
Setelah sekian lama galeri milik Kevin terbengkalai, kini sudah ia buka kembali.
Juli langsung memposting pengumuman penting itu di akun media sosialnya.
Mendadak Juli menjadi seorang kurator. Selain untuk ganti rugi Juli juga bisa mendapat uang tambahan disetiap buah lukisan Kevin.
"selamat datang . ."
Beberapa mahasiswi yang sedang lewat melihat papan pengumuman dan mampir.
Mereka sangat tertarik karena tahu siapa pemiliknya.
"Bisakah kami berfoto dengan Kevin seandainya membeli lukisan miliknya ?"
Tanya salah satu diantara mereka pada Juli.
"Nona, itu artinya kamu tidak menikmati karya Kevin. Kamu membeli karena pamrih bukan karena tertarik pada lukisannya."
Juli penuh keberanian menolak permintaan konyol gadis itu.
"ya sudah kalau begitu, ayo guys kita cabut. Palingan harganya juga mahal mahal."
Dia mengajak teman temannya keluar, Juli hanya menggeleng tersenyum dibuatnya.
Di tangga Kevin memperhatikan sejak tadi. Ia ikut terkekeh menyaksikan kejadian itu.
Juli benar benar berbeda dari gadis lain yang pernah mendekatinya.
"selamat datang, silakan lihat lihat dulu."
Juli kembali menyambut tamu yang baru saja masuk.
Ia sangat terpesona hingga menganga. Cantik rupanya,
meski sudah berumur dan rambut disanggul yang sedikit memutih.
"Apa Kevin sudah sehebat itu, hingga memiliki kurator pribadi."
"mama . ."
Kevin bergegas turun setelah mendengar suara ibunya. Dia berlari memeluk Zara.
"Bungsu mama, mama sangat rindu."
Tangan Zara bergerak mengelus kepala Kevin. Juli yang menatap keduanya hanya bisa tersenyum bahagia.
Alangkah indahnya memiliki keluarga yang utuh.
"kenalkan mah, ini Juliana teman Kevin. Kami satu kampus dan dia jadi kurator di galeri Kevin."
Laki laki itu menarik Zara mendekati Juli.
"Aku Juli tante, tante cantik sekali."
Tanpa ragu Juli memuji Zara, ia tidak bisa menghindar dari kewibawaannya sebagai seorang ibu.
"kamu jauh lebih cantik sayang. Sudah berapa yang terjual Juls ?"
"Haha jangankan laku mah, Juli malah mengusir calon pelanggan."
Kevin meledek kinerja Juli didepan sang mama.
"oh ya ?
Pasti ada alasannya Juli begitu."
Zara beralih menatap Juli bersamaan dengan Kevin.
"Aku mau hasil karya Kevin itu bisa dihargai dan dinikmati. Bukan karena melihat siapa pelukisnya, lantas mereka tidak peduli pada nilai estetika seni itu sendiri."
Zara dibuat takjub oleh pemikiran Juliana, apalagi Kevin.
Setidaknya Juli juga memiliki ketertarikan pada lukisan yang dibuat Kevin.
"Seperti lukisan ini, mereka yang paham artinya akan sangat ingin membeli dan memajangnya di kamar mereka."
Juli menunjuk Lukisan Kevin yang abstrak, namun jelas itu gambar sebuah gerbang dengan hamparan rumput luas diluarnya.
"memang apa artinya itu bagi kamu sayang ?"
Rasa penasaran Kevin diwakili oleh pertanyaan Zara.
"Kebebasan.
Dia ingin bebas dari kungkungan yang selama ini menahannya. Untuk pergi ke dunia luar yang jauh dari bayangannya."
Mendengar jawaban Juli Kevin langsung memeluknya.
Zara tersenyum melihat adegan itu, sementara Juli masih tidak mengerti apa yang terjadi.
__ADS_1
"tarik dan bungkus lagi lukisan itu, akan aku hadiahkan pada kakakku. Terima kasih kamu sudah mengerti apa yang aku curahkan disana."
Juli melirik kearah Zara yang hanya mengangguk tersenyum.
"Lihatlah mah, Kevin tidak salah pilih merekrutnya."
"duduk tante."
Mereka bertiga duduk disofa ruang tamu, Juli naik keatas untuk mengambil sesuatu untuk disajikan.
"Mama kapan tiba di jakarta ? Mama lama kan disini, apa ayah juga ikut ?"
Kevin langsung melayangkan beberapa pertanyaan pada sang mama.
"Ayah sedang ke kantor pusat ketemu mas Damar. Mama sama ayah hanya datang untuk makan malam sama kamu, mas Damar dan juga nenek."
"Mah, menurut mama Juli gimana anaknya ?"
Zara mencium sesuatu yang tidak biasa dari gelagat Kevin.
"she's smart, easy going, and very humble.
Kevin kalian masih kuliah, mama bukan melarang tapi hanya mengingatkan saja.
Kamu harus ingat pesan ayah, jangan mengecewakannya."
Zara menggenggam tangan Kevin untuk memperingatkannya kembali.
"Mah Kevin bukan ayah zaman dulu, yang tega meninggalkan cintanya demi mencapai kesuksesan."
Kevin memang tahu semua cerita kedua orang tuanya dari Damar.
Jika mengingat tugas yang diembannya, terkadang Kevin merasa sesak dan tidak bisa bernafas.
Itu sebabnya dia melukis ilustrasi yang dijelaskan Juli tadi.
"bersabar Kevin, semua akan terjadi sesuai kehendak Tuhan. Mama sayang kamu nak."
Zara memeluk anak laki lakinya agar tidak stres memikirkan hal itu.
