Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
Mennginap


__ADS_3

Di sebuah kamar yang asing baginya, Zara masih duduk ditepi ranjang. Pikirannya masih disibukkan oleh tindakan Ditya yang menolongnya dengan sigap.


Setidaknya sekarang ia tahu, kalau perempuan yang Ditya sebutkan mungkin benar memang istrinya, ibu dari Damar.


Lalu kenapa Zara sangat tidak suka, ketika Ditya menganggapnya Zoya ?


"siapa Zoya ? Sebenarnya kenapa mereka hanya berdua saja, kemana wanita itu . ."


Kini Zara dibuat penasaran, pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan pertanyaan seputar kehidupan Ditya.


Sudahlah, bukan haknya juga harus ikut campur urusan orang lain. Lebih baik Zara segera mandi, untuk membersihkan badannya yang lengket.


"ayah, Dee senang kalau ayah baik sama onti Zara. ."


Dee yang baru saja selesai mandi kemudian memakai pakaian tidurnya tanpa bantuan sang ayah.


"ayah hanya kasihan, kalau gurumu itu diganggu orang jahat."


Secara cekatan Ditya mengambil pakaian kotor miliknya dan Dee, ia masukkan kedalam keranjang laundry.


"bisakah ayah memanggil namanya, Zara ?!"


Nada bicara Dee sangat menuntut, berharap ayahnya bisa lebih akrab dan tidak canggung lagi pada Zara.


"baik baik . Ayo kita makan malam, ayah sudah pesan makanan dari hotel. Sebentar lagi sampai."


Ditya mengajak Dee keluar kamar, mereka berjalan bergandengan tangan penuh keceriaan.


Tak lama, orang hotel telah sampai dan menekan bel. Ditya berjalan untuk membukakan pintu.


Seorang bellboy membawa beberapa kotak berisi makanan, dia menatanya diatas meja makan sesuai perintah Ditya.


"thanks ya."


Ditya memberi beberapa lembar uang ratusan untuk membayar dan memberi tip.


"sama sama pak, saya permisi."


Laki laki jangkung kurus itu pamit keluar apartemen.


"Dee, bisa panggilkan Zara dikamarnya ? Ajak makan bareng sama kita."


"oke yah"


Sementara Dee pergi menjemput Zara, Ditya sibuk memindahkan makanan kedalam piring di meja makan.


Ada ayam goreng tepung untuk Dee, kwetiao, sop iga, dan 3 porsi nasi untuk mereka makan.


Menu menu lezat yang dijual MHotel bisa dengan mudah Ditya bawa kemanapun.


Sejauh apapun, jika dia meminta maka mereka akan mengirimkannya.


"onti, ayo kita makan. Ayah sudah beli makanan banyak dan enak dari hotel."


Zara yang baru saja membukakan pintu, langsung ditarik oleh Dee menuju meja makan.


"makanlah !"


Seru Ditya yang sudah duduk dan siap menyantap hidangan.

__ADS_1


Zara hanya menurut, ia duduk dihadapan Ditya.


"terima kasih, bapak sudah menolong saya."


Ditengah acara makan, Zara memberanikan diri untuk mengucapkannya. Setidaknya itu wajib baginya.


Belum ada tanggapan, Ditya masih fokus dengan suapan makanannya.


Ayo telan Ditya, Zara menunggumu mengatakan sesuatu.


Matanya bahkan menyelidik setiap gerak gerik Ditya.


"ayah, cepetan jawab. Onti zara ngucapin terima kasih loh."


Ternyata Dee juga gregetan melihat sikap Ditya yang dingin sekali terhadap Zara.


"iya sama sama, kalau lagi makan jangan banyak bicara ! Nanti keselek . . Uhuk uhuk. ."


Bagai senjata makan tuan, Ditya berusaha menceramahi Zara dan Dee, malah dia yang kena batunya. Ditya tersedak karena bicara sambil makan.


"eh pak, minum dulu !"


Zara bangun dari kursinya, ia menyodorkan minum untuk Ditya sambil menepuk nepuk punggungnya.


Ditya tidak menolak, dia meneguknya sampai habis.


Dee hanya terkekeh menatap keseruan yang dilihatnya. Sepertinya usaha Dee membuahkan hasil, mendekatkan Ditya dan Zara.


Sejak mengenal Zara, Dee cocok sekali dengannya. Mereka nyambung setiap mengobrol. Dee seperti melihat sosok ibunya yang tak pernah ia jumpai.


"puas kamu Dee ? Malah mentertawakan ayah !"


Ditya membelalakkan kedua matanya melihat tajam kearah Dee, anak itu nyengir.


Dee mengomentari pose keduanya, dimana Zara masih memegangi punggung Ditya sejak membantunya meminum air karena tersedak tadi.


Ditya menoleh kearah Zara dengan mendongakkan kepalanya, mata mereka bertemu satu sama lain. Kenapa Zara merasa sudah mengenal Ditya sejak lama, perasaannya selalu aneh saat dekat dengannya.


