Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
#134


__ADS_3

Damar membawa beberapa kantung belanjaan termasuk paperbag dari Ifan.


Juli melenggang cepat untuk membukakan pintu.


Dalam hati Juli tersenyum puas melihat laki laki itu kerepotan.


"Juls aku mandi dikamar tamu ya, lengket semua nih badanku."


Beres menaruh barang barang di meja bar Damar pamit mandi tanpa mendengar persetujuan Juli.


"Kasihan juga pak Damar. ."


Juli menutup mulutnya menahan tawa.


Dret dret. .


Handphone milik Damar bergetar nada panggilan, dia juga sembarang menyimpannya diatas meja.


Terlihat nama Jihane pada layar.


Juli geregetan ingin sekali mengangkat panggilan itu dan memaki penelponnya.


Rasa hormat Juli hilang seketika mengetahui sifat baru dari Jihane.


Juli meraih handphone seharga 30 juta lebih itu kemudian masuk ke kamar tamu.


Tok tok . .


Juli mengetuk pintu kamar mandi tak sabaran.


"Ada apa sih ?"


Untungnya Damar sudah selesai bersih bersih.


Juli berbalik kaget melihat Damar hanya berbalut handuk.


"Nih, Jihane telpon."


Juli menyodorkan benda pipih itu hampir menyentuh wajah tampan Damar.


Maklum saja Juli tidak melihat karena membelakanginya.


"Halo, ada apa sih ?"


Tanya Damar ketus bernada dingin.


-Mas Damar mau kan maafin aku ?


Lagipula sekarang Juli pasti sangat membenci kamu mas.


Karena aku bilang sama dia aku mungkin hamil anak kamu.


Dia tuh polos banget, pasti langsung percaya.-


Damar sengaja menyalakan mode loudspeaker agar Juli bisa mendengar kecurangan Jihane.


Mata Juli membulat sempurna mengetahui dirinya dibodohi.


Tangannya mengepal kesal dibuat Jihane.


"Kamu salah Ji, Juli itu gadis pintar. Mana mungkin dia percaya kata kata dari mulut perempuan ambisius sepertimu."


Damar terkekeh geli menanggapi rasa percaya diri Jihane.


"Jihane semoga beruntung bersama Romi."


Juli mendekatkan wajahnya ke hadapan Damar agar bisa ikut bicara pada Jihane.


Damar puas Juli memukul perempuan itu telak.


Harusnya ia memang bersikap tegas terhadap teman macam Jihane.


Damar mengacungkan jempolnya bangga.


"Awas aja kalian !"


Jihane tak terima dirinya kalah begitu saja langsung memutus sambungan.


Juli bertatapan dengan Damar sedetik kemudian keduanya tertawa puas melihat Jihane dipermalukan oleh mereka.


"Kamu dengar sendiri kan Jihane seperti apa, besok besok jangan percaya siapapun kecuali aku."


Damar berjalan menuju lemari guna mencari pakaian ganti.


"Aku minta maaf sudah meragukan bapak."


Juli menunduk memainkan kedua ibu jarinya.


"Juls banyak sekali baju Kevin, dia sering menginap ?"


Damar memakai kaos oversize milik sang adik.


"Hanya dimalam minggu, katanya butuh waktu istirahat. Kami tidak pernah melakukan apapun kok pak, sumpah !"


Juli cepat cepat menjelaskan kalau Kevin datang saat dia sudah sangat lelah bekerja sekaligus kuliah.


"Aku percaya, kalian anak anak yang baik."


Damar meledek Juli.


"Enak saja, aku kan 21 sekarang.


Kalau dianggap anak anak terus kapan bisa nikah pak . ."


Juli melangkah kesal keluar kamar.


Damar seolah mendapat lampu kuning dari gadis incarannya.


Terlukis senyum bahagia diwajah Damar.


Juli mulai menyiapkan bahan bahan untuk memasak menu kesukaan Damar.

