
Juli tidak bisa menghentikan Kevin. Dirinya selalu merasa bertanggung jawab penuh atas kepercayaan yang diberikan sebagai kapten tim.
Kini Juli hanya bisa memperhatikan Kevin dipinggir lapang basket.
"Kapan 5 menit ini akan berakhir ?"
Peluit tak kunjung dibunyikan wasit, padahal menurut Juli pertandingan sudah berjalan sangat lama.
"Juls, tolong gantiin jaga galeri.
Minum Kevin biar aku yang kasih."
Ketus Jihane menghampiri Juli yang berdiri cemas.
Jihane meminta Juli berganti posisi, ia juga ingin menyaksikan penampilan laki laki idamannya.
"Aku tidak bisa Ji, kali ini saja biarkan aku yang menemani Kevin."
Juli meminta sedikit pengertian Jihane dengan memohon padanya.
"Jangan jangan kamu juga suka sama dia ?
Kamu munafik Juls, kamu bilang akan membantuku mendapatkan Kevin. Nyatanya kamu mengambil kesempatan itu."
Jihane tak segan mendorong Juli agar menjauh dari barisan penonton paling depan.
Adam kebetulan berdiri disamping Juli sejak tadi mendengar pertengkaran itu.
Terpaksa sekali Juli harus menuruti keinginan Jihane, agar dia tidak lagi mencurigainya.
Juli tidak ingin mengorbankan pertemanan mereka hanya demi menjaga Kevin yang bukan siapa siapanya.
Juli berjalan menuju stan yang terletak di belakang tenda sekretariat. Dari arah itu Juli tidak bisa memantau kondisi Kevin.
Kalau saja Jihane memberinya kesempatan bicara, Juli akan menitipkan Kevin dan menjelaskan keadaannya sekarang.
Ketika Kevin berniat mencetak three point, lawannya menyikut Kevin hingga tubuhnya terjatuh.
Jika saja Kevin sehat walafiat, mungkin dia akan terus melanjutkan pertandingan.
Dia hanya tergeletak dilapangan meringis kesakitan memegangi perutnya.
"Woi tandu tandu !"
Teriak Adam meminta anak medis membawa Kevin ke klinik kesehatan.
"Kevin !"
Jihane berlari ikut mengantar Kevin yang sudah dibopong tandu.
"Juls ibu beli lukisan ini ya sama yang itu, selain harganya murah Kevin pandai sekali membuatnya.
Akan ibu pajang di dinding rumah."
Ibu wakil rektor II membeli lukisan abstrak dan bunga cherry blossom milik Kevin.
"Terima kasih ya bu, sebentar Juli bungkus dulu."
Dalam waktu singkat Juli sudah melayani beberapa pembeli. Hanya tersisa berapa buah saja lukisan Kevin.
Semua transaksi berjalan lancar, uang tunai yang hanya bisa berlaku.
Selain wakil rektor, guru pebimbing dari SMApun ikut membeli lukisan yang indah itu.
Kevin hanya membandrol Rp. 500.000,- saja setiap buahnya.
Masih terjangkau hingga kelas uang jajan mahasiswa.
"Juls, Kevin masuk klinik."
Seseorang yang diperintah Adam memberi kabar soal Kevin pada Juli.
"Apa ?"
Ketakutan Juli menjadi kenyataan, dengan cepat ia merapikan laporan keuangan lalu pergi menuju klinik.
"Kevin kenapa kamu nekad main basket saat terluka begini ?
Aku khawatir sama kamu tahu, aku akan membantumu sampai kamu sembuh Kevin."
Setelah dokter jaga memberi obat pereda sakit, Jihane dan Adam akhirnya tahu kondisi Kevin yang terluka.
"Loe habis berantem sama geng motor mana sih Vin ?"
__ADS_1
Kevin malah tertawa mendengar pertanyaan Adam yang dianggapnya lelucon.
"Yeh ni anak malah ketawa lagi, jangan jangan loe kesambet terus nusuk diri sendiri ya ?"
Kevin berusaha duduk di atas brankar, tubuhnya sudah merasa baikan efek dari kerja obat.
"Gue . ."
"Kevin . ."
Juli dengan nafas terengah engah muncul dibalik pintu, ia berlari memeluk Kevin yang terduduk.
"Jihane mending kamu cek galerinya Kevin kasihan gak ada yang jaga. Nanti ada maling lagi."
Adam berusaha memberi Kevin dan Juli waktu untuk berduaan.
Dia menarik tangan Jihane yang masih tak percaya melihat adegan barusan.
Kevin menikmati sekali pelukan Juli, dia tidak menyangka akan mendapatkan perhatian lebih saat sakit parah.
"Apa aku harus terluka parah agar kamu mau melihatku Juli ?"
Bisik Kevin membalas pelukan Juli yang ternyata sangat hangat dirasa.
