
Sebelum pulang Kevin minta di buatkan makanan oleh Juli.
Ia tidak sempat makan bersama Jihane karena ingin segera menemui Juli.
Padahal tidak terlalu lama Juli memasak, Kevin sampai tertidur menunggunya.
"Kevin . ."
Ia berusaha membangunkan Kevin dengan pelan.
Namun Kevin hanya menggeliat mencari kenyamanan untuk kembali terlelap.
"Ya Tuhan, mana boleh dia tidur dikamarku."
Juli berjongkok ditepi ranjang memandangi wajah Kevin.
Damai sekali, Juli jadi tidak tega membangunkannya.
Kevin pasti lelah sekali seharian ini mengerjakan tugas yang ia emban.
Untung saja makanan yang Juli buat tidak akan basi.
Masih bisa dihangatkan jika sewaktu waktu Kevin ingin makan.
Juli yang juga mengantuk lebih memilih tidur di lantai, beralaskan selimut cadangan dan bantal yang tersisa.
☀️☀️☀️
Menjelang pagi, Juli terbangun dari tidurnya.
Ia kaget saat mendepati dirinya sudah berada diatas tempat tidur.
Seingatnya Kevinlah yang tidur dikasurnya tadi malam.
Juli melihat sekeliling mencari keberadaan laki laki itu.
Ia mengamati kondisi tubuhnya, takut telah terjadi sesuatu diantara mereka tanpa Juli sadari.
"Kamu sudah bangun ?"
Kevin keluar dari kamar mandi dengan pakaian barunya.
"Kamu niat sekali menginap dikamarku, sampai bawa baju ganti."
Juli beranjak dari ranjang mencari air minum di meja makan super mininya.
"Haha kamu lupa kalau aku selalu tidur di galeri.
Aku selalu menyimpan stok baju dimobil."
Kevin menghampiri Juli,
Tangannya sibuk mencari makanan untuk ia santap.
"Kamu bisa panaskan di microwave, aku mau mandi dulu."
Meski ukuran kamar Juli kecil
peralatan masaknya sangat komplit, Juli suka sekali memasak.
"Ok."
Jawab Kevin menemukan dua porsi spageti saus bolognaise.
"mmm Kevin,
semalam . . ."
Sebelum masuk Juli ingin memastikan sesuatu yang mengganggu pikirannya.
"Oh semalam aku bangun lalu memindahkanmu ke tempat tidur."
Kevin mulai memanaskan makanannya.
"Lalu kamu tidur dimana ?"
Juli menyelidik wajah Kevin yang santai itu.
"Di sebelah kamu."
Kevin terkekeh melihat ekspresi Juli yang sesuai dugaannya.
"Aku tidak sejahat yang kamu pikirkan Juls. Tidak terjadi apa apa."
Juli bernafas lega mendengar penjelasan Kevin.
"Sebelum ke kampus kita ambil lukisan ke galeri dulu."
Kevin dan Juli sudah siap berangkat ke kampus.
Mereka berjalan beriringan menuju mobil.
"Semalam kamu ambil baju sambil tidur ?
Semua lukisan masih ada didalam mobil Kevin."
Sifat Kevin yang bikin Juli kesal muncul kembali.
"Hehe sorry Juls."
__ADS_1
Kevin terkekeh menggaruk kepalanya malu.
Damar yang berniat mengajak Juli sarapan pagi melihat mereka keluar dari kostan Juli sepagi itu.
Mencoba berpikir positif, mungkin saja Kevin datang cepat untuk menjemputnya karena urusan mendesak.
Entah kenapa Juli merasa nyaman setelah tahu Kevin tidak melakukan apapun padanya.
Jika itu Romi, sudah pasti Juli akan habis oleh perbuatannya.
Kevin laki laki baik yang bisa menjaga martabat perempuan.
Menahan nafsu yang bisa saja meracuni pikirannya untuk berbuat jahat.
"Kamu kenapa Juls ,
apa ada yang salah dengan wajahku ?"
Kevin menyadari kalau Juli sejak tadi memperhatikannya.
"Tidak ada."
Mobil berwarna emas itu sampai diparkiran kampus.
Meski masih pagi sekali kampus sudah ramai kedatangan pihak yang terlibat acara pensi.
Sebelum sibuk sebagai ketua BEM, Kevin meluangkan waktu untuk membantu Juli menyiapkan stan.
"Mama sempat telpon kemarin kemarin, katanya aku suruh berkunjung kesana."
Percakapan Kevin dengan Zara ditelpon lebih cenderung ke arah curhat.
Meski puteranya tidak menyebutkan nama gadis yang sedang disukainya, Zara tahu betul kalau itu Juliana.
"Datanglah, itukan permintaan ibu kamu."
"Kamu mau kan menemaniku ?"
Kevin berharap kalau Juli mau ikut bersamanya ke Yogyakarta.
"Aku tidak tahu,
aku takut bertemu ayahmu."
Juli ragu untuk menerima ajakan Kevin.
Ia hanya menggunakan Ditya sebagai penolakan.
"Haha kamu pikir ayah akan menculikmu ?
Dia orang yang baik, ya meski sedikit dingin."
Sesaat mereka saling bertatapan tanpa ada kata yang terucap.
Dipertemuan pertama mereka, Kevin sudah menyukai kecerobohan Juli. Ia bahkan sangat tak sabar ingin bertemu dengannya lagi.
