Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
#116


__ADS_3

Salahkah bila diriku terlalu mencintaimu


Jangan tanyakan mengapa, karena ku tak tahu


Akupun tak ingin bila kau pergi tinggalkan aku


Masihkah ada hasratmu tuk mencintaiku lagi


Sepenggal lirik dari sebuah lagu, terputar tanpa sengaja diradio mobil Damar.


Ia melirik kesamping mengecek Juli yang masih tertidur pulas.


Perjalanan memang tidak sedekat biasanya.


Damar akan membawanya ke sebuah tempat penuh arti.


Susah payah Damar meminta Juli ikut setelah adegan di tangga darurat.


Juli menurut karena Damar mengancam akan mogok makan.


Gadis itu dibuat terkekeh oleh tingkah konyol laki laki berusia 28 tahun.


"Wake up Juls, kita sampai."


Damar melepas sabuk pengamannya lalu mengelus lembut kepala Juli.


Juli berusaha mengembalikan pandangan buramnya menjadi normal. Ia melihat halaman sekeliling dipenuhi pusara pusara berjejer rapi.


Juli menatap Damar penuh tanya sekaligus paham makam siapa yang akan Damar tunjukan padanya.


"Seseorang sangat berarti ketika dia diajak ke tempat paling berharga. ."


Damar membuka seatbeltnya kemudian turun membuka pintu untuk Juli.


"Terima kasih."


Juli tersenyum menerima uluran tangan Damar, mereka berjalan bergandengan menuju tempat peristirahatan seseorang.


"Hi bu, ,


ini Juliana gadis yang sudah menaklukan hati Dee.


Tolong katakan padanya, kalau aku sangat ingin bersama dia apapun keadaannya.


Dia sangat keras kepala hingga membuat Dee uring uringan."


Sesampainya didepan nisan Zoya, Damar melirik Juli tanpa melepaskan genggamannya.


Juli tersenyum mendengar ungkapan Damar.


Ia akui memang salah memperlakukan kekasihnya seperti itu.


"Halo tante, terima kasih sudah melahirkan pak Damar yang ganteng dan super royal ini.


Juli sampe kewalahan menghadapinya."


Juli tersenyum jail membalas keluhan Damar.


"Ibu pergi saat aku belum genap 2 tahun,


aku bahkan lupa wajahnya."


Juli menyandarkan kepalanya pada lengan Damar untuk memberi dia kekuatan.


"Lepaskan semua luka yang bapak genggam,


aku tidak mau bersama seseorang yang masih saja menyimpan dendam."


"Tapi bukan berarti aku harus mengikuti keinginannya Juls."


Damar merujuk pada Ditya sang ayah.


"Bapak harus mempertanggung jawabkan kesalahan bapak, kecuali keajaiban ada untuk bapak."


Juli merasa lega bisa bicara dari hati ke hati dengan Damar.


Sesungguhnya dia tak rela melihat Damar bersama Sekar.


"Ayo pulang !"


Damar menyudahi kunjungannya.


🌙️🌙️🌙️


Damar mengajak Juli pulang ke griya tawang miliknya.


Sebelumnya mereka berbelanja bahan makanan dan beberapa keperluan Damar.


"Juls kamu doyan ngemil ? Beli cemilan gak kira kira."


Damar mengganggu Juli yang sedang memasak dengan berdiri disampingnya sejak tadi.


"Enggak, itu stok buat bapak. Lagian aku beli cemilan sehat kok."


Juli nyengir kuda, mungkin saat di supermarket Damar sempat berpikir kalau Juli aji mumpung.


"Kenapa,


kamu pikir tubuhku kurang bugar ?

__ADS_1


Apa perlu aku buka kaosku disini . ."


Tangan Damar mulai bergerak mengangkat kaosnya hingga memunculkan kotak kotak seperti roti sobek.


"Gak lucu tahu pak, sok keren ah . ."


Gelak tawa Juli terdengar renyah, dia menutup kembali bagian perut Damar.


"Dont judge a book by its cover Juls !"


Damar melingkarkan tangannya dipinggang Juli.


"Pak lepas, nanti spagetinya overcook."


"Extra Cheese please . ."


Ting nong . .


Bel pintu berbunyi ditekan oleh seseorang di luar.


Terpaksa Damar melepaskan kedua tangannya, ia berjalan mengintip pada lubang dipintu.


"Juls . . Komisaris !"


Teriak Damar tanpa bersuara.


Juli kelabakan harus berbuat apa, sembunyi adalah hal yang terlintas dibenaknya.


Damar menuntun Juli masuk ke kamar berukuran kecil bekas gudang.


"kenapa harus sembunyi sih ?"


Protes Damar.


"Bapak lupa ya, namanya juga backstreet."


Sempat sempatnya Juli tersenyum disaat genting.


"Lama banget buka pintunya, pake acara ganti kode lagi."


Oceh Ditya pada anaknya, dia tidak terima dianggap orang asing oleh Damar.


"Habisnya ayah suka nyelonong gitu aja, Dee juga kan punya privasi."


Ditya menangkap pemandangan super langka, dapur berantakan sisa kegiatan memasak.


"Sejak kapan kamu masak ?"


Ditya mengernyitkan dahinya heran.


"Sejak . . Tadi."


"Suruh dia keluar !"


Perintah Ditya.


Damar memejamkan matanya karena malu tertangkap basah menyembunyikan Juli.


Juli mendengar semuanya, iapun keluar dari ruangan itu.


"Bagus ya kalian main petak umpet dibelakang saya."


Ditya menyilangkan kedua tangannya didada, menatap tajam Damar dan Juli bergiliran.


"Yah Dee bisa jelaskan , ,"


"No no no."


