
Pagi cerah ceria, seorang gadis tengah sibuk didapur yang kini sudah rapi dan bersih kembali. Layaknya dapur restoran ternama, memiliki desain yang sangat diimpikan olehnya.
"Juls. . .
Apa sudah siap semua ?"
Teriak salah seorang kepala yang menghampiri gadis itu.
"yes mam."
Jawabnya tegas dan yakin, sekali lagi matanya memeriksa makanan yang tertata rapi di beberapa piring elegan.
"oh gosh, you're so perfect Juls. Duplicate dish ini bahkan mengalahkan aslinya."
Ibu kepala memuji keterampilan masakan gadis yang memiliki senyum ceria itu.
"Aku berharap dia akan menyukainya mam, aku selesai ya mam ?"
Tanyanya memastikan untuk segera pulang. Bu kepala memberi tanda oke dengan jarinya, lalu mendorong troli keluar dapur.
Juliana, ia berjalan meninggalkan loker karyawan harian disalah satu Hotel terkenal.
Langkahnya selalu mantap tanpa ada ragu, tatapannya jauh kedepan merencanakan hal hal yang ingin ia lakukan selanjutnya.
Tali sepatu yang lepas membuat Juli tersandung dan menabrak seseorang. Tangannya menahan diatas dada bidangnya.
"Maaf, maaf. Aku tidak sengaja, sepertinya tali sepatuku tak terikat dengan baik."
Juli segera menjauh dari orang tersebut, tak berani menatapnya karena takut akan marah.
Ada pergerakan tiba tiba, orang itu berlutut meraih tali sepatu Juli berniat mengikatnya kembali.
Juli yang terkejut refleks memundurkan kakinya satu langkah. Namun tangan laki laki berstelan jas itu menahannya.
"terima kasih . ."
Ucap Juli ragu ketika sudah berhadapan dengannya.
"Tolong berhati hati, kamu atau orang lain bisa saja terluka karena kecerobohanmu."
Dia memperingati Juli dengan senyuman tipisnya, membuat hati Juli berseri.
"Sekali lagi maaf, dan terima kasih."
Juli tersenyum lebar agar menutupi rasa gugupnya bertemu dengan seorang laki laki yang berambut gondrong.
Wajahnya dewasa, sangat berwibawa begitu juga dengan cara bicaranya.
Cepat cepat Juli keluar dari tempat kerja sementaranya.
Ia berlari sambil mengingat kembali laki laki yang entah siapa. Kalau saja berjodoh, Juli mungkin akan kembali bertemu dengannya lagi.
"selamat pagi Mr. Dee, sarapan sudah siap bersama para kepala bagian. Pagi ini anda juga akan mendapat sekretaris baru."
Kepala bagian restoran menyambut kedatangan Damar di pintu masuk.
"Thanks, apa menu sarapan kali ini ?"
Tanyanya kemudian duduk dan menyiapkan dinner napkin dipangkuannya.
"Healthy breakfast, avocado shrimp cocktail and chicken cream soup. Tidak lupa dengan pure jasmine tea sugarless."
Alin menjelaskan secara rinci menu yang akan dinikmati Damar.
Suasana meja makan sangat sunyi, mengingat sifat dan sikap Damar yang memang dingin.
__ADS_1
"selamat pagi Mr. Dee, aku Sekar Arum sekretaris baru anda."
Sekar datang menyela, para kepala bagian menatap tajam kearahnya yang berdiri disamping Damar.
"Saya pikir kamu terlambat datang, harusnya kamu ikut dari awal untuk mencatat semua hal yang dibahas disini."
Damar menyimpan sendoknya lalu menatap kearah Sekar.
"Maaf tuan, saya kira waktu makan adalah urusan personal. Jadi apa harus masih membahas soal pekerjaan atau bisnis ?"
Berani sekali Sekar mengatakan hal itu, sungguh diluar dugaan karyawan baru ini.
"Haha, dia betul sekali. Kalau begitu saya akhiri saja sarapan ini dan mulai bekerja."
Damar berdiri meninggalkan meja makan disusul langkah jenjang Sekar.
"Baru kali ini Mr. Dee tertawa lebar, jangan jangan sekretaris itu membawa keberuntungan buat kita."
Kepala bagian Accounting memulai gosip hangat yang selalu dilakukan saat damar pergi lebih dulu.
"Bukankah itu bagus buat kita, agar tidak tertekan lagi."
Timpal Alin menyudahi acara makan agar anak buahnya bisa langsung membersihkan meja.
"haha Lin, kamu selalu saja mengusir kami."
Serang rekannya melihat Alin yang sibuk membantu mengangkat piring kotor.
