
"Bagaimana tempat magangnya ?"
Kevin dan Juli duduk sebelahan menikmati masakan Juli.
"Mmm goood, apa aku tidak menyebutkan nama perusahaannya ?"
Juli ragu membahas tempatnya bekerja.
"DGC, kamu memberitahuku sebelum pergi kesana."
Kevin menjawab datar sambil melahap makanannya.
"Kamu gak masalah aku kerja di salah satu lantai MHotel ?"
"Mungkin aku akan marah jika kamu sengaja melamar disana.
Tapi kamu sendiri tidak tahu itu perusahaan milik siapa, dan mereka baru 2 tahun menyewa gedung di hotel mas Damar."
Kevin mengatakan alasan yang masuk akal.
"Kamu selalu bilang itu hotel milik pak Damar, bukannya milik keluarga kalian ?"
Juli sudah lama penasaran dengan hal tersebut, iapun bertanya.
"Juls, semua sudah tertulis hitam diatas putih dan disahkan pengacara.
Sesuai rencana awal, MHospital akan menjadi bagianku."
"Aku bangga sama kamu, tanpa warisan dari orang tua saja kamu bisa survive dengan hasil usaha kamu sendiri."
Juli memuji gaya hidup Kevin, dia tidak selalu bergantung pada kekayaan keluarganya.
"Aku yang lebih bangga sama kamu Juls."
Kevin mengusap punggung Juli, tangannya jail menarik tali bra milik kekasihnya.
"Kevin !"
Sontak Juli memukul lengan Kevin.
"Kamu tahu, kenapa aku bertahan meski perasaan kamu seutuhnya belum menjadi milikku ?"
Kevin menahan tangan Juli menempelkannya didada.
"Mmm . ."
Juli menggeleng.
"Kamu berbeda Juls, kamu itu penyabar yang mau menerima uluran tanganku ketika perempuan lain terus meminta digenggam."
Hening, Juli belum menanggapi ucapan Kevin.
Mereka hanya saling adu tatap.
"Kamu sudah selesai ? Aku akan mencuci piringnya . ."
Lagi lagi Juli mengalihkan pembicaraan menghindar membahas hubungannya dengan Kevin.
"Aku harus pergi ke rumah sakit, ada beberapa hal perlu diselesaikan sebelum aku bergabung."
Kevin meraih jaket dan dompet serta kunci mobilnya disofa.
"Secepat itu ?"
Juli terkejut.
"Kamu lupa, selesai masa koas aku bahkan sudah mendapat lisensi resmi dari rumah sakit."
Kevin tidak lupa membanggakan dirinya sendiri.
Kemudian ia mencium kening Juli sebelum pergi.
"Take Care Kevin . ."
Gumam Juli setelah Kevin menghilang keluar.
Kenapa bagian market ?
Juli merasa dirinya tidak akan mampu menjalankan tugas dengan baik.
Biasanya dia dibelakang layar, nanti jika sudah bekerja Juli mungkin akan menapaki dunia luar yang luas.
Malam semakin larut,
Juli masih setia dengan pekerjaannya. Ia sengaja membawa ke rumah agar besok sudah siap disetor ke pimpinan. Motonya Juli harus selangkah lebih maju dibanding orang lain.
Ting nong . .
Suara bel terdengar dari kamar Juli.
Kevin sudah kembali ?
Ini bukan malam minggu, biasanya dia tidak akan menginap.
__ADS_1
Juli menutup laptopnya kemudian keluar membuka pintu.
Ceklek . . .
Ketika pintu terbuka Juli langsung menerima tubuh berat seseorang dalam dekapannya.
"Bapak mabuk ?"
Juli memapah Damar sekuat tenaga menuju sofa.
Bau mulutnya dipenuhi minuman beralkohol.
"Mmm, ,"
Damar mengeleng setengah sadar.
Tubuh laki laki itu dibanting kesofa oleh Juli karena sudah kewalahan.
Juli berniat mengunci pintu ganda, namun tangannya ditarik Damar hingga ia jatuh diatas tubuhnya.
"Kembalilah padaku Juls . ."
Kedua tangan Damar mendekap punggung juga kepala Juli.
"Bapak sebentar lagi tunangan, dan aku sudah bersama Kevin."
"Jihane selingkuh dariku Juls, dia tidur dengan laki laki ******** itu !"
Siapa yang Damar maksud ?
Juli sama sekali tidak mengerti maksud perkataannya.
"Apa kamu juga sudah melakukannya dengan Kevin ?"
Damar tidak sadar telah menyakiti perasaan Juli atas tuduhannya.
"Bapak jahat aku benci kamu Damar. Sepicik itu pemikiranmu tentang diriku ?"
Tak terasa Juli meneteskan air mata.
Dan Damar mengetahuinya, dia bangun lalu memposisikan tubuhnya duduk menatap Juli.
Tangan Damar bergerak menyeka air mata diujung mata Juli.
"Aku minta maaf karena menyakiti perasaanmu.
Kamu tahu betapa hancurnya aku melihat kalian bersama selama ini."