Ditya menyela ucapan Damar, dia malah berjalan mendekati Juli.


"Teruskan masakanmu, aku akan bergabung bersama kalian."


Uhuk uhuk . .


Juli tersedak salivanya sendiri mendengar Ditya yang ingin ikut makan.


"Baiklah . ."


Tak lama kemudian ketiganya makan bersama dalam suasana kikuk. Damar beberapa kali menatap Juli, mengirim signal cepat habiskan makananmu lalu pergi.


"pantas saja Damar semakin berisi, dia makan dengan sangat baik."


Ditya menyindir Juli tanpa meliriknya. Sejujurnya dia juga menikmati masakan buatan Juli.


"Terima kasih pujiannya pak . ."


Celetuk Juli mencoba mencairkan suasana.


Ditya menaikkan salah satu alisnya, untung saja dia tidak tersedak.


Dalam hati Damar tertawa menyaksikan perang dingin antara ayah dan kekasihnya.


"Oh iya pak, saya sudah bayar uang sewa apartemen. Jadi sementara pak Komisaris tidak bisa berkunjung, passcodenya juga sudah berubah."


Juli semakin berani, jika menghadapi seseorang bersikap dingin maka ia harus menghangatkan suasana.


"Betul yah, Dee sudah terima uang dari Juli."


Bela Damar, padahal dia mengembalikan uang itu ke rekening Juli.

__ADS_1


"Terserah kalian saja, aturlah sedemikian rupa."


"Kalau begitu saya permisi pulang duluan, terima kasih pak Damar sudah memperkerjakan saya sebagai koki pribadi."


Juli bangkit dari duduknya berniat pamit pada Damar terutama Ditya.


"Take care Juls . ."


-Laters baby-


Lanjut Damar dalam hati.


"Tunggu !"


Cegat Ditya menahan Juli yang sudah mendekati pintu.


Munculah kerutan di kening Damar, ayahnya mau apalagi.


"Biar saya yang antar kamu pulang Juls . ."


Secara mengejutkan Ditya menawarkan dirinya untuk memberi tumpangan.


Juli melirik ke arah Damar meminta saran, Damar mengangguk samar mengizinkan.


"terima kasih pak komisaris."


Ucap Juli, lalu Ditya juga berdiri menyusul langkah gadis muda itu.


"Baik baik sama Juli yah !"


Teriak Damar pada Ditya yang hanya melambaikan tangannya tanpa berbalik.


Terukir senyum diwajah Damar, meski Ditya bersikeras memaksanya meneruskan pertunangan dengan Sekar. Setidaknya Juli tidak diperlakukan kasar ataupun hina.


Lagi lagi Juli duduk disebelah Ditya. Tadi dia percaya diri berinteraksi dengannya, kenapa tiba tiba sekarang kembali gugup juga tegang.


"Boleh saya tahu, siapa nama orang tua kamu ?"


Ternyata Ditya tidak sedetail Damar anak sulungnya.


dia sudah terlalu tua hanya untuk memata matai hidup seseorang.


Aktifitasnya banyak berkurang di perusahaan, apalagi mengurus urusan pribadi orang lain.


"Inez Buditama ibuku, dan David siahaan. kakek nenekku mualaf meski keturunan etnis tiongkok juga batak."


Ditya hampir kehilangan fokus mendengar nama ibu dari Juli.


Apa itu benar orang yang sama dengan sahabatnya dulu.


"Coba kamu ambil handphone saya, lihat galeri tahun 2013 disitu ada album kelulusan sekolahku."


Tidak mengerti apa mau Ditya, Juli menurut saja.


dia membuka galeri foto yang dimaksud.


Selain foto Ditya bersama teman temannya, Juli juga melihat sosok Zoya Malia remaja. cantik dan manis penilaian Juli terhadap wanita yang melahirkan Damar.


"Ini foto . . . mami ?"


Juli memperhatikan wajah Inez berseragam putih abu abu. Ditya dan Inez berfoto dihari kelulusan, wajah dan seragam mereka dipenuhi coretan spidol juga pilok.


"Berarti benar, kamu anak sahabat saya Juls."


Ditya terkejut mendapati fakta menarik tentang Juli.


"Apa sangat akrab ?"


Juli memperhatikan foto itu lagi, keduanya terlihat ceria tanpa beban disana. tawa yang Juli tidak pernah lihat lagi dari maminya.


"Kami berteman dari kecil.


terakhir ketemu mami kamu saat saya dan Zoya baru menikah beberapa hari, dia buru buru harus kembali ke Ausi. Pasti ikut papi kamu Juls.


Tapi kenapa usia kamu dan Damar beda jauh ?"


Ditya baru menyadari hal itu.


"Mami memang lama sekali baru bisa hamil aku, kata dokter kurang subur. Kami kembali ke Indo saat aku baru lahir."


Juli tersenyum mengingat hari hari bahagia keluarganya sebelum hancur beberapa tahun terakhir.


"Dimana Inez sekarang, aku harus bertemu dengannya."


Ditya antusias ingin menjumpai sahabat lamanya.


"Lain kali aku akan ajak bapak ketemu mami."


Juli mengulas senyum, tak terasa mobil sudah sampai didepan lobi apartemen.


Perjalanan terasa singkat diisi obrolan keduanya.


"Terima kasih pak komisaris sudah mau mengantar."


Juli sudah keluar dari mobil hendak menutup pintu.


"Panggil saja om Juls !"


Untuk pertama kalinya Ditya juga tersenyum membalas Juli.

__ADS_1


Dunia terasa sempit, kalau saja Ditya tahu sejak dulu mungkin dia tidak akan sedingin itu pada Juli.


__ADS_2