
🍀🍀🍀
Musim berlalu, datang silih berganti. Kadang cuacanya bagus, terkadang diterpa angin badai.
Musim semi dimana setiap pertumbuhan terjadi, masih belum mampu mengubah jiwa yang perasaannya sudah mati.
Hari hari dilewatinya dengan berat, susah payah bertahan hidup. Kalau saja bukan karena malaikat kecilnya, dia sudah membabi buta merusak diri.
Menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk bekerja, dan menemani buah hati sumber kekuatannya.
Untuk kesekian kalinya, pria itu duduk dibalkon menyendiri.
Menatap kosong kedepan, mengingat kenangan yang telah ia habiskan bersama seseorang yang kini telah pergi dari sisinya.
Satu tahun berlalu, ini akan menjadi duka kemarin. 2 tahun ia lewati, masih menjadi dukanya sendiri. Begitupun tahun tahun berikutnya, tetap akan menjadi duka selamanya bagi duda beranak satu itu.
Setiap tanggal dihari itu, dia akan kembali kesana. Mengenakan pakaian hitam, merayakan hari kehancuran seluruh hidupnya.
Orang tidak akan pernah mengerti, bagaimana cinta sejati itu berarti bagi hidupnya sendiri.
"hey boy . . Kenapa masih belum pulang ? Apa tidak ada yang menjemput ?"
Seorang gadis cantik bertubuh jenjang, bibir yang penuh namun tipis itu membungkukkan badan untuk menyamakan posisinya dengan salah seorang anak laki laki.
"not yet miss, mungkin ayah sedang sibuk rapat. Atau lupa menyuruh orang untuk menjemputku."
Anak laki laki itu memiliki nada bicara seperti orang dewasa. Dia tampan sekali, membuat orang sangat gemas padanya.
"hmm . . But we're the last one here, biar miss yang mengantarmu pulang. Kamu tinggal sebutkan dimana alamatnya !"
Mendengar tawaran seseorang yang bukan asing tidak ada salahnya bagi anak itu. Terlihat dia tengah berpikir, untuk mengambil keputusan.
"ok, let's go miss !"
Dia memimpin jalan menuju tempat parkir, seolah menjadi pengawal untuk gadis yang ia panggil nona itu.
Didalam perjalanan, anak laki laki itu selalu mencuri pandang kearah miss yang fokus menyetir. Mengamati setiap sorot mata dan raut wajahnya.
"apa ada masalah Dee ? Kenapa kamu selalu menatapku ?"
Akhirnya anak laki laki yang bernama Dee itu kepergok oleh yang punya. Dee langsung membuang muka kearah jendela, ia malu.
"nothing miss, Damar hanya . ."
Perkataan Dee menggantung, sesaat dia menunduk memainjan jemari mungilnya.
"maukah Miss menjadi teman Damar ? Aku butuh teman curhat miss hehe . ."
Dee nyengir menunjukkan barisan giginya yang rapi dan putih. Ada satu yang ompong dibagian pojok atas, menambah kesan manis.
"why not ? Dari sekian murid miss, Dee yang paling miss suka. Kamu pintar, sering membantu teman, dan . ."
Gadis itu menahan kata terakhirnya, ia harus fokus membelokkan stir untuk masuk kesebuah bangunan.
"dan apa miss ?"
__ADS_1
Dee tak sabar, penasaran mendengar pujian miss itu yang tertunda.
"ganteng sekali.
Apa benar kita kesini ?"
Kini mobilnya sudah parkir didepan pintu lobi. Miss mengamati tempat itu, ia bingung kenapa Dee mengajaknya ke sebuah hotel.
"miss orang ke 100 yang bilang aku ganteng, yes !"
Dee malah kegirangan mengepalkan tanganya bangga, mendapat pujian dari gurunya.
"ayo miss turun, biar Dee kenalkan ke ayah."
Anak itu membuka sabuk pengamannya dengan cepat dan langsunh turun keluar.
Gurunya menuruti keinginan Dee, ia memberikan kunci mobil ke petugas valley untuk memarkirkannya.
"selamat siang tuan muda . ."
Doorman yang bertugas membukakann pintu untuk Dee menyapanya dengan keceriaan.
"ayah kamu rapat disini ? Kenapa kamu tidak pulang saja."
"mmm, ayah dan aku memang tinggal disini. Tapi itu baru beberapa hari, sebelumnya kami tinggal diapartemen yang gak jauh dari sini."
Sebentar lagi Dee menginjak usia 7 tahun, dia baru duduk dibangku sekolah dasar beberapa bulan yang lalu.
Gadis yang selalu dipanggil Miss olehnya, tak lain ialah guru bahasa inggris dan guru etika.
