
"mbah, Zara ke apotek dulu ya ?"
Usai sarapan, Zara pamit pada mbah putri. Di rumah itu mereka hanya tinggal berdua, juga seorang ART yang bekerja di pagi sampai sore hari.
"iya hati hati ndo, semoga rame ya."
Mbah putri mengulurkan tangannya untuk dicium cucunya.
Tak lama kemudian, Hafiz tiba didepan rumah. Laki laki yang beda usianya 3 tahun dengan Zara, memberi sebuah helm untuk dipakainya.
"apa tidak merepotkanmu mas ?"
Zara memakai helm, kemudian ia mulai duduk dibagian belakang.
"tidak sama sekali, mas ingin kenal Zara lebih jauh. Boleh kan ?"
Hafiz secara gentle mengutarakan niat tulusnya.
"ayo mas, nanti kamu bisa terlambat."
Zara mengalihkan pembicaraan, ia tidak ingin memberi harapan bagi Hafiz yang baru dikenalnya.
Beberapa hari ini Zara bekerja sebagai kasir di apotek papanya. Sekaligus memeriksa laporan harian. Kalau lagi ramai, ia akan ikut melayani.
Pasokan obat dikirim langsung dari pabrik obat Kusuma.
Saat senggang, Zara iseng melihat galeri foto di handphonenya. Foto saat Zara bersenang senang di dufan bersama Dee dan Ditya.
"Zara kangen kalian . ."
Gumamnya, mengelus foto itu.
"mbak Zara, ada yang ingin ketemu."
Satu satunya karyawan yang bekerja dihari minggu, memberitahu kedatangan seseorang.
"siapa ?"
Batin Zara, ia berjalan kearah etalase. Masak iya Hafiz balik lagi, bukannya dia harus kuliah.
"Zara . ."
Sapa pria itu berdiri seperti pelanggan yang ingin membeli obat.
"mas Ditya ?"
Zara heran dengan kehadirannya yang tiba tiba.
"Aku lapar sekali, bisa temani aku makan ?"
Itulah kata pertama yang keluar dari mulut Ditya. Bagaimana tidak, dia buru buru terbang dari jakarta hanya untuk menemui Zara.
"tunggu sebentar."
Zara pamit pada karyawannya, berjanji tidak akan lama. Karena ia hanya akan mampir k rumah makan terdekat.
Mereka berjalan beriringan menyusuri jalan. Masih belum ada yang berani membuka suara, sampai kaki mereka berhenti disebuah rumah makan khas jawa.
Tanpa tanya, Zara memesankan sup iga dan nasi putih lengkap dengan teh hangat.
Ya Tuhan, menu itu persis yang Ditya pesan ketika tiba di yogyakarta untuk bulan madu bersama Zara.
"kamu tidak suka makanannya mas ? Mau aku pesankan yang lain . ."
Zara hendak bangkit, namun urung ketika tangan Ditya mencegahnya.
"aku suka, tidak perlu."
Meski ragu Ditya langsung menyantap makanannya. Zara hanya memperhatikan, dia pasti sangat lapar.
Selesai Ditya makan, Zara harus kembali ke apotek. Kasihan Asih berjaga sendirian, bagaimana kalau ramai.
Benar kan, saat tiba apotek dipadati para pembeli. Zara langsung membantu, mencarikan obat yang sesuai resep.
Ditya ikut membantu, dengan mencarikan beberapa obat di lemari penyimpanan.
"kamu tidak lelah Zara ?
__ADS_1
Harus bekerja seperti ini, aku ingin kamu pulang !"
Ketiganya tengah bersantai sejenak, meminum es teh tawar penghilang dahaga.
"maaf mas, kamu jauh jauh kesini malah bantu bantu."
Zara berusaha tidak terpancing, malah membahas topik lain.
"pasti mama Atikah yang kasih alamat ?
Kamu ada kerjaan disini mas ?"
Ditya menggelengkan kepalanya dengan cepat, lalu meraih tangan Zara.
"aku kesini, kangen sama kamu. Berharap bisa sekalian jemput."
Gadis itu hanya menunduk, tak malu pada Asih hanya gugup berhadapan dengan Ditya.
"Disana aku sudah tidak ada tujuan mas, mungkin ak. ."
"aku tujuanmu Zara, jangan bohongi dirimu sendiri."
Zara bangun dari duduknya, melepaskan tangannya.
"Zara . .
Aku bawakan makan siang."
Secara mengejutkan, Hafiz datang ke apotek membawa 2 porsi bakso yang ia beli. Ditya berdiri memperhatikan laki laki itu, siapa dia ? Secepat itukah Zara melupakannya dan dekat dengannya.
"terima kasih mas Hafiz, kebetulan aku sudah lapar."
Zara menerima kresek, membiarkan Hafiz masuk kedalam.
"kenalkan mas, ini mas Hafiz teman baruku. Dan ini mas Aditya Mahesa . ."
"calon suami Zara !"
Ditya menyela, langsung membuat penegasan. Sesaat hening tercipta, Hafiz tersenyum tipis menerima jabatan tangan Ditya.
"Hafiz, senang bisa bertemu calonnya Zara."
Perasaannya bersalah pada Hafiz. Kalau saja mereka bertemu lebih awal sebelum Zara mengenal Ditya, mungkin saja ia mau dekat dengan laki laki itu.
Dilain sisi, Zara sedikit bahagia kala Ditya mengakuinya sebagai calon ibu dari Dee.
