
Musim penghujan telah tiba.
Jangan lupa akan pepatah yang berbunyi 'Sedia payung sebelum hujan'.
Sejak tadi pagi gerimis turun membasahi seluruh ibukota.
Andai saja tidak ada ujian akhir semester, Juli ingin memilih tiduran saja di rumah barunya.
Ia jadi ingat sesuatu, Juli harus pergi ke MHotel untuk mengirim uang sewa apartemen pada Damar.
Pikiran Juli harus fokus pada ujian terlebih dahulu. Urusan hati simpan saja di urutan nomer sekian.
"Silakan kumpulkan ! Waktunya sudah habis dan terima kasih."
Prof. Felix menyudahi kesempatan para anak didiknya mengisi jawaban terbaik serta benar.
Ah kenapa dosen itu baru muncul disaat genting begini.
Jika saja Damar yang mengawas, munkin kelas tidak akan setegang tadi.
"Akhirnya selesai juga."
Juli merapikan lembar jawabannya kemudian menaruh dimeja milik dosen.
"Juli, sebentar."
Prof. Felix menahan Juli yang hendak keluar kelas.
"Saya mendapat laporan dari pak Damar Aditya, kalau beberapa kuis selalu kamu yang jadi nomer satu. Saya bangga sama kamu, tolong terus berprestasi agar beasiswa kamu tetap berlanjut."
Jadi Damar memuji hasil belajar dirinya hingga membicarakan itu dengan profesor Felix.
"Baik pak, akan saya ingat. Terima kasih supportnya, saya pamit duluan."
Juli tersenyum sopan pada dosen tersenior di kampusnya.
Peraturannya, saat seorang mahasiswa menjadi peringkat pertama seangkatan maka Kampus akan memberikan beasiswa. Yaitu free biaya satu semester selanjutnya.
Juli semakin bersemangat belajar, apalagi waktunya tidak tersita seperti enam bulan ke belakang.
Ia juga berencana menolak tawaran pekerjaan yang Tiara berikan.
Pelan tapi pasti, Juli akan menjauhkan dirinya dari kehidupan keluarga Aditya.
Masih tersisa satu lagi ujian mata kuliah.
Juli akan menunggu dikantin sambil ngemil, perutnya juga sudah terasa lapar.
Pandangannnya tertuju pada dua pasang mahasiswa.
Mereka duduk diselangi canda tawa, membuat iri siapapun yang melihat adegan tersebut.
"Juls . ."
Sapa Adam ikut duduk dimeja Juli.
"Hi kak . ."
Juli menyapa sekaligus mengalihkan tatapannya dari arah tadi.
"Loe udah bilang kan ke Kevin kalau Jihane itu licik ?"
Tanya Adam kemudian menengok sekilas ke belakang.
Juli mengangguk, tangannya kini sibuk membuka buku.
"Kenapa Kevin malah makin lengket sama Jihane ?
Sebelumnya dia gak pernah begitu Juls."
"Mungkin Kevin sudah bisa menerima perasaan Jihane kak.
Sudahlah, itu hak mereka kok."
Juli malas membahas keduanya, bahkan seisi kampus membicarakan gosip terhangat mengenai keduanya.
"Gue kira loe bakal terima Kevin jadi pacar loe, dia tuh suka banget sama kamu Juls . ."
Adam yang gemaspun mengutarakan kekesalannya melihat Kevin malah sok sokan mesra dengan Jihane.
"Mending kita pesen makan, aku traktir kak Adam."
Lagi lagi Juli mengalihkan pembicaraan.
Dari arah sudut, sesekali mata Kevin memperhatikan Juli.
Dia lega saat tahu sahabat karibnya bisa menjaga Juli menggantikan posisinya.
__ADS_1
"Aku bahagia Kevin, meski aku tahu kalau hati kamu hanya untuk Juli."
Bisik Jihane mendekati telinga Kevin, kata anak anak BEM Kevin sudah meresmikan hubungannya dengan Jihane.
Itu juga penyebab Adam mengadu pada Juli.
Padahal semua mahasiswa juga tahu kalau Kevin lebih menyukai Juli dibanding Jihane.
"Aku hanya sedang membuktikan sesuatu pada seseorang."
Kevin balas berbisik, sengaja menarik perhatian Juli agar puas melihat dirinya berkorban.
"Kapan pameran kamu akan dimulai ?
Izinkan aku yang menjadi kuratormu, demi menebus kesalahanku kemarin."
Benar, Kevin berasa diingatkan oleh Jihane.
Akibat kesibukannya praktek di Rumah Sakit, Kevin hampir lupa kalau sebentar lagi dia akan menggelar pameran.
"Nanti aku kasih kabar jadwal beserta rinciannya."
Kevin menarik tangan Jihane meninggalkan kantin.
Dia juga menggandeng tangannya hingga melewati meja Juli.
Ya, Kevin mengabaikan keberadaan Juli.
Sudah sewajarnya bukan ?
Itu tindakan yang amat diharapkan oleh Juli.
Tugasnya jadi semakin berkurang, menyisakan masalahnya dengan Damar.
Bahkan pesan whatsapp Damar belum Juli buka.
