Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
#103


__ADS_3

Kevin mengantar Juli ke rumah Ema sebelum mereka pulang ke hotel.


Ema mengambil perumahan bersubsidi dengan hasil kerja kerasnya.


Juli sangat terinspirasi melihat kesuksesan Ema yang tetap hidup sederhana itu.


"Laters Juls . ."


Kevin mengelus ujung kepala Juli kemudian melajukan mobilnya meninggalkan Juli.


Juli masuk kedalam dengan menenteng kantung besar berisi sepatu.


Ia juga diberi kunci cadangan oleh Ema yang sudah baik hati kepadanya.


Andai saja tabungan Juli sudah mencapai angka untuk deposit mungkin Juli juga akan mengambil rumah.


Namun apa daya, ia masih harus bekerja mencari biaya kuliah dan juga untuk makan sehari hari.


Dret dret . .


Ponsel jadul Juli berbunyi, seseorang melakukan panggilan masuk.


"Halo pak Damar,


ada apa ?"


Juli mengangkat telpon dalam posisi pakaian dalam saja yang tersisa ditubuhnya.


"Katakan sekarang kamu dimana aku akan kesana."


Damar memaksa seperti sedang kesetanan.


"Akan aku kirim alamatnya."


Juli pasrah saja menuruti keinginan laki laki pertama yang pernah ia sukai itu.


Apa yang sedang dipikirkan Damar, bukankah sebentar lagi mereka akan mengadakan pertemuan.


Lalu kenapa dia malah ingin bertemu dengan Juli ?


Mobil Damar sudah sampai didepan rumah Ema. Julipun turun menghampiri lalu masuk kedalamnya.


"Kamu sudah makan ?"


Tanya Damar setelah Juli duduk disampingnya.


"Katakan apa mau bapak ?


Seharusnya kita tidak bertemu lagi, bapak sudah sangat serius dengan Sekar."


Juli malah balik bertanya apa tujuan Damar ingin bertemu dengannya.


Damar menatap Juli intens, terlihat jelas oleh Juli banyak keraguan pada sorot matanya.


"Aku tidak menyangka akibatnya akan sejauh ini.


Tapi kamu juga perlu tahu kalau aku sangat menyayangimu Juls.


Kesalahan terbesarku adalah meninggalkanmu."


Damar mendadak mengungkapkan perasaannya. Sekian lama Juli menantikan hal itu namun baru kali ini ia bisa mendengarnya.


"Kamu kemana saja ?"


Juli balas memandang Damar penuh ragu.


Damar memeluk Juli dari kursinya, dia merasakan penyesalan teramat dalam.


"Aku minta maaf Juli, bisakah aku meminta kesempatan darimu.


Jika hati kamu masih untukku, aku akan melepaskan semuanya Juls."


Juli bimbang dibuat olehnya, kenapa Damar datang terlambat padanya. Setelah Juli melalui kesendirian antara melupakannya juga membatasi diri dari Kevin.


"Aku tidak tahu, aku tidak ingin mengambil keputusan yang bisa menyakiti seseorang."

__ADS_1


"Kevin ?"


Damar langsung paham inti dari jawaban Juli.


"Bagaimana dengan Sekar, apa bapak tidak memikirkan perasaannya ?"


"Percayalah aku bisa mengatasinya Juls . .


Aku tidak ingin membohongi perasaanku lagi."


Damar diam hanya demi menjaga perasaan adiknya. Sudah cukup dirinya menahan hatinya untuk memiliki Juli.


"Aku minta maaf pak Damar tapi aku benar benar tidak bisa.


Jika aku menerima bapak, banyak hati yang terluka karena keegoisan kita."


Keputusan Juli sudah benar menurutnya, dia tidak boleh hanya memikirkan diri sendiri.


"Bolehkah aku meminta tolong ?"


Damar tidak bertanya, lebih tapatnya dia memaksa Juli melakukan sesuatu.


"Selagi aku bisa bantu, memang apa ?"


Damar tidak menjawab, ia lebih memilih melajukan mobilnya menuju tempat yang tidak asing lagi bagi Juli.


Juli tidak menyangka Damar akan membawanya ke MHotel.


Meski belum bisa menebak apa yang diinginkan Damar, Juli hanya bisa menurutinya saja.


Langkah kaki Damar tegap melewati beberapa karyawannya yang menunduk memberi hormat.


Perasaan aneh menggelayut dibenak Juli, menerima berbagai tatapan dari mereka.