"Zara, sepertinya aku datang diwaktu yang tidak tepat. Aku permisi duluan, harus menyiapkan kedai."
Tidak ada gunanya lagi Hafiz berlama lama. Yang ada malah kikuk diantara mereka.
"sekali lagi suwun mas, baksonya."
Hanya bisa pasrah, Zara melepas kepulangan Hafiz.
"sepertinya dia menyukai kamu . ."
Bisik Ditya mendekatkan wajahnya ke telinga Zara.
"sayangnya aku tidak, ah kenapa juga aku tidak bisa menyukainya. ."
Usil, Zara sengaja menggoda Ditya. Pria itu kini masih menatap tajam kearahnya.
"kenapa ?"
Ditya penasaran.
"hatiku sudah untuk yang lain."
Jawaban Zara menghadirkan guratan senyum Ditya.
Jam pulang kerja, Zara mengajak Ditya menemui mbah putri. Mereka pulang dengan naik andong di sore hari yang cerah. Tak henti hentinya Ditya menatap Zara yang bahagia menyusuri jalanan kota.
"Zara . ."
Panggil Ditya mengalihkan pandangan gadis itu kearahnya.
"Apa kamu bahagia disini ? Bisakah kamu kembali saja ?!"
__ADS_1
-Aku bahagia karena kami disini mas, semakin istimewa suasana sekarang. Sejak kamu muncul, hariku kembali berarti. Bolehkah waktu berhenti saja ?-
Ditya masih menunggu Zara mengatakan sesuatu, lama sekali ia menatap pekat dirinya.
"Coba ada Dee ikut naik ini, pasti sempurna."
Jawab Zara ambigu, apa maksud sebenarnya Ditya dibuat bingung. Zara hanya tersenyum puas melihat ekspresi Ditya.
"mbah, ini mas Aditya. Pria yang Zara ceritakan."
Penuh rasa hormat, Ditya mencium punggung tangan mbah Putri. Si mbah mengelus ujung kepala Ditya yang menunduk.
"Ditya mbah, maafkan jika Ditya menyakiti Zara."
"Zara kedapur buat minum."
Karena ART sudah pulang, Zara memberi waktu untuk mereka berkenalan.
"menyakiti apa, Zara tidak pernah mengatakan itu nak. Dia malah bilang, kalau kamu pria pertama yang sudah membuatnya jatuh hati. Saat bertemu pertama kali, Zara terpesona ketika kamu menggendong putramu. Katanya kamu gagah, tampan dan berwibawa. Apalagi tahu kalau kamu adalah ayah dari muridnya. Murid yang selalu ingin disayangi Zara, seolah Zara memiliki saudara."
Begitukah Ditya dimata Zara, dia hanya tersenyum malu.
"benarkah mbah ?"
Antusias Ditya ingin mendengar lebih banyak.
"ya, dia mencintaimu tanpa alasan. Tidak peduli statusmu, maupun masa lalumu. Zara ingin sekali bisa membahagiakanmu nak. Tapi dia juga lupa, kalau ia juga butuh kebahagiaan itu."
Perlahan sendu mulai muncul diwajah Ditya.
Benar, hubungan bukan hanya menguntungkan satu pihak saja. Sepatutnya Ditya memikirkan hal itu.
Tapi tunggu, dirinya juga sudah mulai menyukai Zara saat dirinya tidak bisa menahan diri untuk tidak mencium bibir Zara.
"telinga Zara panas, kalian pasti lagi gosipin ?"
Zara datang dengan nampan berisi teh, teh poci asli dari pot tanah liat. Lengkap dengan gula batu sebagai pemanis, juga pisang goreng.
"wah, ,
Sudah lama Ditya gak lihat ini mbah."
Tergoda sekali Ditya, matanya sampai berbinar mencicip kudapan khas sore hari.
"makan yang banyak mas ! Sebelum kamu pulang."
Zara terkekeh, melihat Ditya yang tak sabar ingin memakan pisang goreng yang masih panas.
"Zara ikut pulang kan ?"
Tanya mbah Putri memastikan, yang ditanya hanya diam.
Pagi buta, Zara sudah mengantar Ditya ke bandara Adis. Ia masih mendengus kesal ketika Ditya susah sekali dibangunkan.
"jangan marah lagi, masak aku pergi lihat kamu cemberut. Kan gak asik Zara."
Ditya menarik pipi Zara dengan tangannya, agar tersenyum lebar.
"aww . . Sakit mas."
Meringis kesakitan, pelukan Ditya langsung menghangatkan tubuhnya yang sejak tadi menahan dingin.
"aku tunggu kamu pulang, kamu ingat wild card ? Aku memintanya Zara, pulanglah dan aku akan segera melamarmu !"
Sebuah kecupan mendarat dikening Zara, Ditya ingin gadis itu percaya dengan niat hatinya.
"mas, kayak di film film. Pisahan di bandara ternyata gak enak."
Zara malah menenggelamkan kepalanya didada Ditya.
Sayang sekali, panggilan penumpang sudah terdengar. Ditya harus segera boarding, dilihatnya Zara sedih melepasnya.
"jaga diri baik baik !"
Ucap Ditya pada Zara, dia melambaikan tangannya.
Perlahan sosok Ditya menghilang dari pandangan Zara.
__ADS_1
Kenapa rasanya sesak, harus kembali berjauhan dengannya.
Beginikah orang dimabuk asmara ? Baru kali ini Zara mengalami hal itu.