__ADS_1


Sementara laki laki itu duduk memandanginya dimeja bar.


"Juls, ,"


Panggil Damar,


"Iya pak ?"


Jawabnya tanpa berbalik, ia harus segera menyelesaikan masakannya sebelum Damar kelaparan dan menghabiskan satu pak keju.


"Nikah yuk !"


Ajaknya enteng tanpa beban.


"aww . ."


Juli meringis kesakitan, salah satu jarinya tak sengaja keiris pisau akibat kaget mendengar lamaran Damar.


"Juls sini . ."


Damar berlari mendekati Juli, meraih jarinya yang teriris kemudian menghisap darahnya.


"Udah pak berhenti, nanti aku malah jadi vampir."


Juli merengek layaknya anak kecil tidak ingin diobati papinya.


"Kebanyakan nonton film kamu Juls, ,"


Gelak tawa Damar mengisi ruangan yang sudah cukup lama terasa sepi tak bertuan.


"Aku serius loh melamar kamu . ."


Damar mengeluarkan satu kotak kecil dari paperbag dibelakangnya.


Sebuah cincin berlian sederhana ia sodorkan dihadapan Juli. Tak lupa Damar juga berlutut agar yang dilamar terkesan.


"Jadi istriku, wanitaku, teman hidupku, ibu dari anak anakku kelak."


Juli masih terpaku mendapati dirinya dilamar seorang laki laki dewasa siap menikah.


Tapi apa dirinya siap menjadi seorang istri ?


"Pak aku masih kuliah, aku punya cita cita juga impian."


Juli beralasan.


"Artinya kamu mau Juls, hanya belum siap.


Kamu bisa mendapatkan apapun bersamaku, aku tidak akan membatasi pendidikan kamu."


Damar meyakinkan Juli kalaupun mereka menikah tidak akan ada yang berubah nantinya.


"Boleh aku memikirkannya dulu ?


Ini terlalu mendadak, kita sama sama baru putus.


Ada perasaan yang harus dijaga pak"


Maksud Juli Kevin, jelas sekali Damar mengerti.


Damar tersenyum kemudian memberikan kotak cincin itu keatas telapak tangan Juli.


"Terima kasih bapak sudah mau mengerti."


Juli bergerak memeluk Damar mesra. Tidak apa kan Juli melakukannya, sudah lama ia merindukan lelaki itu menghiasi hari harinya.


"Hmm kamu sangat cantik saat manja seperti ini."


Bisik Damar.


Dengan cepat Juli mengeluarkan dirinya dari kungkungan Damar. Bahaya jika mereka terus seperti ini, bisa bisa Damar memangsanya lagi.


"Aku terusin masak dulu."


Juli bersikap canggung setelah resmi dilamar Damar.


Juli meneruskan masakannya, ia ingin membuat spageti bolognaise kesukaan Damar.


Untuk Juli sendiri ia suka aglio e olio karena rasanya pedas ditambah ada udangnya.


"Ada apa Kevin ?"


Damar mengangkat telpon dari adiknya.


Juli memperhatikan raut wajah Damar yang tampak gusar setelah menerima telpon dari Kevin.


Tidak lama percakapan mereka, Juli menghampiri Damar untuk mengetahui ada masalah apa.


"Ada apa pak ?"


Juli memegang lengannya.


"Nek Atikah Juls , ,


nenek masuk rumah sakit."


Suara Damar lemah, perasaannya jadi tidak karuan mendengar kabar buruk yang disampaikan Kevin.


"Semoga nenek cepat sembuh, ,"


Juli turut prihatin.


"Aku harus ke MHospital Juls, maaf tidak bisa menyantap masakan kamu."


"Aku ikut."


Pinta Juli.


"Kamu disini saja, pasti capek kan ?"


Damar tidak ingin merepotkan Juli.

__ADS_1


"Pokoknya aku mau ikut titik."


Juli memaksa ingin pergi bersama Damar menjenguk Atikah.