"Pak Damar, boleh aku tahu apa yang akan aku lakukan ?"


Juli akhirnya menghentikan langkah kakinya saat Damar mendadak membalikan badannya.


"Menyediakan makanan untuk pertemuan keluargaku yang akan diadakan sebentar lagi."


Apa Juli tidak salah dengar ?


Kenapa harus dia yang melakukannya. MHotel dikelilingi banyak chef yang handal, Damar tidak perlu repot repot memakai jasanya.


"Kamu sengaja melakukannya ?


Apa aku sangat menyedihkan dimata kamu pak ?"


Tak terasa mata Juli menjadi perih, sekuat mungkin ia menahan kristal bening itu agar tidak terjatuh.


"Kalau kamu sudah tidak memiliki perasaan lagi, kamu akan dengan mudah menerima pekerjaan ini."


Damar sangat terpaksa melakukannya, demi tahu apa masih ada dirinya dihati Juli.


"Oke.


Bayar aku dengan kelipatan berdasarkan jumlah orang yang hadir, termasuk kamu."


Juli juga bisa menyerang Damar, ia tidak ingin mengalah begitu saja padanya.


"Setuju.


Aku juga akan memberimu bonus jika keluargaku menyukai masakanmu."


Damar kembali berjalan menuntun Juli ke kitchen.


"As you know, Juli pernah jadi daily worker disini.


Malam ini biarkan dia yang memasak untuk acara makan malam keluargaku."


Damar didampingi Alin memberi pengumuman penting bagi crew yang bekerja di shift 2.


"Yes, sir."


Jawab mereka kompak.

__ADS_1


"Kamu sudah bisa mulai Juls.


Aku harus kembali ke kamarku, kita akan bertemu di meja makan."


Damar meninggalkan Juli bersama Alin saja.


Arti dari kalimat terakhirnya Juli sendiri yang harus mengantar makanannya ke meja.


"Right, lupakan kalian yang saling kenal.


Finally you are back Juls . ."


Alin mengelus lengan Juli senang melihat kedatangannya.


Cukup sering Alin meminta Juli bekerja, namun selalu ditolaknya dengan berbagai alasan.


Mulai dari sibuk kuliah, kelelahan karena banyak tugas dan hal lain yang bisa Juli jadikan alibi untuk menolaknya.


"Hanya untuk acara ini mam, jangan berharap banyak."


Juli tersenyum singkat sebelum dirinya pergi ke loker berniat mengganti pakaiannya.


Juli berdiri mematung menatap loker yang biasa ia tempati saat bekerja.


Apa sebenarnya yang Juli rasakan sekarang ?


Rasa sukanya pada Damar memang jelas masih ada.


Hatinya seperti terbakar mendengar hubungan laki laki itu dengan Sekar semakin serius.


Namun disisi lain Juli tidak bisa mengabaikan perasaan Kevin begitu saja.


Dia sudah terlalu baik padanya, membuat Juli bingung dengan batasan yang ia jaga selama ini.


Juli ingin segera tahu jawaban yang dimaksud Zara.


Agar ia bisa memutuskan kemana kakinya akan melangkah mengambil jalan.


Dret dret . .


Getar ponselnya menghentikan lamunan Juli yang bimbang.


Nomer tak dikenal terlihat dialayar, ragu Juli menjawabnya.


"Hello Dady's little girl . .


Kemana kamu selama ini sayang ?


Apa kamu tidak rindu sama papi . ."


Suara itu,


suara yang tidak ingin Juli dengar selama lamanya malah kembali terdengar memekik.


"Mau apa kamu ?


Aku sudah bukan anak kamu lagi !"


Nada bicara Juli bergetar hebat menahan emosinya.


"Take it slow baby girl, papi cuma ingin melihat kamu tumbuh dewasa jadi gadis yang menguntungkan.


Papi dengar kamu sudah bisa cari uang sendiri,


bisakah papi pinjam ?


Papi janji akan ganti sayang."


Ocehannya membuat Juli sakit kepala. Dari mana pria tua itu bisa mendapatkan kontak pribadinya.


"Jangan berharap banyak, sejak saat itu aku tidak memiliki dady lagi. Dia sudah lama mati bagiku."


Segera Juli mematikan sambungan telponnya.


Ia tidak ingin masalah pribadinya menjadi hambatan performa kerjanya. Apalagi ini untuk hal penting bagi Damar.

__ADS_1


Tangannya bergerak menghapus air mata yang sempat meluncur di pipinya.


__ADS_2