Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
#115


__ADS_3

Bahkan jika badai masih berlangsung, jangan pernah lepaskan peganganmu demi bertahan didalamnya.


Teguh pendirian Juli menarik diri dari ikatan Damar.


Justru karena baru seumur jagung hubungan mereka, Juli harus memutuskan sebelum semuanya terlambat.


Akibat sakit yang di deritanya kemarin Juli harus melewatkan salah satu ujian mata kuliahnya.


Hanya ada Juli di ruang pengawas itu, ia siap menjawab seluruh soal dihadapannya.


"Juli akan ada dosen yang mengawasimu nanti, Saya masih harus mengajar mata kuliah lain."


Bu Elza meninggalkan Juli berganti dengan sosok pengawas laki laki yang dimaksud.


"Silakan dimulai !"


Perintahnya.


Juli Berdehem memperbaiki kondisi tenggorokannya.


Masih tersisa rasa pening juga panas dalam efek gejala demam berdarah.


Pengawas itu masih setia menatap tajam wajah Juli.


Matanya menyipit memperhatikan gerak gerik alami Juli.


"Apa ada masalah ?"


Tanyanya pada Juli, padahal dia sama sekali tidak mengalami kendala apapun.


"Nope, sir."


Juli menjawab tanpa melirik dosen yang kini sibuk melonggarkan dasinya.


"Lalu kenapa kamu terus saja diam ?"


Lagi, dia seperti sedang menginterogasi Juli.


"Saya sedang fokus menjawab soal."


-Aku berusaha menjauh dari bapak-


Batin Juli, tangannya bergerak membuka lembar soal selanjutnya.


"Selesai mengisi soal, kamu harus ikut denganku !"


Dia memerintah tanpa ingin mendengar jawaban tidak dari mulut Juli.


"Saya masih ada ujian lain."


"Juliana !"


Tangan kanan pengawas mengepal memukul meja hingga Juli tersentak kaget.


"Sudah selesai, saya permisi pak Damar Aditya."


Juli menyerahkan lembar jawabannya dihadapan Damar, sang dosen pengawas.


Damar memejamkan matanya, dia akan terus berusaha meraih kembali tangan Juli.


Juli berjalan menyusuri koridor menuju perpustakaan.


Jihane juga terlihat melangkah masuk ke ruangan yang sama.


Tidak ada mahasiswa lain di jam jam itu, mereka masih silih bergantian menyelesaikan ujian.


Ternyata Jihane sedang duduk mesra bersama Kevin.


Meski tidak akan nyaman, Juli harus tetap belajar disana.


Juli benar benar kaget melihat adegan dimana Jihane berani mencium Kevin dibalik rak buku.


Bukan cemburu, melainkan pikiran negatif muncul di benak Juli.


Mengapa harus melakukan hal itu ditempat sakral seperti perpustakaan.


Mungkin lebih baik Juli belajar di kantin atau taman.


Kevin menyadari kehadiran Juli yang hendak keluar.


"Jihane aku harus pergi."


Kevin menepis tangan Jihane, dia masih setia melingkar di pinggang Kevin.


"Kevin !"


Teriak Jihane mencoba menghentikannya.


Kevin terus mengejar langkah Juli, hingga akhirnya mereka berjalan sejajar.


"Juls tadi tidak seperti yang kamu pikirkan . ."

__ADS_1


Kata Kevin tidak ingin Juli salah paham.


"Kevin aku bahagia jika kamu mau menerima Jihane, hanya itu saja."


Dia tidak pernah mempermasalahkan hubungan antara Jihane dan Kevin.


Namun jujur Juli merasa Kevin seperti memutuskan hubungan pertemanan mereka.


"Kalau kamu ikut senang, kenapa wajahmu murung melihat kami ?"


Kevin beranggapan sebaliknya, Julilah yang menghindari dirinya.


"Kevin aku tidak ingin berdebat. Kamu dan Jihane adalah sahabatku sampai kapanpun."


Juli berlalu pergi, sementara Kevin menyesal sudah menuruti keinginan Juli.


Seseorang keluar dari mobil mewahnya.


Berjalan menuju arah dalam gedung kampus.


Langkah tegapnya menarik perhatian para mahasiswa.


Siapa dia ?


Untuk urusan apa mendatangi kampus mereka, tidak mungkin juga dia dosen baru apalagi calon mahasiswa.


"Tolong panggilkan dosen yang bernama Damar Aditya dan mahasiswa kedokteran Kevin Aditya !"


Perintahnya saat kebetulan bertemu dengan Adam.


"Anda. . ."


Sial, Adam baru menyadari kalau kedua orang yang disebut itu adalah kakak beradik.


Pastinya pria tua berwajah tampan ini adalah bapak dari mereka.


"Akan saya cari Kevin, dia kawan saya. Kalau pak dosen Damar lebih baik pak Komisaris datang ke ruangannya."


Saran Adam, dia tahu siapa Ditya. Wajahnya pernah muncul beberapa kali di majalah maupun koran bisnis.


"Saya tunggu mereka di parkiran. Kalau bisa ajak Juliana juga, dia pasti bersama Kevin."


Kemudian Ditya meninggalkan Adam menuju ruang dosen.


Adam bergegas lari mencari Kevin di ruang BEM.


Seram juga melihat wajah ayah dari temannya, tegas dan berwibawa.


