukup dekat, hingga akhirnya Zara dan Ditya sama sama memutuskan untuk mengecup bibir masing masing.
5 detik berlalu, hingga detak jantung keduanya bisa terdengar ditelinga. terhitung 10 detik mereka beradu lidah, merasakan sensasi panas yang membara.
"maaf . ."
Ditya melepaskan bibirnya menjauh dari jangkauan Zara.
"bawa saja mobilnya, besok jemput aku."
Zara yang salah tingkah, langsung keluar mobil secepat mungkin.
"ya ampun, Zara kamu main nyosor aja. memalukan !"
Zara merutuki dirinya sendiri didalam hati,
dia berjalan masuk kedalam rumah. itu adalah ciuman pertama baginya, indah sekali bisa merasakn hal itu batin Zara.
"Zoya, aku minta maaf. tapi sekali lagi, ini diluar kuasaku."
__ADS_1
Jika mengingat Zoya, Ditya masih saja merasa manusia yang tidak pantas untuk bahagia. dia benar benar malu, bolehkah dia kembali mendapatkan kehidupannya.
kali ini Ditya hanya akan pasrah pada takdir.