
"eeehhhh gak tau ya La? Botan Atan gini banyak yang suka kaliii ya gak temen-temen????" Ujarnya meminta pendapat pada teman sekelasnya.
"Enggaaaak!" Serempak mereka menjawab enggak dan membuat Nathan cemberut. "Soalnya kita lebih suka sama Sarden ABC daripada botan Atan hhhaaaa..."
Serempak pula mereka tertawa, Laila juga ikut tertawa melihat Nathan terpojok. "Sudah ketawanya, Laila cepat kembali duduk."
"Iya Bu, permisi. Wassalamu'alaikum." Ucap Laila dan kembali duduk ke tempatnya.
Bu Farida kembali menyebutkan nama nama muridnya, hingga nama Safira tersebut juga, entah akan ada accident apalagi di perkenalan Safira.
"Heloo kawaaan baruuu, kenalin nama gue, Safira Khantanisa, alumni SMP Merpati Putih 1. Biar gak keliru manggilnya, panggil aja Fira atau Ira, asal jangan Sapi, soalnya gue manusia hhheeee." Tutur Safira mengenalkan diri, 'masih normal' Bu Farida bergumam dalam hatinya.
Nathan yang sedang menatap serius seketika mengernyit bingung saat Safira menyebutkan kata 'Sapi', ia jadi ingat saat ia tak sengaja menelpon nomor orang yang entah siapa, dengan nama pengguna '~Safiii'. Tunggu, tunggu, jika diperhatikan lagi suaranya juga hampir sama, apa jangan jangaaaaan???
"Ada yang mau nomor gueee??? Gue kasiiih 2 seringggit bwahahaaaa candaaaaaa." Tambah Safira, 'mulai ngelantur ini' Bu Farida kembali bergumam dalam hati. "Kalo mau boleeeh koook, kan gue juga sama kek temen gue, 'joker sejati' nih hhheee."
"Yang mau boleh di catet, denger yaaaahhh, kosong, delapan, satu, lima. Udaaah?" Nathan mengambil handphone nya dan akan menyamakan dengan yang Safira sebutkan. "Delapan, delapan, satu, tujuh."
"Empaaaaat,,, angka lagi kalian cari aja, usahaaa hheeee." Angka terakhir yang hanya setengah Safira sebutkan membuat para siswa mendesah kecewa.
Termasuk Nathan, "iiikh, ini tinggal tiga angka lagiii, gue rasa pasti beneran Safira deh." Gumam Nathan dengan wajah gusar.
"Napa Nat?" Tanya Erlangga merasa bingung, karena Nathan berbicara sendiri.
Nathan menggeleng dan meletakkan kepalanya dimeja, lalu terdengar menghembuskan nafas berat.
"Salam kenal semuanya, makasiiih perhatiannya." Ucap Safira sebagai ucapan penutup.
Kemudian Bu Farida melanjutkan mengabsen siswa/i nya yang hadir maju kedepan dan yang masih belum masuk sekolah yaaa tidak kedepan laaah hhheeee.
"Alhamdulillah, ada yang terlewat tidak?" Bu Farida mengucap Hamdallah saat menutup buku daftar siswa dan bertanya takut ada yang terlewat.
"Tidak Bu!" Jawab mereka bersamaan setelah saling pandang.
"Sekarang saatnya pembagian organisasi siswa, mumpung ada waktu sepuluh menitan kurang lagi, kita bagi organisasi siswa yaah?" Ujarnya seraya melihat jam yang bertengger ditangannya.
"Siaap Bu!"
__ADS_1
"Yang ingin mencalonkan diri sebagai ketua kelas, cepat berdiri sambil acungkan tangan yaaah, empat orang tercepat yang akan menjadi kandidat nya,-" belum selesai Bu Farida berbicara ada lebih dari enam orang berdiri sambil mengacungkan tangannya. "Ibu belum meminta lohh?? Duduk dulu cepat."
"La Lo mau jadi ketua kelas? Yakin? Waktu SD Lo nyerah tuh, gara-gara muridnya pada bandel." Ujar Safira karena Laila tadi ikut berdiri.
"Nyoba laaah, lagipula siapa yang mau pilih gue hhheee." Jawab Laila sambil nyengir.
Sedangkan di meja tetangga, "Ga? Lo jadi Ketua kelas yaaah? Pasti merdeka ni kelas kalo Lo ketuanya hhhaa." Usul Nathan.
"Males." Jawab Erlangga singkat.
"Erlangga, Erlangga pliss pliss, demi kemerdekaan kelas dan juga gue, Lo harus ikut jadi salah satu kandidat!" Nathan memberi usulan dengan sedikit paksaan.