-Aku pikir kakaknya yang membutuhkan kebebasan itu. Ternyata Kevinlah tokoh lukisannya sendiri.-
Sejak tadi Juli mendengar bagian terpenting tentang kehidupan Kevin. Ia tidak bisa menguping lagi, Juli turun dengan secangkir teh dan dua minuman kaleng.
"Di minum dulu tante."
"Juli mau, ikut kami makan malam ?"
"Maaf tante bukan Juli menolak, tapi ada keperluan lain nanti sore."
Saat didapur Juli menerima pesan dari Alin untuk bekerja.
"ya sudah, kan bisa lain waktu.
Kalau begitu tante pamit ya, ada yang harus mama kerjakan Kevin.
Tante titip si bungsu sama Juli ya sayang."
Zara memeluk Juli sebelum pergi, Kevin mengantarnya kedepan hingga masuk mobil.
"Mama kamu baik sekali Kevin. Aku hampir tidak bisa bernafas karena gugup."
Juli kini sibuk membungkus kembali lukisan tadi sesuai perintah Kevin.
"udah kayak ketemu calon mertua ya Juls ?"
Kevin iseng menggoda Juli, ia ingin tahu apa reaksinya.
"Ngawur kamu."
Juli mendorong Kevin dengan sikutnya. Sementara laki laki itu membalas dengan menggelitiknya.
"Ampun Kevin, ampun geli."
Juli cekikikan menahan tawa.
"Akan aku ampuni asal kamu mengirim pesan padaku Juls. Aku belum terima nomer kamu."
Kevin bahkan meradang menunggu Juli mengirimnya pesan.
"oke, aku kirim sekarang haha ampun."
Keseruan berlangsung hingga akhirnya mereka harus berpisah.
Sebelum pulang Juli numpang mandi dikamar Kevin.
Saking buru buru ia tidak sempat melihat sekeliling kamar Kevin.
Kamar itu hanya sekedar tempat transit, tidak banyak barang hanya beberapa alat masak sederhana dan sejumlah foto.
__ADS_1
Di sebuah ruangan, kedua orang itu masih bersitegang menatap masing masing.
Belum ada kata terucap dari mulut mereka.
"Yah, jangan siksa Kevin dengan mengemban tanggung jawab besar. Damar gak mau ayah mencampuri kehidupan kami."
Damar melonggarkan dasinya merasa panas saat kembali harus membahas kehidupan pribadinya.
"Kalau begitu menikahlah secepatnya, kapan kamu akan keluar dari pusaran masa lalu ayah dan ibu Dee ?
Ayah tidak memaksa adik kamu, dia yang bersedia melakukannya.
Kalaupun dia tidak sanggup kan masih ada kamu.
Menikahlah, agar pendampingmu kelak bisa mengurus MHospital."
Sejak papi dan mertuanya pergi, Ditya berubah menjadi protektif pada kedua putranya.
Stres, Ditya harus membagi pikirannya pada perusahaan yang tidak boleh terbengkalai.
Zara sebagai istri hanya bisa menurut, membantu memberi pengertian pada anak anaknya.
Meski dalam hatinya ia tidak tega.
Untuk perusahaan obat milik Kevin sendiri, Zara tidak pernah menuntut banyak.
Toh sejak dulu papanya juga melepas dan mempercayakan pada stafnya.
Sesekali saja Zara akan mengajak Kevin mengecek pabrik.
"Pernikahan bukan untuk ajang bisnis Pak Komisaris.
Itu soal hidup yang akan menentukan bagaimana diri kita selanjutnya."
Damar yang masih kecil berbeda dengan sekarang.
Dulu dia belum mengerti apa apa, sekarang ia sangat tidak ingin menjadi seperti ayahnya.
Sikapnya berubah jadi dingin, tidak memikirkan hal lain selain perusahaan. Apalagi soal cinta, Damar enggan sekali meski itu hanya sekedar niatan.
"Maaf bu, Mr. Dee sedang ada tamu penting.
Apa ibu sudah ada janji sebelumnya ?"
Didepan ruang kerja Damar, Sekar kedatangan seorang wanita paruh baya yang hendak masuk.
"kamu sekretaris baru ?
Apa HRD tidak memberitahu silsilah keluarga CEO kalian ?"
Mendengar kata keluarga, Sekar langsung bisa menafsirkan kalau wanita dihadapannya adalah ibu komisaris.
"Saya minta maaf ibu, karena tidak bisa mengenali dengan baik.
Tapi saya hanya bertugas, akan saya kasih tahu Mr. Dee kalau ibu datang."
Sekar melakukan sambungan internal, memberi info pada Damar kalau mamanya datang.
"mari bu saya antar."
Sekar membukakan pintu untuk Zara, lalu meninggalkan mereka bertiga.
-sepertinya mereka tidak harmonis-
Batin Sekar melihat raut wajah ketiganya yang masam.
"mama . ."
Damar berdiri menghampiri Zara dan memeluknya.
"hi sulung, apa kabar Dee ?"
Mereka bertemu setelah beberapa bulan.
Damar akan berkunjung jika ada keperluan ke Yogya.
Sementara Zara jarang ikut Ditya ke Jakarta jika ada kunjungan kerja.
"baik mah.
Dee akan siapkan makan malam terbaik buat mama."
Damar sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kedua orang tuanya.
Zara adalah ibu sambung rasa ibu kandung.
Bahkan Damar lebih dekat dengan Zara dibanding Ditya sejak dulu.
Ingatannya saat kecil membuat Damar sadar kalau Ditya bukan panutannya dalam percintaan.
__ADS_1
"Antar mama ke kamar nak, mama ingin istirahat."
Damar mengangguk dengan senang hati.