"Gue orangnya care, mereka lagi sibuk kita masih asik ngobrol."
Benar sekali kata kata Alin, sebagai atasan kita bukan hanya menuntut kewajiban bawahan melainkan harus ikut peduli.
Juliana berlari terburu buru menuju kelas mata kuliahnya. Ah kesibukannya bekerja paruh waktu membuat Juli sering telat.
Tubuhnya menabrak seseorang, matanya terbelalak saat melihat tumpahan beberapa botol cat air. Berceceran mengotori lukisan yang sudah sempurna.
"Tidak !
Ratuku hancur sudah . ."
Kedua tangannya sibuk menyelamatkan lukisan dari cipratan cat.
Juli mulai cemas mendapat masalah, ia takut laki laki dihadapannya akan memaki dan menyuruhnya ganti rugi.
"Aku minta maaf aku tidak sengaja. Tolong jangan marah ya, ,"
"What ? Jangan marah katamu, kamu sudah merusak semuanya. Bagaimana bisa aku tidak marah hah ?"
Gemas sekali Dia hingga meremas tangannya dihadapan wajah Juli.
"apapun akan aku lakukan, asal jangan minta dibayar pake uang. Laters baby . ."
Juli meluncurkan jurus memelasnya, ia malah kabur meninggalkan laki laki itu.
"Argh . .
Dasar gadis ceroboh."
Umpatnya melihat punggung Juli yang sudah menghilang.
Akan Juli selesaikan masalahnya dengan orang tadi, yang terpenting ia harus masuk kelas sebelum dosen tiba.
Juli masuk seiring datangnya sang dosen.
Mereka berjalan bersama memasuki kelas.
__ADS_1
"bukankah dia . ."
Gumam sang dosen yang melirik kearah Juli.
Gadis itu tidak sadar dirinya tengah diperhatikan seseorang.
"pagi, perkenalkan saya dosen pengganti saat prof. Felix tidak bisa hadir. Silakan buka buku tentang Agro bisnis, kita akan lanjutkan pembahasan yang sudah disampaikan sebelumnya."
Mata dosen hanya fokus pada satu titik yaitu dimana Juli duduk. Ia masih saja sibuk menatap buku, kapan ia akan fokus kedepan ?
"Apa kalian tahu siapa saya ?"
Tanya dosen tiba tiba, beberapa mahasiswa memang pernah melihatnya di majalah bisnis.
Juli yang penasaranpun akhirnya menatap kedepan, dimana sosok dosen itu ialah orang yang tadi pagi membetulkan tali sepatunya.
"bagaimana kita bisa tahu kalau bapak belum memberitahu nama bapak."
Salah satu mahasiswi bersuara seraya tersenyum, bagaimana tidak dosen itu sangat tampan dan manis dengan senyum tipisnya.
"Saya Damar Aditya, salah satu Chief Executive Officer dikota ini. Memang saya meneruskan bisnis keluarga, namun saya juga selalu mencari ide ide untuk membuat trobosan baru."
Julia menahan dagunya menggunakan tangan kiri, memandang penuh antusias setiap kata yang diucapkan Damar.
"Pak Damar, ,
apa aku menyukainya ? Ah mana mungkin bisa, sadarlah Juls !"
Juli menggelengkan kepalanya berkali kali, menyadarkan dirinya sendiri agar tidak berkhayal.
Hingga kelas usai Juli masih setia memandangi dosen baru itu. Apa dia dosen regular dikampusnya ? Rasanya Juli ingin sekali bertanya atau sekedar menyapa.
"Tali sepatu . ."
Panggil Damar pada Juli sebelum kakinya melangkah keluar kelas.
"bapak manggil saya ?"
Tanya Juli menunjuk wajahnya dengan telunjuk.
"maaf, saya tidak tahu nama kamu."
"Juliani, panggil Juli saja."
Juli langsung menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Damar.
"Damar."
Damar menerima jabatan tangan Zara dan tersenyum tipis padanya.
"sayang sekali saya harus pergi, laters Juls."
Tangannya bergerak menepuk singkat pundak Juli.
Juli kegirangan sampai jingkrak jingkrak, seperti terbang tinggi dibuatnya.
"Oh pak Dosen, cute sekali sikapnya."
Seseorang menghentikan aksi aneh Juli , bahkan ia mendorong Juli hingga hampir tersungkur.
Beruntung laki laki itu sadar dan segera menangkapnya.
"heh gadis ceroboh, kamu harus menyelesaikan urusanmu denganku."
Kevin tersenyum jahat memandang mata Juli. Posisi mereka masih dengan ending pose sebuah tarian dansa.
__ADS_1