"Maleeees." Erlangga pun tetap kekeh dengan pendiriannya.
"Ga, Ga ayoooo plisssssss...." Nathan masih memohon sambil memasang raut wajah melasnya.
"Yadeh, maksa beud dah Lo hehh!" Pasrah Erlangga walaupun setengah hati.
"Ayo, ibu hitung sampai tiga, yang berdiri dan mengacungkan tangannya lebih cepat, akan menjadi kandidat nya yaaa." Ucap Bu Farida memberi peraturan nya. "Satu,,, dua,,, tiga! Ayok berdiri!"
Yang tadinya lebih enam orang, sekarang malah pas empat orang, yang otomatis semuanya menjadi kandidat. Mungkin jika dipikir lagi oleh mereka, jadi ketua kelas itu, seru kagak, cape iya.
"Heumm, tadi mah banyak banget yang berdiri, kok sekarang jadi pas gini? Yasudah, nanti kita lakukan vootingnya yah, sekarang kita istirahat terlebih dahulu." Putus Bu Farida sambil membereskan daftar dan agenda kelas IPS 1.
"Ya Bu."
"Ibu permisi yahh, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam." Jawab mereka serempak. Setelah Bu Farida keluar dari kelas, baru satu langkah dari pintu, murid kelas itu telah riwehh:v
"Asiiiiik istirahat, jajan kuy gayss!" Seru salah seorang siswa dan berlari keluar kelas setelah berteriak disusul siswa siswi lain yang tak kalah hebohnya.
"Gilaaa! Kok gue bisa yahh masuk ke kelas yang huniannya para satwa liar." Ujar Laila merasa terbebani dengan keadaan kelasnya yang berisik dan pada absurd semua.
"Kek yang waras aja." Gumam Safira dan memalingkan wajahnya.
"Seenggaknya gue gak sebutin nomer handphone pas kenalan." Balas Laila sedikit sewot.
__ADS_1
"Seenggaknya juga gue gak bawa bawa tanggal lahir." Safira terus menjawab.
"Seenggaknya kalian diem, dan kita jajan ke kantin, lapeeeer." Saut Nafisa menengahi akar perdebatan antara kedua sahabatnya.
"Sa! Ngantin gak? Bareng yuk!" Ajak Nathan yang sudah duduk di meja.
"Boleh deeeh, Erlangga mana???" Tanya Nafisa saat Erlangga sudah tak ada disamping Nathan.
"Ke toilet."
"nanti Erlangga sama Laila bakal jadi rival sementara dong yah?" Timpal Safira yang tadi diam, lalu melirik Laila.
"Emang kenapa?" Tanya Nathan bingung.
"Lo lupa? Kan mereka jadi kandidat Ketua kelas. Otomatis bakal jadi rival dong." Jelas Safira dengan wajah songongnya.
"Ya juga sih? Tapi kalo Erlangga jadi ketuanya, terus Laila wakilnya, peuuu! Cocok daaah!!" Ucap Nathan asal jeplak.
"Hehh! Lo ngejodohin gue sama dia secara gak langsung yah!" Sewot Laila tak terima, padahal dalam hati bersorak bahagia jika memang seperti itu.
"Gapapa, Erlangga gak bakal nolak Lo kok, pasti!" Ucap Nathan dengan nada penuh keyakinan.
"Masa iya cewek nembak cowok, gak jentel." Ucap Laila meremehkan sambil menjentikkan jari.
"Bodoo amat kalo gak percaya." Ujar Nathan seolah tak perduli dan mengedipkan bahunya. "Yok ahh, ngantin. Sa Fi Sa ayoooo!" Ajak Nathan pada Nafisa.
"Sama Nafisa doang kita mah kagak, ya kan La?" Sindir Safira sambil melirik Laila dan tersenyum masam.
"Biarin, jadi santapan buaya betina baru tau chihihiii..." Balas Laila dan melirik Nafisa yang menatap mereka datar.
"Nat! Balas dendam yok!" Ajak Nafisa kedalam kesesadan:v
"Gasss!" Jawab Nathan dengan senyum penuh arti.
Nathan dan Nafisa, mulai menyeret Laila dan Safira untuk keluar kelas. Dengan Nathan menyeret Safira dan Nafisa menyeret Laila.
"Eeeeh paan siih!! Lepas gak!" Safira berontak saat Nathan menraik tangannya.
__ADS_1
"Iya nih! Maennya curang, gue aja belum sempet ngapa ngapain!" Timpal Laila.
"Diem aja!" Sentak Nafisa dan Nathan bersamaan.