"Oke baiklah, kamu mandi sebentar gih biar seger."


Juli mengangguk menuruti perintah Damar tanpa berdebat lagi.


Sesampainya mereka dirumah sakit, Damar diberitahu Kevin kalau nenek dirawat diruang ICU.


Tangan Juli masih terus menggandeng Damar sejak keluar dari mobil.


Kasihan Damar, dia sangat menyayangi nenek yang sudah merawatnya sejak bayi.


Wanita tua yang melahirkan ibunya.


Didepan kamar sudah ada Kevin menunggu kedatangan Damar. Dia duduk dikursi tunggu dengan wajah cemas.


Dilihatlah oleh Kevin mereka sangat dekat bahkan didepan matanya.


Ah bukan saatnya Kevin cemburu, dia harus memberitahu kakaknya keadaan Atikah.


"Nenek bagaimana Kevin ?"


Damar tak sabaran ingin tahu kondisi sang nenek.


"Jantungnya melemah, selama ini nenek gak pernah mengeluh apapun sama aku mas.


Nenek juga tidak punya riwayat penyakit serius."


Kevin memang tinggal bersama Atikah selama ini.


Dia sangat terkejut saat tahu Atikah pingsan karena serangan jantung.


"Ini salahku, harusnya aku menjaga nenek dengan baik."


Damar mengusap wajahnya kasar jika mengingat dirinya sebagai cucu tidak pernah menengoknya.


"Aku yang tinggal sama nenek, harusnya bisa lebih perhatian sama nenek."


Kevin tak kalah merasa bersalah.


"Gak ada gunanya kita saling menyalahkan diri sendiri.


Mending kita berdo'a buat kesembuhan nek Atikah."


Juli menyudahi perdebatan diantara Damar dan Kevin.


"Permisi dokter Kevin, bu Atikah ingin bertemu dengan kedua cucunya."


Suster baru saja keluar setelah memeriksa keadaan Atikah.


"Juls kamu ikut ya ?"


Damar mengajak Juli masuk.


"Aku tunggu disini dulu, nanti gantian jenguknya."


Juli mengerti tidak ingin mengacaukan suasana.


"ayo mas !"


Kevin meminta Damar cepat, dia menatap Juli seperti tak suka dengan kehadirannya.


"Hi nek , ,"


Sapa Kevin pada wanita yang memakai selang oksigen dihidungnya.


Suara mesin pendeteksi detak jantung mengisi kamar sepi itu.


"Kemarilah !"


Lirih Atikah meminta keduanya mendekat.


Dua cucu laki lakinya masih saja diam.


Mereka sedih melihat nenek kesayangan harus sakit terbaring lemah.


"Jangan sakit dong nek, Damar janji bakal nurut sama nenek."


Damar menggenggam tangan Atikah penuh penyesalan.


"Tolong panggilkan orang tua kalian, nenek udah gak punya banyak waktu."


Atikah memerintahkan mereka agar datang segera.


Damar melirik Kevin, hatinya hancur mendengar ucapan nenek.


"Biar Kevin telpon mereka sekarang."


Kevin melangkah menjauh kemudian melakukan panggilan.


"Nek, Juli ada diluar.


Damar sudah melamarnya sebelum kesini.


Nenek harus kuat dan menyaksikan kami menikah."


Bisik Damar pada nenek, dia masih harus menjaga perasaan adiknya Kevin.


"Bagus, yang kamu lakukan itu sudah benar Dee.


Nenek berdo'a untuk kebahagiaan kamu dan dia."


Dengan segala kekuatan yang tersisa, Atikah tersenyum pada Damar.


Hanya Atikah, keluarga Damar


yang bisa mengerti perasaannya. Bagaimanapun dia adalah darah daging puterinya Zoya.


"Secepatnya mereka berangkat ke Jakarta nek.

__ADS_1


Grand Ma juga mau ikut."


Kevin menyudahi percakapan telpon lalu memberitahu Damar dan nenek.


__ADS_2