
Spring, Seoul, South Korea.
Ketika kita membicarakan tentang distrik internasional pasti tempat yang pertama kali terlintas di benak kalian adalah Itaewon. Itaewon mungkin dulu memiliki reputasi buruk sebagai red district yang ada di Seoul. Namun, seiring berkembangnya waktu dengan meningkatnya jumlah penduduk asing yang menetap di sana dan tumbuhnya ekonomi Korea. Distrik ini pun menjadi salah satu pusat bisnis utama di Kota Seoul. Selain itu, mesjid pertama yang berdiri di Korea pun berada di distrik ini, yaitu Masjib Besar Itaewon.
Beberapa hal yang diketahui pasti mengenai distrik ini adalah Itaewon terletak berdekatan dengan Yongsan Garrison yang telah didesain sebagai zona turis. Selain banyaknya bar, klub malam, serta restoran, Itaewon juga terkenal dengan kuliner autentiknya yang berasal dari banyak sekali negara seperti Amerika, Prancis, Pakistan, India, Indonesia, Mesir dan Timur Tengah. Lalu, Itaewon pun merupakan salah satu pilihan utama untuk tempat tinggal bagi orang asing yang bekerja di Korea.
Dan dikawasan Itaewonlah seorang Malvin tinggal memisahkan diri dari kedua orang tuanya Erwin dan Milka.
Dia didapuk memegang kendali perusahaan konstruksi yang didirikan Erwin disana. Mewarisi usaha sang kakek yaitu Wijaya, berawal dari perusahaan penyuplai bahan bangunan kini meluas menjadi rekanan bisnis pengusaha terkenal di pusat ibukota.
- Halo Malvin, loe dimana hah ? Jangan bilang lupa jemput gue sama Juli di airport. -
Damar berteriak diujung telpon ketika sepupunya sudah mengangkat panggilannya. Berulang kali Damar menghubunginya.
Yang ada sekarang Malvin terdampar di klub malam paling ramai didaerah Itaewon.
"****** gue !"
Umpatnya tak bersuara. Ia menepuk jidatnya sendiri.
"Ini lagi dijalan Dee, bentar lagi sampai."
Bohongnya kemudian berlari meninggalkan ruangan serba gelap itu setelah membayar tagihannya.
Damar menekan handphonenya kesal, kenapa juga tante Milka malah menyuruh dia yang bertugas menjemput mereka berdua. Sudah pasti ini tidak akan beres tepat waktu.
Jadinya merasa bersalah pada Juli, kembali mereka harus menunggu Malvin menyebalkan itu menjemput.
"Kenapa mas , Malvin lupa ya jemput kita ?"
Juli bangkit dari duduknya mendekati Damar.
"Iya, pasti kamu sudah lelah ya ? Maafkan dia ya sayang, ,"
Damar mengelus ujung kepala Juli, terlihat jelas istrinya kelelahan setelah terbang berjam jam. Apalagi mereka tiba di bandara hampir tengah malam.
"Aku lapar mas, mau makan dulu boleh ?"
Setelah keluar dari rumah sakit Juli berubah menjadi pribadi berbeda. Ia lebih banyak diam, melamun, bahkan menangis sendirian. Pernah Damar memergokinya tengah malam sesenggukkan dibalik selimut. Damar pura pura tidak mendengar, membiarkan Juli mencurahkan sesak didadanya.
Namun dalam hati ia terus berdo'a agar Juli kembali ceria. Memulainya dari awal lagi sama sama. Beruntung kuliah Juli tinggal menunggy waktu sidang dan upacara kelulusan. Jadi mereka bisa berlibur lama lama di negara kiblatnya KPop. Untuk sidang, Juli akan melakukannya via panggilan video. Pihak kampus bisa memaklum kondisi Juli sekarang ini.
Daripada menunggu Malvin, Damar memilih mengajak Juli stay di penginapan selama semalam ini. Besok setelah jam makan siang barulah mereka pulang ke rumah.
Juli merasa nyaman meski ia dan Damar harus tidur dilantai beralaskan kasur tipis namun empuk. Penginapan yang mereka ambil benar benar bergaya tradisional dipusat keramaian. Setelah tadi Damar memesan taxi meminta mengantarkan mereka ke daerah Itaewon.
"Mas kalau Malvin mencari kita bagaimana ?"
Juli tengag menyiapkan pakaian tidur Damar menjadi teringat sepupunya.