"jangan bilang begitu Kevin."
Juli melepaskan pelukannya menatap Kevin.
"Say yes Juli ?"
Pinta Kevin.
"Untuk ?"
Juli tak mengerti permintaan Kevin.
"Be mine . ."
Tatapnya penuh harap Juli akan menerima pernyataan cintanya.
"Kevin aku . ."
Juli terbata bata tidak tahu
"sesulit itukah kamu membuka hatimu untukku Jul ?"
Perlahan Kevin mulai mendekati wajah Juli.
"Aku belum siap Kevin . ."
Hanya itu yang mampu Juli
ucapkan saat ini.
"Karena mas Damar ?"
Kevin yakin kalau Juli masih
menyukai kakaknya.
"Bagaimana kamu bisa . ."
"Aku tahu semuanya, tapi aku egois masih mengharapkanmu."
"Kevin gawat . ."
Adam datang menyela percakapan serius Juli dan Kevin.
"eh sorry sorry, gue gak maksud ganggu kalian.
Tapi stan milik loe ada yang rusak."
Juli yang bertanggung jawab menjaga galeri Kevin langsung berlari ingin melihat sendiri keadaannya.
Sementara Adam membantu Kevin berjalan.
"Thanks Dam."
Kevin sendiri hanya santai menanggapi masalah yang sedang menimpanya.
"Anytime Vin.
Oh iya gue mau kasih tahu loe sesiatu, ini soal Jihane dan Juli.
__ADS_1
Tadi pas loe tanding Jihane maksa Juli menjauh dari lapangan sampai mendorongnya.
Ternyata Juli berusaha menjodohkan kalian berdua."
"Serius loe gak salah denger ?"
Kevin tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"asli, orang gue berdiri dideket mereka berdua."
Adam tidak berani mengarang cerita apalagi mengenai kehidupan sahabatnya.
-Kenapa kamu melakukannya Juls ? Apa sebenarnya maumu ...-
Batin Kevin frustasi ingin segera tahu apa yang Juli rencanakan selama ini.
Sesampainya Juli didepan stan ia terkejut saat lukisan Kevin sudah hancur berantakan.
Siapa yang tega melakukan ini ?
Kenapa dia tega merusak hasil karya orang lain.
Juli memang pembawa sial bagi Kevin, dia seharusnya tidak dekat dengan laki laki itu.
Orang sebaik Kevin tidak mungkin memiliki musuh kecuali kedekatannya dengan Juli bisa memicu kebencian seseorang.
Juli merapikan serta memunguti sisa lukisan, dia membungkusnya kedalam tas yang biasa Kevin gunakan.
"Sudahlah Juls, jangan jadi beban pikiran.
Aku masih sanggup membuatnya lagi."
Kevin datang menghampiri Juli berdiri dibelakangnya.
"Kevin aku tidak bisa . ."
Juli menyerahkan amplop putih berisi uang hasil penjualan lukisannya.
"Apa maksud kamu ?"
Kevin mengernyitkan dahinya bingung.
"Maaf atas lukisan mamamu yang rusak, dan soal Romi yang berbuat jahat sama kamu karena aku.
Tapi aku tidak bisa terus berteman sama kamu.
Setelah ini, anggap saja kita tidak saling mengenal."
Tak kunjung diterima, Juli meraih tangan Kevin dan memberikan amplopnya.
Ia berjalan begitu saja meninggalkan Kevin yang masih belum percaya.
-Maafkan aku Kevin, ini demi kebaikan kita semua.-
Rasanya sesak saat Juli harus tega mengatakan hal itu pada sahabatnya. Lebih sakit dibanding mendengar dari mulut Damar yang meminta hal sama.
Kevin masih mematung melihat Juli, kini berakhir sudah semua usahanya. Usaha yang belum seberapa untuk mendapatkan seseorang seperti Juli.
Diremasnya amplop itu ditangan Kevin.
Apapun alasan Juli menolaknya akan ia cari tahu.
"Kevin apa yang terjadi ?"
Jihane baru saja tiba entah dari mana dia sejak tadi.
"Kamu darimana saja Ji ?"
Kevin menatapnya penuh selidik seolah mencurigai Jihane.
"Aku tadi dari toilet sebentar Kevin, aku sudah menitipkan stan sama Juli. seharusnya dia bisa bertanggung jawab."
Jihane yang menyudutkan Juli kini sudah terbaca oleh Kevin yang mengetahui semuanya.
"Terima kasih Jihane selama ini sudah membantuku.
semoga kamu mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku.
maaf aku tidak bisa menerima kamu, kamu sahabat bagiku."
Kevin menegaskan kembali batasan yang ada diantara keduanya.
Jihane hanya bisa pasrah mendengar kata kata Kevin yang menyakiti perasaannya.
__ADS_1