Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
#120


__ADS_3

Adalah hal terindah saat kita memiliki seseorang siap dibagi duka, bukan hanya ingin menerima bahagianya saja.


Tidak menuntut untuk sempurna menerima segala kekurangan kita.


Hal itu sedang dialami oleh Juli.


Ketika Juli sudah bisa pulang, didepan kamar inapnya tak sengaja ia mendengar percakapan Damar dan Ifan.


"Jangan sampai ada yang tahu kalau saya melunasi semua hutang David Siahaan.


Terutama Juli."


Perintah Damar pada Ifan.


Juli tersentak, pikirannya mulai kacau mendengar rahasia yang Damar simpan.


Benarkan hidupnya menyulitkan Damar,


kenapa dia baik sekali pada papinya ? Jumlah pelunasannya tidak sedikit,


bukankah sudah seharusnya Juli mengembalikan itu ?


"Ayo kita pulang , ,"


Juli mengejutkan Damar, mungkinkah Juli mendengar semua percakapannya ?


Bisa saja tidak, Damar bersikap seolah tidak terjadi apa apa.


"Iya."


Damar menarik tangannya, menggandeng Juli menyusuri koridor keluar dari rumah sakit.


"Aku butuh ke minimarket sebentar pak,"


Pinta Juli ditengah perjalanan pulang, sedari tadi dia hanya diam menatap ke luar jendela.


"Kita turun di depan Ifan !"


Damar memerintah agar Ifan berhenti saat melihat ada minimarket.


Juli masuk kedalam diikuti Damar setelahnya.


Ia langsung menuju rak berisi keju, cokelat dan bahan kue lainnya.


"Aku harus punya banyak stok keju, soalnya ada tikus raksasa yang doyan banget ngemil keju parut."


Juli menengok kearah sampingnga, menaruh beberapa box keju ke keranjang yang di bawakan Damar.


"Kamu nyamain aku sama tikus ?"


Serang Damar tak terima, Juli menggigit bibir bawahnya menahan tawa.


Damar menarik pinggang Juli hingga ia tersentak kaget, dirapatkannya ketubuh kekar Damar.


"malu pak, nanti ada orang . ."


Juli melirik kesana kemari mengawasi keadaan.


"Tidak ada yang lihat, toko ini sedang sepi Juls."


"Kasirnya pasti ngintip di layar cctv pak . ."


Juli mendorong dada Damar supaya menjauh darinya.


"Cepat Juli selesaikan belanjamu, aku sudah tidak sabar mau melakukannya."


Juli melototi Damar, dipikirnya laki laki itu mau berbuat aneh aneh padanya.


"Jangan mesum pak, kita kan


H A N Y A pacaran."


"hahaha. ."


Gelak tawa Damar sampai mengagetkan kasir di counternya.


"Apa maksud kamu ?


Aku harus mengganti perbanmu ke ukuran lebih kecil, lukamu sudah mulai mengering."


Juli nyelonong meninggalkan Damar karena terlalu malu dibuatnya.


Damar menggelengkan kepala merasa Juli lucu dan menggemaskan.


Benar saja, setibanya mereka di apartemen Juli Damar sibuk sendiri mengeluarkan keju dari kantung plastik.


"Juls dimana parutannya ?"


Teriak Damar berharap Juli bisa mendengarnya didalam kamar.


"Itu di lemari atas kepala bapak . ."


"Ketemu !"


Damar kegirangan seperti anak usia 7 tahun mendapat mainan baru.


Juli heran kenapa Damar sangat menyukai keju.


"Emang gak eneg pak ?"


Juli mendekat ke dapur.


"Ini gara gara kamu Juls , ,"


Damar menyalahkan Juli, iapun bingung kenapa.


"kamu ingat pernah memberiku menu spageti bolognaise ?"

__ADS_1


Juli melamun berusaha mengingat ingat. .


"kejunya terlalu banyak kamu tabur, dari situ aku mulai suka keju."


Damar menyuapkan keju parut ke mulutnya.


"Hmm, jadi aku penyebabnya sampai bapak jadi cheese lover."


"Kamu tunggu disofa biar aku ganti perbannya. ."


Juli mengangguk, ia berjalan ke ruang TV sementara Damar mencuci tangannya.


Ting nong . .


Bunyi bel berhasil menyatukan pandangan Damar dan Juli bersamaan. Siapa yang datang menjelang maghrib begini.


"Biar aku pak !"


Juli berjalan pelan was was.


Ia bisa melihat dari lubang, ternyata sosok tak asing bagi Juli sudah berdiri menunggu diluar.


"Kevin . ."


Tatap Juli ragu.


"Buka saja Juls."


Damar mengizinkan Kevin masuk.


Julipun membuka pintu.


"Hi Kevin, masuklah !"


Wajah Kevin biasa saja melihat kakaknya ada di dalam, seolah tidak aneh baginya.


"Kenapa gak ada yang kasih tahu aku kalau Juli celaka akibat Romi . ."


Bentak Kevin, wajahnya memerah frustasi.


Dia baru saja pulang dari kantor polisi untuk memberi kesaksian kejahatan Romi.


"Kevin . ."


Lirih Juli memanggil sahabatnya.


"Juli juga sahabatku mas, bukan sekedar kekasihmu saja."


