
Dua tahun sudah Juli menjalin hubungan pacaran dengan Kevin.
Pasang surut melanda keduanya, manis asam terasa saat Juli menyadari dalam kesendiriannya.
Ia duduk termenung dibalkon apartemennya.
Tidak lupa juga Juli selalu mengirim uang tunai di front desk sebagai penyewa.
Namun Damar tidak mau kalah, dia selalu mengembalikannya ke rekening Juli.
Apa yang Juli dapat dari Kevin selama ini ?
Apapun kecuali waktunya.
Pacaran diusia muda menghadirkan keinginan dari hati terdalam Juli.
Jalan jalan, nonton lalu makan malam bersama atau sekedar menemani belanja kebutuhan bulanannya.
Kevin malah sibuk menyelesaikan skripsinya, kekasih Juli itu akan wisuda S1 sebentar lagi.
Seperti malam minggu ini, Juli gagal nonton kesekian kalinya karena Kevin harus menunggu hasil pengajuan bab terakhirnya.
"Halo , ,
Apa belum selesai ?"
Juli mengangkat telpon dari Kevin.
Ia masih berharap Kevin melanjutkan rencana mereka sepulang dari kampus.
-Antri Juls, mungkin aku akan pulang telat.-
Suara Kevin terdengar menyesal memberitahu kekasihnya.
Kampus masih ramai oleh mahasiswa tingkat akhir.
"Aku pergi sama Ema boleh ?"
Juli ragu menanyakannya, tapi ia butuh izin keluar dari Kevin.
Kevin selalu melarangnya pergi kemana mana.
Harus ditemani supirlah, bahkan diantar jemput olehnya.
Dengan alasan Kevin khawatir Juli kenapa kenapa.
Sebulan yang lalu Romi bebas dari penjara.
Dia masih belum bisa tenang akan hal itu.
"Boleh Juls.
Minta anter mang Agus ya ?!"
Benar saja, kalimat itu akhirnya keluar dari mulut Kevin.
"Iya, kamu jangan lupa makan Kevin !"
Juli menutup telponnya dan berisap.
Ema memberi kabar kalau dia sedang belanja disalah satu mall.
"Belum jadi dokter sudah sibuk, bagaimana nanti ?
Kevin akan lebih memilih pasiennya dibanding aku."
Juli menggerutu sambil menyiapkan tasnya.
Juli tiba di lobi pintu masuk, ia turun dan mang Agus akan menunggunya sampai selesai di parkiran.
Kakinya segera melangkah menuju supermarket di lantai dasar.
Tanpa sengaja Juli menabrak seseorang.
"Maaf, tali sepatuku lepas."
Juli menunduk kemudian berlutut membetulkan ikatan talinya.
"Masih sama cerobohnya . ."
Kata laki laki yang berpapasan dengan Juli.
Juli mendongakkan kepalanya memastikan dugaannya.
"Pak Damar . ."
Sapa Juli kaku, namun dalam hatinya ia amat gugup.
Selama itu juga Juli dan Damar tidak pernah bertemu secara pribadi.
Hanya di beberapa acara keluarga saja mereka terpaksa bertatap muka.
Damar sibuk dengan pekerjaannya,
Juli sudah tidak menghadiri kelasnya lagi karena beda kurikulum semester.
"Kevin mana ?"
Damar memperhatikan sekeliling mencari sang adik.
"Dia masih ketemu dospem, aku kesini sendiri."
__ADS_1
Juli sedikit berbohong padahal ia ada janji temu dengan Ema.
"Mau nonton bareng ?"
Damar memakan umpan Juli, dia mengajak Juli ke bioskop.
"Eu . ."
Jangan pasang harga murah Juls, ingat dia calon kakak iparmu.
Damar juga sebentar lagi bertunangan dengan Jihane sahabatnya.
"Menebus keinginanmu yang belum terpenuhi."
Hanya itu alasan Damar.
Juli mengangguk tidak masalah asal mereka sama sama tahu batasan. Urusan ketahuan ya jangan sampai ada yang tahu.
Bisa terjadi perang dunia ketiga.
"Jihane ?"
Juli dan Damar menaiki eskalator menuju lantai 3 mall.
"Sama, dia juga sibuk skripsi."
Jawab Damar singkat padat dan jelas.
Juli manggut manggut baru ingat kalau Kevin dan Jihane satu angkatan.
"Popcorn,
shoft drink ?"
Damar membeli tiket sekaligus memesan minuman.
"Caramel popcorn, milo dinosaurus."
Damar terkekeh mendengar pesanan Juli, dianggap anak kecil karena memesan minuman itu.
"Jangan meledek pak, meski namanya kekanakan milo dinosaurus jadi favorit di XXI."
Juli menerima popcorn ukuran small dan minumannya.
Film bergenre romantis tentang perselingkuhan dalam rumah tangga.
Kenapa Damar memilih genre itu, Juli merasa tidak nyaman.