"Kevin !"


"Apaan sih ngos ngosan gitu ?"


Kevin mengerutkan dahinya bingung.


"Bokap loe nungguin di parkiran, dia juga minta loe ajak Juli dan pak Damar."


Setelah mendengar soal ayahnya, Kevin bergegas mencari keberadaan Juli. Bahaya jika Juli bertemu Ditya sendirian.


Kabar Cinta segi empat diantara mereka sudah sampai ke telinga Aditya Mahesa.


Itu yang Zara katakan saat menelponnya semalam.


Pada akhirnya Juli sudah duduk di sebelah kemudi bersama Ditya juga Damar.


Kevin baru masuk mobil setelah terakhir mencari hingga ke ruang dosen.


"Bagus kalian berkumpul, ayah mau ajak makan siang."


Ditya menyetir sendiri sengaja menjemput anak anaknya.


Baru kali ini lagi Damar dan Kevin duduk bersebelahan dalam satu mobil. Entah sejak kapan mereka sibuk masing masing seperti orang asing.


Juli tidak merasa gugup lagi berada di dekat Aditya.


Toh dirinya sudah menuruti keinginan ayah dua anak itu.


Apapun Juli akan hadapi tanpa harus menghindar apalagi kabur.


Suasana sangat canggung, keempatnya diam sibuk dengan pikirannya.


Sesekali Ditya mencuri pandang pada kursi disebelah kirinya.


-Bisa bisanya Damar mengikuti jejakku, menyukai gadis yang usianya terpaut jauh.-


Buah jatuh memang tidak pernah jauh dari pohonnya.


Dan kenyataan itu tidak akan pernah bisa ia pungkiri.


Namun Ditya juga harus menghukum perbuatan anak sulungnya.


"Silakan . ."

__ADS_1


Bukan di coffee shop ataupun dinning resto, Ditya meminta mereka bertiga masuk ke ruang rapat.


Ruangan yang ia gunakan saat mengumumkan pernikahannya dengan Zara pada semua kepala bagian.


Juli duduk memisahkan diri di sebelah kanan Ditya, sementara Damar dan Kevin lagi lagi berdampingan.


"Kita mulai saja.


Jadi apa mau kalian ?


Saya beri kesempatan bagi yang mau menjelaskan."


Ditya menunggu pertanggung jawaban salah satu diantara mereka.


Namun ketiganya masih diam membisu tak bergerak.


"Saya yang akan menjelasan semuanya."


Seseorang angkat bicara, datang dari balik pintu.


"Duduklah Sekar . ."


Panggil Ditya menyuruh Sekar menyusul duduk di sebelah Juli.


"Damar menyukai Juli begitupun sebaliknya. Saat dia tahu kalau adiknya juga menyukai gadis yang sama, dia mundur.


Mengajak saya pura pura pacaran demi Kevin.


Saya tidak tahu kenapa mereka tidak sama sama jujur saja."


Sekar melirik Damar menatapnya tajam. Seolah semua ini kesalahan bosnya.


"Jadi apa hasil akhir yang kalian inginkan ?


Jika masuk akal, akan saya pertimbangkan untuk mengabulkannya."


Tak main main, Ditya memberi tawaran menarik bagi mereka.


"Saya izin bicara."


Juli mengangkat tangannya ragu kemudian berdiri.


"Pak Komisaris yang terhormat, Kevin sudah resmi pacaran dengan Jihane sahabatnya dari kecil.


Seharusnya bapak juga mempercepat pertunangan antara pak Damar dan Sekar."


"Juliana !"


Teriak Damar dan Kevin secara bersamaan, keduanya berdiri menatap Juli.


Dalam hati Ditya terkekeh melihat kedua jagoannya merebutkan satu gadis.


"Kamu sendiri bagaimana ?"


"Ya gak gimana gimana pak,


kan seperti itu harapan semua orang. Kevin tetap sahabat saya, Pak Damar bos ditempat saya biasa bekerja harian."


Sesederhana itu pemikiran Juli menyikapi masalah yang keluarga Ditya anggap rumit.


"Saya suka pemikiran kamu Juli.


Tapi kalian sudah terlanjur terjebak oleh keadaan, jadi saya akan memutuskan mempercepat pertunangan Damar."


Damar tidak terima keputusan Ditya yang egois menurutnya.


Dia berjalan keluar meninggalkan pertemuan aneh itu.


Pintu bahkan sengaja Damar banting dengan keras.


"kalau begitu saya juga permisi. ."


Juli ikut menyusul kepergian Damar.


Tiba tiba Damar menahan laju kaki Juli, dia menarik tangannya masuk menuju tangga darurat.


Pintu tertutup bersamaan menyatunya kedua bibir mereka.


Damar melampiaskan rasa rindunya yang menggebu.


Cukup sudah dia bersabar mengikuti permainan Juli, ternyata Juli memang sengaja menghindarinya.


"Hmmm . ."


Lenguhan Juli menggema mengisi ruangan kosong gelap dibawahnya.


Khawatir Juli marah diperlakukan begitu, Damar menyudahi aksi panasnya.


"Aku mencintaimu Juli, menikahlah denganku !"


Hah, apa yang dikatakan Damar barusan ?

__ADS_1


Sadarkah dia atas ucapan dari mulutnya, Juli mengerutkan dahinya bingung.


__ADS_2