
Ting . .
Bunyi pesan masuk ke handphone Ditya yang sedang mengeringkan rambutnya menggunakan handuk.
Dia berjalan menuju nakas dan duduk ditepi ranjang untuk membuka pesan itu. Ada harapan besar kalau Zaralah yang mengechat.
From : +6285xxxxxx678
Mas Ditya, ini Zara
Benar saja, Ditya tersenyum lebar membacanya. Setelah disimpan menjadi kontak, Ditya menelpon Zara.
"halo . . Zara ?"
Sapanya ragu ragu, Ditya terdengar malu malu menelpon terlebih dulu.
"iya, ada apa ?"
Tanya Zara disebrang sana, dikamar miliknya yang berada dirumah Kusuma Zara berguling guling gembira.
"besok pulang sekolah, aku jemput ya ? Sepupu Dee, anaknya adikku ulang tahun. Dee pengen kamu ikut hadir"
Pintanya sedikit berbohong, padahal dia sendiri yang mau.
Toh lagian nanti anaknya juga maksa ajak Zara, pikirnya.
"iya, aku ikut."
Jawab singkat Zara.
🍀🍀🍀
Keesokan harinya, Ditya benar benar mengajak Zara kerumah orang tuanya. Cantik sekali perempuan itu, memakai dres kemeja putih dengan belt besar. Makin terlihat seksi dengan sepatu boot hitam velvet.
"hore . . Dee seneng kalau begini, serasa punya mama."
Saat turun dari mobil, Dee berteriak kegirangan sampai loncat loncat.
Ditya dan Zara terkekeh menyaksikannya.
"maafkan Dee ya . . Saya jadi tidak enak sama kamu."
Keduanya berjalan menyusul Dee yang sudah masuk lebih dulu.
"tidak apa apa, aku senang lihat Dee gembira."
Pernyataan Zara seperti sebuah signal, benarkah dia siap didekati oleh Ditya.
Suasana rumah sudah sangat ramai, meski hanya keluarga dekat saja yang datang. Termasuk Milka dan Erwin, mereka hadir bersama puteranya Malvin. Usianya beda 2 tahun dengan Dee, dia baru masuk sekolah TK.
"itu kak Adit, sudah datang . ."
Tia melihat Ditya berjalan bersama seorang perempuan. Semua melirik kearahnya, penasaran dengan yang dimaksud Arga.
"semuanya, kenalkan ini namanya Zahrani. Panggil saja Zara, dia guru disekolah Dee."
Ditya secara formal memperkenalkan Zara, keluarganya benar benar dibuat terpesona dengan parasnya yang cantik.
"onti Zara calon mama buat Dee !"
__ADS_1
Teriakan Dee memekik ditelinga, Zara merasa tidak enak pada keluarganya.
"Dee, tolong jaga sikap. Kasihan miss Zara."
Zara merasa gugup, seakan dia diperkenalkan sebagai calon istrinya Ditya.
"yuk, kita mulai aja acaranya. Keburu malem loh."
Bu Aulia memecah keheningan yang terjadi diantara mereka.
Setelah acara tiup lilin dan potong kue, semua keluarga menyantap hidangan yang sudah disiapkan.
Zara mendekati Rara yang berulang tahun, dia memberi sebuah kado untuknya.
"selamat ulang tahun Rara cantik, semoga rara jadi anak pintar dan nurut sama orang tua."
Anak perempuan itu hanya tersenyum girang mendapat hadiah.
"gue gak suka ya, loe sok dekat sama keluarga Ditya. Dan perlu gue ingatkan, gak ada yang bisa gantiin Zoya !"
Sejak pertemuan pertama tadi, Milka tidak suka dengan keberadaan Zara.
"maaf mbak, saya disini hanya memenuhi undangan Dee dan juga mas Ditya."
Zara mencoba ramah padanya, meski perasaannya tersinggung sekali dengan perkataan Milka.
"Milka, jangan begitu. Sudah bukan urusan kita ikut campur."
Erwin melihat dari jauh kalau istrinya bersitegang dengan Zara. Dia datang menghampiri untuk melerai.
"terima kasih sudah datang, nanti minggu depan kita kumpul lagi di acara sweet seventhnya Damar Ditya ya !"
Bu Aulia memberikan pidato terakhirnya pada tamu undangan yang kebanyakan teman dan tetangga seusia Rara.
Baginya, kebersamaan lebih penting dari apapun.
Kasihan juga, Dee biar ada yang mengurus saat Ditya sibuk.
"terima kasih kamu sudah mau datang."