Tadi pagi Juli sempat mengaktifkan ponsel barunya.
"Hmm . ."
Tiba tiba Juli meringis memegang kepalanya yang sakit.
"Juls kamu sakit ? Kenapa pucat sekali . ."
Adam mulai khawatir pada Juli.
"Gak tahu kak, pening banget nih kepala."
"Hidung loe mimisan Juls, ayo ke klinik."
Adam berusaha membantu merapikan isi tas Juli.
Saat hendak berdiri, Juli tidak bisa menahan lagi tubuhnya agar tetap sadar.
Beruntung Adam segera menahan Juli.
"Kevin !"
Teriak Adam memanggil Kevin, dia dan Jihane kebetulan belum terlalu jauh dari kantin.
Melihat keadaan Juli tak sadarkan diri, Kevin segera berlari kembali ke kantin terbuka itu.
Dia juga mengambil alih tubuh Juli, membawanya ke arah klinik kampus.
"Suhu badannya tinggi, saya sudah mengambil darahnya untuk di tes. Kevin sebaiknya kamu bawa Juli ke MHospital segera.
Disana kita bisa langsung tahu hasilnya."
Rekan koas Kevin di rumah sakit yang sama selesai memberi penanganan pertama pada Juli.
"Oke Rayn, thank you sekali lagi."
Rayn meninggalkan ruangan karena tugasnya sudah selesai.
Ponsel Juli berdering nada panggilan masuk.
Sempat terkejut Kevin mengetahui Juli punya ponsel mewah berbentuk apel itu.
"Halo Juls,
akhirnya kamu mengangkat telponku."
Suara Damar terdengar lega, sejak kemarin Juli memang susah sekali dihubungi.
"Mas, Juli pingsan.
Aku akan membawanya ke MHospital, kita bertemu disana."
__ADS_1
Kemudian Kevin mematikan sambungannya.
Damar akhirnya tiba di depan ruang laboratorium.
Bergabung bersama Kevin yang ditemani Tiara.
Seorang dokter umum keluar membawa hasil tes darah Juli.
"Pasien terkena demam berdarah, diharuskan dirawat agar mendapat penanganan khusus.
Masa kritisnya baru akan dimulai ketika demamnya menurun.
Ini siklus dari aedes aegypti."
Dokter menjelaskan keadaan Juli.
Beruntung dia tidak mengidap penyakit serius. Namun bukan berarti demam berdarah juga sepele.
Damar merasa bersalah, pasalnya dia mengajak Juli berlibur ke daerah pegunungan.
Bisa saja Juli digigit nyamuk berbahaya itu disana.
"Thank you dokter."
Tiara menemani rekannya meninggalkan Damar dan Kevin saja.
"Terima kasih Kevin kamu sudah membawa Juli."
Ucap Damar.
"Kenapa harus berterima kasih, Memangnya mas siapanya Juli ?"
Kevin mengernyitkan dahinya heran sekaligus curiga.
"Aku berniat menjadikannya cook di MHotel Kevin, itu saja."
Damar mengelak menyembunyikan kebenarannya.
"Dia tidak akan pernah melakukannya. Juli bahkan menolak tawaran kembali ke MCafe."
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Juli sempat sadar dan menyampaikan hal itu pada Kevin.
Karena seharusnya sejak kemarin Juli mulai bekerja.
"Aku masih ada ujian, tolong jaga Juli jika mas Damar tidak sibuk."
Kevin sudah memutuskan meninggalkan perasaannya bersama Juli.
Ia harus belajar tidak peduli lagi pada gadis itu.
"Kevin . ."
Teriak Damar, namun Kevin terus saja berjalan meninggalkan koridor.
"Halo Sekar, ada apa ?"
Damar mengangkat telpon sebelum pergi menuju kamar Juli.
"Pak, bu Zara datang ke kantor dan ingin bertemu."
Sekar menggunakan bahasa formal, artinya mama Zara masih berada didekatnya.
"Sekar aku sedang berada di MHospital. Minta saja driver mengantar mamaku kesini."
Damar segera menutup telpon.
Ia tidak bisa berlama lama sebelum Zara tiba.
Sesuai perintah, Sekar menyarankan Zara pergi menemui Damar di rumah sakit keluarga.
"Memang siapa yang sakit Sekar ?"
Tanya Zara penasaran.
"Sekar kurang tahu bu, mungkin pak Damar memeriksa keadaan perusahaan."
Semenjak sakit, Sekar memang tidak pernah tahu jadwal Damar diluar pekerjaannya.
Ia juga mendapat laporan dari front desk kalau Juli sempat masuk ke Penthouse.
Hatinya jadi tak karuan, khawatir akan ada masalah menimpa hidupnya.
Damar duduk dikursi menunggu Juli siuman.
Dia mengambil sebuah kotak didalam saku kemejanya.
Secara hati hati, Damar mengaitkan sebuah bracelet warna hitam berbahan benang di tangan kanan Juli. Dengan angka 7 berlapis emas menjadi penghubungnya.
__ADS_1
7 lambang bulan lahir Juli sekaligus namanya.
Sebuah filosofi sederhana yang bahkan orang lainpun bisa memahaminya