Ia menyukai film horor, action maupun Thriller.
"Kamu harus nonton ini, biar belajar cara rumah tangga yang baik dan ben . ."
Tangannya bergerak pelan menarik kepala Juli menuju pundaknya.
"Aku merindukanmu Juls . ."
Bisik Damar pelan sekali.
Jauh dilubuk hatinya Damar masih mencintai Juli.
Juli nama yang selalu terukir indah didalam dadanya.
Lagi, Damar mengambil langkah salah dengan menjadikan Jihane kekasihnya.
Berbeda dari Sekar, Jihane selalu memakai perasaannya menghadapi Damar.
Damar dibuat tertekan merasa jadi bonekanya.
Jihane selalu menuntut ini itu dari Damar.
Lama lama bukan menikah melainkan Damar bisa darah tinggi dibuatnya.
"Bangun Juls, filmnya sudah selesai."
Damar menepuk lembut pipi Juli berusaha membangunkannya.
"Yah aku ketinggalan huam . ."
Juli menguap meregangkan otot ototnya.
Damar terkekeh melihatnya.
"Aku lapar, ayo kita makan dulu."
Damar menarik tangan Juli bertujuan menuntun jalan supaya dia tidak oleng menuruni anak tangga.
"Aku mau makan steak super lezat, kan kapan lagi bisa di traktir CEO kaya macam pak Damar."
Suasana diantara mereka sedikit mencair karena usaha Juli.
Juli mencoba bersikap sewajarnya menghadapi Damar.
Itu yang membuat Damar terlena mengenang masa lalu singkat keduanya.
"Makanlah yang banyak !"
Damar tersenyum simpul.
Acara makan diselingi obrolan dari Damar maupun Juli.
Bercerita kehidupan mereka setelah berpisah.
__ADS_1
membahas hal hal yang menyangkut perasaan mereka.
Secara tidak langsung keduanya bisa menangkap kalau hubungan masing masing kurang bahagia.
"Terima kasih pak sudah ajak nonton dan traktir makan.
Aku pamit duluan."
Juli dan Damar berpisah di depan lobi.
"Aku antar Juls . ."
Pinta Damar.
Entahlah, waktu barusan tidak cukup baginya untuk melepas rindu.
"Aku sama mang Agus."
Juli mengukir senyum lalu melangkah keluar.
Sebelumnya ia sudah menelpon Agus supaya stand by di carpot.
"Jemput Kevin di kampus ya mang."
Perintah Juli.
Hampir jam sembilan malam Kevin baru selesai.
Ia mengirim pesan agar mang Agus menjemputnya.
Kevin berniat menginap di apartemen Juli karena besok hari libur.
🌙️🌙️🌙️
"Aku buatin kamu makanan ya Kevin ?"
Juli membantu Kevin merapikan perlengkapannya.
Sudah seperti sepasang suami istri saja.
"Aku mau kamu Juls . ."
Kevin memeluk Juli dari belakang.
"Aku kan pacar kamu."
"Aku mau lebih."
Kevin menciumi pundak Juli bergantian.
"Maksud kamu lebih ?"
Juli mulai emosi mendengarnya.
"Jangan marah, maksudku ayo kita tunangan dihari yang sama dengan mas Damar."
Kata kata Kevin berhasil membuat Juli melotot, ia menepis tangan Kevin dan berbalik menatapnya.
"Kevin jangan main main !"
"Aku tidak main main sepertinya Juls.
Aku cukup mapan meski tidak sekaya kakakku.
Sebentar lagi aku lulus, hubungan kita sudah lama untuk saling mengenal."
Kevin mecengkram lebmbut bahu Juli meyakinkannya.
"Aku sudah siapkan air hangat, lebih baik kamu mandi dulu."
Juli mengalihkan pembicaraan, ia berjalan menuju dapur.
"Kamu masih menyimpan rasa padanya ?"
Kevin tidak mau berhenti begitu saja, dia terus menekan Juli.
"Kevin aku memilih kamu apa belum cukup membuktikannya ?"
Juli menghentakkan pisaunya ke atas papan.
"Lalu apalagi yang membuatmu ragu Juls ?"
"Kamu Kevin.
Aku tidak bisa menerima kesibukan kamu sekarang, bagaimana nanti jika kita menikah ?"
Juli menghela nafas kasar meredam amarahnya.
"Aku sibuk demi kamu Juls, demi masa depan kita yang bahkan aku juga belum yakin kamu mau atau tidak."
"Please Kevin, beri aku waktu untuk memikirkannya.
ini bukan masalah sepele."
Kevin mendekat memeluk tubuh kekasihnya. dia menyesal memaksakan kehendaknya pada Juli.
"Aku sangat lapar, ,"
Kevin meminta Juli meneruskan masakannya sementara dia akan mandi.
Juli menggigit kukunya gugup memikirkan permintaan Kevin.
__ADS_1