"Biarkan sajalah, sekali kali dia kita kerjain."
Damar mengenakan piyama tidur lalu berbaring menarik pinggang Juli agar melakukan hal yang sama.
__ADS_1
Laki laki itu kini bermain didaerah leher sang istri. Mengendus aroma matcha yang sering Juli pakai saat mandi memberi kesan kelembutan. Perlahan Juli memejamkan matanya merasakan deru nafas Damar.
Kerinduan itu ada dan sangat menggebu. Cukup lama keduanya berpuasa melakukan hubungan ranjang.
"Mas, ,"
Desahan Juli terdengar ketika tangan Damar meremas buah dadanya dari luar. "Aku belum siap." Tingkat kesadarannya muncul ditengah ingatannya kembali tertuju pada baby mereka.
"Aku merindukanmu Juli, jangan diamkan aku begini. Aku bisa gila."
Ya, dalam lubuk hati terdalam Damar memang kecewa atas kehilangan baby. Disisi lain Damar juga butuh pelepasan, Juli seakan masih sibuk dengan kesedihannya.
Sudah 1 bulan setelah keguguran kandungan Juli, berbagai cara Damar dan keluarganya lakukan demi memberi harapan untuknya. Mencurahkan perhatian untuk menjaga Juli, mengajaknya bertemu psikiater. Jujur saja Juli juga merasa ini bukan dirinya, dia hanya tidak mau berusaha menerima kenyataan.
Pada satu malam, Damar pernah memancing gairah Juli. Lagi lagi Juli menolaknya secara gamblang. Jadilah Damar melepaskannya sendiri dikamar mandi. Dan itu membuat Juli merasakan rasa sakit karena telah mengecewakan Damar.
Kepergian mereka ke Seoul membulatkan tujuan Juli untuk memperbaiki hubungannya dengan Damar.
"Tidak apa, ayo kita tidur saja. Biarkan aku memelukmu seperti ini Juls."
Damar membenamkaj wajahnya pada ceruk leher Juli.
Paginya Damar bangun lebih dulu sengaja, ia akan meminta ahjuma membuatkan mereka sarapan. Kemudian ia membersihkan diri di kamar mandi terpisah dengan kamar tidur.
"Selamat pagi sayang , ,"
Sapa Damar muncul dari balik pintu, istrinya masih terduduk melakukan peregangan.
Senyum Juli mampu mengalihkan rasa lelah Damar menjadi penuh semangat.
"Kamu mandi dulu gih, nanti sarapan diteras depan."
Damar memakai kaos berpasangan dengan joger selutut.
Bukannya menuruti perintah Damar, Juli malah beranjak kemudian memeluknya dari belakang. Ia sengaja melakukannya demi menghirup aroma tubuh sang suami.
"Hmm , , ,"
Damar bergumam seraya membalikkan badannya, mereka berpelukan sambil berpandangan. Ini ritual yang sangat Damar rindukan setiap paginya. Setelah menikahi Sofia saat Damar menginap dirumah Juli, mereka bahkan tidur dikamar yang berbeda.
"Hari ini mas Damar tampan sekali, kenapa aku tidak menyadarinya selama ini ?"
Tangan Juli bergerak mengusap rambut basah Damar dan meraba tengkuk belakangnya.
"Sesulit apapun aku mengetuk pintu hatimu, akan tetap kulakukan. Lihat aku disini Juls, aku akan tetap menggenggam tanganmu menyusuri jalanan dihadapan kita. Jangan sekalipun meragukan perasaanku."
"Aku minta maaf, atas ketidak dewasaanku meninggalkan mas Damar begitu saja. Terima kasih mas Damar setia menemaniku saat aku terpuruk. Merawatku dengan tulus tanpa mengeluh ataupun lelah."
Perjuangan Damar kemarin mampu membuka mata hati Juli yang sempat tertutup oleh egonya. Pernikahan kedua Damar tidak berjalan seperti dugaannya. Suaminya menderita menjalani hari tanpa kehadiran Juli disisinya. Teganya, Juli sempat berpikir kalau Damar juga memiliki perasaan pada Sofia.
"Kita lupakan masa lalu dan jadikan itu pelajaran. Kedepannya kamu harus lebih erat menggenggamku, kamu yang jatuh aku akan menarikmu berdiri kembali. Begitupun sebaliknya."