Ditya mengantar Zara didepan untuk naik taxi. Padahal dia sudah maksa mau mengantar, tapi Zara menolaknya.
"aku pamit ya mas, salam untuk Dee."
Sendu diwajah Zara, terlihat jelas oleh Ditya. Pasti ada sesuatu yang menyinggung perasaan gadis itu.
"hati hati."
Pintu penumpang Ditya bukakan, Zara masuk dan taxi membawanya keluar dari rumah.
"Ditya gak suka, kalau ada yang menyinggung perasaan Zara."
Diruang tengah, Ditya merasa kecewa dengan sikap keluarganya saat Zara bertamu.
"Dit, aku gak suka kalau kamu dekat sama dia. Dia itu memanfaatkan Damar untuk dekat sama kamu."
Milka orang yang paling berani menentang kedekatan Ditya dan Zara.
"Milk, kalian semua selalu minta aku cari ibu buat Dee. Sekarang aku sedang mencoba, tapi kalian menunjukkan sikap tidak suka padanya."
__ADS_1
"apa kamu sudah lama mengenal Zara ? Siapa orang tuanya, bagaimana kehidupannya."
Bu Aulia membela Milka, bukannya beliau melarang. Ia hanya tidak ingin anaknya kecewa atau di permainkan.
"baik, tidak ada gunanya lagi Ditya dan Damar disini. Kalau memang kalian tidak setuju, biar kami sendiri menjalani kehidupan yang kami pilih."
Ditya naik ke atas, dia berniat untuk membawa Damar pergi dari rumah keluarganya.
"Ditya, biarkan Dee tinggal disini ! Kasihan kalau kamu ajak dia, Dee akan kesepian saat kamu sibuk."
Pak Mahesa berharap Dee tidak menjadi korban keegoisan Ditya.
"Dit, kami hanya khawatir sama kamu. Butuh tahunan, kamu mendapatkan ibunya Dee. Kalian baru kenal, janganlah dulu ambil keputusan."
Erwin ikut mengingatkan sepupunya, semoga bisa mempertimbangkan.
Ditya tak bergeming, dia hanya berjalan keluar rumah sambil menggandeng Dee.
Menurutnya ini sudah yang terbaik, biarkan kalau keluarganya tidak setuju. Toh yang akan menjalani adalah dia dan anaknya.
"nenek pikir, kita terlalu keras padanya. Bukankah kita berharap dia bahagia."
Nek Hafsari menggerakkan kursi roda otomatisnya meninggalkan anak dan cucunya. Beliau masuk ke kamar yang terletak dibawah anak tangga.
Ditya pulang ke apartemennya, setelah Dee tidur dan beristirahat dia keluar sebentar.
Ting nong . .
Tangannya bergerak memencet bel rumah seseorang.
"mas Ditya ?"
Tanya perempuan yang matanya sembab, jelas dia pasti habis menangis pikirnya.
"bisa ikut ke bawah ? Dee baru saja tidur."
Zara menurut mengikuti langkah tegap Ditya. Baginya, sekarang dia sudah terikat diantara kehidupan mereka.
Sudah terlanjur basah untuk menghindar.
"katakan, apa salah satu anggota keluargaku mengatakan hal buruk sama kamu ?"
Ditya dan Zara duduk berhadapan dimeja makan, seperti sedang diintrogasi Zara merasa gugup dibuatnya.
"tidak ada, mereka orang orang baik. Pasti sangat menyayangi mendiang istri kamu."
Zara berusaha untuk tegar, ia tahu betul kalau kehadirannya sudah menimbulkan masalah bagi Ditya.
"aku minta maaf Zara, kamu harus terlibat. Bagaimana kalau kamu dan aku mencobanya ?"
Pertanyaan Ditya menghadirkan dua perasaan berbeda untuk Zara.
Pertama dia bahagia, Ditya mau membuka hatinya kembali. Kedua, kenapa harus dirinya ?
Ditya membutuhkan, bukan menginginkan Zara.
"baiklah, besok kita kerumah papaku. Kamu harus mengenalku lebih jauh mas, agar tidak kecewa kemudian hari."
Ditya dan Zara merasa sudah terjebak dengan keadaan. sama sama memutuskan untuk mengejar sesuatu yang sudah dibukakan jalannya.
__ADS_1
"iya, kita akan kerumahmu setelah menjempit Dee disekolah."
Zara hanya mengangguk, lalu ia kembali ke rumahnya. meski pergaulannya bebas, bukan berarti Zara seenaknya tidur satu atap dengan laki laki bukan muhrim.