
Gemericik air terjun mini dikolam renang sementara menemani kediaman mereka.
Lampu temaram sekeliling taman menerangi malam sepi tanpa pujaan hati.
"Bagaimana bisa kamu memutuskannya ?"
Pertanyaan pertama keluar dari mulut si sulung.
Kevin terkekeh menerima pertanyaan itu.
"Dan bagaimana mas Damar bisa tahu kalau aku yang mengakhirinya ?
Pasti Juli mengadu kan . ."
"Kamu salah Kevin, Juli tidak seperti itu."
Damar balik tertawa sinis menanggapi tuduhan adiknya.
"Tahu banget soal dia . ."
"Kamu hanya kurang mengetahui Juli lebih dalam Kevin.
Aku sudah berusaha menikungmu tapi Juli mempertahankan hubungan kalian hingga saat kami ketahuan oleh kamu."
Bukan Damar sok tahu, menurutnya Kevin memang tidak bisa melihat pengorbanan yang dilakukan Juli selama ini.
"Aku tahu semuanya mas, Juli berkorban demi perasaanku.
Dia memutuskan mas Damar saat aku kecelakaan dulu."
Pengakuan Kevin membuat Damar menengok kesamping menatapnya.
"Kamu tahu itu dan kamu melepaskannya ?
Mau kamu apa Kevin ?"
Frustasi Damar menghadapi sikap adiknya.
"Aku mau Juli berhenti berpura pura. Jelas hatinya bukan untukku mas. ."
Kevin merujuk pada Damar.
"Seharusnya kita memang saling terbuka seperti ini Kevin.
Tanpa emosi dan berpikiran jernih menyikapi masalah."
Damar tersenyum lega menepuk pundak Kevin.
Selesai sudah kesalah pahaman yang terjadi diantara keduanya.
Kevin akan mewujudkan cita cita sang kakek, memimpin rumah sakit.
Mungkin suatu saat bertemu perempuan lain diperjalanan hidupnya.
Itu rencana Kevin setelah putus dengan Juli.
Sementara Damar belum bisa menyerah soal Juli.
Dia akan terus berjuang mendapatkannya kembali.
Seperti kata anak muda kebanyakan, cinta lamanya belum kelar.
Meski tidak akan mudah baginya mengingat Juli sudah menutup pintu hatinya.
Ah biar saja waktu menjawab kapan hati mereka akan kembali menyatu.
"Aku balik duluan mas."
Kevin pamit pulang,
Damar mengangguk membiarkannya pergi setelah pembicaraan mereka selesai.
🌙️🌙️🌙️
Malam semakin larut tidak berarti Damar akan tidur nyaman diranjangnya.
Dirinya masih harus menyelesaikan urusan Malvin.
"Halo miley, ,
boleh aku tahu club mana yang sering Malvin datangi ?"
Tanya Damar setelah panggilannya tersambung.
"Hmm , , Red Devil mas Damar."
Suara Miley serak khas orang bangun tidur.
"Terima kasih ya Miley, maaf ganggu tidur kamu."
Damar jadi merasa tidak enak membangunkan Miley dari tidur nyenyaknya.
"Sama sama mas, pukul saja Malvin kalau dia memang salah."
Miley tahu jika Damar sudah mencari kakaknya berarti ada masalah cukup serius.
"see you Miley . ."
Damar segera menutup telpon.
Kakinya menancap injakan gas lebih cepat lagi menuju tempat hiburan malam itu.
Damar melangkah masuk tanpa ragu meski dirinya belum pernah ke club malam.
__ADS_1
Dentuman keras musik distorsi memekik ditelinganya.
Riuh pengunjung yang bergoyang beradu dengan kebulan asap rokok.
Matanya berkeliling mencari keberadaan Malvin.
Beberapa wanita penghibur sempat menghampiri Damar menggodanya.
Damar menolak keras mereka, dia berharap segera menemukan laki laki nakal itu.
"Malvin !"
Tegur Damar pada Malvin yang baru saja meneguk seperempat gelas red lable.
"Eh ada Damar Aditya , ,
hehe mau pesen minum apa ?"
Malvin tukang mabuk, tapi tingkat kesadarannya masih cukup baik bisa diajak bicara.
"Loe ngapain Juli sampe dia nangis ?"
Mencoba bersabar, Damar menahan emosinya sesaaat.
"Haha . ."
Gelak tawa terdengar meski kalah jauh oleh suara musik.
"Gue cuma mau nyoba pake dia, penasaran gue kenapa kalian berdua sampe rebutan Juli."
Runtuh sudah benteng pertahanan yang Damar bangun.
Rahangnya mengeras beriringan mengepalnya tangan kanan Damar.
Sebuah pukulan telak mendarat diwajah Malvin.
Pengunjung disekitar mereka tersentak kaget melihat sebuah keributan.
Malvin menyeka darah disudut bibirnya.
"Itu buat loe yang sudah bikin dia nangis. ."
Damar meraih kerah kemeja Malvin menatapnya tajam.
Lalu ditinjulah perut sang sepupu tanpa memikirkan persaudaraan mereka.
"Dan ini, karena pikiran licik loe menghina gadis baik baik seperti Juli. Jangan pernah berpikir untuk menyentuhnya sedikitpun, atau aku akan menghancurkanmu."