"maaf . ."


Zara melepaskan tangannya, ia kembali duduk dikursinya. Malu sekali kalau Ditya sampai berpikir Zara mencuri kesempatan untuk menggodanya.


"siapa orang itu, kenapa dia mengganggumu ?"


Kini Ditya penasaran dengan kejadian tadi, ia menahan diri untuk bertanya hingga waktu yang tepat.


"aku juga tidak tahu, belakangan ini memang seperti ada yang mengikuti dan mengawasiku."


Zara menanggapi pertanyaan Ditya dengan sangat santai, dilihat dari ekspresi wajahnya gadis itu seperti sudah biasa menghadapi semacam penguntit.


"jangan jangan, kamu punya banyak musuh ?"


"ayolah pak, apa aku sejahat itu ? Aku hanya lulusan psikolog. Pekerjaanku tidak jauh dari anak anak."


Reaksi Ditya membuat Zara tertawa, bisa bisanya pria itu memiliki pikiran yang jauh.


"lupakan, lagipula aku tidak peduli denganmu."


Ditya bangkit dari kursinya, dia mulai merapikan piring dan gelas kotor untuk dicuci didapur.

__ADS_1


Zara melihat pergerakan itu, ia langsung mengejar mengikuti langkah Ditya.


"aku bantu, ."


Gadis berwajah oval itu membilas piring yang sudah dicuci dengan sabun oleh tangan cekatan Ditya.


Lagi lagi Ditya tidak melarang, dia membiarkan Zara berdekatan dengannya.


"ayah, Dee mengantuk. Bisa tolong temani ?"


Dee berjalan kearah Ditya yang duduk disofa TV, ayahnya sedang sibuk membuat desain bangunan untuk projek barunya.


"sebentar saja, ayah lagi tanggung Dee. Sini ! Kamu nonton tv dulu."


Tanpa melirik kearah Dee, Ditya masih sibuk menggambar. Tangan kirinya menepuk sofa sebelahnya, meminta Dee untuk duduk menunggu.


"tidak mau, Dee sudah mengantuk."


"ada apa Dee ?"


Zara keluar kamar setelah mendengar teriakan Dee. Ia melihat Dee yang mengucek matanya karena mengantuk.


"onti, ayah sibuk sekali. Dee mau tidur sekarang juga !"


"kemarilah, biar Dee tidur sama onti. Ayah sibuk kan buat masa depan kamu, Dee maukan mengerti sedikit saja ?!"


Mendengar penjelasan Zara, Dee mengangguk paham. Dia menurut ikut pergi ke kamar Zara, setidaknya sekarang ada yang menemaninya tidur.


Dulu Dee masih kecil. Kesibukan ayahnya tidak pernah dipermasalahkan, karena Dee belum banyak menuntut. Sejak masuk sekolah Dee sudah mulai mengerti hal hal baru. Pikirannya sangat kritis dan perasan.


Ditya yang kalau bekerja sudah sangat fokus, mengabaikan Dee begitu saja.


"onti, semisal ayah Dee cari pasangan hidup, apa onti mau jadi ibu sambung Dee ?"


Ditempat tidur queen size Dee dan Zara tidur bersebelahan, berbagi selimut yang sama.


"mmm onti tidak tahu Dee, kan tidak ada yang bisa menebak takdir. Kalau jodoh bersatu, enggak ya bisa jadi teman."


Tatapan mereka menerawang keatas langit langit, membayangkan apa yang sedang Dee inginkan.


"Dee takut kalau ayah menikah lagi sama perempuan yang jahat ke Dee. Katanya ibu tiri itu seram."


Anak kecil itu menarik selimut dan menutupinya kewajah. Seolah membayangkannya saja enggan sekali.


"ayah tahu yang terbaik buat Dee, percaya saja ! Sekarang kamu baca do'a, lalu tidur. Besokkan sekolah."


setelah semua pekerjaan selesai, Ditya meregangkan kedua tangannya yang kaku. sesekali dia memijat tengkuknya, kebanyakan menunduk.


pria yang masih sangat tampan diusianya yang menginjak 33 tahun itu berjalan menuju kamarnya.


Ditya mengerutkan keningnya, tidak melihat keberadaan Dee.


"kemana dia ?"


penasaran sekali Ditya, langkahnya langsung tertuju kekamar tamu. perkiraannya pasti Dee ada bersama Zara.


Ditya membuka pintu yang tidak dikunci dengan pelan.


senyumnya menghiasi wajah kusut Ditya ketika Dee tidur bersama gadis yang 10 tahun lebih muda darinya.

__ADS_1


"maafkan ayah Dee, kamu pasti merindukan sosok ibu. tapi ayah tidak bisa menghapus ibumu dari hidup ayah."


tak terasa, Ditya menitikan air mata. hatinya selalu perih ketika harus mengingat bahwa Zoya sudah tiada.


__ADS_2