Juli tahu kapasitasnya tidak untuk bermain hati dengan Kevin.
Ia sudah berjanji membantu Jihane agar bisa mendapatkan Kevin.
Jihane yang berdiri dari jauh tak jadi mendekati keduanya.
Kevin dan Juli sangat dekat, bahkan bisa mengalahkan posisi Jihane yang sudah lama mengenal Kevin.
"Jihane . ."
Seseorang mengejutkan Jihane yang masih memandang ke arah Kevin.
"Loe tahu gak, gue denger dari seseorang kalau Kevin menginap dikamar Juli."
Mendengar hal itu Jihane langsung melotot kearah sampingnya tak percaya.
"Dia satu kost sama Juli.
Loe bisa memastikan kebenarannya dengan cara bertanya langsung sama mereka."
Mahasiswi itu pergi begitu saja setelah menyalakan api dihati Jihane.
Jika itu benar,
Jihane sungguh kecewa dengan sikap Juli.
Hatinya sakit saat tahu mereka tidur bersama.
"Akan saya panggilkan pak Damar."
Pagi sekali Sekar mendapat telpon dari kantor agar cepat datang.
Kini ia sudah berhadapan dengan seorang pria berusisa 50tahun lebih.
Meski perasaannya gugup, Sekar bisa mengendalikan dirinya dengan baik.
Sifat pendiamnya menjadi keuntungan tersendiri baginya.
"Tidak perlu.
Saya kesini sengaja ingin bertemu dengan kamu, Sekar Arum."
Tatapnya menyelidik Sekar,
__ADS_1
perempuan ini pasti sangat kompeten sehingga bisa mengatur Damar dengan baik.
"Apa benar kalian menjalin hubungan, sebagai seorang kekasih ?"
Tanyanya langsung pada tujuan utama.
"Saya tidak dalam kapasitas untuk menjawab.
Bapak konfirmasi langsung saja padak anak bapak."
Sekar merasa jengkel dibuat Damar, kenapa dia harus mengatakan kalau Sekar adalah kekasihnya pada orang tua mereka.
Kini ayahnya ingin memastikan kebenaran itu.
"Aku tidak peduli siapa saja yang dekat dengannya,
jika kalian serius saya akan dukung. tapi kalau saya tahu kalian main main,
jangan berharap saya akan diam saja."
Ditya mengecam Sekar.
Kenapa Ditya tidak seperti papinya dulu, tidak pernah mengekang dirinya soal kehidupan pribadi.
Mahesa hanya menuntut Ditya memimpin perusahaan menggantikannya.
"Akan saya ingat pesan anda pak Komisaris."
Sekar tersenyum kaku pada Ditya yang sengaja datang untuk menemui sekretaris anak pertamanya.
"Great.
Tolong antar saya ke kamar bos kamu."
Sekar menuntun jalan, mereka baru saja keluar dari coffeeshop yang masih sepi.
Sekar menekan bel griya tawang milik Damar.
Namun Ditya bergerak menekan password untuk membukanya.
"Masih sama."
Kata Ditya setelah pintu terbuka dengan menggunakan tanggal lahir Zoya sebagai kuncinya.
Di pojok ruang TV, Damar masih berlari di trademil menggunakan earphone.
-pantas saja dia tidak buka pintu-
Batin Sekar berdecak kesal pada Damar.
Ditya berjalan hingga berdiri disamping puteranya. Damar yang menyadari kehadiran sang ayah langsung menghentikan mesin itu.
"Ayah ngapain disini ?
Mama mana . ."
Tanya Damar lalu berjalan kearah meja untuk mengambil handuk.
Ia mengelap keringat yang bercucuran di wajah juga bagian badannya yang telanjang dada.
Sekar susah payah menelan salivanya melihat badan kekar Damar. Perutnya kotak kotak, mengkilap bercampur kalori yanh terbakar.
"Mama tidak ikut.
Ayah tunggu di dinning resto, kita bertiga sarapan bersama.
Kamu tidak usah menemani saya turun Sekar."
Ditya sengaja meninggalkan mereka berdua saja.
Setelah pintu tertutup Damar melempari Sekar dengan handuk bekas keringatnya.
Parah sekali dia melampiaskan kekesalannya tadi pagi pada perempuan bertubuh model itu.
"Pak saya tidak suka cara bapak, jangan libatkan saya dalam masalah keluarga kalian.
Bagaimana kalau orang tua bapak menuntut kita menikah ?"
Sekar membalas dengan membanting handuk itu kearah kaki Damar.
"Ya kita tinggal menikah saja, bereskan ?
Aku sama kamu, adikku bersama gadis idamannya."
Damar berjalan ke delam kamar, Sekar masih belum puas dan terus mengekor.
"Saya hanya akan menikahi laki laki yang saya cintai, dan mencintai saya pak !"
"Hari gini kamu masih mengharapkan pernikahan seperti itu ?
Jangan mimpi Sekar !
Aku sudah tidak percaya cinta."
Entah dari mana Damar tahu masa lalu Ditya dan Zoya,
tidak ada yang memberitahunya secara langsung.
Kenangan buruk yang dialami kedua orang tuanya membuat Damar menjauh dari perempuan manapun.
__ADS_1
Dia juga tidak ingin terikat pada suatu hubungan bernama pernikahan.