Damar perlahan menarik tengkuk Juli mendekatkannya kewajah Damar.
Saling ******* bibir satu sama lain. Decapan semakin nyaring mengisi ruangan.
"Hmm . ."
Juli mulai kehabisan nafas, Damar melepaskannya lalu bergerak menciumi leher Juli.
Dia cukup sadar untuk tidak meninggalkan jejak kepemilikannya.
"Jangan !"
Juli menahan tangan Damar kuat yang hendak membuka cdnya lewat dress tidur.
"Aku tidak akan melakukan hal bejad sebelum kamu menjadi istriku Juls."
Damar menyusupkan tangannya mengusap usap milik Juli.
Juli melenguh menutup mulutnya seolah tidak ingin Damar tahu ia begitu menikmati sentuhannya.
"Aku mencintaimu Juls . ."
Ucap Damar sembari sibuk mengocok didalam.
Tak kuasa menahan, Juli meraih kepala Damar lalu ******* bibir yang selalu ia rindukan.
Bahkan Juli tidak pernah menerima perlakuan Kevin kekasihnya sama sekali.
Juli Masturb mencapai klimaks, Damar sangat puas menyalurkan kerinduannya yang lama terpendam dalam.
"Aku berdosa kan sudah mengkhianati Kevin."
Juli masuk dipelukan Damar, keduanya tidur disofa sejak tadi.
"Kalian belum menikah, siapa tahu kamu malah menjadi istriku."
Damar semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku tidak tahu apa bisa bertahan dengan kesibukannya."
Juli memberitahu Damar perasaannya.
"Ada yang pernah bilang padaku,
kita percayakan saja pada takdir tentang nasib kita.
__ADS_1
Dan sampai detik ini aku masih mempercayainya."
Malam itu Damar menahan rasa sakit pada miliknya akibat ereksi.
Tidak begitu terasa memang, berterima kasihlah Damar pada pengaruh alkohol.
☀️☀️☀️
Juli membuka mata dipagi hari yang masih gelap,
Ia melihat sekeliling. Tubuhnya sudah berada diatas tempat tidur.
Artinya Damar memindahkannya sebelum pergi.
Ini hari pertamanya bekerja di DGC, Juli tidak boleh melakukan kesalahan apalagi terlambat.
Bayangannya teringat semalam,
Damar bsrhasil membawanya terbang entah kemana.
Ia menggigit bibir malu, bisa bisanya dia menikmati itu.
Bagaimana kalau Damar berpikir dirinya murahan.
Sebelumnya Juli sudah membeli beberapa kemeja kerja.
Kenapa dia memilih pakaian pas badan ?
Juli memandangi tubuhnya didepan cermin.
"Aku takut membangunkan macan yang sedang tidur."
Siapa lagi kalau bukan Damar.
Bisa saja sewaktu waktu Juli bertemu dengannya di jam kerja.
Juli keluar dari lobi apartemen untuk menyetop taxi.
Namun sudah berdirilah mang Agus membukakan pintu penumpang.
"Tuan Kevin minta saya antar non Juli."
Pacarnya itu selalu memperlakukan Juli seperti tuan puteri, tanpa menyisikan waktunya sebentar saja.
"Ke MHotel ya mang."
Juli memberitahu tempat tujuannya.
Mang Aguspun tancap gas melajukan mobilnya membelah kota Jakarta.
Juli tidak menyangka hidupnya akan disekitar Damar saja.
Kampus, tempat ia bekerja harian dulu, dan sekarang magangpun di perusahaan miliknya.
"Huuh . ."
Juli menghembuskan nafasnya keluar dari mulut, mencoba tetap tenang dan tidak gugup.
Nilai IPKnya selama 5 semester terakhir Juli tidak pernah dibawah angka 3,7.
Semoga saja kecerdasannya berpengaruh positif di dunia kerja.
Orang selalu bilang bekera dan sukses itu bergantung pada keberuntungan. Maka itu Juli selalu khawatir dirinya bernasib sial.
Juli akan mematahkan stigma kuno itu, membuktikannya dengan cara bekerja keras.
"Selamat pagi . ."
Juli menyapa ramah karyawan hotel meski dia bukanlah bagian dari mereka.
"Bagian mana mbak ?"
Tanya salah satu petugas bellboy.
"Saya anak magang DGC."
Jawab Juli ramah.
"Hotel punya bagian baru ?"
Bapak paruh baya itu cukup bingung mendengar nama aneh yang disebutkan Juli.
"D'Garden City pak, punya pak Malvin dan bu Miley."
Petugas front desk membantu menjelaskan, mereka sumber informasi akurat disebuah organisasi hotel.
"Oalah . .
Abis pada disingkat,
silakan non ke lantai 2."
Dia mengarahkan Juli.
__ADS_1
Juli terkekeh melihat tingkahnya, bapak itu ternyata tidak seupdate yang Juli kira.
Iapun naik tangga menuju lantai 2, bisa saja Juli naik lift tapi dia takut bertemu Damar.