Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
#135


__ADS_3

Juli setia duduk dikursi menunggu Damar keluar.


Sudah masuk waktu isya mereka masih didalam.


Juli bahkan sempat sholat maghrib di mesjid halaman rumah sakit.


"Nenek mau ngobrol sama kamu , ,"


Kevin muncul dari balik pintu membuyarkan lamunan Juli soal lamaran Damar.


"Terima kasih."


Juli beranjak hendak masuk namun tangannya ditahan Kevin.


"Apa kamu bahagia tanpa aku ?


Benar kamu terpaksa menerimaku ?"


"Meskipun ada keterpaksaan, bukan berarti aku pura pura sama kamu Kevin.


Aku juga berjuang membalas perasaan kamu."


Juli bergerak memegang lengan Kevin, ia berharap jika pertemanan mereka masih berlanjut.


Juli senang memiliki sahabat seperti Kevin, ia rindu kebersamaan mereka tanpa embel embel urusan hati.


"Masuklah, nenek sudah menunggu."


Kevin menepis tangan Juli dengan lembut.


Jujur Kevin belum bisa melupakan Juli.


Bagi laki laki sejati mencintai satu perempuan saja sudah sangat sulit, apalagi melupakannya.


"Nek , ,"


Sapa Juli kemudian duduk di sebelah brankar berhadapan dengan Damar.


"Juli, boleh nenek minta satu permintaan sama kamu untuk diwujudkan ?"


Tanya Atikah seakan dirinya memang sudah menyerah pada keadaan.


"Selagi Juli bisa, memang apa itu nek ?"


"Segeralah menikah dengan Damar, nenek ingin sekali melihat cucu nenek bahagia."


Diliriknya Damar, laki laki itu juga cukup terkejut mendengar neneknya memohon untuk dirinya sendiri.


Juli bingung harus menjawab apa.


Menunda lamaran Damar mudah karena dia bisa mengerti.


Sementara menolak permintaan terakhir dari Atikah sangat sulit dirasa.


"Nenek kan tahu Juli masih kuliah. Nenek harus sehat dan cepat sembuh, agar bisa menyaksikan hari bahagia pak Damar."


Juli berusaha memberi pengertian pada nenek.


"Hmm . ."


Tiba tiba detak jantung nenek terdengar lebih cepat diatas normal.


Membuat Damar dan Juli panik takut terjadi sesuatu.


"Aku panggil dokter."


Juli lari secepat mungkin mencari keberadaan dokter yang menangani Atikah.


Kevin masih berada diluar, dia melihat Juli menangis kelabakan.


"Ada apa?"


Tanya Kevin buru buru ingin tahu.


"Dokter, nenek, Kevin jantungnya . ."


Juli tidak bisa menjelaskan karena ia memang tidak mengerti Atikah kenapa. Terlebih perasaannya tak karuan, jawabannyalah yang menyebabkan Atikah kambuh.


"Tenanglah !"


Kevin berusaha menenangkan Juli setelah dokter dan suster masuk kedalam.


"Ini salah aku Kevin, aku penyebab nenek seperti ini."


Lutut Juli rasanya lemas terlalu tegang.


Jika terjadi sesuatu pada Atikah Juli tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.


"Coba kamu berpikir panjang tadi, nenek mungkin masih baik baik saja Juls.


Apa susahnya tinggal bilang iya ?"

__ADS_1


Damar membentak Juli, ia keluar setelah suster menyuruhnya.


"Mas, ada apa sih ?


Kamu jangan marahin Juli, kasihan dia shock."


Kevin tidak terima melihat Damar memarahi Juli.


Biasanya kakaknya tidak akan seperti itu pada perempuan yang mereka cintai.


"Aku minta maaf, aku tidak bermaksud membuat nenek sakit."


Juli menangis kencang, suaranya bahkan mengisi lorong sunyi koridor VIP.


"Cukup !


Sebaiknya kita jangan berdebat disini."


Kevin menyudahi percekcokan yang terjadi diantara mereka.


Dia pusing mendengar Juli menangis, Kevin khawatir neneknya semakin memburuk.


"Bagaimana dok keadaan nenek ?"


Damar menghampiri dokter meminta informasi terkini kondisi Atikah.


"Jantungnya melemah, tolong jangan buat pasien tertekan. Kami sudah berusaha memberikan yang terbaik. Sisanya berdoa saja pada Tuhan semoga ada keajaiban."


Terang dokter, wajahnya sendu seolah menyiratkan Atikah mungkin tidak akan selamat.


Juli semakin merasa bersalah mendengarnya.


Kalau saja ia menyetujui saja mungkin Atikah bisa sembuh.


Benar apa kata Damar, Juli egois hanya memikirkan perasaannya tanpa peduli kesehatan Atikah.


"Sebaiknya kamu pulang Juls !"


Perintah Damar, dia berbicara membelakangi gadisnya.


"Aku , ,"


Juli melirik Kevin, laki laki itu mengangguk meminta Juli menuruti keinginan Damar.


🌙️🌙️🌙️


Malam semakin larut namun Juli masih sulit memejamkan matanya.