Nada bicara Kevin semakin terdengar berat, frustasi.


"Juls bisa tinggalkan kami berdua ?"


Damar meminta ruang dan waktu, Juli mengangguk kemudian masuk ke kamarnya.


"Aku minta maaf soal keegoisanku. Kamu berhak marah padaku, tidak pada Juli Kevin."


Kevin berjalan kearah kaca pembatas balkon, mengabaikan kakaknya mencoba menahan emosi.


"Katakan aku harus apa agar kamu mau memaafkan kakakmu ini ?"


"Tinggalkan Juli !


Adil jika tidak ada yang bisa memilikinya diantara kita berdua."


Pada akhirnya Damar mendengar permintaan adiknya begitu sulit dia kabulkan.


"Kenapas mas . .


Tidak mau melakukannya ?


Kalau begitu aku juga akan berusaha mendapatkannya."


Kevin mengancam merusak hubungan Damar dan Juli.


"Maka kamu akan menyakiti Juli.


Kevin bisakah kita sama sama membahagiakan Juli dijalan berbeda ?


Kasihan dia tertekan."


Adiknya tersenyum sinis.


"Pikirkan nasib keluarga kita !"


"Kevin . ."


Sejak tadi Juli tidak menutup pintu dan mendengar semua pembicaraan mereka.


Keduanya menahan nafas tegang khawatir Juli mendengarnya.


"Bisa tolong ganti perbanku ?


Saat kamu jadi dokter mungkin aku harus bayar. ."


Juli tersenyum meredakan suasana tidak nyaman diantara Damar dan Kevin.


"Juls aku masih ada pekerjaan, tolong bantu dia Kevin."


Damar mengambil jasnya disofa lalu pergi.


"Kemarilah !"


Kevin menyuruh Juli keluar kamar.


Juli dan Kevin duduk berdampingan disofa ditemani suara TV.


"Bagaimana Jihane ?"

__ADS_1


Juli penasaran memulai percakapan.


"Kami masih tahap penjajakan, pacaran bukan permainan Juls."


Telaten sekali Kevin membuka perban bekas kemudian membersihkan jahitan dileher Juli.


"Take it slow Kevin, semua butuh proses.


Aku tahu ini sulit buat kamu."


"Jangan banyak bicara, aku harus fokus menempelkan perban barumu."


Juli tersenyum, ia merindukan kehangatannya sebagai sahabat.


"Selesai,


aku pulang Juls."


Kevin bangkit dari duduknya.


"Kamu gak makan dulu ?


Biar aku masakin sesuatu."


Juli mengejar langkah lebar laki laki itu.


"Lama lama disini aku khawatir kamu tidak bisa selamat dariku."


Kevin mengacak acak rambut Juli gemas.


"Goodbye Juls . ."


Kevin berhenti diambang pintu.


"See you Kevin, ,"


Juli melihat ada sorot tak biasa dimata Kevin.


🌙️🌙️🌙️


Di meja kerja milik Ditya dulu, Juli masih sibuk dengan laptopnya berkutik mengerjakan beberapa tugas terakhir.


Kepalanya mulai pegal menatap benda dihadapannya cukup lama.


Mendadak Juli ingat, Damar menunda hadiah untuknya sebelum masuk rumah sakit.


Jarinyapun mulai mengetik pesan.


To : Mr. Dee


Juli tersenyum jail berniat mengganti nama kontak Damar.


To : Pacar


Where is my ghift ?"


Damar baru selesai mandi mendengar ponselnya berbunyi nada pesan. Sambil mengeringkan rambut basahnya Damar membaca pesan dari Juli.


To : Sweetheart


Di sebelah kompor


Selain pesan Juli, Damar juga membuka pesan bergambar dari Ifan.


Matanya terbelalak memperjelas foto kiriman asisten pribadinya.


"Shit. ."


Umpat Damar, buru buru dia memakai kaos dilapis hoodie.


Tangannya sibuk meraih dompet juga kunci mobil.


Setelah mendapat balasan dari Damar, Juli keluar kamar mencari keberadaan hadiah untuknya.


"Ini dia . ."


Juli membuka box berukuran laptop yang tadi ia pandangi.


"Waw . . Dosen itu pandai sekali memilih barang."


Juli terkagum kagum memeriksa isinya.


Damar membelikan Juli sepasang sepatu sneakers brand kenamaan berpusat di Paris.


Selain sepatu Juli juga melihat jam tangan dari brand pesaing sepatu.


-Kencangkan talinya agar kamu tidak tersandung lagi.


Juga pegangan tanganmu supaya kita tidak terpisah.-


secarik kertas terselip diantara dua benda tersebut.


Selalu ada filosofi disetiap barang yang Damar kasih untuk Juli.


"Pak Damar . ."


Juli hampir melupakan sesuatu, soal uang milik Damar demi melunasi hutang David.


terlintas di pikirannya memberikan Damar akta tanah termasum rumah warisannya.


Belum sempat memanggil Damar, Juli sudah ditelpon nomer tak dikenal.


"Halo . ."


sapanya ragu, tidak tahu siapa penelponnya.


"Bisa ke MHospital sekarang sayang ?"

__ADS_1


Suara Zara terdengar lesu, Juli mulai menerka sesuatu buruk terjadi.


__ADS_2