Juli mengangguk tersenyum.
__ADS_1
Cup. . Ia mencium bibir Damar singkat lalu berjalan menuju kamar mandi. Kalau saja Damar belum mandi, sudah ia serang Juli dan memakannya rakus.
"Semoga kamu akan tetap tersenyum seperti dulu sayang. Kedewasaanmu membuatku rindu Juli si Daily Worker."
Terlintas diingatan Damar pertemuan pertama mereka di lobi hotel. Tak terasa perjalanan mereka sudah sejauh ini. Melalui begitu banyak hal didalamnya.
Apapun akan Damar lakukan demi membahagiakan istrinya Juli. Kesalahannya kemarin tidak akan pernah Damar ulangi dihari berikutnya. Perpisahannya dengan Sofia tidak begitu buruk. Sebentar lagi mereka akan menjadi keluarga. Bara akan menikahi Tiara usai operasi besar penyakit Sofia.
- Flashback -
Sofia meminta bertemu Juli ditemani Bara, di sanatorium penanganan trauma pasien. Niatnya ingin meminta maaf atas apa yang ia sebabkan.
Saat itu Juli masih membisu tak banyak bicara. Awalnya dokter sempat pesimis melihat perkembangan psikis Juli. Beruntung keluarganya sangat memperhatikan dan menyayangi Juli. Damar, Zara, Ditya hingga Grand Ma bergantian menemani Juli melalui masa sulitnya.
Empat belas hari Juli habiskan waktunya di Villa pinggiran kota, kesehatan mentalnya berangsur pulih hingga 90%. Jika seisi kampus mengetahui dirinya pernah depresi, mungkin mereka akan memandang rendah Juliana. Istri seorang pengusaha muda yang sukses di bidang pariwisata, parahnya lagi sempat dimadu.
Namun tak ada sedikitpun yang tahu kisah hidup mereka. Itulah gunanya komitmen tidak mengekspose pernikahan mereka ke ranah publik.
"Kak, ini aku Sofia. Aku kesini mau minta maaf, tolong maafkan aku. Aku tahu ini semua salahku. Jangan benvi aku, aku sangat mengagumi kakak selama ini. Aku iri karena kepribadian kakak bisa dekat dengan semua orang termasuk pak Damar. Aku hanya merasa kesepian apalagi saat tahu penyakitku cukup mematikan. Tolong doakan aku supaya aku kuat menjalaninya."
Sofia duduk di kursi taman bersama Juli, sementara Damar dan Bara mengamati dari belakang.
"Puas kamu bicara ?"
Juli menatap Sofia intens, membuat lawan bicaranya tegang juga gugup.
"Kak, aku , , ,"
"Pertama, aku tahu kamu itu Sofia. Aku sembuh Sofia, dokter mengizinkanku pulang ke rumah."
Senyum tipis berhasil memberi rasa lega dihati Sofia. Ia kira Juli akan membencinya.
"Kedua, aku tidak mungkin membencimu. Kita lupakan masa lalu, dan doaku selalu menyertai kamu Fia. Jalan kamu masih panjang didepan sana, kita sama sama berjuang demi hidup kita."
Tak kuasa menahan tangis, akhirnya Sofia menitikan air mata memaksa masuk kedalam dekapan Juli. Juli sempat kaget namun akhirnya membalas pelukan itu.
---
Usai keduanya siap, kini mereka menyantap sarapan ditaman kecil depan pintu kamar. Ada dua nasi goreng kimchi dicampur cincangan daging ayam sebagai menu sarapan. Damar menjelaskan pada Ahjuma kalau mereka tidak bisa memakan samgyopsal atau pork belly.
"Habis makan kita kerumah yang tante Milka siapkan, letaknya disekitar Myeogndong. cukup naik taxi uber."
Damar menyedot Ice Tea sugarlessnya.
"Mas aku pengen belanja sambil jalan kaki gitu, biar kayak di drama korea."
"Anything for You Juls . ."
Damar mengacak acak rambutnya lembut.
Biarkan Malvin kelabakan mencari keberadaan mereka. sudah cukup Damar sabar menanggapi sikapnya yang selalu membuat kesal. panggilan telpon maupun pesannya belum Damar jawab.
Damar dan Juli datang kemari untuk menghabiskan waktu bulan madunya yang tertunda. Bukannya dibuat geram oleh sang sepupu.
__ADS_1