Kalau hal terburuknya menimpa Atikah artinya Juli akan menjadi seorang pembunuh.


Ah, andai waktu bisa Juli ulang ia akan siap menerima lamaran Damar.


Tapi baginya ini bukan hal mudah, Juli butuh waktu untuk memikirkannya matang matang.


Ting nong . .


Bel pintu berbunyi menandakan seseorang akan bertamu.


Juli menyeka air matanya kemudian berjalan lesu membuka pintu.


"Tante Zara . ."


Sapa Juli melihat seorang wanita berdiri dihadapannya membawa sebuah kebaya beserta samping dilengannya.


"Aku mohon sama kamu, wujudkan keinginan terakhir mamaku. ."


Zara menyerahkan pakaian akad itu persis didepan wajah Juli.


Tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut Juli.


Tangannya bergerak tanpa perintah menerima kebaya pemberian Zara.


"Waktu kita tidak banyak Juls, tante tunggu di mobil."


Zara pergi meninggalkan Juli, memberinya waktu untuk berganti pakaian.


Sementara di rumah sakit tepat didepan kamar Atikah, Damar sudah diap dengan stelan jasnya.


Tangannya bertautan gugup menunggu kedatangan Juli.


Sudah hadir juga pihak kantor urusan agama yang akan menikahkan mereka.


"Loe sudah melakukan hal paling benar mas. .


Nenek memikirkan hidup kalian."


Kevin menepuk pundak Damar menyemangati kakaknya.


Ditya berbincang bersama kedua penghulu.


Dia meminta mereka menyiapkan surat surat resmi termasuk buku nikah. Meski tidak akan jadi dalam waktu dekat asal pernikahan si sulung juga resmi secara hukum.

__ADS_1


Dejavu bagi Ditya.


Seolah nasib putera pertamanya mirip dengannya dan Zoya.


Memang buah jatuh tidak jauh dari pohon itu ternyata benar.


Tapi bukan masalah besar, mengingat keduanya memang jelas saling mencintai.


Hanya saja terkesan buru buru demi mengabulkan keinginan terakhir sang mertua.


"Itu calon pengantin wanitanya pak."


Ditya lega melihat Zara berjalan menggandeng Juli.


Tak kalah, Damar akhirnya bisa bernafas lega Juli tidak menolaknya.


Meski dia tahu Juli sama sekali belum siap menikah.


Apalagi serba mendadak begini. Pastinya gadis itu memimpikan pernikahan pada umumnya.


"Bisa kita mulai sekarang ?"


Tanya penghulu.


Mereka sudah berkumpul mengelilingi brankar Atikah.


Bara kebetulan shift malam menjadi saksi akad bersama perawat laki laki asistennya.


Tidak ada keluarga dari pihak Juli, wali mereka serahkan pada pihak penghulu.


Mas kawinnya sederhana yaitu apartemen yang Juli tempati saat ini, ditambah uang tunai sejumlah 500.000 sisa mereka belanja tadi sore.


"Saya terima nikah dan kawinnya Juliana binti David Siahaan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai !"


Jelas dan lantang Damar mengucapkan kalimat ijab qabul meski belum belajar sama sekali.


"Bagaimana saksi ?"


Penghulu memastikan.


"S A H !"


Jawab semua yang hadir di ruang rawat inap itu.


Alhamdulillah, ,


Ditya juga Zara merasa lega sudah melepas Damar menikah dengan gadis yang dicintainya.


"Selamat kalian sudah resmi jadi suami istri secara agama. Silakan istri mencium tangan suami, dan suami menyentuh ubun ubun istrinya."


Perintah penghulu sesuai anjuran agama islam.


Juli menuruti apa yang dikatakan penghulu begitupun Damar.


Atikah tersenyum menyaksikan pernikahan cucunya.


Beban hidupnya berakhir setelah tahu Damar menikah.


Atikah sayang sekali pada Damar sehingga ia selalu khawatir Damar masih trauma terhadap pernikahan.


Kenyataannya laki laki itu mau menjalani hubungan serius hanya dengan satu gadis yaitu Juliana.


Atikah menutup mata sedetik kemudian.


Bunyi panjang pada monitor perekam jantung membuat semua panik.


"Silakan tunggu diluar !"


Pinta Bara, merekapun menurut berhambur keluar ruangan.


Bara stay bersama perawat dibantu Kevin.


Mereka melakukan prosedur memacu jantung menggunakan defibrillator.


3 kali sudah Bara menempelkan alat kejut jantung itu pada dada Atikah, namun tidak muncul lagi detak jantungnya.


"tolong catat waktu kematian pasien !"


Perintah Bara pada asistennya.


Kevin duduk terkulai dilantai mendengar nenek sudah pergi meninggalkan mereka semua.


Bahkan disisa nafasnya nenek memikirkan Damar seorang.


Hati Kevin hancur rasanya, bukan karena iri.


Harusnya nenek sembuh setelah melihat Damar menikah, kenapa malah tega menutup usia.


Bara berjongkok menepuk pundak Kevin ikut berbela sungkawa secara mendalam.


Kemudian dia keluar untuk memberitahu kekuarga mengenai kabar duka.

__ADS_1


__ADS_2