Puas Damar memberi peringatan, ia mendorong Malvin hingga jatuh tersungkur.
Damar pergi tanpa peduli keadaan Malvin.
Sebelumnya dia sudah meminta Ifan mengurus Malvin jika terjadi apa apa diantara mereka.
"Bawa dia pulang kerumahnya !"
Sekesal apapun, Damar tetap saudaranya. Dia tidak tega melihat Malvin dalam masalah apalagi karena ulahnya.
"Baik pak."
Ifan bergerak memapah tubuh Malvin dan membawanya keparkiran.
☀️☀️☀️
Tidak ada lagi mang Agus menjemput Juli.
Memang selama pacaran Kevin jarang ada untuknya.
Namun laki laki itu tidak lupa memperlakukan Juli layaknya tuan puteri melalui orang lain.
Kini ia berdiri ditrotoar jalan menunggu taxi lewat.
Sejujurnya Juli malas pergi ke kantor akibat kejadian kemarin.
Tapi ia harus profesional apalagi statusnya sebagai karyawan magang.
"Bisa terlambat nih taxinya lama . ."
Gerutu Juli setelah melirik jam tangannya.
Tit tit . .
Klakson mobil nyaring seiring berhenti didepan Juli.
Juli membuang nafas kasar melihat mobil tak asing itu.
"Masuk !"
Perintahnya.
"Nunggu taxi, ,"
Juli mencoba menolak ajakannya.
"Bisa telat kamu, taxi lagi ramai dijam segini."
Dia mengingatkan Juli.
Benar apa katanya, Juli bisa saja terlambat hanya karena menjaga gengsi menjauhinya.
Mau tidak mau, suka tidak suka akhirnya Juli masuk kedalam mobil.
Tak lupa ia juga membanting keras pintunya.
__ADS_1
"Sudah sarapan ?"
Tanya laki laki yang kini fokus menyetir.
"Belum."
Juli menjawab singkat terdengar ketus.
"Sama.
Tolong ambilkan box dibelakang Juls, kita sarapan bareng."
Lagi dia memerintah Juli dengan mudahnya.
Juli memutar bola matanya jengah juga kesal.
Tetap saja ia melakukan apa yang orang sebelahnya suruh.
Susah payah Juli memaksa tubuhnya meraih box putih.
"Ini !"
Juli menyerahkannya kedekat wajah pengemudi.
"Kamu gak lihat aku lagi nyetir, kalau sambil makan terus nabrak gimana ?"
Katanya masih menatap lurus kedepan.
"Terus ?"
"Suapin dong . ."
Pintanya tidak peduli meski Juli saat ini sudah kesal.
Tarik nafas, Juli masih berusaha bersabar menghadapinya.
Dibukalah penutup box, Juli menahan senyumnya melihat isian sandwich penuh dengan keju.
"Nih . ."
Juli menyodorkan sepotong sandwich ke dekat mulutnya.
"Thanks. ."
Ucapnya kemudian mengelus ujung kepala Juli.
"Pak Damar, semisal saya mengajukan pemindahan bagian apa bisa ?"
Juli teringat masalahnya dengan Malvin, ia ingin kelyar dari tim DGC.
"Tidak perlu memikirkan Malvin. Lagipula besok dia akan pindah ke seoul."
Tangan Damar menyomot potongan lain lalu meyuapi Juli.
"Aa . ."
Perintahnya agar Juli mau membuka mulut.
Ia menurut saja karena memang lapar.
Alih alih menghindar dan menjauh Juli masih terjebak keadaan mengharuskannya dekat dengan Damar.
Selagi tidak ada pemaksaan apapun terhadapnya, Juli akan bersikap sewajarnya pada Damar.
Kedatangan Juli sudah ditunggu oleh seseorang.
Dia bahkan sejak tadi berdiri dibelakang pintu.
Untuk berjaga jaga, Damar mengantar Juli hingga masuk kedalam.
"Juls . ."
Sapa laki laki bertubuh kurus tinggi tak sekekar Damar maupun Kevin.
"Iya pak Malvin ?"
Jawab Juli ragu menatapnya.
"Saya minta maaf atas perlakuan tidak menyenangkan kemarin. Saya hanya terbawa nafsu sesaat."
Malvin tulus mengatakannya, dia tidak mungkin bermain main apalagi melawan seorang Damar.
"Iya, saya sudah memaafkan dan melupakan hal itu."
Terulas senyum tipis Juli meredam rasa dendamnya pada laki laki yang hampir menjamahnya.
"Good, nanti kita makan siang bersama. sekalian perpisahan dan pelepasan Malvin.
Laters guys. ."
Kini Damar lega, dia berani meninggalkan Malvin karena Miley sudah hadir barusan.
"Ada apa sih ?
Malvin kamu buat onar lagi ?"
Miley langsung menyerang kakaknya dengan menunjuk wajahnya.
"Itu bu Miley,
pak Damar ajak kita lunch bareng buat perpisahan Pak Malvin."
Juli menyela supaya Miley bisa tenang.
__ADS_1
"Oh gitu, boleh juga tuh . ."
Miley tersenyum simpul mendenfarnya.