"permisi mbak, saya mau antar anak ini ke ayahnya. Bisa tolong panggilkan ?!"
Nona itu sudah berdiri didepan front desk, bertanya tentang keberadaan ayahnya Dee. Setidaknya ia perlu bertemu pria itu, akan ia ceramahi pasal kelalaian dalam menjaga anaknya.
"maaf nona, bapak masih rapat. Tuan Dee biar kami yang jaga, terima kasih sudah mengantarnya."
Petugas receptionist yang sudah tidak asing bagi hotel itu menjelaskannya pada gadis yang memang pantas disebut nona daripada ibu.
"kalau begitu tolong sampaikan pesan saya dari gurunya Dee. Kalau tidak bisa menjemput anaknya, setidaknya suruh supir atau penjaga rumah untuk malakukannya. Apa dia tidak bisa menjadi orang tua ?"
"apa hakmu nona, mengajariku soal mengasuh anak. Lancang sekali !"
Pria yang sedang dibicarakan kini muncul, berjalan dari arah lift. Dia mendengar omelan guru Dee.
"ayah . ."
Dee berlari kearahnya, kini pria itu menggendong anaknya menghampiri sang guru.
"pas sekali, ayahnya Dee ada disini. Saya memberi peringatan Lisan untuk anda, ini bukan yang pertama atau kedua kali. Saya bahkan sering memesankan taxi online untuk Dee bisa pulang. Lagipupa kemana ibunya, apa tidak bisa dia menjemput anaknya ?"
Ditya dibuat pusing oleh ocehan gadis yang berpakaian formal itu. Ia bahkan terlihat menahan emosinya demi Dee.
"saya akan menggantinya, bisa tolong pergi sekarang ? Lain kali jangan membantu kalau masih mengeluh."
Perkataan Ditya malah membuat guru itu naik darah, bukannya bilang terima kasih dia malah balik mengomelinya.
__ADS_1
"baiklah Dee, miss pamit ya. Sampai jumpa disekolah besok, ,
Oh besok libur ya, maksudnya lusa."
Ia berusaha tersenyum pada Dee, padahal hatinya sangat jengkel pada ayahnya.
Sebelum pergi, ia membulatkan kedua matanya melotot pada Ditya.
Bagaimana bisa ada pria yang begitu kasar pada wanita, apalagi ia adalah guru yang mengajar anaknya.
"see you miss Zara . ."
Dee dengan gembiranya melambaikan tangan pada gadis yang bernama Zara. Ditya menyelidik raut wajah bahagia anak laki lakinya.
"Dee, kenapa kamu ?"
Tanyanya mengerutkan dahi, melihat Dee masih terkekeh menatap punggung Zara yang semakin menjauh.
"tidak ada yah, Dee menyukai miss Zara. Dia itu baik dan pengertian."
"masak ? Kenapa dia galak sama ayah ?"
Ditya tidak percaya dengan perkataan Dee, kesan pertama yang dia dapat berbeda. pendapat anaknya terlalu memuji gadis angkuh itu, pikir Ditya.
"soalnya ayah ganteng, lebih sedikit dari Dee. Miss Zara mungkin kesal, karena Dee tidak seganteng yang miss Zara kira."
Anak itu mengangkat kedua bahunya, seolah ikut penasaran kenapa Zara sangat kesal pada ayahnya.
"yuk kita kekamar, ayah sudah maak sosis saus kecap untuk makan siang."
Ditya menurunkan tubuh Dee dari gendongannya, mereka naik keatas dengan bergandengan tangan.
"yah, besok kita jadi kan pergi ke dufan ? Dee gak bisa nih diingkari janji ayah lagi."
didalam lift Dee merengek meminta kepastian waktu luang ayahnya. minggu kemarin Ditya membatalkan janji bertamasya karena ada pertemuan mendadak.
katanya minggu depan, yang artinya besok Ditya tidak akan menunda liburan kecilnya bersama Dee.
"jadi dong, ayah pria sejati yang selalu memegang kata katanya."
"pria sejati kok masih belum punya pasangan ?"
pertanyaan Dee sangat menusuk dada Ditya, bagaimana bisa anak kecil seusianya berhasil membuat perasaan ayahnya kembali galau.
"ayah setia sama ibu kamu Dee !"
kesedihan mulai muncul diwajah Ditya, membuat Dee menyesali perkataannya.
"i'm sorry ayah . ."
anak laki laki itu memeluk kaki ayahnya yang jauh lebih tinggi dari tubuhnya.
"it's ok son . ."
Ditya memeluk anaknya, berusaha kuat untuk kesekian kalinya.
__ADS_1